Tampilkan postingan dengan label lomba. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lomba. Tampilkan semua postingan
Selasa, 15 April 2014
ASUS Notebook Terbaik dan Favoritku
Dulu, kalau mau kutak-ketik (bukan otak-atik) atau internetan, saya suka pakai komputer portable. Atau bila sedang tidak dipakai, saya pinjem laptop suami. Namanya juga minjem, jadi bila menulis harus disimpan di flashdisk supaya tidak perlu repot ketika harus mempostingnya di komputer.
Tapi keadaan itu saya jalani dengan santai. Setiap kali suami menawarkan agar saya membeli laptop, tidak terlalu saya tanggapi, sebab toh saya masih bisa menggunakan komputer rumah. Sayang bila dibiarkan nganggur.
Minggu, 30 Maret 2014
Patriotku adalah AKI
Tiba-tiba saja saya menahan sedan, saat baru saja mengetik kata "Aki".
Saya rindu padanya ...
Beliau adalah kakek saya almarhum, namanya Endus Supena, kerap dipanggil E. Supena saja. Sudah hampir lima tahun beliau berpulang, tapi saya masih suka merasa beliau ada di tengah-tengah kami. Saya tahu benar nilai-nilai hidup yang beliau wariskan kepada kami anak cucu mantunya tak akan pernah hilang. Terutama nilai silaturahmi yang menjadi amanahnya.
Masa kecil saya dihabiskan bersama aki dan enin (kakek dan nenek). Bersama mereka saya banyak memiliki kisah yang tidak dimiliki oleh cucu aki yang lain. Yang saya ingat, saya mulai mengenal kewajiban sholat darinya. Setiap hari, ketika saya tengah asik bermain di siang hari, saya dipanggil untuk sholat dhuhur. Ditemaninya saya berwudlu, lalu sholat berjamaah di mushola yang terletak di halaman belakang rumah di bawah pohon jambu air.
Saya rindu padanya ...
Beliau adalah kakek saya almarhum, namanya Endus Supena, kerap dipanggil E. Supena saja. Sudah hampir lima tahun beliau berpulang, tapi saya masih suka merasa beliau ada di tengah-tengah kami. Saya tahu benar nilai-nilai hidup yang beliau wariskan kepada kami anak cucu mantunya tak akan pernah hilang. Terutama nilai silaturahmi yang menjadi amanahnya.
Masa kecil saya dihabiskan bersama aki dan enin (kakek dan nenek). Bersama mereka saya banyak memiliki kisah yang tidak dimiliki oleh cucu aki yang lain. Yang saya ingat, saya mulai mengenal kewajiban sholat darinya. Setiap hari, ketika saya tengah asik bermain di siang hari, saya dipanggil untuk sholat dhuhur. Ditemaninya saya berwudlu, lalu sholat berjamaah di mushola yang terletak di halaman belakang rumah di bawah pohon jambu air.
Sabtu, 29 Maret 2014
Perjalanan Menuju-Nya
Menonton serial Upin Ipin di televisi. Anak kembar itu tengah berjalan menuju surau untuk mengaji bersama kawan-kawannya.
Melempar ingatan saya pada masa lalu ketika bergegas menuju masjid saat masih kanak-anak. Seruuu ...
Mengaji ba'da magrib hingga mnejelang Isya, saat itu tak lain adalah keseruan, tidak merasa bahwa itu sebuah kewajiban yang memberatkan. Bagaimana tidak. Waktu itu pelajaran mengaji sagat menyenangkan. Cara yang diberikan ustadznya, kebetulan beliau paman saya, sangat menarik. Saya memanggilnya Mang Tata.
Mang Tata, (dalam bahasa Sunda, Mang atau Mamang adalah panggilan untuk paman atau pakle) bukan hanya mengajar mengaji, beliau juga mendidik kami untuk mengerti apa yang kita baca. Tapi caranya gak bikin stress. Beliau ingin kami semua paham bacaan sholat serta arti surat-surat pendek yang kita baca saat mendirikan sholat. Tujuannya agar ketika sholat bukan hanya sekedar melakukan ritualnya semata tetapi juga memahami apa yang kita baca.
Rabu, 26 Maret 2014
GIVEAWAY : Dongeng Karuhun
Sukakah engkau mendongeng?
Atau, suka mendengar dongeng?
Dulu, dongeng biasanya kita dengarkan saat menjelang tidur, yang dikisahkan oleh ayah, ibu atau kakek dan nenek. Lalu, sekarang ketika sudah jadi ibu, suka mendongengkah? Pastinyaa ...
Apakah dongeng karuhun (cerita rakyat/dongeng nenek moyang) termasuk pilihan favorit?
Bagaimana tanggapan anak-anak saat dongeng karuhun disampaikan dalam bahasa ibu (bahasa daerah)nya?
Ini adalah kisah saya dulu, ketika si bungsu masih kelas 1 SD dan masih suka didongengi (betul, gak ya, begitu bahasanya? didongengi? hehe ...)
Begini …
Sejak si sulung masih balita, saya kerap membacakan dongeng sebelum tidur. Ini saya lakukan karena masa kecil sayapun kaya akan cerita dongeng sebelum tidur. Terlebih lagi, saya tahu, betapa kisah dongeng memberi dampak tak terduga (yang positif, tentu saja) bagi perkembangan jiwa dan emosi anak.
Apakah dongeng karuhun (cerita rakyat/dongeng nenek moyang) termasuk pilihan favorit?
Bagaimana tanggapan anak-anak saat dongeng karuhun disampaikan dalam bahasa ibu (bahasa daerah)nya?
Ini adalah kisah saya dulu, ketika si bungsu masih kelas 1 SD dan masih suka didongengi (betul, gak ya, begitu bahasanya? didongengi? hehe ...)
Begini …
Sejak si sulung masih balita, saya kerap membacakan dongeng sebelum tidur. Ini saya lakukan karena masa kecil sayapun kaya akan cerita dongeng sebelum tidur. Terlebih lagi, saya tahu, betapa kisah dongeng memberi dampak tak terduga (yang positif, tentu saja) bagi perkembangan jiwa dan emosi anak.
Saat itu dongeng yang saya baca adalah
dongeng dalam bahasa Sunda. Lucunya, dongeng ini sudah lama hilang dalam
perbendaharaan kamus ingatan saya. Maka saat saya membaca dan
mendongengkannya (Saya pisahkan antara membaca dan mendongeng karena
mendongeng membutuhkan keterlibatan ekspresi, emosi dan pewatakan tokoh
melalui suara yang berbeda. Misalnya suara kita saat memerankan tokoh
raja, pasti berbeda dengan saat mewakili tokoh ular dan anak kecil),
saya seperti terseret ke lorong waktu. Improvisasi saya menyeruak
dituntun oleh memori yang mengendap sekian lama.
Rabu, 09 Juni 2010
Intermezzo
dia bengong
aku melongo
kenapa dia jadi bego??
kutanya, dia bilang nelongso
Ooo
ada gadis yang ngasih combro
so?
bukan itu yang dia mao
Hoh!?
kadang cinta membuat orang jadi bego
rujak cuka dibilang bakso
serasa naik heli padahal naik bemo
Oooooi
aku mau kalian taooo
tak akan aku jatuh cintrong
biar jauh dari penyakit bego
ho ... ho ... ho ...
bletok!
wadowww!!!
Untuk mbak Fanny, mbak Fanda-Vixxio dan kontesnya. Karena saya gak biasa bikin puisi kocak, ya begini ini hasilnya.
Sekedar memeriahkan, mbak. Buat nambah-nambah peserta (bikin kerutan di muka juri, baca puisi kocak yang 'aneh' hehe ...)
Novel yang dipilih : Tongkat ajaib Lolita : My dearest frog prince.
Trims ...
aku melongo
kenapa dia jadi bego??
kutanya, dia bilang nelongso
Ooo
ada gadis yang ngasih combro
so?
bukan itu yang dia mao
Hoh!?
kadang cinta membuat orang jadi bego
rujak cuka dibilang bakso
serasa naik heli padahal naik bemo
Oooooi
aku mau kalian taooo
tak akan aku jatuh cintrong
biar jauh dari penyakit bego
ho ... ho ... ho ...
bletok!
wadowww!!!
Untuk mbak Fanny, mbak Fanda-Vixxio dan kontesnya. Karena saya gak biasa bikin puisi kocak, ya begini ini hasilnya.
Sekedar memeriahkan, mbak. Buat nambah-nambah peserta (bikin kerutan di muka juri, baca puisi kocak yang 'aneh' hehe ...)
Novel yang dipilih : Tongkat ajaib Lolita : My dearest frog prince.
Trims ...
Minggu, 23 Mei 2010
Rain Affair : Antara Cinta dan Dusta
Rain Affair. Apa yang engkau pikirkan saat membaca judul itu?
Urusan Hujan? Permainan Hujan?Pasti segala sesuatu mengenai hujan.
Atau bahkan hujan tak ada sama sekali dalam kisah ini, semata kisah cinta romantis, hanya ... akan lebih syahdu bila hujan mengguyur? Bisa iya, bisa juga tidak. Novel ini akan mengabarkan semuanya. Tentang cinta, dusta dan ... (lagi-lagi) hujan.
Ya novel.
Rain Affair adalah sebuah novel romantis karya Clara Canceriana.
Yuk, kita menyusuri lekuk likunya satu persatu.
Novel ini dikemas dalam balutan warna cinta : biru dan pink. Juga putih.

Urusan Hujan? Permainan Hujan?Pasti segala sesuatu mengenai hujan.
Atau bahkan hujan tak ada sama sekali dalam kisah ini, semata kisah cinta romantis, hanya ... akan lebih syahdu bila hujan mengguyur? Bisa iya, bisa juga tidak. Novel ini akan mengabarkan semuanya. Tentang cinta, dusta dan ... (lagi-lagi) hujan.
Ya novel.
Rain Affair adalah sebuah novel romantis karya Clara Canceriana.
Yuk, kita menyusuri lekuk likunya satu persatu.
Novel ini dikemas dalam balutan warna cinta : biru dan pink. Juga putih.
Ada payung terbentang terbalik warna pink mengabarkan sisa hujan di bawahnya, berupa genangan air. Nah, di sampulnya saja aroma hujan sudah menyergap. Artinya, sang penulis akan membuat tokohnya atau setidaknya background kisah ini dengan ritmis hujan, pemuja hujan, penggila hujan. Ugh, pantaslah. Anak judulnya menulis : ketika hujan aku jatuh cinta.

Novel ini mengisahkan romantika perasaan Noah, Lea dan Nathan. Perjalanan cinta Noah dan Lea dirajut dalam bingkai kasih yang aneh. Cinta yang bermandikan dusta, sayang yang berselimutkan kepalsuan. Cinta dan dusta menyatu dalam aliran hujan. Tergenang seolah tak terpisahkan. Sementara Nathan, orang ketiga yang berdiri di luar genangan, tetap berusaha untuk menjadikan dirinya 'payung' di hati Lea. Meski ia tak yakin gadis itu masih mengingat dirinya.
Keadaan seperti ini layaknya menggantang pelangi. Mereka tak bahagia. Hingga mereka berani memutuskan untuk bersegera memutuskan rantai dusta dan kepalsuan diantara mereka.
Kebahagiaan itu ibarat pelangi. Indah. Nampak dari jauh, tak tergapai. Padahal sebenarnya ia ada di dalam diri mereka sendiri.
Bagaimana kisah ini berakhir?
Temukan jawabannya di Rain Affair karya Clara Canceriana, penerbit Gagas Media.
****
Pre-Review ini ditulis untuk memeriahkan : Rain Affair Pre-Review Contest
yang diadakan oleh Clara Canceriana .
Namanya juga pre-review, jadi ditulis sebelum bukunya dibaca. Sedikit sok tahu hehe ... plus informasi awal dari sang penulis buku. Semoga berkenan ...
Keadaan seperti ini layaknya menggantang pelangi. Mereka tak bahagia. Hingga mereka berani memutuskan untuk bersegera memutuskan rantai dusta dan kepalsuan diantara mereka.
Kebahagiaan itu ibarat pelangi. Indah. Nampak dari jauh, tak tergapai. Padahal sebenarnya ia ada di dalam diri mereka sendiri.
Bagaimana kisah ini berakhir?
Temukan jawabannya di Rain Affair karya Clara Canceriana, penerbit Gagas Media.
****
Pre-Review ini ditulis untuk memeriahkan : Rain Affair Pre-Review Contest
yang diadakan oleh Clara Canceriana .
Namanya juga pre-review, jadi ditulis sebelum bukunya dibaca. Sedikit sok tahu hehe ... plus informasi awal dari sang penulis buku. Semoga berkenan ...
Jumat, 21 Mei 2010
Sebaiknya Aku Diam
Teriakanmu memecah keheningan. Sebaiknya memang aku diam, untuk memecah teriakanmu.
Impas ...
Tulisan ini dibuat untuk mengikuti kontes Fiksi Mini yang diadakan oleh mbak Wi3nda di sini
Impas ...
Tulisan ini dibuat untuk mengikuti kontes Fiksi Mini yang diadakan oleh mbak Wi3nda di sini
Jumat, 12 Februari 2010
Sepotong Petang Bersama Cici

Di sebuah coretan kecil, suatu petang kutemukan sebaris kalimat harap yang menggelitik, “Selamat tahun baru, semoga di tahun ini tidak ada korupsi.”
Kalimat yang biasa saja, kalau saja ditulis oleh orang dewasa, tapi menjadi menggelitik dan mengundang tanya sebab kalimat itu ditulis oleh seorang anak kelas 2 SD. Ditulis dalam sebuah blog imut dan pinky.
Nyata benar, Cici, pemilik blog ini, yang juga puteri bungsuku, memahami bahwa korupsi adalah sebuah kata atau perilaku yang berkonotasi negatif, tidak baik, cenderung merugikan. Meski saat ditanyakan secara sepintas ‘apa itu korupsi?’ ia hanya menjawab ringan :’nggak tahu’ sambil nyengir. Lantas ketika kukejar dengan pertanyaan : ‘lalu kenapa berharap tahun ini gak ada korupsi?’ Jawabannya adalah : “Biar aman aja, kan korupsi itu jahat.”
“oooo….,” responku mengundangnya meneruskan ‘penjelasan’.
“Pokoknya yang suka nyuri-nyuri, gitu.”
Mengapa obrolan petang itu menjadi penting bagiku? Karena saat itulah kuanggap sebagai moment emas untuk menanam. Ya, menanam. Anak-anak bagiku, selain sebagai inspirasi, adalah lahan subur untuk menanam. Menanam benih kebaikan, pemahaman, etika, norma, moral agama dan segala macam nilai-nilai kehidupan yang kelak, Insya Allah, akan mengantarkan perjalanannya menuju tujuan akhirat. Terlalu jauh? Tentu saja tidak. Disadari atau tidak, perjalanan setiap manusia adalah untuk mempersiapkan kematian. Dan aku bertanggung jawab menebarkan benih yang baik di dada anak-anakku, agar ia tidak terjebak dalam ‘permainan’ yang melenakan. Menebar setiap waktu, setiap Tuhan beri kesempatan padaku untuk menanam. Menanam kebaikan, kebenaran, perbedaan, toleransi, nilai-nilai agama dan budi pekerti dalam praktek keseharian.
Sungguh itu tidaklah gampang!
Anak ini (dan seluruh anak seusianya di negeri ini), kelak, lima belas hingga duapuluh tahun mendatang, adalah para pemimpin negeri ini, yang seyogyanya memiliki budi pekerti dan jiwa yang kuat dalam menghadapi terjangan dan gempuran virus menyesatkan. Dengan demikian, mereka mampu tetap lurus dalam membawa bangsanya menjadi maju secara jujur, bukan maju bagai buih, yaitu maju dan berkembang secara fisik tetapi keropos dan ringkih bila dilihat lebih dalam. Mudah terprovokasi, gampang dikibuli, kikuk saat menjadi diri sendiri. Sungguh sebuah kenyataan yang memiriskan. Kelak, saat anak-anak kita menjadi panglimanya, aku berharap negeri ini tak lagi jalan sempoyongan akibat keropos digerogoti anaknya sendiri.
Maka mulailah aku berperang melawan korupsi dari kamar tidur anakku, dari rumah sederhanaku, dari dapur, dari halaman bermain, dari setiap sudut dimana anakku tengah berada di zona emas. Yakni keadaan jiwa yang memungkinkannya menerima asupan nilai secara maksimal. Bukan disaat ibunya tengah ada waktu. Melainkan di saat anak ini berada di puncak interestnya pada keadaan di luar dunianya.
“Bu, Antasari (Antasari Azhar) dihukum 18 tahun,” katanya sambil menyisir rambut usai mandi. Rupanya benaknya masih menyimpan berita yang sempat dilihatnya di televisi. Aku mengiyakan saja dengan anggukan sambil berdebar menanti kelanjutannya, cemas dengan apa yang harus kukatakan agar aku tak salah menanam.
“Dia korupsi, ya, Bu.”
Tentu saja aku bingung, jawaban seperti apa yang harus kurangkai, agar kasus yang njelimet ini menjadi sederhana sehingga ‘masuk’ dalam logika anak usia kelas 2 SD, namun tak sampai menjerumuskannya pada penilaian yang keliru.
“Dia tidak korupsi, sayang. Dia adalah mantan ketua KPK, Komisi Pemberantasan Korupsi, yaitu orang yang bertugas menghilangkan korupsi di Indonesia. Tapi dia melakukan kesalahan sehingga harus diadili, untuk mempertanggungjawabkan apa yang telah dia lakukan."
"Seperti maling, ya, Bu," simpulnya lugas.
"Ya seperti itulah orang yang korupsi, tapi Antasari diadili karena alasan lain," jawabku hati-hati. Lalu aku mendekat. Sambil mengambil alih menyisiri rambutnya yang masih basah kulanjutkan misi rahasiaku : menanam benih.
"Nak, korupsi itu bukan hanya soal uang. Korupsi dilakukan oleh orang-orang yang tidak punya iman. Bila ibu pulang kantor lebih dahulu tanpa izin, bisa disebut korupsi juga, yaitu korupsi waktu. Ibu kan sudah digaji sebulan penuh oleh negara, jadi ibu harus kerja sebulan penuh juga. Bila ada anak-anak yang jajan permen lima biji tapi bayarnya cuma satu, itu korupsi juga. Korupsi sama dengan melakukan hal buruk dan merugikan orang lain, baik secara terbuka maupun sembunyi-sembunyi."
Cermin di hadapan kami memantulkan mata bening milik Cici, menatapku, mencerna setiap kalimat yang kukatakan. Kami saling bertatapan manis. Kubayangkan, sebening itulah dahulu, mata para koruptor, kala mereka masih kanak-kanak. Namun, terjangan berbagai kepentingan dan lemahnya iman di dada mereka membuat segala nilai menjadi kabur. Atau bahkan mungkin saja mereka memang tak pernah mendapat ajaran tentang nilai-nilai yang luhur, karena ibunya sibuk mengurusi urusan luar. Alangkah sayangnya ... Alangkah ruginya ...
Ya Allah, mampukanlah aku, mampukanlah kami, para ibu dan ayah, dalam menanam benih kebenaran dan kebaikan di dada anak-anak kami, agar akarnya kuat menancap di jiwa-jiwa kecil mereka hingga kelak tiba saatnya mereka jadi panglima negeri ini, hingga kelak Engkau panggil mereka untuk menghadapMu. Jangan biarkan ia pudar dan ternoda.
Sepintas terpampang sebuah data survey yang sempat kubaca disini. Transparency Internasional menyebutkan bahwa Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia di tahun 2009 adalah 2,8. Masih sangat jauh dari angka ideal 10. Indeks pengukuran memiliki skala antara 0 (sangat korup) sampai dengan 10 (sangat bersih). Tentunya ini sangat memprihatinkan, terlebih lagi bila kita bandingkan dengan IPK negara-negara tetangga seperti Singapura, Brunei Darussalam (5,5), Malaysia (4,5) dan Thailand (3,3).
Aku menghela nafas.
Bangsa ini ada di genggamanmu, Nak, di genggaman semua anak yang lahir di negeri ini, anak yang lahir di Jakarta, Bukittinggi, Pulau Nias, Ambon, Bone, di pegunungan, di pesisir pantai, bahkan di pedalaman Papua. Semuanya memiliki kesempatan yang sama, asal engkau mendapat bekal yang seimbang dari alam materi dan alam spiritual.
Bila saja semua orangtua di negeri ini mempersiapkan dan memperlakukan mereka (anak-anak) sebagai pemimpin dan panglima negeri yang akan membawa Indonesia menjadi lebih baik, kuyakin negeri impian itu akan benar-benar ada.
"Selesai," senyumku mengembang menatapnya di cermin dengan bando merah muda. "Siap untuk jadi shalih dan manfaat?"
"Siap!" jawabnya tertawa derai.
"Oke, silakan main, Tuan Puteri..."
Sekejap dia 'terbang' sambil berteriak : "hapus korupsi!"
Sendiri aku menatap cermin, menata kembali semangat untuk mengobati bangsa yang tengah sakit ini, dari bilik yang paling sederhana, yakni rumah. Sebagai seorang ibu aku masih menyimpan mimpi, dari setiap rumah kita akan lahir calon pemimpin negeri ini, yang di dadanya berlimpah nyala kasih, di jiwanya menyala semangat berkorban, berbagi dan berjuang, di kalbunya tertancap akar iman yang kuat.
Insya Allah, kelak Indonesia jaya.
NB : Artikel ini saya ikutsertakan dalam ANTI KORUPSI BLOGPOST COMPETITION yang diadakan oleh www.ceritainspirasi.net
Langganan:
Postingan (Atom)

