Tampilkan postingan dengan label liburan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label liburan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Januari 2015

Liburan, tak sekedar keluar dari rutinitas.

Masa liburan seperti ini menjadi saat sangat berharga bagi kami. Sebab si sulung libur kuliah dan adiknya pun libur sekolah. Sudah tiga hari ini sejak malam pergantian tahun kami berempat saja menghabiskan waktu. Tidak berlibur ke tempat jauh, sebab ternyata keinginan Kakang dan Cici berbeda. Yang satu ingin ke alam terbuka yang satunya lagi ingin nonton film. Akhirnya kami di rumah saja, beli makanan, masak, makan, lalu  tiduraan. Sempat nonton Stand By Me Doraemon dari flashdisk (baru tahu kemudian, bahwa perusahaan film Jepang marah besar dengan adanya pembajakan film tersebut. Waduh kita nonton bajakan, dong!) Sempet gak enak juga ...tapi Yasud, nasi sudah jadi bubur.

Sabtu, 18 April 2009

Gara-gara Kora-kora

Ceu Lina o-o.
Kisah yang tercecer di ujung petualangan Dunia Fantasi adalah o-o nya Ceu Lina di wahana Kora-kora.

Ceritanya, kita ber 2 mobil (berapa orang tuh kira-kira ?) nyolong waktu main ke ibukota. Urang Garut saba Jakarta ... Maunya sih semua dinaiki, apa daya "sang perut" berkolaborasi dengan kepala untuk berteriak TIDAAAKK!! haha ...

Saat antrian panjang di Kora-kora, Bu Iput batal naik, teringat pengalamannya dahulu kala di wahana itu (nightmare!). Aku ? Jangan tanya, sejak awal aku sudah sadar diri untuk tidak mendekat. Ningal we ti katebihan ... Kasiaaan deh aku!

Ceu Lina ? Meski lambungnya baru saja merasa tak nyaman sisa perjalanan jauh dan telat sarapan. Dengan gagahnya bilang : "Hoyong naek deui ah, da dulu juga kuat." Oke Ceu, Tarik!

Bersama para gadis, Ayoe, Santi dan Neng Ucu, beliaupun menyatu dalam sebuah perahu fantasi bertajuk "Kora-kora".

Hasilnya ?
Pucat pasi.
......... Keluarin aja, Bu, biar plong......
Baik benar si mbak penunggu wahana ini. Maka bergabunglah Ceu Lina bersama kurang lebih 10 orang korban.

Kisah itu ternyata yang paling seru, saat kami berbagi di perjalanan pulang. Tawa tak habis-habis!
Nightmare, kata Santi.
Asa ditalkinan, kata Ayoe da di sebelahnya ada ibu-ibu yang terus bertakbir perlahan.
Gustiii, tulungan abdi, kata Ceu Lina.
Ihh, kumaha ieu teh ?
Tak kan terlupakan sampai jadi nenek-nenek, kata Cici (pipilueun tah)
Thank's God, diantara kengerian ternyata terselip kebahagiaan.

Rabu, 18 Maret 2009

Kebersamaan di Pangandaran


Ya Allah, terima kasih ...
telah Kau himpun kami di bumiMu yang luas ini. Di tempat ini, di lautMu, di pantaiMu, di bawah matahari pantai Pangandaran dan diantara deburan ombak. Kami menghirup udara yang sama meski dalam rasa yang berbeda. Rasa yang membebaskan ...

Sesuai rencana, kami sekeluarga besar : anak cucu mantu dari Bapak dan Ibu berjumlah 16 orang (dengan dua orang balita lucu de Echa dan de Puput) berkesempatan berlibur selama tiga hari dua malam, bercengkrama dengan laut dan pasir pantai, aroma laut dan wisata air. Duhh, suasana kebersamaan ini ... sungguh tak terbeli dengan apapun. Kehangatan keluarga melebihi hangat matahari pagi yang kami tunggu-tunggu di Pantai Timur.
Subhanallah, memandang sun rise betapa indah, memandang kehangatan hati kami lebih-lebih lagi. Sayang, ada yang kurang, adik kami seorang (artinya jadi sekeluarga alias 4 jiwa) Aam, tak ikut serta.

Memuaskan dahaga kami akan keindahan yang tiada henti memanjakan mata dan telinga, setelah bersafari ke cagar alam, menyapa Batu Layar, Batu Buaya, Pohon Kalong dan Pasir Putih dengan berperahu, selanjutnya kami meluncur ke wisata petualangan di Green Canyon alias Cukang Taneuh, kurang lebih 20 km dari Pantai Pangandaran. Dengan bersampan kami menyusuri sungai yang, entah, ujungnya ada dimana. Di kiri kanan, pepohonan rimbun menyertai kami. Inilah rupanya yang membuat permukaan air tampak hijau. Semakin jauh kami bersampan, aroma laut perlahan berubah menjadi aroma gunung. Sungguh kontras! Perpaduan yang indah sekaligus mendebarkan. Air laut yang yang semula asin dan hangat berubah tawar dan dingin. Kami memandangi tebing-tebing tinggi yang tiba-tiba menyergap. Cadas batu dengan kucuran air menyiprati tubuh kecil manusia-manusia yang penasaran akan kebesaran alam. Melihat kiri kanan, tiada lain selain cadas basah. Begitu pula di atas, pandangan tak dapat menembus selain stalagtit yang mengucurkan air dingin.
Maka, bagaimana manusia bisa begitu sombong dan jumawa ? Sementara baru tiba disini saja, kita hanya dapat bergumam : Masya Allah ...! Betapa agung Engkau, betapa tak berdayanya kami.

Suasana berubah ramai ketika A Eri, Kang Agus, n'Nan, Binbin, dan Teh Iva memutuskan untuk menjawab tantangan Akang pemandu agar berenang hingga ke kelokan tebing. Dengan kedalaman lebih dari 5 meter dan suhu air yang dingin (terlebih lagi gak bisa berenang!) dengan menggunakan rompi pelampung mereka berpetualang... hehe... petualangan kecil-kecilan.
Sukses memang, menyisakan cerita menggelikan tentang kengerian yang sempat hinggap hingga acara "kabulusan" alias kedinginan. Haha ...

Itulah sepenggal cerita kita : Trip to Pangandaran.