Jumat, 29 Mei 2009

My Award for My Friends

Senang campur bingung ! Itulah perasaan yang pas untuk saat itu. Saat ada sobat blogger yang ngirim award buatku. Senang, karena ternyata bolg-ku yang masih prematur ini ada yang baca juga. Bingung, karena gak tahu award itu apa dan gimana ? tuh kan saking bingungnya pertanyaannya juga gak terarah!

Belakangan saya tahu ternyata tujuan award ini untuk mempererat silaturahmi dan pertemanan antar sobat blogger. Bagus juga tuh !!  Setelah itu bingung lagi, mo dikirim ke siapa? Gimana cara ngirimnya ? hihi ... banyak amat pertanyaannya, ya. Karena itu mohon dimaklumi kalau awardnya lambat dibagi-bagi. Pabaliut dengan tugas ibu rumah tangga, nih. Nah, proses pembagian award ini pun terhenti hingga berkali-kali. Bergantian dengan tugas kantor, tugas ibu-ibu di rumah melayani anak dan suami, sampai tugas "belajar" ngebagiin award hehe ... lagi.

Begitulah, akhirnya saat tulisan ini diturunkan dan awards siap dibagi, ada kurang lebih 3 - 4 kali proses edit dan tanya-tanya ke orang pinter. Alhamdulillah, sobat, proses belajar dan berbagi itu terus bergerak setiap hari, membuat hidup ini jauh lebih indah dan bermakna.

Inilah awardsnya, semoga silaturahmi kita makin erat, ya!

Award ini dari sobat  Fia la-kurosawa

buat sobat blogger : 
1. Ritma Rahayu
2. Some one
3. iccank
4. wong apik
5. zujoe

Dan award ini dari sobat Fanda sang pencinta buku :

kuberikan pada :

 1. mas is
2. rany rose
3. fazel
4. tovarossi


Be happy and I'm sorry ...



Kamis, 28 Mei 2009

If You Can Dream It, You Can Do It !


Seringkali, saat kita memiliki impian, keinginan, cita-cita, harapan, atau apapun namanya, saat itu pula kita harus berperang dengan diri sendiri untuk meyakinkan diri bahwa kita akan mampu meraih impian tersebut. Kedengarannya aneh, ya. Kita yang mau kok kita sendiri yang membunuh kemauan itu! Disadari ataupun tidak, diakui ataupun tidak, begitulah kebanyakan manusia. 

 Bila ditanya, saya yakin semuanya tak ingin masuk dalam kategori manusia kebanyakan itu. Iya, kan? Kita maunya termasuk dalam golongan manusia yang mampu mengalahkan getar-getar negatif yang merongrong eksistensi kita sebagai manusia yang berakal dan berbudi. Yang mampu membangun harapan menjadi kenyataan. Lalu bagaimana caranya agar kita bisa?

 Hasil-hasil riset mutakhir tentang otak menunjukkan bahwa otak manusia baru akan berfungsi secara optimal apabila diri si pemiliki otak berada dalam keadaan yang menyenangkan. Kata Tony Buzan – seorang penemu metode mencatat yang revolusioner bernama ‘mind maping’ – “otak manusia itu baru digunakan sebesar satu persen!” Oleh sebab itu Buzan pula yang menyatakan bahwa otak manusia itu bagaikan raksasa yang sedang tidur. (Mengubah sekolah : Hernowo, hal 48, MLC, 2005)

 Apakah kita dapat membangunkan raksasa tidur yang berada di dalam diri kita? Kalau memang bisa, bagaimana cara membangunkannya? Nah, untuk membangunkan raksasa tidur di dalam diri kita, kita perlu mengetahui lebih dulu cara-cara bekerjanya otak kita.

 Berdasarkan buku-buku yang ditulis oleh para pakar pendidikan serta pakar tengkorak dan otak, seperti Eric Jensen (Brain-Based Learning=Belajar Berbasiskan Otak), Taufik Pasiak (Revolusi IQ/EQ/SQ : Antara Neurosains dan Al-Qur’an & Membangunkan Raksasa Tidur) serta pemaparan Bobbi DePorter dan Mike Hernacki (Quantum Learning) - saya harus berterima kasih kepada Bapak Hernowo – dapat disimpulkan bahwa emosi positif (yaitu keadaan yang menyenangkan, merasa nyaman dan tidak tertekan) dapat mendorong seseorang untuk membangun kekuatan otaknya. Dan tentu, kekuatan otak ini akan memudahkan seseorang meraih keberhasilan. Sebuah keberhasilan tentu saja akan mampu menciptakan kehormatan diri. Demikian seterusnya berulang sehingga semakin lama orang tersebut akan mampu meningkatkan dirinya.

 Jadi, apabila dalam benak kita terbayang sebuah cita-cita atau keinginan yang sangat jelas (sesuatu yang membuat kita senang), niscaya kitapun akan terdorong untuk menindaklanjuti apa yang kita gambarkan tersebut ke dalam kehidupan sehari-hari kita.

 Inilah sesungguhnya bentuk motivasi tertinggi. Motivasi tertinggi itu digali dari dalam diri kita! Ia dibangun melalui kekuatan pikiran yang positif, bukan semata datang dari pengaruh luar. Bisa jadi pengaruh itu datang dari luar diri kita, namun motivasi internallah ( dari diri sendiri) yang akan membakar semangat kita untuk melakukan sesuatu hingga titik darah penghabisan.

 So, if you can dream it, you can do it. Walt Disney mengatakan itu, dan ia telah membangun impiannya menjadi sebuah kerajaan film yang mendunia. Anak bangsa ini, Andrea Hirata, pun menulis bahwa tak memiliki cita-cita adalah musibah terbesar dalam hidup. Tetaplah bermimpi, dan raihlah! Dan, manfaatkan raksasa dalam diri kita agar kita lebih ‘hidup’.

 Mengapa kita tidak ? Teruslah bermimpi dan berusaha mewujudkan mimpi itu, sebab kita layak untuk mendapatkan apa yang kita mau!

Selasa, 26 Mei 2009

Ketika Neng Agne Pergi


"Assalamu'alaikum wr.wb. Tante Ani, ini Dilla, tadi sore neng Agne 'pergi'. Demam berdarah. Maaf baru kirim kabar sekarang." terkirim 20:13:52. 25/5/3009.




Sms itu menohok ulu hati.

Neng Agne, anak montok yang periang itu telah pergi. Ia meninggalkan keluarga yang dicintai dan mencintainya, meninggalkan teman-teman bermainnya di rumah dan di sekolah, meinggalkan ibu guru yang menyayanginya, untuk memenuhi panggilan Yang Maha Mencintai, memenuhi janjinya untuk segera menemui Penciptanya, Allah swt. Pemilik hakiki semua makhluk.

Masih segar dalam ingatan, saat itu ia berkali-kali meminta agar diperbolehkan main ke rumah anakku, Cici, yang juga teman sekelasnya di SD. Keinginan itu tak segera terwujud karena jarak rumah yang berjauhan serta karena beberapa kesibukan para orangtua mereka (orangtua Agne dan aku/orangtua Cici). Bisa dibayangkan ketika harapan itu terwujud, betapa riang kedua anak kelas 1 yang baru saja saling berteman itu. Di rumah, mereka bermain, berbagi cerita, berbagi tawa dan keduanya membagi keceriaan pada sudut-sudut dinding, kamar, pintu, jendela hingga ke pilar-pilar rumah dan putik bunga yang mulai bermunculan di halaman. Sungguh hari yang berwarna.

Usianya belum lagi genap 8 tahun. Bila bertemu di sekolah saat aku mengantar Cici, senyuman selalu menghias bibirnya. Kusapa lewat kerlingan mata dan senyuman, ia balas mengerling ! Aahhh .... momen kecil yang manis seringkali sangat berarti saat semuanya telah pergi.

Peristiwa kematian selalu meninggalkan kesedihan, terlebih bila yang pergi adalah seorang anak. Terkadang kita tak menginsafi, bahwa hidup, rizki, dan maut telah diatur oleh Yang Maha Pengatur. Tak seorangpun mampu menggeser waktu biarpun sedetik agar ia mau berkompromi dengan rayuan hati. Inginnya, kalau boleh, ia tetap meneruskan hidupnya yang masih panjang. Keegoisan itu sempat terlintas di benak uwaknya "Ya Allah, mohon mu'jizatMu," demikian rintihnya perlahan saat menyaksikan detik-detik terakhir pertolongan dokter di UGD.

Namun neng Agne tak hendak menyalahi janji untuk segera menemui-Nya. Melalui keikhlasan sang ayah saat berbisik perlahan : "Abah ikhlas, Neng sayang. Pergilah bila kau hendak pergi," iapun terbang mengangkasa dengan senyuman. Meninggalkan isak dan sesak di dada kami.

Melalui kisah uwaknya di sela-sela kami melayat jenazahnya yang tenang, kusadari satu hal, bahwa setiap jiwa yang lapang hendak pergi, ia selalu menyisakan kisah manis yang menyejukkan hati. Neng Agne pergi ba'da Asar. Di hari yang sama, usai sholat shubuh ia berucap ingin belajar sholat jenazah! Sementara semalaman ia terus membaca ayat-ayat Qur'an (anak-anak kami sekolah di SDIT). Sungguh sebuah awal kepergian yang indah ...

Tempatkan ia disisiMu, ya Allah ...
Amiinn

Kepergian neng Agne menyadarkanku akan satu hal. Bahwa kita, manusia, tak pernah tahu apa yang akan terjadi esok. Hari esok adalah misteri, semuanya mutlak kuasa Tuhan. Yang bisa kita lakukan hanyalah berbuat, beramal sebanyak-banyaknya dan sebaik-baiknya, berbagi sesederhana apapun bentuknya, berusaha menjadi lebih baik dari hari ke hari, menjauhi segala laranganNya, menjalankan semua perintahNya tanpa menawar, agar bila saatnya tiba 'hari itu', kita dapat menutup waktu dengan senyuman. Dan meninggalkan semua jejak kebaikan kita di dunia bagi keindahan abadi di akhirat.

Ya Allah, jadikan kami lebih baik dari hari ke hari. Jadikan kami sebaik-baik manusia, yaitu yang mampu memberi manfaat bagi orang lain.
Amiiin...

Kamis, 21 Mei 2009

Memahami Kesalahpahaman


Ada ketidaknyamanan yang kita rasakan saat terjadi salah paham, terutama dengan suami. Salah paham bisa terjadi oleh sebab yang terkadang sangat sepele, raut wajah yang tak menyenangkan misalnya. Ya, hanya oleh sebab ekspresi jutek, yang astaghfirullah kerapkali tak bisa disembunyikan karena berbagai sebab, tiba-tiba saja pertengkaran dimulai. Padahal ketika dirunut lagi kronologis kejadiannya, kok ya menggelikan. Meminjam istilah Gus Dur : gitu aja kok repot! Tapi memang begitulah yang sering terjadi dalam rumah tangga.




Namanya juga salah paham, berarti ada kesalahan dalam memahami suami atau istri. Bukannya kesalahan yang betul-betul dilakukan untuk menyakiti. Bukankah itu letak perbedaan antara kesalahpahaman dengan kesalahan.


Setelah ungkapan ketidakenakan keluar dari lisan keduanya atau malah hanya muncul dari satu pihak karena yang lain lebih memilih untuk diam, biasanya saat itulah muncul “slide” sebab-musabab mengapa ini bisa terjadi. Reaksi yang kemudian terjadi bisa berbeda, menangis, geram, pergi, menyesal, atau malah menertawakan diri sendiri. Apapun reaksi yang timbul merupakan buah dari perasaan dan kata-kata yang meluncur sebagai wakil hati kita saat itu. Ibarat awan mendung yang menurunkan hujan. Seberapa besar dampak yang diakibatkannya tergantung deras tidaknya air yang turun.



Maka Rasulullah saw membimbing kita untuk menetralkan hati saat emosi melalui sikap. Bila kemarahan itu timbul saat berdiri, maka duduklah. Bila sedang duduk maka berbaringlah. Dan lekaslah membasuh diri dengan air wudlu karena air akan mendinginkan api yang tengah bergejolak di dalam hati. Tentu saja tuntunan beliau yang indah itu harus disertai oleh upaya aktif dari diri kita sendiri untuk meredam emosi agar kesalahpahaman tak berlanjut pada pertengkaran yang tak perlu.



Ada istilah “rep-pok” yang diajarkan orangtua dahulu (khususnya di kalangan orang sunda) dalam menyikapi kesalahpahaman dalam rumah tangga. Artinya bila salah satunya “pok” alias berbicara, yang lain jangan ikut bicara atau “rep” diam, agar tidak terjadi cekcok. Ajaran orangtua kita itu sejalan dengan tuntunan Islam dalam berperilaku santun ketika bicara. Bisa dimengerti apabila lisan seringkali tak dapat dijaga saat emosi tengah naik. Tapi dengan banyak berlatih menahan diri dan beristighfar, Insya Allah, Allah akan memudahkan setiap upaya perbaikan diri.



Tapi, sesekali kesalahpahaman perlu “dipertengkarkan” agar tumbuh pemahaman baru di benak suami istri mengenai keinginan dan tuntutan pasangan. Kesalahpahaman dapat dijadikan sarana untuk mengupdate perilaku atau malah sebagai sarana “penemuan baru” karakter dan sifat pasangan bahwa ternyata suami kita itu begini dan tidak menyukai yang begitu. Sebab seberapa lamapun kita menikah, pasangan adalah pribadi yang sesungguhnya tak kita kenal dengan tepat meskipun kita kenali dengan baik. Perjalanan rumah tangga adalah proses belajar seumur hidup. Di sana terdapat semacam “ritual ibadah” dalam bentuk lain.



Ketika kesalahpahaman diletakkan pada tempat yang tepat, dikelola dengan benar, dilihat sebagai sesuatu yang dapat berdampak baik, maka Insya Allah kita dapat lebih memahami pasangan kita serta memahami salah paham itu sendiri. Kesalahpahaman serupa tak perlu lagi terjadi dimasa mendatang dan tumbuh kesepahaman baru diantara pasangan.



Kesalahpahaman dapat dijadikan sebagai momentum pembaharuan. Bukankah sejatinya kehidupan berumah tangga itu adalah gerakan pembaharuan yang tak pernah berhenti ? Ia terus-menerus tumbuh seiring perubahan dan perkembangan masing-masing pribadi yang hidup didalamnya. Dan saya yakin di setiap detiknya Allah menyimpan hikmah agar kita bisa menemukannya dan kemudian menikmatinya.


Gambar : images.plurk.com

Senin, 18 Mei 2009

Perjalanan Menembus Hujan

Dalam posisi normal, biasanya, kami sekeluarga tak pernah bepergian dalam kondisi cuaca yang kurang mengutungkan (baca : mendung/menjelang hujan) karena  hal tersebut mengundang resiko sakit. Suamiku sangat menjaga agar anggota keluarganya tidak terjebak situasi tidak mengenakkan.
Tapi hari Ahad kemarin menjadi berbeda. Kami bertiga (bersama putri bungsu kami) menempuh perjalanan Bandung-Garut dalam guyuran hujan lebat. Tentu saja situasi ini tidak kami sengaja. Kisahnya begini :
Usai pertemuan keluarga di rumah orangtua kami di Bandung, ba'da Asar kami memutuskan pulang ke Garut karena cuaca sangat cerah. Biasanya kami menunda kepulangan hingga pagi keesokan harinya (Senin pagi), kecuali hari itu. Sampai di daerah Rancaekek, gerimis mulai turun. Kamipun berteduh. Saat hujan mulai reda kami melanjutkan perjalanan.
Tak diduga hujan kembali turun dengan lebatnya. Namun karena saya sudah basah kuyup (hanya saya yang tidak memakai jas hujan) maka kusarankan : Maju terus! Maka kamipun meluncur menembus hujan lebat. 
Subhanallah ...
berhujan-hujan ternyata tak semengerikan yang kuduga. Sambil bercerita serta berceloteh dalam rangka menenangkan hati anakku yang memang takut hujan, kuibaratkan kami semua tengah menaiki arung jeram seperti saat di Dufan. Hasilnya ? Kami bisa menikmati perjalanan basah selama hampir 2 jam penuh!

Rabu, 13 Mei 2009

DOA HARI SENIN


Disunting dari "Rintihan Suci Ahli Bait Nabi" - Jalaluddin Rakhmat

Puji bagi Allah

yang mencipta langit tanpa seorang saksi

yang menggelar makhluk tanpa seorang pembantu

 Tidak ada sekutu dalam keilahian

Tidak ada setara dalam ketunggalan

Kelu lidah mengungkap sifat-Nya

Lemah akal memerikan makrifat-Nya

Merendah segala penguasa karena kehebatan-Nya

Rebah segala wajah karena takut pada-Nya

Jatuh segala yang agung karena keagungan-Nya

Bagi-Mu segala puja

puja yang beruntun tak putus-putus

Salam sejahtera bagi Rasul-Nya senantiasa

Salam nan kekal abadi

Ya Allah

Jadikan permulaan hari ini kebaikan

pertengahannya kejayaan

pamungkasnya keuntungan

Aku berlindung pada-Mu dari hari

yang permulaannya ketakutan

pertengahannya kecemasan

dan pamungkasnya kesedihan

Ya Allah

Aku mohon ampun pada-Mu

atas segala nazar yang kunazarkan

atas segala janji yang kujanjikan

atas segala akad yang kuakadkan

kemudian tak kupenuhi pada-Mu

Aku bermohon pada-Mu

perihal ulahku menzalimi hamba-Mu

Bila ada hamba-Mu - pria dan wanita

yang teraniaya karena kezalimanku

pada dirinya, pada kehormatannya, pada hartanya

pada ahlinya, pada keturunannya

atau yang kugunjingkan kejelekannya

atau yang kusengsarakan karena hawa nafsu

penghinaan, kesombongan, sia dan kesukuan

yang hadir dan yang raib

yang hidup dan yang mati

Lalu lemah tanganku, sempit tenagaku

untuk mengembalikan haknya

dan meminta kerelaannya

Karena itu 

aku bermohon pada-Mu

wahai Yang Menguasai segala hajat

hajat yang terpanggil karena kehendak-Nya

hajat yang bergegas memenuhi iradat-Nya

Sampaikan salam kepada Muhammad dan keluarga Muhammad

Ridakan dia padaku dengan apa yang Kau kehendaki

Berikan padaku dari sisi-Mu rahmat

Ampunan tidak akan mengurangi 9keagungan)-Mu

Anugerah tidak akan menyusutkan (kebesaran)-Mu

Wahai Yang Mahakasih dari segala yang mengasihi

Yaa Allah

Berilah aku pada hari Senin dua kenikmatan

Pada permulaannya kebahagiaan menaati-Mu

Pada pamungkasnya kenikmatan ampunan-Mu

Wahai

Dia Yang menjadi satu-satunya Tuhan

Selain Dia, tiada yang dapat memberi ampunan

Doa Hari Ahad


Semua do'a harian disunting dari  "Rintihan Suci Ahli Bait Nabi" - Jalaluddin Rakhmat

Dengan asma Allah

yang tidak aku harapkan kecuali karuniaNya

tidak aku takutkan kecuali keadilanNya

Tidak aku percayai kecuali firmanNya

tidak aku pegangi kecuali taliNya

KepadaMu aku berlindung

wahai Pemilik Rido dan Ampunan

dari kezaliman dan permusuhan

dari bencana zaman

dari runtunan kesedihan

dari rangkaian kemalangan

dari habisnya jangka - sebelum siap sedia

KepadaMu aku mohon bimbingan

pada apa yang baik dan mendatangkan kebaikan

KepadaMu aku mohon pertolongan

untuk mencapai keberuntungan dan mendatangkan keberuntungan

KepadaMu aku mendambakan

limpahan keselamatan dan kesempurnaannya

cakupan kesejahteraan dan kekekalannya

Aku berlindung padaMu, yaa Robbi

dari bisikan setan

Aku bernaung pada kekuasaanMu

dari kezaliman para sultan

Terimalah apa yang ada

dari shalatku dan saumku

Jadikan hari esokku dan yang sesudahnya

lebih baik dari saat ini dan hari ini

Muliakan keluargaku dan kaumku

Jaga waktu jaga dan tidurku

Engkaulah Allah Penjaga Terbaik

Engkaulah Yang Paling Pengasih dari segala yang mengasihi

Ya Allah, aku berlepas diri

dari kemusyrikan dan kekafiran

Aku ikhlaskan doaku

mengharapkan  ijabah-Mu

Limpahkan sejahtera pada Muhammad dan keluarga Muhammad

sebaik-baiknya makhlukMu

yang menyeru pada kebesaranMu

Muliakan aku dengan kemuliaanMu yang tidak pernah punah

Jaga diriku dengan mataMu yang tidak pernah tidur

Tutup urusanku dengan kebergantungan padaMu

Tutup usiaku dengan maghfirahMu

Sungguh, Engkau Maha Pengampun dan Penyayang

Selasa, 12 Mei 2009

'Ud'uunii astajib lakum


Allah tidak mengabulkan doa

dari hati yang lengah dan ragu

(Rasulullah Muhammad saw)

Sekilas Nasruddin Hoja


Pertama kali mendengar nama Nasruddin Hoja, saat masih kanak-kanak. Mendengar kisah dan karakternya kerap mengingatkan pada Abu Nawas atau si Kabayan. Bedanya adalah tokoh Abu Nawas dan Nasruddin Hoja bukanlah tokoh rekaan, ia benar-benar hidup pada masanya, sedangkan si Kabayan hanyalah tokoh rekaan yang menggambarkan tipikal orang Sunda yang polos dan cerdik.

Nasruddin Hoja adalah tokoh multikarakter dan seakan tak berzaman. Setiap orang di setiap zaman bisa mengidentifikasi Nasruddin dan kemudian tertawa lebar atau tersenyum simpul ketika menyimak cerita-ceritanya, yang mengandung kecerdikan dan rasa humor di satu sisi, serta kritik sosial di sisi lain.

 

Dalam 360 Kisah Jenaka Nasruddin Hoja yang diceritakan kembali oleh Irwan Winardi disebutkan bahwa Nasruddin Hoja adalah ulama Turki yang hidup di akhir abad ke-14 dan awal ke-15. Nasruddin Hoja lahir di desa Khortu, Sivri Hisar, Anatolia Tengah, Turki pada 776 H/1372 M. Pertama-tama dia mendapatkan pendidikan dari ayahnya, seorang imam di kotanya. Kelak, Nasruddin diangkat sebagai imam di kota kelahirannya menggantikan kedudukan ayahnya.

Nasruddin belajar kepada guru-guru terkenal pada masanya, diantaranya Sayyid Mahmud Hairani dan Sayyid Haji Ibrahim. Setelah menyelesaikan pendidikannya ia diangkat sebagai hakim di kota Ak Shehir dan sekitarnya. Dia juga dikenal sebagai guru terpandang yang telah mendirikan beberapa perguruan dan madrasah di beberapa kota.

Nasruddin Hoja adalah seorang guru sufi yang arif dan kaya dengan humor. Dalam memberikan pelajaran atau latihan-latihan keruhanian, tak jarang ia menggunakan humor yang membuka pikiran murid-muridnya. Nasruddin Hoja adalah ulama dari madzhab Hanafi. Satu bidang yang sangat dia kuasai adalah ilmu fiqih. Karena keluasan ilmunya ia mempunyai banyak murid yang berjumlah lebih dari tiga ratus orang. Dari sinilah ia mendapat gelar “Khawja” atau “Hoca” atau “Hoja” yang di masyarakat Indonesia sama dengan gelar “Kiai”.

Dengan begitu, ada perbedaan besar antara Nasruddin Hoja dengan Abu Nawas. Abu Nawas adalah seorang penyair yang kurang taat dalam beragama. Ia juga dikenal sebagai seorang pemabuk dan senang berfoya-foya. Abu Nawas baru mendalami agama pada masa tuanya.

Nasruddin meninggal dunia di kota Ak Shehir, Propinsi Konya. Makamnya pun mengundang senyum. Gerbang makamnya besar dengan kunci gembok sebesar ember. Orang yang memandang makam dari kejauhan akan mengira sulit masuk ke makam itu. Tetapi ternyata tidak, karena di kiri kanan makam tidak ada pagar atau benteng. Artinya tidak ada penghalang sama sekali.

Pada nisan makamnya tertulis “Ini makam orang yang mengharap rahmat Tuhannya, Nasruddin Affandi. Bacalah Al-Fatihah baginya”.

  

Sabtu, 09 Mei 2009