Sabtu, 18 Januari 2014

Hari ke-18 : Nuun, Demi Kalam dan Apa Yang Mereka Tulis

Allah swt telah bersumpah : Demi Kalam
dalam QS Al-Qalam ayat 1 :

Aku berlindung kepada Allah dari segala godaan syetan yang terkutuk
Bismillahir rahmaanir rahiim



 
Nuun, demi kalam dan apa yang mereka tulis

Kalam adalah sejenis pena yang dipakai untuk menulis. Hal ini seperti firmanNya pada wahyu pertama :
"Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan
Bacalah dan Tuhanmu yang paling mulia
Yang telah mengajarkan dengan kalam
Yang telah mengajarkan manusia sesuatu yang belum diketahuinya"

Kalau begitu, menurut Imam Ibnu Katsir, kalam merupakan sumpah Allah dan peringatan bagi hamba-hambaNya tentang nikmat yang telah diberikan kepada mereka berupa pengajaran menulis, yang menjadi wasilah untuk mendapatkan berbagai macam ilmu. Itulah sebabnya Allah berfirman : 
"dan apa yang mereka tulis"
Mereka itu siapa? ya ... kita, manusia, bila mengaku sebagai hamba Allah yang mengikuti perintahnya dan menjauhi larangannya.

Bila mengacu pada sabda Rasulullah saw di bawah ini, pena ternyata adalah makhluk Allah yang pertama 

إِنَّ أَوَّلَ شَيْءٍ خَلَقَهُ اللهُ تَعَالٰى الْقَلَمُ وَأَمَرَهُ أَنْ يَكْتُبَ كُلُّ شَيْءٍ يَكُوْنُ

“Sesungguhnya sesuatu yang pertama kali Allah swt ciptakan adalah al-Qalam. 
Dan Dia memerintahkannya untuk menulis tiap-tiap sesuatu yang ada.”
(HR. Abu Ya'la dan al-Baihaqi)

Allah swt telah bersumpah demi kalam, mengisyaratkan betapa penting makna kalam/pena dalam hidup manusia, sebagai sarana mengais ilmu dan mencatat segala yang telah diserap dari ilmu itu sendiri. Sebagaimana Ali bin Abi Thalib ra pernah berkata : Bacalah dan sesudah itu ikatlah bacaan itu dengan cara menuliskannya.

Wallahu 'alam bishawab
Mahabenar Allah dengan segala firmanNya

Jumat, 17 Januari 2014

#1Hari1Ayat : Hari ke 17 : Mencegah Keji dan Munkar


Indonesia adalah negeri dengan mayoritas Muslim. Selayaknya, gak banyak koruptor, dong!
Sebab Islam mengajarkan ummatnya untuk menjalankan Rukun Islam dan percaya akan Rukun Iman. Rukun Islam yang 5 dan Rukun Iman yang 6, bukan untuk dihafal, melainkan sebagai pedoman untuk amalan sehari-hari yang berakar pada kekuatan ruhani.

Sayang, kenyataannya jauh panggang dari api. Entah darimana awal kesalahannya. Yang jelas, banyak umat Islam Indonesia yang bukannya tidak faham ajarannya, melainkan tidak fasih amalannya. Ayat-ayat Allah dengan lancar dibaca, dengan pintar ditafsirkan, tetapi gagal diimplemenatsikan dalam keseharian. Lihatlah, berapa banyak koruptor yang penampilannya mencerminkan bahwa dia orang yang alim. Berapa banyak pengusaha yang terjebak pada praktek suap demi melancarkan tendernya. Berapa banyak pula pejabat yang tersandung kasus jual beli jabatan. Mayoritas mereka adalah Muslim, yang pasti, menjalankan Rukun Islam dengan komplit. Mereka adalah pelaksana sholat lima waktu.

Padahal seharusnya, bila sholat itu bukan dikerjakan, melainkan ditegakkan bagai penopang bangunan yang kuat, maka sholat itu akan mampu mencegah kita melakukan hal-hal yang keji dan mampu mencegah kemunkaran. Sebagaimana firman Allah dalam Al-quran :

 
Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al-Qur'an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan
(QS. Al-Ankabut : 45)


Maka, ketika sholat kita jadikan sebagai sarana komunikasi dengan Allah, ketika sholat adalah saat mi'raj kita sebagai orang beriman, ketika sholat tak hanya dilakukan sebagai sebuah ritual semata, Sholat itu akan benar-benar mengerem dorongan buruk kita sebagai makhluk lemah. Sholat akan benar-benar mampu melakukan sistemnya, yakni mencegah perbuatan keji dan munkar.

Maka bila kita ingin selamat, perbaiki niat dan sempurnakan sholat.

Wallahu alam ...

Rabu, 15 Januari 2014

#1Hari1Ayat Hari ke-15 : Al-quran Itu Bukan Pajangan

Aku berlindung kepada Allah dari segala godaan syetan yang terkutuk
Bismillahir rahmaanir rahiim

 
Alif, laam raa.
 (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.
(QS. Ibrahim 1)


Alquran akan menjadi cahaya bila digunakan (dibaca dan diamalkan). Sebagaimana halnya sebuah lampu, ia akan bersinar manakala saklarnya dinyalakan, sia-sia punya lampu bila tidak dinyalakan, kamar akan tetap gulita. Demikian halnya dengan Alquran.

Janji Allah ini pasti adanya. Cahaya (petunjuk, penenang, obat, penawar, apapun itu) akan datang dari Alquran. Itupun hanya bagi mereka yang mau menggunakan Alquran sebagai petunjuk. Bagi mereka yang hanya menjadikan Alquran sebagai pajangan, cahaya  tak akan pernah hadir.






Selasa, 14 Januari 2014

#1Hari1Ayat Hari ke-14 : Guru Kehidupan Sepanjang Zaman

Rindu kami padamu, Ya Rasul
 rindu tiada terperi
berabad jarak darimu, ya rasul
serasa engkau disini

Cinta ikhlasmu pada manusia
bagai cahaya swarga
dapatkah kami membalas cintamu
secara bersahaja

(Bimbo)

lirik lagu yang dinyanyikan Bimbo menyentuh hingga ke dasar sanubari. Betapa tak sederhana perjuangannya, demikian kaya cinta kasihnya kepada ummatnya bahkan sebelum ummatnya itu lahir ke bumi. Bukankah kita yang hidup di zaman ini tak sempat bertemu beliau? tetapi nasib kitapun telah dengan megah menduduki tahta di hatinya, saat menjelang ajalpun ia mengkhawtirkan nasib kita, ummatnya. Duhai, pantaskah kita mengaku sebagai ummatnya? sedang teladannya betapa banyak yang tak kita indahkan. Astaghfirullah ...

Demikian mulianya beliau sampai Allah swt Sang Pencipta pun menyebutnya sebagai uswatun hasanah, teladan yang baik, dalam firmanNya di surat Al-Ahzab ayat 21 


 Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.

Sebagai bukti kita mencintainya dan selalu rindu padanya, sudah sepantasnya kita berlomba untuk meneladani setiap perilaku dan perkataannya. Menjaga lisan, menjaga perilaku, agar selalu baik, mencontoh ajaran guru kita, guru kehidupan sepanjang zaman, Rasulullah saw ...

Ya Rasul ...
lumpuh kami karena rindu



Senin, 13 Januari 2014

#1Hari1Ayat Hari ke-13 : Baik atau Jahat, Kembali Pada Diri

Aku berlindung kepada Allah dari segala godaan syetan yang terkutuk
Bismillahir rahmaanir rahiim 

 
Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam mesjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai.
(QS. Al-Israa' ayat 7)


Berbuat baik kepada siapapun ... nampaknya simpel dan ringan saja ya?
Tetapi benarkah ringan ketika kita harus berbuat baik justru kepada orang yang telah menyakiti dan menghancurkan kita?

Enaknya sih ya dicuekin saja, atau malah dibalas sesuai dengan apa yang telah ia lakukan pada kita. Tetapi, bila itu terjadi, lalu apa bedanya kita dengan dia?

Sesungguhnya memang benar, bahwa bila kita berani berbuat baik, kepada siapapun bahkan kepada orang yang menjahati kita, maka kebaikan itu akan kembali pada kita. Semesta akan sepakat melapangkan semua urusan kita. Jaminannya ayat 7 surat Al-Israa' yang telah dijanjikan Allah di atas.

Mahabenar Allah dengan segala firmanNya ...

Minggu, 12 Januari 2014

#1Hari1Ayat Hari ke-12 : Birrul Walidain


Aku berlindung kepada Allah dari segala godaan syetan yang terkutuk
Bismillahir rahmaanir rahiim



 
Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.
(QS Luqman 14)


Sejatinya meski seumur hidup kita berbuat baik kepada ibu dan bapak, atak akan pernah lunas membayar segala payah mereka mengasihi dan memperjuangkan segala apapun demi membesarkan dan menjadikan kita hingga sejauh ini. Maka apatah lagi bila kita melalaikan mereka. Naudzubillah ...

Ya Allah ...
di tengah terbaringnya mamah saat ini, ringankanlah sakitnya dan sembuhkanlah ia
Sedih hati ini ketika dengan isak yang tertahan mamah mengucapkan terima kasih karena saya menyengaja datang untuk merawatnya. Dalam isaknya ia berdoa, agar kiranya Allah terus menyayangi dan memberi barokah pada rumah tangga saya, karena ia ridlo menjadikan saya anaknya.

Duh, mamah ...
air matamu betul-betul membuatku malu
tahukah engkau, betapa sangat kecilnya 'pengorbanan' ini, datang menemui dan menemani dalam sakitmu, tak akan pernah sebanding dengan malam-malam yang telah kau lalui di bilik pertumbuhanku dulu.
Lihatlah, bahkan malam inipun aku tak disisimu. Sekolah si bungsu dan pekerjaan jadi alasan. Astaghfirullah ... Meski engkau yang menyuruhku pulang karena engkau merasa  telah lebih baik, malam ini aku tak mampu menahannya, Mah. Menahan air mata dan rasa sedih ternyata aku masih berhitung.

Sebagai pengobat sedih, kulangitkan doa pada Pemilik kita berdua, Mah, semoga melalui itu hati kita hangat dalam pelukNya, aamiin ...

Robbighfirlii waliwalidayya warhamhuma kamaa robbayanai shoghiro
aamiin ...

Sabtu, 11 Januari 2014

#1Hari1Ayat : Habiskan, atau jadi temannya syetan?

Pernah bingung memilih makanan apa yang sebaiknya dimasukkan ke dalam piring kita saat menyendokkan menu di resepsi pernikahan? Atau, tak pernah ragu untuk  memasukkan  apa saja yang ada toh semua memang disiapkan untuk kita, para tamu?

Pernah kan sesekali kita menengok ke belakang, betapa banyak piring yang masih penuh makanan bertumpuk di rak cuci piring. Makanan itu adalah sisa makan para tamu yang tak habis. Entah karena kebanyakan mengambil menu hingga tak kuasa menghabiskannya, atau karena disengaja tak dihabiskan (?) Mungkin karena malu. Kedua-duanya menurut saya sih alasan yang aneh. Akhirnya sisa makanan itu (yang biasanya porsinya besar) menjadi penghuni tempat sampah. Dibuang. 
Betapa sayang ...

Pernahkah kita berfikir untuk memilih saja makanan yang jelas-jelas akan kita makan dan habiskan, ketimbang memasukkan semua yang ada hanya sekedar menyicip. Bilapun memang maunya nyicip, ya gak usahlah terlalu banyak. Toh kita sendiri yang tahu porsi sebesar apa yang muat di perut kita.

Jadi ingat firman Allah dalam QS Al-Israa' ayat 27


 
Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.


Sejatinya membuang-buang apapun dengan tanpa manfaat itu sama dengan pemboros, dan menyisakan makanan, dimanapun (termasuk di resepsi) termasuk didalamnya. Secara tidak langsung kita turut andil dalam membuang-buang makanan, yang sesungguhnya bila tak kita sendokkan ke dalam piring kita, masih bisa dimakan oleh orang lain.

Jadi, sendokkan saja aneka hidangan lezat dari bufet ke dalam piring kita, hanya yang jelas-jelas akan kita makan dan habiskan. Bila kita ragu, jangan ambil. Sebab bila kita nekat untuk mengambil dan tidak habis, maka kita akan disukai syetan, lalu jadi temannya.
Hiiii ... Naudzubillahi min dzalik

Kepada anak-anak saja kita bisa merayu agar mereka menghabiskan makan, masak kita sendiri malah menyisakannya saat makan di tempat resepsi. Malu  ...

Mungkin memang gak sengaja, tapi semoga saja gak terlalu sering, dan bahkan kelak tak menyisakan sedikitpun jatah buat syetan. Saya gak mau jadi disukai pasukan mengerikan itu gara-gara makanan sisa ...

Jumat, 10 Januari 2014

#1Hari1Ayat Hari ke 10 : Doa tak pernah tidak berjawab

Aku berlindung kepada Allah dari segala godaan syetan yang terkutuk
Bismillahir rahmaanir rahiim


 Dan Tuhanmu berfirman : "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina."
(QS. Al-Mu'min : 60)

Senjata orang beriman adalah doa. Dan tak ada satu do'apun yang tidak berjawab, jaminannya adalah firman Allah di atas.

Jadi, bilapun saat ini kita merasa selalu berada dalam kesulitan dan doa yang dilangitkan tak kunjung mendatangkan kemudahan, yang perlu kita lakukan adalah berbaik sangka kepadaNya. Rahman Rahim Allah itu tak berbatas, tak pilih-pilih, semua dicintai. Tetapi bentuk cinta itu berbeda antara satu orang dengan orang lainnya, disebabkan keadaan orang yang bersangkutan.

Layaknya kasih ibu kepada anak sulungnya yang SMA dengan adiknya yang masih TK, cintanya sama, tetapi beban tugas serta bekal uang yang diberikan tentu berbeda, sesuai usia dan kemampuan si anak mengatur dirinya.

Yakin saja, doa kita satu saat akan dijawab, entah kapan entah dimana dan entah dalam bentuk apa. Tuhan tidak memberikan apa yang kita inginkan, melainkan apa yang kita butuhkan.

Wallahu'alam
Mahabenar Allah dengan segala firmanNya.



Kamis, 09 Januari 2014

#1Hari1Ayat, Hari ke-9 : Ketika Membaca Tak Mengubah Apapun ...

Aku berlindung kepada Allah dari segala godaan syetan yang terkutuk
Bismillahir rahmaanir rahiim

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan
(QS. Al-'Alaq 1)

Membaca, sejatinya bukan hanya kegiatan mengeja tulisan, apapun jenis tulisannya, apapun jenis bahasanya. Membaca adalah keterampilan mengolah panca indera, seluruhnya, dengan mengikutsertakan hati. 

Lihatlah langit hari ini. Adakah di sana barisan aksara yang menari? Tidak, bukan? Tetapi kita pasti dapat membacanya, sedang cerahkah atau mendung pertanda akan turun hujan? 

Tataplah wajah ibu. Adakah huruf terpampang di wajah teduhnya? Tentu saja tidak. Tetapi dari wajahnya kita akan tahu sedang sedih, marah, cemas,  atau bahagiakah beliau?

Kita diperintahkan untuk membaca, karenanya kita diciptakan lengkap dengan seluruh unsur untuk bisa membaca. Membaca huruf, angka, keadaan, ekspresi, suasana, iklim, baik melalui keterampilan lahir maupun mengasah ketajaman ruhani. Membaca, mengamati, menganalisa dan menyimpukan, semuanya dimungkinkan, dengan catatan Bi ismi Robbikalladzii Kholaq, dengan menyebut nama Tuhanmu Yang menciptakan, sebab bila semua kegiatan membaca itu tak disandarkan pada kebesaran nama Tuhan, tak diikuti dengan keinsyafan bahwa semuanya tak akan terjadi tanpa campur tangan Tuhan, maka semuanya akan hampa, tak berarti apapun.

Barangkali apa yang kita baca, amati, analisa dan simpulkan tak sepenuhnya benar, namun nyata sungguh bahwa kegiatan tersebut tidak hanya melibatkan kecerdasan otak dan kejernihan mata, melainkan lebih luas dari pada itu. Membaca adalah persoalan kebeningan. Mampukah kita mengambil manfaat darinya kemudian diamalkan dalam hidup keseharian, dipraktekkan dan akhirnya membuat kita bertambah baik? Bila kegiatan membaca tak merubah apapun, tak semakin membuat kita mendekat padaNya, betapa ruginya ...
Naudzubillahi min dzalik, semoga kita dijauhkan dari keadaan seperti itu.

Maka pintar-pintarlah kita memilih bacaan. 
Cerdas memilih bacaan, membaca keadaan, memaknai perbedaan dan menjalani keseluruhan prosesnya adalah pengamalan nyata dari perintah Membaca, yang dipilih Allah sebagai wahyu pertama. 

Lalu sudahkah kita membaca?
Bila sudah, sejauh mana hal itu mendekatkan posisi kita di hadapan Tuhan?



Rabu, 08 Januari 2014

Hari ke-8 #1Hari1Ayat : Sebuah Sudut Pandang tentang Ayat Kursi


Aku berlindung kepada Allah dari segala godaan syetan yang terkutuk
Bismillahir rahmaanir rahiim



Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia 
Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); 
tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. 
Tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya 
Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, 
dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. 
 Kursi [Kuasa] Allah meliputi langit dan bumi. 
Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.
(QS. Al-Baqarah 255)


Pernahkah kita melihat atau membaca ayat ini dari sisi format penulisannya dalam Al-Quran? Yuk, kita coba mengkajinya lewat sisi penulisannya. Dalam hal ini saya menganalisanya dari Al-Quran format 18 baris. (Ada banyak cetak Al-Quran yang berbeda beredar di Indonesia, yakni format 15 baris dalam satu halaman, format 16 baris atau 18 baris).
Kenapa saya menggunakan format 18 baris? Karena lebih mudah dianalisa dan dipelajari sebagaimana yang telah saya dapat melalui ustadz saya.

Melalui kajian, dengan pendekatan metoda Struktur dan Format Al-Quran, format 18 baris, ayat Kursi yakni surat Al-Baqarah ayat 255 terdapat pada halaman 33 Al-qur’an, ayat ke 3 pada halaman awal juz 3. Ada apa dengan angka 3?
3 (tiga) seringkali jadi hitungan kesempurnaan. Misalnya, ketika ketika bersuci (thaharah). Dari mulai membasuh tangan, rambut, hidung, muka, rambut, telinga sampai kaki, semua mensyaratkan 3 kali membasuh. Meskipun ada beberapa yang memperbolehkan satu kali usapan saja.

Rasulullah saw mengajarkan kita untuk berdzikir usai sholat dengan membaca Subhanalah sebanyak 33 x, Alhamdulillah 33x dan Allahu Akbar 33 x pula.
Berdoa, apapun, baik membaca ayat Kursi atau doa lain, para ulama mengajarkan dengan hitungan 3 x.

Saya jadi ingat sebuah hadits yang berbunyi :

            "Sesungguhnya Allah adalah witr (ganjil) dan mencintai ganjil"  [HR. Abu Daud]

atau pada riwayat lain berbunyi :

"Dan Allah memiliki Sembilan puluh sembilan nama seratus kurang satu, barangsiapa menghitungnya (menghafal dan mentafakurinya) akan masuk surga. Dia itu Witir (ganjil) dan menyukai yang ganjil ." (HR. Bukhori-Muslim)

dan riwayat lain berbunyi :

"Sesungguhnya Allah Tunggal (Esa) dan suka kepada yang ganjil (bilangan yang tidak genap)" 
 (HR. Tirmidzi).


3, 33, adalah angka ganjil. Asma Allah 99, juga ganjil, Sholat Witir juga ganjil. Thawaf 7 x, ganjil. Dan malam Lailatul Qadar yang dijanjikan pada bulan Ramadhan sebagai malam seribu bulan pun berada pada malam-malam ganjil.

Di sanalah Allah banyak menyimpan keutamaan, memberi peluang bagi hambaNya untuk mendekat. Dan selalu, di jalannya itu penuh dengan kesulitan dan rintangan, godaan yang tak disadari. 

Ganjil dapat ditafsirkan sebagai lawan genap, dapat pula dipandang sebagai keadaan yang tak biasa atau ganjil. Maka, ayat Kursi biasa diajarkan untuk dibaca ketika menemukan hal-hal ganjil dalam keseharian kita sebagai upaya penenang atau pengobat rasa tak nyaman (baca : takut, ngeri dsb) ataupun perasaan lain yang sering tak mampu digambarkan. Juga penguat ruhani ketika godaan datang menyerang.

Yang lebih utama diyakini adalah ayat-ayat Al-Quran selalu memiliki tafsir yang kaya untuk membuat kita semakin percaya bahwa ia benar-benar mu'jizat dan Hudal lin Naas, petunjuk bagi manusia. Petunjuk bagi semua urusan tanpa kecuali. Lalu, kepada siapa lagi kita memohon petunjuk kecuali hanya kepadaNya? Allah swt Sang Tuhan Semesta Alam.

Maha Benar Allah dengan Segala FirmanNya ...



Selasa, 07 Januari 2014

#1Hari1Ayat Hari ke 7 : QS. Yunus 57




Hai manusia, Sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi
penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.

 (QS. Yunus 57)


Al-Qur'an adalah syifa, ia penyembuh segala macam penyakit lahir maupun batin yang menyerang kita. Yakin? tentu saja.
Tetapi masih banyak yang ragu bila flu batuk pun bisa sembuh dengan mengaji.
Bila Allah swt saja sudah demikian tegas dan gamblang berfirman bahwa Al-quran adalah penyembuh bagi penyakit, maka kebenarannya tak perlu diragukan lagi.

Dengan mengaji secara istiqomah setiap hari saja, 1 juz, dalam waktu yang tetap, tanpa memilih surat atau ayat mana yang akan dijadikan penyembuh, tubuh kita secara otomatis akan tetap sehat. Ayat-ayat yang kita baca akan menjalankan sistemnya sendiri di dalam tubuh kita. Benar, bukankah ia (ayat-ayat itu) telah dengan terstruktur kita masukkan dalam dada setiap hari dengan teratur? Seperti halnya asupan makanan yang masuk ke dalam tubuh kita setiap hari, bila makan kita teratur maka tubuh akan sehat, lain halnya bila pola makan kita tidak teratur.

Gizi bagi jiwapun demikian halnya. Mengaji secara istiqomah dan terstruktur akan membuat metabolisme tubuh kita menjadi tetap sehat, pun demikian hal nya dengan sistem yang berjalan dalam ruhani kita.

Jadi, pastikan kita mengaji secara rutin, teratur, istiqomah pada waktu yang ditentukan, 1 jus setiap hari (jangan berubah-rubah dimana sempatnya. Buat jadwal khusus untuk mengaji). Insya Allah, itulah penyembuh segala penyakit, baik penyakit lahir maupun penyakit hati.

maka Allah akan menurunkan ketentraman itu dalam hati kita. Dan hidup pun akan terasa lapang saja
Insya Allah ...
Aamiin ...


Senin, 06 Januari 2014

#1Hari1Ayat : Al-Muzzamil 20

Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) 
 kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya 
dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. 
Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. 
Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan 
batas-batas waktu-waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, 
karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al-Qur'an. 
Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; 
dan orang-orang yang lain lagi berperang di jalan Allah, 
maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al-Qur'an dan dirikanlah sembahyang, 
tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. 
Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya 
di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. 
Dan mohonlah ampunan kepada Allah;
 sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(QS. Al-Muzzamil 20)


Saya selalu punya cara sendiri untuk 'berdialog' denganNya. Selain menegakkan sholat, menaikkan ruh menujuNya, melalui tadarus pun sejatinya kita tengah melakukan sebuah komunikasi.

Usai sholat maghrib dan dzikir, Allah menuntun saya untuk 'ngahanca', yakni melanjutkan jeda tadarus malam sebelumnya. Membaca ayat demi ayat, menelusuri lekuk liku perjalanan. Mengikuti Sang Penggerak, ke arah mana akan diajak, ke arah mana akan dituntun. Sejatinya, setiap bacaan adalah tanda dan Hudal lin Naas (petunjuk bagi manusia). Jadi pasti petunjuk itu akan senantiasa datang, diminta ataupun tidak, selama kita menujuNya, selama kita menelususri perjalanan sesuai titahNya. Sekali lagi, petunjuk akan senatiasa datang. Namun seringkali kita yang tak paham bahwa petunjuk (tanda) itu ada.

Untuk memahami tanda itu ada, tadarus secara istiqomah adalah salah satu caranya. Cara memahami bahwa Allah telah mengirimkan kita 'signal'. Malam itu, signal datang.

Ketika tengah tadarus, tetiba saja di ayat ke 20 Surat Al-Muzzamil, bacaan saya tersendat. Bacaan saya yang biasanya lancar, mendadak terbata-bata, tanpa saya tahu penyebabnya. Berkali-kali saya ulang, hingga saya seolah diingatkan agar nanti usai juz tersebut saya selesaikan (saya terbiasa mengaji 1 juz sekali duduk), saya harus segera membuka tafsir ayatnya.

Itu sebuah pertanda : Allah tengah memberi tahu saya sesuatu. Dan saya harus tahu apa itu?
Subhanallah ...!

Usai juz 29 ditunaikan. Saya bersegera menutup mushaf dan menggantinya dengan membuka Tafsir Rahmat. Saat  saya baca terjemahnya, Ya Allaaaah .... tak kuasa saya menahan derasnya cucuran air mata.
Engkau sungguh dengan telak telah menyentil hamba. Benar, Engkau sungguh Mahatahu bahwa selama ini hamba sangat kurang dalam mendirikan sholat malam. Tahajud hamba bolong-bolong.
Astaghfirullahal'adzim ...

Masih tersungkur saya, ketika adzan Isya berkumandang. Allah masih demikian mencintai dan akan begitu seterusnya, bukan?

Hayya 'ala sholah ... Hayya 'ala falah ...

Ya Allah, bimbing hamba senantiasa, jaga sholat dan bacaan hamba
Aamiin ...




Minggu, 05 Januari 2014

#1Hari1Ayat : Alif Lam Mim

Aku berlindung kepada Allah dari segala godaan syetan yang terkutuk.
Bismillahir rahmanir rahiim

Alif Lam Mim


Ayat ini terdapat dalam Al-quran Surat Albaqarah ayat 1 dan masuk dalam juz 1. Para mufassir memasukkannya dalam kategori ayat mutasyabihat (yang tidak jelas maknanya).  Ikhtiyat (kehati-hatian) para mufassir membuat ayat ini dan ayat-ayat lain yang serupa dengannya tak diterjemahkan, sebab hanya Allah lah yang mengetahui maksudnya.

Alquran adalah petunjuk bagi seluruh manusia, dan Allah telah memerintahkan kita untuk selalu berfikir dalam memahami setiap perintah dan larangan didalamnya. Maka ketika kita mencoba segala daya untuk  memahami ayatnya, dengan niat semata karenaNya, menujuNya, tanpa niat apapun selainnya, insya Allah ketika keliru pun Allah telah menjanjikan satu pahala. Bila benar, maka dua pahala telah menanti. Intinya, perjalanan dan pergumulan pemikiran apapun yang bertujuan untuk mendekat padaNya dan menafakuri ayat-ayatnya, maka semua tak ada yang sia-sia.

Izinkan saya menuliskan ini. Tentang mendekat padaNya melalui metoda struktur dan format Al-quran.

Begini :
Alif Lam Mim, terdiri dari huruf :
1. Alif = yakni huruf pertama dalam abjad Al-quran, maka Alif  mewakili angka 1
2. Lam = yakni huruf ke 23 dalam abjad Al-quran, maka Lam mewakili angka 23
3. Mim = yakni huruf ke 24 dalam abjad Al-quran, maka Mim mewakili angka 24

Bila setiap angka di atas dikonversikan ke dalam urutan surat Al-quran, maka :
Angka 1 sama dengan surat Al-Fatihah
Angka 23 sama dengan surat Al-Mu'minun
Angka 24 sama dengan surat An-Nuur



Alif      =            1        =  Al-Fatihah       =  Pembukaan
Lam     =          23        =  Al Mu’minun  =  Orang Beriman
Mim     =          24        =  An-nuur          =  Cahaya
                   --------- +      -----------------------------------
                        48        =  Al-Fath           =  Kemenangan




Dengan pendekatan ini, maka 'hanya' melalui 3 huruf saja, yakni Alif Lam Mim, ketika kita membacanya, Allah telah dengan halus menyiratkan bahwa Alquran sungguh adalah kitab suci yang diberikan untuk dibaca, oleh orang-orang yang beriman, untuk menuju CahayaNya. Dan mereka yang telah mengikuti segala perintah melalui firmanNya lah kemudian yang memperoleh Kemenangan.

Maka, hanya orang-orang yang menjaga bacaannya, menjaga kitab suciNya dengan senantiasa mengamalkannya semata yang masuk dalam kategori orangorang yang menang.

Wallahu 'alam bishawab ... 
Mahabenar Allah dengan segala firmanNya