Kamis, 05 Desember 2013

EDISI XV, antara kejar DL dan printer error

Setiap akan terbit, terjadi kehebohan di perpustakaan, kantorku di sekolah. Anak-anak bimbinganku yang tergabung dalam penerbitan buletin bulanan sekolah, mulai sibuk mengumpulkan tulisan, mengetik, memasukkan editan foto, dan lain-lain. Dan biasanya hal itu dilakukan ketika mereka pulang sekolah. Iya, pulang sekolah. Ketika tugas belajar sudah tuntas di dalam kelas.

Alhamdulillah, mereka sudah bisa menuliskan laporan hasil wawancara atau merangkum peristiwa di sekitar sekolah. tentu saja kemampuan itu tak lepas dari bimbingan guru bahasa Indonesia di dalam kelas, maupun kursus kilat dan menulis teknis di ruang redaksi BASIK.

Anak-anak ini, tim BASIK, yang terdiri dari siswa/siswi kelas 8 dan 9, memang hebat. Di sela-sela mereka mengerjakan tugas yang menumpuk, usai bubar sekolah biasanya mereka berkumpul di perpustakaan. Heran juga, sekaligus senang dan bangga, perpust di tempat saya tugas sungguh menjadi tempat yang disukai anak-anak. Klaim ini rasanya tepat, sebab di waktu yang seharusnya mereka sudah pulang dan istirahat di rumah, mereka malah berlama-lama di perpust. Yaaa ... memang sih niatnya bisa beda-beda, maklum ABG, tapi sejauh yang saya amati, rata-rata mereka membaca, mengaji atau mengerjakan tugas buat besok, atau menunggu waktu les di tempat lain, atau menunggu teman sambil  ... ngobrol. Hehehe ... acara ini kayaknya udah jadi kebiasaan turunan dari emaknya wekekeke ...




Sekali dalam seminggu, mereka sibuk menggunting, menempel dan menghias Mading (Majalah Dinding) yang dipasang di selasar perpust yang bahan tulisan serta gambar/kaligrafinya mereka dapat dari hasil keliling ke kelas-kelas. 

Eiiitts ... malah ngelantur. Oke, kembali ke BASIK.

Naah ... telah tertulis di papan Schedule bahwa pada hari ini adalah  Hari terbit Basik edisi ke XV.
Karena Basik masih berbentuk buletin sederhana yang terdiri dari 12 halaman, maka setelah berhitung budget, difotokopi lebih irit ketimbang dicetak ke percetakan. tentang cetak-mencetak ini, dulu pernah sebanyak 4 kali terbitan menggunakan jasa percetakan, ternyata hasilnya, rugi, boo!! Banyak buletin sisa alias gak laku.

Akhirnya, di fotocopy aja!
Tapi, anak-anak usul, gimana kalo yang dicopi hanya halaman dalamnya, sedangkan halaman depan diprint agar bisa tampil lebih cantik dengan warna-warni foto yang sesuai warna aslinya (kayak iklan kamera jaman dulu, yee!)

Sip, okey ...
Bagi-bagi tugas kembali.
Sebagian ada yang kebagian tugas foto copi, sementara tugas ngeprint jatuh pada diriku. Kok gitu?
Ya, sebab kan kejar tayang, sementara anak-anak masih harus belajar di kelas. Waktu siang hingga sore tak memungkinkan untuk menyelesaikan semua prosesnya.

Malang tak dapat diraih untuk tak dapat ditolak (halah peribahasanyaa ... ) ketika tiba di lembar ke seratus eksemplar (artinya sudah 200 kali tuh printer ngegesek, kan diprint bolak-balik), printernya kecapean. Laa iyalaaah ... masa dipaksa kerja rodi begitu, ya?
Sebetulnya itu kerjaan gak dilakukan seharian, tetapi 2 hari, jadi kan aku gak maksa printer buat kerja terlalu cape. Kertasnya bergulung. Duuuh ,,, kasihan printerku.

                       


Akhirnya aku memutuskan untuk istirahat dulu.
Dan kukabari anak-anak, bahwa BASIK telat lahir, karena masih prematur.
Anak-anak kecewa, sebab mereka tak sabar ingin segera meginformasikan apa yang telah mereka tulis mengenai kegiatan Gema Muharam yang lalu, yang banyak teman-temannya tidak tahu, yakni wawancara eksklusif dengan Da'i muda pentolan ajang AKSI Indosiar yang cakep dan pinter, yakni Kang Hilman Fauzi Nugraha, CEI, MEI, CBA. Naah tuh, gelar akademisnya aja berbaris.

Namun, akhirnya, sodara-sodara ...
BASIK Edisi XV telah terbit. Ini Dia. Taraaaa ....



Dan bagian distributor dan pemasaran pun mulai bergerak.
Kini saatnya mereka mempraktekkan pelajaran ekonomi dan strategi berpromosi.

Alhamdulillah, semoga sold out.
Dan kalian, anak-anakku, bisa dapat uang jajan deh ...
(Ada pembagian honor dari setiap tulisan dan energi yang telah mereka keluarkan)




Jumat, 29 November 2013

Seblak Pedas Ala Cici

Sudah malam.
Meski belum larut, sebab adzan Isya baru saja lewat 20 menit. Aku baru selesai sholat.
Tiba-tiba, Cici ke kamar dan bertanya :

"Ibu punya kerupuk yang belum digoreng?"

Untuk apa?
Rupanya dia ingin masak seblak.
Kok? Tiba-tiba banget. Ketiban ide darimana? Malam-malam pula.
Gak ada persediaan kerupuk yang belum digoreng. Kalo kerupuk siap makan mah selalu ada di toples. Maka, karena hasratnya ingin segera ditunaikan, meluncurlah ia ke warung.
Tujuannya satu, beli kerupuk.

Gak mau dibantu, Cici ke dapur sendiri, masak sendiri. Alasannya, 'kan nanti juga di sekolah Cici masak sendiri.'
'Kapan?'
'Nanti, bu, hari Sabtu, kelas 6 mau praktek masak di sekolah.'
'Masak seblak? Atau bebas mau masak apa aja?'
'Seblak'.
'Oooo ...,' ketahuanlah alasannya kenapa tiba-tiba ia ingin masak seblak.

'Mau pake bumbu apa, Ci?'
'Bawang merah 2, bawang putih 2, cengek (cabe rawit) aja 1,' jawab Cici pasti.
'Oke, ibu lihat aja deh.'

Malam itu, di dapur, Cici menyiapkan panci untuk merendam kerupuk aci mentah. Lalu dibiarkannya selama setengah jam, sementara ia menunaikan sholat Isya dan membereskan buku-buku untuk ke sekolah besok pagi. PR sudah ia kerjakan ba'da magrib tadi.

Kubiarkan saja ia melakukan tahapan yang ia ingin lakukan. Nampaknya Cici yakin dengan dirinya, mungkin sudah dipikirkannya sedari tadi.

Ketika kerupuk aci nya sudah lembek dan sudah jadi seblak, Cici prepare dengan segala sesuatunya :
1. Pasukan bumbu : bawang merah 2 siung, bawang putih 2 siung, cengek besar 1 buah, garam, royco.
2. Cowet
3. Ulekan
4. Katel/Wajan dan spatula

Semua bumbu diulek hingga halus, kemudian tumis sampai harum. Tuangkan air ke dalam tumisan bumbu, kemudian masukkan seblak, aduk dan didihkan hingga bumbu meresap.


Setelah matang, hidangkan.

Taraaaa .....
Inilah seblak pedas ala Cici.




Silakan dicoba ... dicoba ... dicoba ...
Pedas dan gurih. Meski rawitna cuma 1, ternyata cukup membuat bibir semriwing kepedesan. Maklum rawitna jenis rawit 'domba' yang segeda 'alaihim', guedde dan pueddess!!

Beneran.
Anak ibu pinter deh masaknya!
(gak tau nurun dari ibunya, gak tau karena ibunya jarang masak jadi dia 'terpaksa' turun tangan masak sendiri hihhi ...) Soalnya, meski gak ada tugas sekolah, Cici sukaa banget masak di dapur, nyobain resep-resep baru.
Oke, kelak bisa jadi chef internasional nih ...


Minggu, 24 November 2013

Playing Kewuk and Bolabekel Time

Gambar ini, apa sebutannya di sana?
Di daerah saya disebutnya "KEWUK".
Sebangsa kerang yang banyak terdapat di daerah pantai. Lalu dijadikan permainan oleh anak-anak. Diantaranya bisa buat buah biji congklak atau juga permainan bola bekel.

Naah ...
bicara soal bola bekel, sudah hampir dua minggu ini, Cici putri bungsuku, keranjingan permainan ini.
Setiap hari, hampir setiap waktu, dia pasti main bekel. Meski harus kerja keras mengasah tangannya untuk mencomot satu persatu kewuk itu dari satu sampai sepuluh, dia gak bosen.

Masih ingat kan cara permainan ini?
Bagi yang pernah kecil (emang ada yang ujug-ujug dewasa??) dan mengenal bola bekel, pasti tahu tatacara permainan ini. Dengan sepuluh biji kewuk dan sebuah bola bekel dari karet, biasanya mereka yang main terdiri dari dua orang hingga 4 orang. Bisa juga lebih, tapi bila kebanyakan, maka nunggu giliran mainnya akan lama, apalagi bila si pemain sudah jago banget.

Permainan dimulai dengan melemparkan bola melambung ke atas sementara itu tangan yang lain menghamparkan biji kewuk ke lantai, lalu bola (yang tadi dilambungkan) langsung ditangkap. Setelah itu ambil satu persatu kewuk yang terhampar sambil melambungkan bola bekelnya, sampai kewuk terakhir terambil, untuk kemudian dihamparkan kembali. Bila satu tahap itu selesai dimainkan, maka pemain tiba di bagian kedua, artinya dia mengambil sekaligus dua biji kewuk hingga kewuk terakhir. Selanjutnya, ambil biji kewuk sekaligus tiga tiga, begitu seterusnya sampai biji ke sepuluh.

Bila telah sampai di biji ke sepuluh sekaligus, maka naik level ke bagian 'nangkar' kewuk alias si biji kewuk nanti dibuat telentang dengan belahan kerang di atas. Biji kewuk diambil lagi satu persatu hingga habis. Setelah fase ini selesai, maka naik lagi ke level 'nangkub' alias biji kewuk dibuat tengkurep dulu sebelum diambil satu persatu hingga habis. Setelah itu, level tertinggi disebut 'naspel', dimana pemain akan menelentangkan semua biji kewuk, lalu menelungkupkan, kemudian dietelantangkan kembali sambil berjajar, untuk kemudian dicokcrok ( diambil secara cepat dalam sekali lemparan bola bekel).
Biji kewuk yang terambil akan menentukan di biji ke berapa selanjutnya pemain memulai lagi nanti.

Pemain akan terhenti permainannya bila ia gagal atau istilahnya 'lasut' menyelesaikan bagiannya. maka giliran main akan berpindah ke lawan mainnya.

begitu seterusnya.

Permainan ini mengasyikkan sekaligus mengasah motorik anak dan juga melatih kesabaran. 

Dan tahukah anda?
Anak saya cerita, bahwa di kelasnya kini bukan hanya dia yang bawa bola bekel plus kewuknya, melainkan ada banyak temannya juga. Dan bila jam istirahat, anak laki-laki tak lagi ribut lari-lari bahkan berantem, melainkan asyik melingkar bermain bekel. Sampai-sampai, ibu Yuni, ibu guru walikelasnya di SDIT Persis Tarogong, takjub, dan meng- upload foto mereka saat istirahat di facebook dengan judul "Kebersamaan kelas 6D"
Ini dia fotonya :



Nah yang berdiri di tengah itu, Cici, yang membawa 'virus' bekel menyebar di sekolah.
Gak apa-apa sebagai penyebar virus kemanfaatan ya, Ci ...
membuat semua orang senang dan mengenal permainan ini.



Senin, 28 Oktober 2013

Kasta Berkat

Bila mendengar kata 'kasta', maka otak kita langsung ingat pada film-film India, atau pada masyarakat agama Hindu. Sebab kita biasa mengenal kata kasta sebagai bagian dari masyarakat Hindu. Kasta itu sendiri berasal dari bahasa Portugis yang artinya pembagian masyarakat. Di masyarakat agama Hindu dikenal 4 jenis kasta, yakni kasta Brahmana, kasta Ksatria, kasta Waisya, dan kasta Sudra. Istilah kasta kemudian difahami sebagai pembagian kelompok tingkat  sosial yang secara kuat mengakar di masyarakat Hindu Bali, yang kemudian diyakini bahwa sistem ini sengaja dihembuskan oleh Penjajah Belanda kala itu untuk menguatkan status quo para penguasa serta sejalan dengan politik devide et impera.

Meski seiring perjalanannya, banyak penganut Hindu yang tidak setuju dengan adanya pembagian kasta itu, secara sadar ataupun tidak, selalu ada saja sistem perbedaan perlakuan terhadap beberapa orang atau golongan. Bisa jadi hal ini terjadi karena terlalu lamanya penjajahan Belanda, sehingga sebagian masyarakat terlanjur hidup dalam tradisi 'diskriminasi' terselubung macam itu.

Kenapa tiba-tiba bicara kasta?Saya tidak sedang diperlakukan buruk akibat perbedaan kasta. Tidak.
Saya hanya sedang merenung saja, apakah memang kasta itu merambah hingga ke ketiak budaya masyarakat Indonesia, suku manapun? Bahkan hingga ke pembagian makanan.
Lucu sekali ... (atau apa namanya, ya?). Bagiku ini 'aneh'.
Ya, saya tak mengira bahwa tradisi bisa sedemikian absurd. Sulit untuk dihilangkan, karena masyarakatnya masih menganut rasa sungkan bila dia tidak mengikuti kebiasaan itu.

Ini kisahnya ...


Di beberapa tempat di kampung daerah Jawa Barat (tidak di semua tempat, hanya di beberapa tempat saja), sudah lazim, bila ada hajatan, sebelum hari H (baik pernikahan atau khitanan) si empunya hajat akan mengirim makanan berupa nasi dan lauk pauk (istilahnya : nasi berkat) kepada para tetangga.  Berkat itu diberikan sebagai tanda bahwa dia mau menyelenggarakan hajatan. Istilahnya makanan itu pengganti undangan. Tapi, rupanya pembagian berkat ini tidak kepada semua tetangga.  Ada kriterianya. Tetangga yang diberi berkat, biasanya tidak diberi surat undangan. Jadi dia harus datang ke rumah si empunya hajat, sebelum hari H tiba. tentu saja dengan membawa amplop (berisi uang).
Sebagian tetangga lain, tidak mendapat berkat. Artinya ia tinggal menunggu surat undangan. Dan  harus datang memenuhi undangan pada hari H.

Sampai disini, masih bisa dipahami. Meski secara sepintas saja kita tahu ada kasta diantara dua jenis 'undangan' itu. Tapi, masyarakat disana tak merasa keberatan dengan perlakuan yang diskriminatif itu. Semuanya dijalani sebagai kelaziman semata, dan memang begitulah yang harus dijalani, sesuai tradisi sejak nenek moyang. Selesai.

Ada yang membuatku terkaget-kaget. Ketika ibu mertuaku bercerita bahwa berkat itu ada 3 macam. Maksudnya?
Begini. Bila anda menerima berkat dalam sekotak nasi dus, maka anda harus memberi amplop kepada si empunya hajat dengan ketentuan, jumlah uang dalam amplopnya : sekian. Tapi bila hantaran itu diberikan dalam setumpuk rantang (biasanya 5 susun), maka amplopnya harus lebih besar : antara sekian dan sekian. Dan bila hantaran itu dalam sebuah dus mie instan, yang sudah pasti jumlahnya lauknya banyak sekali, maka amplop yang harus diberikan kepada si empunya hajat tentu saja harus lebih besar lagi : sekian!
Amplop itu diberikan sebelum hari H, bila anda tidak ingin malu. 

Masya Allah ...

Lepas dari kelaziman  yang sudah demikian mengurat mengakar di sebuah tatanan masyarakat desa, saya takjub dengan kekukuhan mereka dalam menjaga adat. Adat yang, menurutku, benar-benar mengkotak-kotakkan manusia dalam kardus yang tak sepatutnya diadakan. Ketika aku sampaikan pendapatku, mereka (ibu mertua dan adik ipar) hanya tersenyum pasrah, yaa memang begini keadaannya.

Hajatan sejatinya adalah ungkapan kesyukuran. Dan itu harusnya tak dinodai dengan sistem seperti jual beli. 

Mungkin memang benar, ada warisan penjajah yang hingga saat ini masih melilit kuat di benak dan keseharian masyarakat Indonesia, terutama di pelosok. Ini hanya di satu tempat, satu suku, dari sekian banyak tempat dan suku di Indonesia. Ada banyak tradisi lagi  di belahan bumi Indonesia lainnya.

Ada yang membanggakan, melegakan, tak sedikit pula yang membuat kita menghela nafas berat.
Seperti kasta dalam berkat ini.

Selasa, 22 Oktober 2013

SEDERHANA ITU ...




Sederhana itu ...
ketika bumi menerima apapun dari langit, tanpa kata-kata, hanya diam
lalu lahir serumpun ilalang

Sederhana itu ...
ketika engkau membelaiku dengan matamu, menyelam di telagamu
lalu waktu terdiam kehabisan aksara

Sederhana itu ...
ketika anak-anak tahu, cinta kita tak pernah terbuang sia-sia
untuk tumbuh dan menumbuhkan banyak putik

Sederhana itu ...
ketika kembang berbunga mekar diantara matahari dan kupu-kupu

selain itu
hanyalah kemewahan yang tak perlu


        gambar dari : andifs.blog

Rabu, 09 Oktober 2013

Mengalir Lagi ...

Memelototi monitor bersama pensil dan secarik kertas.
Sejatinya aku kembali sekolah. Tentang pelajaran yang tak pernah kumiliki teorinya. Dulu aku hanyalah praktisi tanpa bekal, lalu melakukan apapun hanya dengan kompas hati. Aku suka, berproses, dan jatuh cinta.
Bagiku itu cukup.
Pekerjaan yang dilakukan penuh rasa cinta dan dedikasi tanpa tendensi apapun selain 'mengalir' lalu menghasilkan produk yang disukai banyak orang, itu cukup. Bukankah dalam hidup yang dicari itu bukan keberlebihan, melainkan kecukupan?

Bersama idealisme khas anak muda aku mengalir.
Menuliskan naskah (versiku - yang penting semua rekan paham), memilih peran, membaca naskah, masuk bilik rekaman, rekaman suara. Selesai.
Masuk proses editing. Bersama Kang Hilman, seniorku, dengan panduan naskah yang kubuat tadi, aku memilih sound effect, memasukkan musik dan menjelmalah sebuah sandiwara radio berdurasi 30 menit. Sejumlah 15 episode kuselesaikan.
Semuanya otodidak.

Sekarang, disinilah aku. Menjelang tengah malam bersama dua lembar kertas dan sebatang pensil, memelototi layar komputer. Apa yang kucari?
Setelah kegiatan 'mengaliri waktu' itu kutinggalkan 13 tahun lalu, aku dipaksa oleh diriku untuk membuka file tentang teori pembuatan film dokumenter.

Untuk apa?
Mungkin untuk sekedar memenuhi bilik jantungku sebelah sisi yang mana, yang dirasa mulai kembali menagih untuk diisi. Selalu ada sesuatu yang aneh setiap kali melihat tayangan Eagle Award di Metro TV. Atau ketika membaca kiprah teman lama yang berkecimpung di dunia produksi. Sesuatu yang bergerak didalam untuk ditunaikan. Ada sisi lain dari dalam yang menarikku untuk mengikuti 'aliran'. Mengalirlah ...

Sekarang aku mencoba mengalir lagi. Meski sangat berbeda antara pengalaman masa laluku dengan tuntuntan dari dalam diriku sekarang. Media radio dan film, sangat jauh bedanya. Tapi, disitulah kegairahan itu muncul. Gairah untuk mencari lekukan, kemudian mengalir.
Dengan rasa yang masih tetap berkecukupan.
Dengan ruh yang sama, (mungkin juga agak berbeda) . Kali ini aku ingin lebih dewasa.
Sebab ada sebuah pesan penting yang ingin kusampaikan ...
Pada mereka

Minggu, 05 Mei 2013

Hari ini Kakang Pulang

Pagi sekali, sebuah sms kukirimkan :
"Kang, pulang jam berapa?"

Dua minggu sudah sulungku menjalani pengabdian di masyarakat, sebagai syarat kelulusan Mu'alimin setingkat SLTA di perguruan Persis dimana ia menuntut ilmu. Dan hari ini adalah rencana kepulangannya.

"Sekitar jam 8 dari sini, perjalanan sekitar 7 jam. Nanti dikabari kalau sudah dekat, ya, bu." Jawaban Kakang membuatku makin gesit 'menari' di dapur, mempersiapkan makanan kesukaannya. Terbayang, selama dua minggu tinggal di sebuah tempat jauh di daerah Selatan Garut, berjarak sekitar 106 km dari ibukota kabupaten, ia pasti rindu masakan ibunya (*ge-er in the kitchen hehe ...

Di sela kesibukanku, memasak dan membuat brownies kukus, kusiapkan bekal untuk si bungsu. Anakku nomor dua hari minggu ini harus berlatih untuk LBB (lomba Baris Berbaris) antar sekolah. Besok Senin adalah hari H-nya. Dalam antusiasme yang selalu terjaga di segala kegiatan yang diikuti, Cici berseru :"doain Cici ya, bu, biar bisa jadi komando terbaik." Aaamiiin, doaku selalu untukmu, Nak, tanpa kau minta.  
"Eh, kakang pulang hari ini, ya, bu?" cetusnya sambil memasukkan kotak bekal ke dalam tas. "Nanti Cici ikut jemput, ya!" Oke

Punggung Cici hilang di balik gerbang, dengan janji, ketemuan siang nanti sambil jemput Kakang di sekolah. Ohya, sekolah Kakang dan Cici satu gedung, Cici di SDIT, Kakang di Mu'alimin, satu kompleks dengan asrama. Akupun kemudian tenggelam diantara tepung, telur, coklat, gula dan lain-lain.
Hari ini Kang pulang, dan aku ingin melihat senyumnya, melihatnya makan dengan lahap, mendengar kisahnya tentang desa yang jauh itu. Sungguh, menanti cerita pengalamannya membuatku berdebar. Aah, anakku sudah besar.


Pukul dua siang, antrian elp satu per satu memasuki area sekolah. Masing-masing penuh denganmuatan di atas atap mobil, maupun di bagasi. Macam-macam, aneka tas, ransel, kresek, panci, sampe karung. Dari perut elp kemudian bermunculan remaja berseragam dan berjas almamater dengan wajah lelah namun masih tetap mengembangkan tawa. Antara kembali dan menyediakan hati untuk ke rumah dengan meninggalkan cinta di desa jauh. kadung betaaah ...

Saat sedang bertemu kangen dengan Kakang, tiba-tiba dari dalam elp yang melaju kemudian ada yang dadah dadah :"Ibuuuu ....." senyumnya renyah dan hangat. Aiiiih, teman-teman Kakang rupanya. Mereka datang dari mobil yang berbeda dan tentu saja desa yang berbeda dengan Kakang. Senangnyaaa disapa remaja-remaja itu. Serasa jadi ibu dari banyak anak hehe ...

Begitulah
siang itu kami bercerita sepanjang perjalanan ke rumah, tepatnya mendengar cerita Kakang tentang kegiatan hariannya mengajar dan berbaur dengan masyarakat di Desa Katulampa, sebuah desa yang hanya memiliki pasar seminggu sekali. Mengajar di SMPIT dengan berjalan kaki menapaki jalanan yang menanjak 45 derajat. Hiburannya adalah ketika mengajari anak2 mengaji di surau, atau saat kengerian dikejar anjing kampung beramai-ramai dalam keadaan memakai sarung malam-malam!

Lihatlah, sekarang ia tertidur pulas
Biarkan saja, nanti malam kisahnya pasti akan kembali mengisi rumah ini.
Selamat kembali ke rumah, Nak.


Minggu, 28 April 2013

Nonton Penganugerahan Srikandi Blogger via Live Streaming KoplakYoBand

Siang hari pulang kegiatan
kubuka fb, masih di Beranda, ternyata para sahabat yang tergabung di komunitas Kumpulan Emak-emak Blogger telah memenuhi wall dengan status dan foto-foto yang aduk maaak ... bikin ngiler pengen ada disana. Apadaya waktu dan bentrok acara tak mengijinkanku untuk bergabung dengan para emak hebat dan inspiratif itu.

Hari ini, Minggu 28 April 2013 adalah acara puncak penganugerahan Srikandi Blogger 2013 yang diadakan oleh KEB dalam rangka memeriahkan ultahnya yang baru menginjak 1 tahun. Wow keren kan? Baru satu tahun, tapi kiprahnya sudah nampak dimana-mana. Angkat topi tinggi-tinggi buat makpon mak Mira Sahid, dan para makmin seperti mak Sary Melati, Indah Juli, Irma Susanti, Sumarti Saelan dan lain-lain. Pengen meluk satu satu sekaligus salaman plus kenalan (hihi ... soalnya belum semuanya kenal sih

Adegan dibuka dengan live musik, panggung masih kosong, hanya tersedia satu buah kursi merah dan latar panggung bertuliskan Srikandi Blogger 2013 dengan tulisan indah plus dibawahnya "Aktualisasi Perempuan di Era Digital", dalam nuansa warna khaki, pink, hijau pupus dan hitam, keren ... Dan anak-anak berlarian di bawah panggung. Live streaming masih ketangkep patah-patah.
Pada jendela lain, aku tersambung dengan neng Dey, mak blogger dari Lembang yang ada di perhelatan itu bersama, mak Nchie Hanie dan mak Alaika Abdullah. Ternyata memang sedang break istirahat sholat dan makan. Baiklah, aku kemudian mengejar kerjaan lain berupa menulis puisi yang masuk Deadline tanggal 30 April 2013 ini. Ya, seorang sahabat mengundangku untuk gabung di Antologi Kamboja (Ketika wanita bicara). Terimakasih sudah ngajak saya, mbak Lentera Al Jazhira. Selesai 2 buah puisi, alhamdulillah ...

Kembali buka live streaming. Acara sudah dimulai. Dua orang MC, lelaki dan perempuan (siapa ya mereka? ngajak salaman ah ) memandu dengan hangat berbalut busana nasional hijau pupus. Kemudian diputar film produksi Srondol Film tentang kegiatan Daput KEB dalam mempersiapkan perhelatan ini. Beberapa makmin berbicara tentang kegiatan para emak blogger dan memberikan kesan yang asik-asik. dari situ aku jadi tahu lebih dekat wajah-wajah mereka, para perempuan inspiratif ini.

Ada yang lucu. Namanya juga emak-emak, kemana-mana ya gak lengkaplah kalau gak ngajak juga para krucil. Naah, untuk membuat para krucil ini tak jenuh (pantesnya ini ya yang jadi salah satu alasan makmin) ketika ikut ngumpul bareng emak-nya, dan sekaligus membuat mereka tampil lebih PD, maka dibuatlah acara Fashion show anak-anak.
Kehebohanpun terjadi. Anak-anak 'jalan' dengan iringan musik Kumpul Bocal -nya Vina Panduwinata. Fotografer sibuk memotret, para emak sibuk memberi semangat, dan ... anak-anak ada yang sibuk lenggak-lenggok ada pula yang lari nangis ngumpet di kaki emaknya, mungkin kaget liat para emaknya rame hihi ...
Seruuu ...
Sungguh, saya angkat jempol deh buat panitia dan semua pengisi acara plus yang hadir. Kalian memang luar biasa.

Sayang ...
kemudian gambar di live streaming itu hilang.
kenapa. ya?
Nah tuh jalan lagi.
Horeee ... tepuk tangan buat bunda Yati Rachmat yang dapat penghargaan Life Achievement karena prestasinya yang terus semangat ngeblog dan berbagi via tulisan maupun silaturahim meski usianya sudah memasuki kepala 7.  Semoga semangatnya menulari para emak untuk terus berkarya, yaa...

Sedangkan yang terpilih sebagai   Emak Inspiratif adalah Mak Haya Aliya Zaki. Salah satu bukunya yang berujudl Hialngnya Berlian Pink baru saja saya dapatkan dari acara GA nya blog bunda Yati Rachmat.
Anazkia, blogger hebat yang tinggal di Malaysia terpilih sebagai Srikandi Favorit. Anazkia ini yang dulu memprovokasiku untuk terus ngeblog. Peluk Ana.
Mak Myra Anastasia sebagai Srikandi Persahabatan.
Dan Acer Srikandi Blogger 2013 jatuh kepada .... : Mak Alaika Abdullah.
Alhamdulillahirabbil'alamiin ...

Pokoknya buat seluruh finalis, kalian semua pemenangnya.
Buat pemenang : Selamat dan sukses, semoga terus memberi inspirasi buat kita, ya, mak.
Buat seluruh dewan juri dan panitia serta semua pihak tanpa kecuali, selamat. Kalian memang luar biasa!
Peluk satu per satu.



Selasa, 23 April 2013

Ketika Tanda-tandaNya Terabaikan


Masih dengan setumpuk sesal, meski tak sepengap kemarin.
Benar, waktu akan membuat semuanya menjadi lain, tapi Alya tak pernah menduga akan selekas ini beban itu terangkat dari dadanya. Dan itu patut disyukuri, sebab dengan demikian tak perlu lagi ia menahan ledakan yang tak mampu dieksekusi.

Hari ini sudah asar. Peristiwa kemarin masih segar dalam ingatan.
Ruangan kecil berbentuk kotak dengan mesin penarik uang di hadapan. Anjungan Tunai Mandiri. Disanalah semuanya bermula. Alya tertegun dalam situasi seolah de javu. Bukan, bukan de javu, entah apa namanya. Alya hanya tahu,  ia telah memperkirakan saat ini sebelumnya, karena tanda-tanda itu telah dikabarkan berkali-kali selama tiga hari terakhir. Kemarin Alya tak mau larut dan mengikuti, ia coba melawan, bahwa semua itu bukan tanda-tanda melainkan kerikil kecil yang harus disiasati, meski iapun ragu dengan pendapatnya. Kini, ia tahu bahwa tanda-tanda itu benar, dan ia tak mampu menghindar. Tak bisa menghindar lebih karena ia mulai dipenjara oleh ketakutannya sendiri. Maka ketika  seseorang menuntunnya untuk menekan tombol ini itu kemudian meninggalkan kartunya terselip dalam mesin, ia tak bisa berpikiran lain selain menurut. Ia yakin tidak sedang dihipnotis. Tapi ... entahlah, ia telah tertipu. Alya sungguh merasa dirinya sangat bodoh!

Tanpa ampun sesal menjerat dirinya. Alangkah bebal ia.
Usai semuanya berlalu, Alya bebenah. Membenahi kealpaan, memblokir tabungan meski kemudian ia tahu saldonya telah terkuras, beruntung tak sampai habis karena ada limit penarikan. Melapor ke pihak kepolisian, menjalani BAP. Selesai segala urusan, ia kemudian tersungkur di atas sajadah.

Laa ilaaha illaa anta subhanaka innii kuntu minadz dzalimiin ... 
Tiada Tuhan yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau, Ya Allah, Maha Sucilah Engkau, sesungguhnya hamba benar-benar golongan orang-orang yang aniaya (Al-Anbiya 87)

Benar, Alya telah alpa. Alpa memahami begitu banyak pertanda yang telah diberikan Tuhannya. Sebetulnya Alya sempat merasakannya. Pertanda itu. Namun ia abaikan. Ia telah aniaya terhadap dirinya sendiri. Dan inilah hasilnya. Maka siapa yang patut dipersalahkan?
Ketika sesuatu yang buruk menimpa sesiapa saja, itulah musibah, atau ujian, atau peringatan, atau apapun namanya yang penting bukan bernama azab (Naudzubillahi min dzalik). Maka ucapkan Innalillahi wa inna ilaihi roji'un. Bahwa semuanya adalah milik Allah dan akan kembali kepada Allah. Apa sih sesungguhnya yang kita punya? Tidak ada!

Alya faham itu, kemudian dibukanya mushaf. Sesungguhnya mushaf Al-quran bukanlah sekedar bacaan, ia makhluk. Hidup, dalam dada setiap mukmin yang ihsan. Berbicara, berdialog, menjawab apa yang kita bisikkan, sebab ia-nya sejatinya adalah kalamullah, firman Tuhan, sabda Allah, maka ia-nya sungguh mampu menjawab setiap tanya sesiapa yang ingin bertanya. Dan Alya beroleh jawaban.

"Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (yaitu) orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Tuhannya dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya”. (Al-Baqarah: 45-46)

Beruntung Alya masih bugar, tak kurang apapun. Tubuhnya tak teraniaya, selamat, tak disakiti. Uang bisa dicari, rizki bisa hadir dalam bentuk tak terkira. Dan balasan Tuhan bagi orang yang sabar dan sholat tak pernah meleset. maka untuk apalagi ia menyesali semuanya? Masa-masa sesal telah berlalu, hilang bersama aliran air mata ampunan yang ia pintakan di atas sajadahnya itu. Bersama mushaf, bersama keinsyafan yang kian membubung. Betapa manusia tak pernah punya daya apapun, selain belajar iqra', membaca, apapun yang dikirimkan Allah sebagai pertanda, sebagai ilmu yang kelak melahirkan pemahaman yang mendalam akan sesuatu nilai dalam hidup. Dan setiap orang akan diberi kefahaman itu sesuai dengan kapasitas dan kebutuhannya. Tak akan pernah tertukar.

Dan benar adanya, Al-quran adalah syifa bagi segala macam sakit. Asy-syifa-u limaa fish-shudur, obat bagi segala macam sakit yang bersemayam dalam hati.

Hari ini Alya tahu Tuhan tak pernah berhenti mengasihinya, ia yang alpa memahami.






Kamis, 21 Maret 2013

Dulu dan Kini, The Old and The New Photos


Awalnya lihat-lihat foto lama para teman blogger, lucu-lucu. Tiba-tiba aku ingat  di dompetku ada sebuah foto lama saat usiaku baru 2,5 tahun (wiih ... berarti saat itu baru tahun enam puluhan). Nah lho, ketahuan deh umurku berapa? Saking lamanya itu foto sudah terlipat sana-sini. Disitu aku kecil sedang bermain boneka, pake baju baru dan baruuu saja mandi. Tahu deh dari dulu memang aku sudah sipit hehe ...


Dan, eng ing eng ...
45 tahun kemudian, saat mata mulai mengabur, kulit makin mengendur, dan pipi tak lagi tembem beginilah aku.
Seorang ibu dari tiga orang anak. Sulungku tengah menempuh ujian kelulusan SLTA dan salah seorang dari sekian ratus ribu anak yang berkesempatan meraih pendidikan di perguruan tinggi. Mohon doanya ya, teman-teman, agar putera sulung saya dapat diterima di fakultas yang ia minati. Yang manfaat buat dunia dan akhiratnya. Aaamiin ..
Sedang si bungsu baru saja menyelesaikan UTS di kelas 5 SD.

Tak terasa waktu demikian lekas berlalu. Aku yang dahulu masih kanak-kanak, bermain boneka dan dimandikan ibu. Kini tengah diamanati anak-anak.
Empat puluh tujuh tahun bukan waktu yang singkat untuk mengais banyak makna dari sebuah perjalanan hidup.
Semoga kebaikan jua yang aku dapat. Aamiin ...

Awalnya aku gak kenal bunda Yati (dan sampai sekarangpun aku belum pernah bertemu dan ngobrol dengan beliau), mudah2an Bunda yang baik hati dan tidak sombong ini berkenan dengan menerimaku hehe ...  aku hanya tahu namanya dari postingan teman-teman. Lalu aku mampir di blognya yang bukan hanya satu, ternyata. Aku mulai tahu serba sedikit dari beliau yang, Subhanallah, memiliki semangat yang patut kutiru. Dalam usianya yang tak lagi muda, semangat menulis dan belajarnya tak pernah ikut menua, mudaaa terusss ... Ssst, terkadang beliau menulis sambil ngemong cucu juga. Subhanallah ... benar-benar keren!

Itu pula yang menyuntik semangatku untuk kembali otak-atik html, yang ... adduuuh maks, saking lamanya gak pasang link jadi lupa bin amburadul nih ketika harus menuliskan redaksi yang 'menyala' dan kalo di klik langsung menuju rumah maya bunda yati.
Nah, ini pun terjadi kesalahan, ketika tulisan belum siap rilis, eeeh eh .... tiba-tiba esok paginya kulihat sudah bertengger di blog ku plus seorang tamu, teh Winny Zaffara. Maluuu teh. Sebenarnya itu tulisan  masih setengah jadi dan acak adut linknya masih blank pula.

Maka ku pending dulu ya. Aku musti belajar lagi nih.
Dan ketika siap rilis pun aku hanya bisa minta maaf saja bila tetap postingan ini kurang maksimal (terutama di entry pasang link)

Postingan ini diikutsertakan pada http://goodcrab-personal.blogspot.com/2013/03/giveaway-pertamaku-untuk-ultah-blog.html

Rabu, 20 Februari 2013

BuDi dalam Kenangan

Siang itu setiba di sekolah, seorang teman mengulurkan sebuah bingkisan berupa tas kain berwarna putih berisi sebuah Alquran kecil dan sebungkus rollcake.
"Dari pak Edi ..." katanya
"Masya Allah, 40 hari almarhumah ..." seruku tertahan.
Tiba-tiba saja aku menyesal tidak mengingat hari ini. Berarti hari ini, atau mungkin kemarin (?) ... ya tepatnya kemarin, adalah  40 hari sudah sahabat kami pulang menemui panggilanNya.  Ibu guru cantik murah senyum yang selalu rendah hati, bu Diana Setiawati, itu pergi di pagi hari bulan Januari secara mendadak. Begitu tiba-tiba. Sungguh, aku tak ingin menyesalinya sebab kita memang tak pernah bisa benar-benar memiliki seseorang. 

Sekarang aku teringat kembali hari-hari terakhir bersamanya.  Aku kerap menyapanya dengan sebutan sayang : BuDi.Ya, BuDi. Sapaan kecil dari Bu Diana.

Senin itu, 7 Januari 2013, dengan bergegas ia menghampiriku di perpustakaan.
"BuNi ... (iapun memanggilku dengan sapaan kecil)," tegurnya riang. Kami saling berpelukan. Biasa. Itu yang kami lakukan setiap kali bertemu. Terlebih hari itu adalah hari pertama masuk sekolah pada semester genap, setelah 2 minggu masa libur.
"Assalamu'alaikum ... he ... telat. Kumaha damang? pinjem Al-Quran yang ada terjemahnya, dong."
Tidak ada obrolan lain. Sungguh, hari itu ia nampak terlihat bergegas. Usai menerima Al-Quran yang ia ingin, ia hanya berujar : "Sebentar, ya, BuNi, nanti dikembalikan."
Sudah. Siangnya kami tak sempat lagi bertemu. Alquran itu diterima oleh salah seorang rekan muda petugas pelayanan di perpustakaan.

Selasa, 8 Januari 2013 pukul 6 kurang sekian menit, hp-ku bergetar.Sebuah sms mengabarkan kecelakaan yang menimpa sahabatku itu. Sebuah truk menabraknya, dan akan segera dibawa ke rumah sakit.
Ya Allah ...
aku langsung gemetar. Hendak kemana BuDi sepagi ini? Apa yang terjadi? Bagaimana peristiwanya? Apakah ia sedang naik kendaraan? Bersama siapa? Suami dan anak-anakkah? Banyak sekali pertanyaan berkecamuk sementara kesibukan pagi menjelang anak-anak pergi sekolah terus berlanjut, hatiku tidak tenang. Suamiku langsung mengajak untuk segera ke rumah sakit saja, melihat kondisinya. Dan tentu saja kuiyakan.

Pagi itu aku diberondong sms serta telepon dari teman-teman. Ada yang bertanya mohon kejelasan, ada pula yang mengirim sms serupa dengan yang pertama. Kubalas sekedarnya sambil mengabarkan bahwa aku akan segera melihat kondisinya di rumah sakit. Kebetulan rumah sakit yang dimaksud dekat dengan rumahku. Pagi itu kami berputar-putar dalam ketidaktahuan. Keadaan itu makin membuatku gegas untuk segera menemuinya.

Lima belas menit kemudian, saat aku siap berangkat. Sebuah telepon tiba di hp suamiku dari rekan kerjanya yang sekaligus tetangga BuDi. Kabar yang sungguh menghantam ruang dengarku sekaligus menjebol pertahanan bendungan air mataku. Innalillahi wa inna ilaihi roji'un ... 
Ya Allaaah ...
Betapa waktu memang tak pernah sepenuhnya milik kami.

dalam tangis aku ambil air wudlu kemudian mengabari teman-teman dan menuju rumah BuDi.

Disanalah aku tahu kejelasannya. Almarhumah tengah menyapu dedaunan yang berserak di pinggir jalan depan rumahnya saat sebuah truk menabraknya tanpa ampun. Disana pula aku tahu bahwa aktivitas menyapu itu ia lakukan setiap subuh. Menjadikan area itu nyaman dijadikan tempat mangkal para tukang ojek. Sungguh, aktivitas sosial yang ia lakukan secara istiqomah, kelak akan menjadi saksi di akhirat dan ... subhanallah ... menjadi sebab kepergiannya menemui Penciptanya, Yang Maha Mengasihinya.

BuDi ...
kami ikhlas sungguh melepasmu pergi

Pagi itu aku diijinkan Allah untuk turut memulasara jenazahnya. Memandikan, mengafani, menyolatkan hingga mengantarnya dalam pelukan bumi. Bergelombang para pelayat tiba di rumah duka, mengisyaratkan betapa almarhumah adalah seorang yang baik dan shalihah. Bahkan seorang ibu yang sempat hadir di pemakaman berbisik : "Bu Diana, saya tidak mengenalmu, tetapi Allah menakdirkan saya ada disini, ini sebuah pertanda bahwa engkau adalah seorang yang baik. Semoga Allah menempatkanmu di tempat mulia di sisi Allah. Aaamiin ..."
Belakangan aku tahu, ibu itu adalah teman dari teman almarhumah.

Sekarang, saat aku mengenangnya dalam tulisan ini, aku ingat segala gerak-geriknya, senyum tulusnya, pelukannya, tawanya, hingga suaranya saat bercerita tentang si kembar dan si bungsu Ania. BuDi adalah seorang ibu dari tiga orang putri. Pertama, si kembar Azmia dan Azkia, tengah menghadapi ujian sekolah dan menuju Perguruan Tinggi, sama seperti anak sulungku. Hingga kami sering berbagi cerita dan informasi seputar pendidikan anak-anak. Sedang si kecil Ania kelas 6 SD dan akan menempuh ujian pula. Tiga buah hati itu kini menjadi harta sangat berharga bagi suami dan mamih (ibu tercinta) yang juga tegar melepas kepergiannya. Betapa tak pilu mengingat mereka yang ditinggalkan demikian sedih dan kehilangan. 

Tetapi, sungguh, menjelang kepergiannya, BuDi telah meninggalkan kebaikan bagi suami dan anak-anak. Sebuah amanat agar anak-anak menegakkan sholat dan mengaji setiap waktu. Sebuah kebiasaan bersedekah dan berbagi kepada siapapun setiap saat, yang selama hidupnya tak pernah alpa ia jalankan. Dan ... selalu menebar salam dan senyum kepada sesiapa yang ditemuinya, yang dihadapinya. Ya, senyum tulusnya  memang manis. Siapa sih yang tidak faham arti kata tulus, bahkan seorang bayipun tahu sebuah mutiara hati. Duhai, kenangan itu ...

Maka malam tadi, aku mengiriminya doa dengan Alquran yang dititipkan siang itu. 
Juz 19 kubacakan. Doa pengampunan kulangitkan, semoga engkau bahagia di alam kubur, sebab doa anak shalihah itu, ketiga putri cantikmu, telah dengan setia menerangi kuburmu hingga saatnya nanti kita semua dibangkitkan kembali. Doaku semoga Allah kabulkan pula, bukti aku tak pernah melupakanmu, bukti betapa amalmu tak pernah meninggalkanmu. Lihat betapa murid-muridmupun dengan ikhlas terus mengingat dan mendoakanmu.

BuDi sayang, sahabatku ...
Allah telah menjanjikan surga bagi istri yang ikhlas mengabdi pada suami, dan suami rela ketika ia pergi
engkau memiliki itu
Allah telah janjikan surga bagi anak yang berkhidmat kepada ibunya, dan ibu rela ketika ia pergi
engkau memiliki itu
Allah telah janjikan tidur panjang yang tenang hingga tiba di hari kebangkitan bagi dia yang memiliki doa anak shalih, ilmu yang manfaat dan amal jariyah
engkau memiliki itu
Allah telah menjanjikan istana megah bagi orang yang senantiasa bersedekah
engkaupun telah memiliki itu
dan janji Allah tak pernah salah
Ia sungguh tak pernah ingkar
Lalu untuk apa kami bersedih, bukan?
sebab engkau telah tenang dan bahagia disana

maka dengan tenang
kusudahi saja tulisan ini
Selamat istirah, Sahabat ...



Senin, 18 Februari 2013

SURAT-SURAT IBU


“Apapun yang  terjadi hari ini, Nak, tetaplah ingat Allah. Ibu sayang kamu.”

Sebaris kalimat itu kutemukan di  dalam lemari pakaian sulungku. Tertulis kecil dalam secarik kertas dalam sebuah amplop putih yang menempel di dinding bagian dalam lemari tersebut. Tulisanku, suratku, yang kutulis untuknya, entah kapan. Kesibukanku terhenti sejenak, beralih ke amplop yang ternyata berisi kumpulan surat-suratku terdahulu.
Subhanallah, anakku ….
Mataku merebak dalam haru. Rupanya begitu apik ia menyimpannya sebagai barang pribadi yang dijaga sedemikian rapi. Kubaca ulang barisan kalimat dalam beberapa lembar surat yang kutulis dalam masa yang berbeda itu, menjoprak sendirian.

Dan benang halus bernama cinta dan kasih antara ibu dan anak terentang demikian panjang, pagi ini.  Dia  di sekolah dan aku di ruang tidurnya. Tak kentara namun kuat terasa. Benang yang dengan halus Tuhan titipkan kepada setiap ibu di dunia.

Sebagai seorang ibu dari remaja ABG berusia 17 tahunan, aku kerap khawatir akan sisi negative pergaulan dan lingkungan sekitar yang mengelilinginya setiap saat. Nasihat panjang lebar tak lagi cukup, malah bisa dibilang bisa menjadi boomerang, sebab telinga menjadi panas dan kebal tetapi kurang efektif membangun jembatan komunikasi, bila tidak dikemas dengan cerdas. Sulungku adalah jejaka tampan yang berpenampilan menarik, cenderung diam, dan tidak banyak bicara. Ngobrol dengannya perlu kesabaran, sebab ia lebih banyak mendengar ketimbang menimpali pembicaraan. (Padahal aku, ibunya, terkadang ingin mendengar apa saja yang ia rasakan!) Tetapi tentu saja, aku tak bisa mengubah karakternya yang telah terbangun selama belasan tahun ini. Bahkan sejak bayipun ia sudah terlihat cool … Emosinya tidak meledak-ledak. Ia sungguh remaja yang kalem.

Lalu bagaimana aku membangun istana megah bernama komunikasi bersamanya? Bersama jejakaku, yang aku harapkan menjadi teladan bagi adiknya dan kelak imam bagi istri dan anak-anaknya? Bagaimana aku menyampaikan harapan, kebaikan-kebaikan dan keindahan berbagi, seperti yang dulu sering kami lakukan saat ia masih balita? Saat aku masih dengan leluasa memeluk dan menciuminya, dan ia tergelak kegelian? Saat ia, dengan bahasa kanaknya, menyampaikan apapun yang ia rasakan? Bagaimana, Nak? Tadi malam, engkau masih mencari tanganku untuk kau genggam, kau peluk dan kau taruh di kepalamu, pertanda kau ingin diusap-usap menjelang tidur. Dan itu membuatku khawatir, sebab hal itu kau lakukan bila engkau tengah merasakan sakit. Benar, keningmu hangat, Nak. Kubisikkan kata-kata penguat, kuyakin itu doa yang tak terhijab. Engkau senyum. Dan selalu, engkau hanya menjawab apa yang kutanyakan. Selebihnya … aku hanya menduga-duga. Dan ketika kutanya mengapa, kau jawab : “ibu selalu tahu apa yang kakang rasa, apa yang mau kakang minta, bahkan sebelum kakang bicara.” Duh … benarkah?
 
Duhai … Alangkah cepatnya waktu berlari. Engkau telah tumbuh menjadi lelaki yang banyak menyimpan. Semoga simpanan kearifan yang kau timbun, Nak, meski di usia semuda ini. Tetapi, tetaplah aku, ibumu, berharap, kisah apapun yang akan dan sedang kau jalankan, akulah orang yang kau percaya sebagai tempat bercerita ketimbang yang lain. Duh, seegois inikah harapan seorang ibu yang berharap? Toh, seiring usia, dia pasti punya seseorang yang bisa dijadikan tempatnya berbagi cerita.
Maka, aku tahu kini, kenapa berlembar kertas kutulisi untuknya. Meski tak pernah berbalas, karena memang aku tak menanti balasan, kertas-kertas itu telah mewakiliku menyampaikan sesuatu yang tak sempat  kusampaikan secara lisan. Kesibukannya yang kian padat setiap hari, sekolah, les tambahan di sekolah, les di lembaga luar sekolah, dan tugas akhir telah memangkas komunikasi verbal kami. Meski aku yakin, sentuhan tangan saat pamit dan cium tangan setiap pagi dan petang, usapan perlahan di kepalanya hingga tatap pengertian antara kami, memiliki kekuatan lebih dahsyat ketimbang bahasa verbal yang diuntai sekalipun. Aku masih merasa perlu untuk mengiriminya surat-surat itu.
Bila surat itu usai dia baca (biasanya malam hari, saat baru saja ia temukan di bawah bantalnya), ia akan menemuiku dan mencium tanganku. Kami bertatapan, tersenyum dan pengertian itupun kembali terbangun. Kami saling mengerti dalam diam. Barangkali agak aneh bagi orang lain. Bagiku juga mungkin begitu, pada awalnya. Tetapi kini, aku diyakinkan oleh kenyataan, betapa surat-surat itu berharga baginya. Ia simpan dengan rapi, ia tempatkan di ruang privatnya, cenderung agak tersembunyi. Betapa ia menganggapnya sebagai rahasia kami berdua. Sungguh, aku merasa tersanjung dan dihargai.
Nak, ibu sayang kamu …
Kini, selembar kertas yang kutulis paling akhir ada dalam genggaman. Bercerita tentang namanya : Mohammad Hanif Hilmy.  Tak seperti surat-surat lain yang pendek dan singkat, yang ini agak panjang,  3 halaman. Ohya, aku ingat, surat ini kutulisi ketika aku usai membaca buku mas Fauzil Adhim : Positive Parenting. Jadi, wajar laaah … bila kemudian aku banyak menulis, pasti banyak yang ingin disampaikan karena selama ini luput dari pikiran.
Sekali lagi, ini barangkali cara berkomunikasi yang aneh. Tapi, dulu aku pernah baca buku Chicken Soup for Mother (kalau gak salah judulnya begitu), surat pendek sering dijadikan media komunikasi antar ibu dan anak juga di sana. Jadi, aku tak merasa aneh sendirian. Setidaknya, aku bisa merasakan manfaatnya.
Kini, kubereskan kembali surat-surat itu. Sama persis dengan sebelumnya. Biarlah dia disana tinggal dengan sempurna, menjadi saksi bisu perjalanan ‘obrolan’ kami yang hening. Pada saatnya nanti, ia yang akan bercerita panjang sekali. Tentang cinta yang tak pernah lekang. Tentang sebuah istana yang dibangun dengan mozaik permata atas nama cinta dan pengkhidmatan seorang ibu. Tentang kita yang terus belajar membangun atas nama hamba Allah.
Ya, tentang kita, Nak ...

Jumat, 08 Februari 2013

Ketika Ibu Memilih Universitas untuk Anaknya

Musim ujian sudah dekat

dan ...
SNMPTN atau Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri sudah dimulai. SNMPTN adalah istilah baru untuk jalur PMDK (Penelusuran Minat dan Bakat) atau jalur Undangan, yakni seleksi masuk perguruan tinggi tanpa tes, tapi melalui seleksi nilai rapot beberapa semester (dulu hanya 3 semester, sekarang 5 semester).

Saya tak begitu paham apa maksudnya dengan pergantian istilah seleksi yang setiap tahun berubah terus, sehingga membingungkan. Biasanya jalur ini dilaksanakan sebelum pelaksanaan Ujian Nasional (UN). Nah, tahun 2013 ini, SNMPTN sudah mulai dibuka sejak tanggal 1 Pebruari hingga 8 Maret 2013. Maka sibuklah para siswa, civitas sekolah dan para orangtua.

Bukan saja sekolah dan siswa kelas XII yang sibuk, kesibukan itu menular secara otomatis dan berkelanjutan kepada para orangtua siswa. Orangtua sekarang 'harus' turut aktif mencari peluang dan alternatif bagi kelanjutan sekolah anaknya bila tidak ingin kehilangan kesempatan. Atau bila tidak ingin keliru memilih universitas atau jurusan. Kekeliruan memilih akan berdampak sangat jauh bagi kelancaran pendidikan maupun karier ke depannya.

Dampak itu bisa beraneka. Pertama, timbul rasa jemu saat belajar, karena jurusan yang tidak sesuai dengan minat. Kedua, menemukan pekerjaan yang tidak sesuai yang pada akhirnya menimbulkan stres dan ketidakbahagiaan. Itu bila dipandang dari sisi individu, belum lagi bila kita melihatnya dari sudut pandang lebih makro, yaitu bagi kebermanfaatan pada sesama, lingkungan dan bangsa ini. Apa jadinya bila masa depan bangsa ini dikelola oleh orang-orang yang tidak bahagia dalam tugasnya. Astaghfirullah ... sekarang saja banyak yang korup dan lari ke narkoba. Naudzubillahi min dzalik ... Jangan sampai para orangtua keliru bertindak atau tidak maksimal memberikan kasih dan arahan sehingga berdampak besar bagi kelanjutan masa depan mereka.

Maka, untuk meminimalisir dampak buruk 'masa depan' (meski tak bisa dipastikan juga kalau keikutsertaan orangtua dalam menentukan pilihan akan membuat hal buruk menjadi tiada, tapi minimal bisa diantisipasi lah), orangtua sekarang tidak bisa menyerahkan begitu saja, pilihan sekolah, kepada anak. Kalimat : "Ya,bagaimana kamu saja, ibu mah gak paham," menjadi kalimat kontraproduktif yang tidak membuka cakrawala berpikir dan berkomunikasi antara anak dan orangtua. Setidaknya, ada beberapa petuah serta arahan alias petunjuk teknis tentang pilihan yang mereka ambil. Meskipun di sekolah mereka sudah mendapatkan bekal wawasan dari guru BK (Bimbingan dan Konseling), tetap saja, diskusi perlu dilakukan di rumah.

Dulu, atau setidaknya zaman saya, ketika istilah dan 'pintu' masuk penerimaan mahasiswa baru belum sebanyak sekarang, rasanya prosesnya gak sejlimet ini. Memang, seiring era komputerisasi, calon mahasiwa sekarang dimudahkan dengan sistem pendaftaran on line. Beberapa alternatif pilihan universitas bertebaran di situs-situs yang terbuka lengkap dengan prosedur dan profil campus. Tapi, hal itu membutuhkan pula keterampilan berteknologi. Tak sulit bagi anak-anak, tapi bagi ibu, tentu saja berbeda. Ada banyak ibu yang masih gaptek, meski banyak pula yang sudah akrab dengan teknologi ini. (Ibu zaman sekarang harus cerdas, bukan? agar bisa terus 'nyambung' dengan anak-anaknya). Sekarang, bila anak tidak lolos dalam seleksi awal via SNMPTN, mereka masih punya peluang di beberapa 'pintu', yakni SBMPTN (sebelumnya bernama SNMPTN, lebih dulu lagi UMPTN dan Sipenmaru) dan jalur Mandiri yakni seleksi yang diadakan secara mandiri oleh pihak universitas (jalur ini biasanya memerlukan dana lebih mahal). Atau bila kemudian mencari universitas swasta.

Nah, disinilah orangtua bisa berperan lebih aktif, mencari universitas yang sesuai dengan minat dan bakat anak, lokasi yang strategis (sesuai kriteria, sebab strategis itu relatif berdasarkan pertimbangan setiap orang), kalau bisa terakreditasi A dan biaya terjangkau. Yang harus diperhatikan dalam memilih adalah, ini pont pentingnya, jurusan harus sesuai dengan minat dan bakat anak.

Ohya, jalur SNMPTN adalah gratis. Pokoknya, bila sesuatu berembel-embel kata "Nasional" maka harus gratis. Bila dulu jalur masuk non tes hanya diperuntukkan bagi anak-anak yang memiliki nilai akademis baik (dengan rerata nilai yang telah ditentukan oleh Kementerian Pendidikan) setidaknya 10 besar di sekolah, dan berbayar, maka tahun ini semua siswa kelas XII berhak untuk mengikuti seleksi SNMPTN secara gratis.

Kesempatan jadi lebih terbuka bagi setiap lulusan tetapi yang diterima menjadi lebih sedikit secara prosentasi meski secara jumlah lebih banyak. Bandingkan saja, di tahun 2012 dari 236.811 siswa yang mendaftar SNMPTN jalur undangan, yang lolos sekitar 22,55 persen, termasuk di dalamnya siswa penerima program bidik misi sebanyak 15.313 atau setara dengan 20,41 persen
(sumber : http://edukasi.kompas.com/read/2012/05/26/15081413/53.401.Siswa.Lolos.SNMPTN.Jalur.Undangan)
Maka di tahun 2013 ini, ada kurang lebih 1.800.000 siswa SLTA dan SMK yang diperkirakan akan terseleksi, sementara yang diterima adalah 150.000 siswa alias kurang dari 10 persen.

Bila melalui jalur gratis ini tidak lolos seleksi, maka bersiaplah para ibu mencari alternatif lain bagi kelanjutan studi anak. Yang gratis itu bukan biaya kuliahnya, lho, tapi biaya daftarnya, hehe ... (sambil menerawang, kapan ya ada kuliah gratis di Indonesia? ^_* ngayal tingkat tinggiii ... eh kalau gak salah sudah ada program BOPTN, ya?! Bahkan di UPI Bandung sudah cair untuk angkatan 2012 ini. Lumayan, untuk para ortu bisa menarik nafas dan ancang-ancang.

Buat ibu-ibu yang sedang resah dan gelisah, jangan keterusan ya!
Yuk, kita mencari peluang itu. Insya Allah, selalu ada jalan terbaik yang Allah berikan bagi anak-anak kita, asalkan kita mau mencari dan menjalaninya.
Apapun hasilnya, sepanjang ikhtiyar kita maksimal, itulah yang terbaik dari Allah.
Semoga anak-anak kita dimampukan Allah untuk menebar sebanyak-banyaknya manfaat, bagi dirinya, keluarganya, masyarakatnya, bangsanya, dan terlebih buat agamanya.
Aaamiiin ...

Senin, 14 Januari 2013

Kembali

Kembali
berbaliklah, selama ini engkau telah jauh melangkah
menaiki karang-karang terjal, mendaki bukit dan menyeberangi lautan
barangkali benar, kau dapatkan maumu
tapi tengoklah hatimu sejenak
ada sebuah ruang yang tak terisi
kesungguhanmu lalu membuat lalai
betapa ada tangan lain yang alpa kau jadikan pegangan

Kembali
sejenak beningkan hati
disana akan kau temukan
bahwa kau tak pernah bisa apapun
tanpa
DIA

Kembali
lalu kau akan tahu
apa yang harus dilakukan
agar apapun yang kau lakukan
adalah tak sia-sia



sihebatisna.wordpress.com 





Minggu, 16 Desember 2012

ketika cinta beda keranjang


memang tak mudah menjembatani waktu, ketika bahasa cinta disuarakan oleh generasi yang berbeda. kekahawatiran seorang ibu kerap menjadi bara, nyala diantara cinta dan kendali.
telah beribu kali memilih kalimat yang berserak biar cinta tetap menjadi cinta, dan tak berubah menjadi tiran
sebab ketika itu terjadi akan ada hati yang koyak
meski keduanya saling menyimpan cinta dalam keranjang yang berbeda


Sabtu, 15 Desember 2012

hujan sore ini

menderas air runtuh dari langit sore ini, bersama bayangan rindu yang terbentang sepanjang tahun.
Desember telah menua, tak menyurutkan waktu untuk tetap memelihara cinta buat seseorang yang mencintai hujan, seperti sore ini, saat air mengepung semesta langit, mengepung jiwaku dalam jiwamu
aku luruh dalam secangkir kopi panas, mengepulkan kenangan mengaura di seantero kamar ini

susah payah kucari bentuknya
engkau hilang bersama aroma kopi yang membumbung, menembus lelangit
berkejaran dengan hujan yang makin menggila, lalu harus kuapakan butiran hitam yang tersisa dari perjamuan sore ini? sedang hujan tak jua mau menepi, sekedar memberi ruang bagi aliran rindu yang terlanjur kualirkan

gambar dari : mohamadirfan.blogspot.com