Minggu, 30 Maret 2014

Patriotku adalah AKI

Tiba-tiba saja saya menahan sedan, saat baru saja mengetik kata "Aki".
Saya rindu padanya  ...

Beliau adalah kakek saya almarhum, namanya Endus Supena, kerap dipanggil E. Supena saja. Sudah hampir lima tahun beliau berpulang,  tapi saya masih suka merasa beliau ada di tengah-tengah kami. Saya tahu benar nilai-nilai hidup yang beliau wariskan kepada kami anak cucu mantunya tak akan pernah hilang. Terutama nilai silaturahmi yang menjadi amanahnya.

Masa kecil saya dihabiskan bersama aki dan enin (kakek dan nenek). Bersama mereka saya banyak memiliki kisah yang tidak dimiliki oleh cucu aki yang lain. Yang saya ingat, saya mulai mengenal kewajiban sholat darinya.  Setiap hari, ketika saya tengah asik bermain di siang hari, saya dipanggil untuk sholat dhuhur. Ditemaninya saya berwudlu, lalu sholat berjamaah di mushola yang terletak di halaman belakang rumah di bawah pohon jambu air.


Sabtu, 29 Maret 2014

Perjalanan Menuju-Nya

Menonton serial Upin Ipin di televisi. Anak kembar itu tengah berjalan menuju surau untuk mengaji bersama kawan-kawannya. Melempar ingatan saya pada masa lalu ketika bergegas menuju masjid saat masih kanak-anak. Seruuu ... 

Mengaji ba'da magrib hingga mnejelang Isya, saat itu tak lain adalah keseruan, tidak merasa bahwa itu sebuah kewajiban yang memberatkan. Bagaimana tidak. Waktu itu pelajaran mengaji sagat menyenangkan. Cara yang diberikan ustadznya, kebetulan beliau paman saya, sangat menarik. Saya memanggilnya Mang Tata. 

Mang Tata, (dalam bahasa Sunda, Mang atau Mamang adalah panggilan untuk paman atau pakle) bukan hanya mengajar mengaji, beliau juga mendidik kami untuk mengerti apa yang kita baca. Tapi caranya gak bikin stress. Beliau ingin kami semua paham bacaan sholat serta arti surat-surat pendek yang kita baca saat mendirikan sholat. Tujuannya agar ketika sholat bukan hanya sekedar melakukan ritualnya semata tetapi juga memahami apa yang kita baca. 


Rabu, 26 Maret 2014

GIVEAWAY : Dongeng Karuhun


Sukakah engkau mendongeng?
Atau, suka mendengar dongeng?
Dulu, dongeng biasanya kita dengarkan saat menjelang tidur, yang dikisahkan oleh ayah, ibu atau kakek dan nenek. Lalu, sekarang ketika sudah jadi ibu, suka mendongengkah? Pastinyaa ...
Apakah dongeng karuhun (cerita rakyat/dongeng nenek moyang) termasuk pilihan favorit?
Bagaimana tanggapan anak-anak saat dongeng karuhun disampaikan dalam bahasa ibu (bahasa daerah)nya?

Ini adalah kisah saya dulu, ketika si bungsu masih kelas 1 SD dan masih suka didongengi (betul, gak ya, begitu bahasanya? didongengi? hehe ...) 

Begini …
Sejak si sulung masih balita, saya kerap membacakan dongeng sebelum tidur. Ini saya lakukan karena masa kecil sayapun kaya akan cerita dongeng sebelum tidur. Terlebih lagi, saya tahu, betapa kisah dongeng memberi dampak tak terduga (yang positif, tentu saja) bagi perkembangan jiwa dan emosi anak.
Saat itu dongeng yang saya baca adalah dongeng dalam bahasa Sunda. Lucunya, dongeng ini sudah lama hilang dalam perbendaharaan kamus ingatan saya. Maka saat saya membaca dan mendongengkannya (Saya pisahkan antara membaca dan mendongeng karena mendongeng membutuhkan keterlibatan ekspresi, emosi dan pewatakan tokoh melalui suara yang berbeda. Misalnya suara kita saat memerankan tokoh raja, pasti berbeda dengan saat mewakili tokoh ular dan anak kecil), saya seperti terseret ke lorong waktu. Improvisasi saya menyeruak dituntun oleh memori yang mengendap sekian lama.


Selasa, 25 Maret 2014

Tentang sebuah status

Curhat di jejaring sosial?
Banyak orang melakukannya. Entahlah barangkali ia tidak punya teman diskusi di dunia nyata, sehingga merasa perlu menumpahkannya di negeri dumay.
Bagi sebagian orang barangkali lumrah saja, tetapi bagi sebagian yang lain ibarat menepuk air di dulang terpercik muka sendiri alias menelanjangi diri. Curhat atau menumpahkan kemarahan atau mencaci maki atau apalah namanya itu biarkan jadi milik sendiri, yang tak pantas diumbar di media. Sejatinya jejaring pertemanan, apapun namanya, mau facebook, twitter, Instagram dll dengan nama baru itu (yang saya gak tahu hehe ...) adalah media publik, yang memungkinkan banyak orang membaca dan kemudian tahu keadaan kita.

Setidaknya itu menurut saya pribadi. Bagi yang tidak sependapat, ya mangga, silakan, toh semua punya alasan. Sepanjang hal itu tidak lantas menyebabkan perseteruan berjamaah (yang kerap terjadi di kalangan selebritis) sih no problem, meski bila ditelisik lebih mendalam lagi, nampaknya akan lebih elegan bila masalah hanyalah dibagi pada mereka yang dipercaya semata, bukan di dumay, yang memungkinkan orang lain yang tak kita kenal pun bisa membacanya.

Saya lalu menelusuri jejak status saya yang lalu, adakah tulisan yang lebay dan galau?? Aiiih ... jangan-jangan ada.

Ibaratnya, menelusuri status hari demi hari melatih kita untuk menilai diri, apakah yang telah kita tulis (baca : katakan) manfaat atau mudharat? khususnya buat pengingat diri sendiri? Bila ternyata banyak yang mubadzir, kita dapat memperbaiki status kita di hari ke depan, agar lebih positif dan mencerahkan. Status positif itu tak harus serius lho ... Status ngocol pun bisa berefek menggerakkan, dan memberi manfaat buat banyak orang.


Selasa, 04 Maret 2014

Cici, Keinginan dan Rencananya


Sore itu, Cici, menyodorkan formulir berwarna putih hijau plus brosur. Apa, ya?
"Cici mau ke sini aja, Bu," katanya pendek.

Kulihat sekilas. Itu adalah formulir pendaftaran masuk sekolah. Cici sekarang kelas 6 SD, sebentar lagi melanjutkan sekolah ke tingkat SLTP.

Kilas balik dulu, yu, sebentar.

Sedari masih TK, Cici adalah salah satu anak yang tahu mau kemana dia akan sekolah. Melanjutkan SD nya di SDIT Persis Tarogong adalah keinginannya, dan tentu saja kudukung karena selain kakaknya juga bersekolah di sana, kualitas SD tersebut terbilang bagus untuk kawasan kota Garut. Cici masih kelas 1 SD ketika dia menyatakan keinginannya untuk melanjutkan sekolah di MTsN Garut kelak bila ia sudah harus sekolah di tingkat SLTP. Kuiyakan saja dengan santai. Pikirku, biasa anak-anak, toh nanti juga akan berubah seiring perjalanan waktu.

Tahun demi tahun berlalu (berasa cerita dongeng, ya hehe ...) keinginan Cici untuk sekolah di MTsN Garut tidak juga berubah, malah semakin kuat. Terlebih ketika setiap tahun MTsN Garut menjuarai lomba-lomba LBB (Lomba Baris- Berbaris), Pramuka, dan lain-lain. Pramuka adalah bidang yang sangat Cici suka. Maka sangat bisa dipahami bila Cici ingin jadi bagian team andalan sekolahnya kelak.

Jumat, 28 Februari 2014

What a Wonderfull Wife ...

Menikah adalah setengah agama. Begitu yang kutahu sedari remaja, dari orangtua, dari guru, dari kakek, dari buku. Maka, menikah tentu saja menjadi ibadah bagi sesiapa yang melakukannya. Menikah adalah sebuah ikatan suci yang dibingkai dengan 'mitsaqan ghalidza'.

Ketika suatu hari Allah pertemukan ku dengan jodoh, lalu menikah, aku sadar telah masuk pada ranah 'setengah agama' itu. Ada banyak hal yang harus kujalani, bukan hanya yang penuh kesyukuran, melainkan lengkap pula dengan segala macam onak duri yang menghiasi perjalanan setengah agama itu.

Maka dengan penuh keinsyafan aku paham, betapa indah menjadi seorang istri. Seindah perjalanan itu bila telah tiba di tujuannya. Menuju sakinah dalam mawaddah dan rahmah, duhai betapa memabukkan. Apalagi bila semuanya dilakukan karena cinta. Cinta kepada Sang Mahacinta.

Sabtu, 22 Februari 2014

FLP17

 


Perayaan, sejatinya adalah sebuah kontemplasi, telah seberapa jauh kita melangkah, sudah berapa banyak kita berbuat?

Entahlah, seakan aku adalah bagian darinya, padahal aku hanyalah satu dari sekian banyak orang yang menyukainya semata. Suka? Barangkali terlalu ringan. Aku mengagumi gerakannya, visinya, karya-karyanya, orang-orang yang bergerak di dalamnya, dan semuanya. Aku suka semuanya.


Tasma, Antara Fashion dan Kebutuhan

Bagi sebagian orang tasma adalah fashion, bagi sebagian lainnya tasma adalah kebutuhan.
Tasma? Apaan tuuuh ..?? (*gaya Jaja Mihardja hehe ...)

Ini dia yang namanya Tasma


                                   

Yaa... Tasma adalah sebutan kacamata dalam bahasa Sunda.

Ceritanya begini, setelah sekian tahun kacamata minus saya jarang dipakai karena saya merasa sudah tidak terlalu tergantung lagi, beberapa hari ini saya harus kembali pakai (kacamata). Bukan lagi minus, tetapi double. Maksudnya?? 

Karena ternyata usiaku sudah masuk kategori lansia, (batas minimal kategori lansia adalah 45 tahun), maka mataku sudah ikutan lansia,  jadi mata tua alias presbiopi. Aiiih ... tua nih. Jadi harus pake kacamata jenis bifokal agar mata bisa melihat benda dengan jelas. Dalam bahasa sehari-hari kita sering menyebutnya dengan istilah kecamata plus minus, yaitu menggunakan lensa cekung dan cembung sekaligus. 


Rabu, 19 Februari 2014

Ceritanya begini ...

Ceritanya begini ...
Blog ini sudah lama tidak terurus dengan baik. Kalaupun menulis, ya, nulis saja.
Pada suatu masa dulu, saya pernah begitu rajin sowan ke rumah teman maya, blogwalking, jalan-jalan, saling sapa dan ngopi aksara, beragi rasa berbagi kisah berbagi ilmu. Lalu saling memasang link, belajar html, menambah widget, dan sebagainya.

Kemudian semua itu tak lagi saya lakukan. Kenapa? Bukan karena bosan, melainkan oleh sebab hal lain.
Ada suatu masa, dalam sebulan saya hanya menulis satu tulisan. Atau bahkan lima bulan baru menulis lagi. Itupun tak lantas membuat langkah saya bergerak menyambangi teman-teman.

Maka, lupalah saya akan hal-hal teknis dalam memasang link dan sebagainya.
Bersyukur kemudian ketika saya mulai menulis lagi, saya diinvite neng Irma Senja  untuk gabung di komunitas KEB. Dari sana semuanya kembali bermula. Saya diingatkan bahwa sejarah harus dituliskan, sesederhana apapun ia telah mengukir jejaknya. Saya harus kembali rajin menulis dan bersilaturahmi.

Saya kembali diingatkan, bahwa pertemanan, di manapun ia terjalin, selalu memberika hal-hal positif dan membangun, menggairahkan dan sangat tak pantas untuk dibiarkan. Semua harus dijaga dan dipelihara. Bahkan dalam keadaan sempit, silaturahmilah, menulislah.


Minggu, 09 Februari 2014

Melipat Kantong Kresek

Saya belum pandai dan tidak termasuk rajin memanfaatkan limbah bentuk apapun menjadi sebuah benda yang lebih manfaat, seperti yang dilakukan neng Dey. Tapi ... melihat kantong kresek yang menumpuk di lemari dan laci, saya baru berfikir untuk membuat 'penampakan'nya tidak terlalu mengganggu pemandangan. Jadi tumpukan kantong kresek sisa belanjaan itu tidak saya gundukkan begitu saja.




 Melainkan dilipat seperti ini.

Selasa, 04 Februari 2014

Rumah Putih Itu ...

Siang tadi, Pak Jajang Jauhari, seorang rekan guru menyodorkan sebuah bingkisan berwarna coklat.
Otak saya tak berfikir lama. Itu pasti sebuah buku. Tapi buku apa? atau tepatnya buku yang mana? Kulihat pengirimnya. Bunda Abonk. Nama yang asing. Siapa, ya? Lalu tiba-tiba saja terlintas "Rumah Putih" begitu saja. Saya terlonjak, apakah ini buku itu?

Jumat, 31 Januari 2014

#1Hari1Ayat hari ke-31 : Syukur mata adalah menutupi aib setiap Muslim yang dilihatnya

Imam Ghazali pernah menulis bahwa "Syukur mata adalah menutupi aib setiap Muslim yang dilihatnya, syukur telinga adalah menutupi aib setiap Muslim yang didengarnya." 
Sedangkan Imam Ibnu Mas'ud berkata bahwa "Syukur adalah setengah dari iman."

 
Karena itu ingatlah kamu kepadaKu, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (ni'mat)-Ku.
(QS. Al-Baqoroh 152)



Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan
(QS Al-Baqoroh 164)


Betapa banyak nikmat Allah dan betapa sedikit syukur kita ...

Maka kulafadzkan doa Nabi Sulaiman rasa syukur ini selalu terpelihara :

Ya Tuhanku, berikanlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal shaleh yang Engkau ridhoi dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu kedalam golongan hamba-hamba-Mu yang shaleh"
Aamiin ...

Mahabenar Allah dengan segala firmanNya

Kamis, 30 Januari 2014

#30 : Orang Shalih adalah ...

Aku berlindung kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk
Bismillaahir rahmaanir rahiim

 

"Katakalah, Jika kalian benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, 
niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS Ali Imran : 31)

Rasulullah saw bersabda : "Semua ummatku masuk surga kecuali orang yang tidak menginginkannya."
"Siapa yang tidak menginginkannya?" tanya para sahabat.
"Orang yang menaatiku masuk surga, sedangkan orang yang durhaka padaku tidak menginginkan masuk surga. Setiap amalan yang tidak berdasarkan Sunnahku adalah kemaksiatan."

Maka, satu-satunya jalan agar kita selamat dan masuk dalam golongan ummat Rasulullah adalah menjadi orang shalih.
Lalu siapa orang shalih itu?

Al-Fudhayl ibn Iyadh ditanya : "Wahai abu Ali, kapan seseorang bisa dikatakan orang shalih?"
"Apabila ada kesetian dalam niatnya, ada ketakutan adalam kalbunya, ada kebenaran dalam lidahnya dan ada amal shalih pada anggota tubuhnya," jawabnya.

Saya hanya menukil ini dari buku Ziarah Ruhani bersama Imam Al-Ghazali. Semoga bermanfaat.


Rabu, 29 Januari 2014

#29 : Silaturahmi

Aku berlindung kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk
Bismillahir rahmaanir rahiim

 
Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa  kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang dila'nati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka
(QS Muhammad : 22-23)


Jadi benar, memelihara hubungan silaturahmi itu adalah perintah Allah.  Bukan saja dengan keluarga dekat, melainkan pula dengan keluarga jauh (baik secara lokasi ataupun secara garis keturunan), bahkan memelihara hubungan silaturahmi dengan tetangga dan sahabat. Perilaku tersebut adalah salah satu upaya manusia untuk memelihara keutuhan dan kedamaian dunia.

Semua perintah Allah sejatinya membahagiakan.
Coba, siapa sih yang tidak senang dan bahagia ketika berkumpul dengan keluarga? Apalagi dengan mereka yang jarang bertemu. Wuihh .... kangen-kangenan dan obrolan mengalir gak henti-henti.

Ayat di atas, disandingkan antara membuat kerusakan dengan memutuskan hubungan kekeluargaan. Maka, hati-hati, jika anda memutuskan hubungan baik dengan siapa saja, maka sejatinya anda tengah membuat kerusakan di muka bumi. Rusaknya hubungan adalah cikal bakal tumbuhnya rasa curiga, rasa benci dan hilangnya rasa cinta. Yang demikian itu sangat dekat dengan munculnya perilaku buruk yang secara tidak disadari adalah merusak. Apa bedanya dengan merusak tatanan dunia yang damai dan melapangkan? Hanya saja kita seringkali tertipu dengan kata-kata pembelaan : 'ah sedikit, ini ...' atau 'aah ... buat pelajaran, sekali-kali dicuekin'

Silaturahmi akan menjaga perasaan satu sama lain saling terjaga dan terpelihara. Bilapun terjadi friksi, silaturahmi akan membuat masalah menjadi cair, sebab akan ada komunikasi yang biasanya membuat semua menjadi jelas. Pada akhirnya hubungan semakin erat dan terjalin saling memahami dan mengerti.

Sekali lagi, apapun ayatnya, semua perintah Allah adalah membahagiakan.
Mengapa kita sering lalai ...?

Bahkan Rasulullah saw telah bersabda :

Ada tiga orang yang tidak akan masuk surga :
pecandu khamar, pemutus silaturahmi dan yang mempercayai sihir
HR. Ibn Hibban

Naudzubillahi min dzalik ...

Maka, meski hanya via blog seperti ini, semoga kita termasuk orang yang memelihara silaturahmi, ya, sahabatku.


Selasa, 28 Januari 2014

#1Hari1Ayat Hari ke-28 : Pelajaran dari Televisi

Aku berlindung kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk
Bismillahir rahmaanir rahiim


 
 "Hai orang-orang yang beriman,
janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi"
 (QS Al-Munafiqun : 9)



Masya Allah ...
Subhanallah ...
Astaghfirullah ...

Entah mana yang harus kuucapkan. Nyatanya, ketiga ucapan spontan itu keluar juga dari lisan saya tadi malam, ketika menyaksikan penyitaan belasan mobil mewah dari seorang tersangkan suap, Tubagus Chairi Wardhana alias Wawan.

Takjub melihat banyaknya mobil mewah seharga milyaran rupiah terparkir di garasi rumahnya. Buat apa beli mobil banyak-banyak, mahal lagi, kan gak bakal dipake semua? pikirku begitu. 

Tapi kemudian suami saya berkata lugas. 
"Itulah godaan duniawi. Dia merasa bahwa itulah kebutuhan gaya hidupnya. Coba, buat apa ibu beli tas berbagai jenis?"

Deg!
Lho, kok jadi lari ke saya? Tapi saya gak protes. Saya jawab dalam hati  : karena saya kan butuh tas itu? Lalu saya jadi mikir, iya juga ya. Tas satu atau dua, kan, cukup. Satu buat ngantor, satu buat pergi santai. Tapi gak begitu juga. Sebagai seorang perempuan, saya tergoda   untuk tampil lebih modis dengan tas yang sesuai dengan acara dan baju yang dikenakan. Gak lucu dong kalau saya pergi main nganter anak berenang, misalnya, malah pake tas yang cocoknya buat ngantor. Meski gak bakal ada yang protes, gak matching aja ... hehe ... ngeles.

Oke sampe sini saya ngerti.
Kebutuhan dan gaya hidup setiap orang pasti berbeda, sesuai selera, sesuai pendapatan. Makin tinggi tingkat sosial seseorang makin tinggi juga tuntutan dan gaya hidupnya. Sampai sini gak ada yang salah secara logika. Tetapi terasa kurang srek bila kita melihatnya dari sisi ruhani. 

Pentingkah gaya hidup dipertahankan?

Padahal Rasulullah saw telah mengingatkan lewat sabdanya :
Cinta harta dan kedudukan menumbuhkan kemunafikan dalam kalbu 
sebagaimana air menumbuhkan sayuran 

Akan datang sesudah kalian satu kaum yang memakan makanan yang enak dan mengenakan pakaian yang bagus. Perut mereka tidak kenyang dengan yang sedikit dan diri mereka tidak puas dengan yang banyak. Mereka bersandar dan merasa senang dengan keduniaan. Mereka menyediakan tuhan di samping Tuhan mereka. Kepada dunia mereka berharap dan kepada hawa nafsu mereka patuh. 
(dari buku Imam Ghazali - Ziarah Ruhani) 

Astaghfirullah ...

Di zaman ini telah banyak sabda Rasulullah terbukti. Padahal dalam kitab suci pun Allah telah mengingatkan bahwa harta dan anak-anak seringkali melalaikan kita.
Yang pasti, semakin banyak kita melihat dan mendengar berita di layar televisi, semakin banyak pula kita mengaca diri, telah ikut terseretkah kita dalam pusaran kemelut dunia hari ini? Sebab sedikit atau banyak ada peran serta kita di dalamnya. Entah langsung ataupun tidak, sebab nyatanya keterdiaman kita dalam banyak hal barangkali termasuk pada ranah pembiaran, yang memungkinkan kerusakan semakin menjadi.

Wallahu alam ...



Senin, 27 Januari 2014

#1Hari1Ayat : hari ke-27 : Lelaki atau Perempuan, ia Anugerah Allah



 
Kepunyaan Allah lah kerajaan langit dan bumi. 
Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki
(QS. Asy-Syura : 49)


Oleh sebab hanya Alah yang Mahakuasa memilihkan dan memberikan anak lelaki atau perempuan bagi kita, maka hanya kepada Allah jualah semuanya dikembalikan. Artinya, bila pun kita mengharapkan bayi yang lahir kelak berjenis kelamin lelaki atau perempuan, yang bisa kita lakukan selain berusaha (dengan bantuan ilmu pengetahuan yang sekarang makin banyak tips memperoleh anak berjenis kelamin tertentu, dengan bantuan pola makan dll) adalah banyak berdoa. Tapi tentu saja keputusan mutlak ada di tangan Allah swt.

Tapi bagi setiap ibu, biasanya Allah titipkan 'signal' untuk mengetahui gerangan bayi berjenis kelamin apa yang kelak lahir dari rahimnya. Setiap ibu pasti tahu, dan pernah merasakannya, yakni sebuah rasa yang dibrikan Allah pada hati seorang calon ibu. Firasat. Ya itu namanya.  

Seberapa besarpun keinginan seorang ibu memiliki anak dengan jenis kelamin tertentu, tak akan mengurangi rasa cinta dan perhatian pada buah hati.  Sebab Sang Maha Cinta, Allah swt, telah pula menitipkan rasa cinta dan kasih sayang dalam hati ibu. Tinggal bagaimana kita mengelola rasa cinta itu agar tak lantas menjerumuskan pada cinta berlebih dan melenakan. Tugas oangtua kemudian untuk menanamkan pada anak, lelaki ataupun perempuan, bahwa mereka lahir karena Allah telah memberikan tugas mulia padanya, yakni berbuat manfaat bagi kemanusiaan dan dunia, hingga kelak Tuhan kembali memanggilnya.

Tugas itu ada di tangan kita sekarang ...
Maka dengan menyebut namamu ya Allah, bimbing kami senantiasa

Minggu, 26 Januari 2014

#1Hari1Ayat ke-26 : Untuk Saya

Hanya ingin mengingatkan kepada diri saya, betapa kematian itu sungguh sagat dekat. Hari ini saya sehat, bahagia, tak kurang suatu apa, tapi tak bisa menjamin maut tak bakal datang hari ini. Sungguh, hidup selalu memberikan banyak kejutan.

Melihat berita di televisi. Hakim Agung yang kemarin sesumbar untuk tetap memelihara hukum dengan seadil-adilnya serta melaknat pelaku korupsi, kini harus ditekan egonya sendiri, bertanggung jawab pada perdagangan kursi jabatan yang menghempaskan seluruh harga diri dan kehormatannya. Apakah ia yakin bahwa maut tak akan segera menghampiri? Duhai, alangkah berat ketika sebiji buah yang dipetik harus dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan, kelak.

Lalu saya? Telah berbuat apakah hari ini? Agar esok atau lusa atau bahkan mungkin satu jam kemudian bisa berkata dengan benar di hadapanNya? Bahwa hanya kebenaran yang saya lakukan dan tak terselip dusta diantaranya?
Ya Allaaah ...



"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan." (Ali Imran 185)



"Dan, datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya.  
Itulah yang kamu selalu lari daripadanya" (Qaaf : 19)

Benar, saya seringkali merasa bahwa waktu saya masih banyak. Sehingga suka lalai akan hal-hal yang sebaiknya saya kerjakan, untuk suami, untuk anak-anak, untuk diri sendiri, untuk orangtua, untuk lingkungan atau untuk orang lain. Padahal tahu apa saya akan waktu satu jam lagi? Saya hanya tahu tentang rencana-rencana yang saya susun, selainnya tidak. Saya tak tahu apa-apa.

Ya Allah, sebelum Engkau panggil saya, mampukan saya memberi manfaat untuk orang-orang sekitar wabil khusus keluarga yang mencintai dan saya cintai. Matikan saya dalam keadaan husnul khotimah, sehingga Engkau ridlo ... 

Aaamiiin


Sabtu, 25 Januari 2014

# 25 : Hujan adalah Rahmat, Manusia yang mengubahnya


Perasaan campur aduk selalu datang setiap melihat layar tv akhir-akhir ini. Banjir masih menenggelamkan banyak rumah di banyak kota di Indonesia. Sungguh, bukan musibah yang ringan.  

Padahal telah beberapa lama kita menanti hujan turun, ketika kemarau mulai membuat tanah sawah mengering dan pecah-pecah. Hujan kerap dinanti kehadirannya sebab ia menjanjikan kesuburan dan kesegaran.  Tapi kenapa justru ketika hujan tiba, ia seolah menjadi petaka?

Bukankah Allah telah berfirman bahwa melalui hujan Dia menyebarkan rahmatNya?


 
Dan Dialah yang menurunkan hujan setelah mereka berputus asa
dan menyebarkan rahmat-Nya.
Dan Dialah yang Maha Pelindung lagi Maha Terpuji
(QS. Asy-Suro : 28)

Melalui hujan Allah memberikan perlindungan. Dari bencana kekeringan, dari kurangnya persediaan air, dari tingginya angka kebakaran lahan, dari bahaya kematian. 

Melalui hujan Allah menurunkan rejeki. Tetumbuhan memunculkan putik, bunga bermekaran, katak berlompatan, ikan berenang, Sungguh Ia Maha Terpuji. 

Tapi hujan yang sejatinya adalah rahmat Allah bagi seluruh makhluk, telah berubah. Tentu saja bukan Allah yang mengubahnya. Sebab tak mungkin dan mustahil Allah membuat kerusakan sebab Ia Maha Memelihara.

Perilaku bodoh dan lalai manusia yang membuat hujan berubah menjadi petaka. Air yang menderas seketika menjadi monster yang menerkam dari segala penjuru. Ia menyerang dari selokan yang dibekap sampah, dari sungai yang meluap akibat pendangkalan, dari hutan yang gundul karena penebangan liar, dari kepungan plastik yang menyumbat, bahkan dari arah yang tidak kita sangka-sangka.

Maka bila ini musibah, sungguh, musibah itu datang dari kita sendiri. Meski sedari kecil saya terbiasa menyimpan sampah pada tempatnya, saya mohon maaf bila di antara banjir yang mengepung itu ada terselip khilaf saya. 

Selain upaya bebenah dari diri sendiri, mulai saat ini, dan mulai dari hal kecil, yuk kita istighfar, mohon ampun atas khilaf yang terlampau sering kita lakukan. Semoga Allah segera mengeluarkan kita dari bencana ini, seraya terus berusaha tiada henti.

 

Jumat, 24 Januari 2014

#1Hari1Ayat #24 : Karena sesudah kesulitan itu ada kemudahan

Aku berlindung kepada Allah dari segala godaan syetan yang terkutuk
Bismillahir rahmaanir rahiim

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan
sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan
(QS Alam Nasyroh : 5-6)

Betapa aneka, masalah yang hadir di setiap tahapan hidup kita. Bahkan dalam satu hari, kita pernah mengalami bukan hanya satu masalah namun bermacam problema. Yaa, namanya juga hidup, gitu kan seloroh kita bila ada keluhan tentang sesuatu.

Benar, sejujurnya, jangan hidup deh kalau gak mau terkena masalah. Sebab hidup adalah sepaket dengan puluhan kesulitan, pun sepaket dengan tak terhitung kemudahan. Jadi, hadapi saja masalahnya, sebab di dalam masalah ada banyak pembelajaran dan di ujung masalah ada banyak solusi. Tinggal bagaimana kita mau bangkit dari masalah itu. Bukankah Allah telah menjanjikan dalam firmanNya di atas, bahwa setiap kesulitan itu selalu disertai dengan kemudahan. Kapan? Ya, bila kita mau berusaha.

Jadi, katakan saja pada masalah, berat ataupun ringan : aku siap menghadapimu, sebab aku punya Allah yang Mahahebat. Dia yang akan menjamin selesainya masalah sesudah kita berusaha.

Ringan atau beratnya masalah, sesungguhnya bukan terletak pada masalah itu, melainkan pada cara pandang kita. Bila kita menilainya berat, akan terasa berat sungguh masalah itu. Sebaliknya, bila kita anggap ringan, insya Allah masalah itu akan terasa mudah dilalui.

Yuk, keep spirit and smile ...

Kamis, 23 Januari 2014

#1Hari1Ayat Hari ke-23 : Doa Istiqomah

Dalam Alquran ada banyak ayat Allah yang berisi doa-doa. Ayat ini adalah di antara sekian ayat yang aku jadikan doa setiap usai shalat, yaitu :

Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, 
ya Tuhan kami, perkenankanlah do'aku.
(QS. Ibrahim : 40)

Sebagai manusia, kita selalu memiliki kecenderungan untuk lalai karena banyak hal. Misalnya karena kesibukan, kemalangan, bahkan kebahagiaan. Banyak hal di dunia ini yang menyebabkan kita lalai. Untuk itulah kita perlu penguat. Di saat usai sholat adalah masa yang ijabah untuk dikabulkannya doa, tentu saja dengan tingkat kekhusu'an yang terjaga.

Maka, hanya kepadaNya kita kembalikan segala soal. Yang bahagia atau yang duka. Agar kiranya kita tetap ditempatkan pada jalan dan perilaku yang istiqomah.

Aaamiiin ...