Sabtu, 03 Januari 2015
Liburan, tak sekedar keluar dari rutinitas.
Sabtu, 17 Mei 2014
ketika cicak pergi
Bukan, bukan karena ada kecoa atau hantu pocong, melainkan .... seekor cicak!
Awalnya menggelikan ketika tahu Cici takut pada cicak. Masa sih sama cicak aja takut? Sama kecoa malah berani. Tapi, kita gak bisa memaksakan seseorang untuk berani atau takut pada sesuatu sesuai logika kita, kan? Saya malah sering tak habis pikir mengetahui Iko Uwais, aktor The Raid yang jagoan silat itu takut sama kerupuk! Atau Raffi Ahmad yang takut rambutan!
Minggu, 30 Maret 2014
Patriotku adalah AKI
Saya rindu padanya ...
Beliau adalah kakek saya almarhum, namanya Endus Supena, kerap dipanggil E. Supena saja. Sudah hampir lima tahun beliau berpulang, tapi saya masih suka merasa beliau ada di tengah-tengah kami. Saya tahu benar nilai-nilai hidup yang beliau wariskan kepada kami anak cucu mantunya tak akan pernah hilang. Terutama nilai silaturahmi yang menjadi amanahnya.
Masa kecil saya dihabiskan bersama aki dan enin (kakek dan nenek). Bersama mereka saya banyak memiliki kisah yang tidak dimiliki oleh cucu aki yang lain. Yang saya ingat, saya mulai mengenal kewajiban sholat darinya. Setiap hari, ketika saya tengah asik bermain di siang hari, saya dipanggil untuk sholat dhuhur. Ditemaninya saya berwudlu, lalu sholat berjamaah di mushola yang terletak di halaman belakang rumah di bawah pohon jambu air.
Senin, 01 Maret 2010
Menyusuri Kehijauan
Atau melihat pemandangan ini
Jembatan ini sudah tidak terpakai, kurang lebih 50 meter di sebelahnya tengah dibangun jembatan baru dengan konstruksi lebih modern. Lebih aman dilalui dan pasti lebih cantik. Sayang, belum selesai.
Dan 100 meter kemudian, habis sudah jalanan aroma tanah yang kusuka itu, berganti dengan jalan beraspal. Jalanan desa telah dimodernisasi.
Disini kusempatkan berfoto dengan suami (hehe ...) Matahari mulai menyengat.
Alhamdulillah, Ya Allah. Indahnya ciptaanMu. SempurnaNya aturanMu.
Semoga kami termasuk dalam golongan orang-orang yang bersyukur. Amiiin
Selasa, 22 Desember 2009
CINTA SEPENUH BUMI ITU KUPANGGIL ; MAMA
Menyebut Mama adalah menyebut kembang yang aku tak pernah menanam, namun tiba-tiba tumbuh dalam diam, berkembang dalam diri, diam-diam, tak kenal layu, tanpa kutahu dari mana awalnya.
Menyebut Mama adalah menyebut sekian jejak jalanan, yang membentang bukan saja dari buaian, melainkan jauh sebelum itu, dari detak jantung rahim kehidupan.
Menyebut Mama adalah menyebut sekian rasa tak tertahankan, oleh ke’rumasa’an yang tak terkendali oleh nalar. Memaksa selaksa rinai meleleh di sudut hati.
Seperti hari ini.
Seribu satu rasa melesak dalam dada. Entah bagaimana akan keluar, sebagai kalimat penghormatan bagi pengkhidmatannya yang tulus tak terbayarkan. Pilihan kalimat terindah tak pernah cukup pantas bagi kecintaan luhurnya pada anak rahim yang menjadikannya seorang ibu. Ibu bagi anak-anak. Ibu bagi kehidupan. Ibu bagi peradaban.
Mama …
Aku ingat saat dengan tekun kau genggam jemariku
Menuntun kemanapun langkah kuayun saat berlatih meniti jalan
Aku ingat saat dengan cemas kau tunggu kepulanganku dari pergi main yang lupa waktu
Dalam kekhawatiran, tak seucap kata pedas pun yang kau lontarkan, selain peluk hangat pelepas cemas yang membuncah.
Aku ingat saat dengan sabar engkau menjejeri langkah remajaku, yang terkadang sulit kau mengerti tapi coba kau pahami. Meski aku bukan termasuk remaja yang sulit diatur, masa-masa itu tetaplah sebuah masa sulit bagi sebuah hubungan saling memahami. Tak pernah ada friksi diantara kita karena engkau demikian arif menyikapi masa 'sulit'ku.
Aku sedih mengingat betapa engkau demikian kasih memperlakukan aku. Sedih karena hingga detik ini aku tak pernah bisa memberi berlembar-lembar cinta seperti cinta yang telah engkau selimutkan dalam jiwaku.Hingga kini tak pernah mampu kusebut engkau melebihi sebutan cintamu kepadaku. Dan disinilah aku dapat memahami kenapa Rasulullah mulia demikian memuliakanmu.
Aku ingat saat engkau mengajariku mengeja aksara dalam berlembar surat yang kukirim untuk ayah yang tinggal jauh dengan kami. Dibimbingnya aku menulis dengan tinta kearifan dan kasih, bukan dengan selaksa benci. Agar aku memahami bahwa hidup bukan tentang pendakwaan melainkan rangkaian perjalanan mengais nilai. Maka tempat yang berjauhan tak pernah membuatku kekurangan cinta dan sosok ayah. Bahkan, dengan takdir-Nya, aku bahkan merasakan banyak dilimpahi kasih, dari segala penjuru, kakek, nenek, paman, bibi, dan double cinta ibu.
Saat beranjak dewasa, aku tahu di sudut hatimu yang lain, engkau menyimpan luka yang dalam. Tapi tak sekalipun engkau pernah berucap kasar atau berperilaku keras, yang mengabarkan kedalaman luka itu. Tidak pernah. Saat kutanya mengapa, dengan halus engkau katakan : biarlah perih itu hanya milik mama, agar mama bisa dengan lapang memohon pinta pada Tuhan agar anak-anak mama tak pernah merasakan luka serupa.
Duh, Mama ...
Doa tak kunjung putus yang membuka pintu-pintu langit itulah rupanya, yang telah membuat hidup kami semua (anak-anak mama) berada dalam kelapangan dan ketentraman.
Lalu harus bagaimana lagi kami mengimbangi cinta sepenuh bumi yang telah engkau beri untuk kami? Tak kan pernah sanggup kami mencintaimu melebihi cintamu pada kami.
Hanya doa, di setiap helaan nafas kami agar kiranya Allah Yang Mahacinta mencintaimu kini dan kelak. Mohon kiranya Allah Yang Mahahalus dan Mahakaya senantiasa menganugerahi hidup sehat sejahtera, dan kelak menganugerahkan Istana indah di surga.
Amiiin ...