Senin, 16 November 2009
" Saat Hidup Demikian Indah Di Pelukku"
Aku mulai menajamkan telinga, mengasah kepekaan rasa dan memusatkan mata, pada perjalanan mulia para Rasul, sekedar menguatkan hati betapa Bumi baik padaku, betapa Tuhan demikian mengasihiku. Bukan seperti yang aku khawatirkan.
Kekhawatiran ada saat jiwaku terkesima pada kalimat yang mengatakan bahwa "... demikian cintanya Tuhan pada seseorang yang memohon ampunan dan pinta, hingga tak segera Ia kabulkan karena Tuhan demikian rindu mendengar lagi suaranya yang menghiba." Lalu bila demikian banyak kemudahan yang Ia berikan pada hidupku, demikian melimpah pintaku yang berjawab, benarkah karena Ia tak mau lagi mendengar suaraku yang meminta? Benarkah semua itu diberi agar segala kebaikan telah Ia berikan di dunia, hingga aku tak pantas lagi memintanya kelak di kehidupan kekal?
Naudzubillahi min dzalik ...
Lintasan liar dan bernada miring itu menghunjam jantungku, menebas habis kekuatanku, menggerogoti keyakinanku.
Duuuh... Allahku, jangan pernah Engkau memalingkan wajah karena tak sudi menerima keluhku. Bila lakuku sungguh keterlaluan, sudilah Engkau meluruskanku dengan cara yang kumengerti. Demikian bodohnya aku memaknai tanda-tandaMu, hingga hanya isyarat yang kumengerti yang aku pinta dariMu.
Jangan pernah diamkan aku.
Sebab, bila itu terjadi, kepada siapa lagi aku harus memohon?
Hanya CintaMu yang aku rindu
Bukan aku meminta jalanan sulit di bumi-Mu, yang kumau hanya Kau kuatkan kembali hati ini
bahwa kemudahan dan limpahan karunia yang Kau beri, bukan karena Engkau tengah merajuk
melainkan Engkau demikian mengasihiku.
Aaaah ... betapa ringkih aku dihadapanMu
sedang CintaMu demikian agung
mengapa aku masih juga mengais-ngais kekuatanku sendiri?
sekedar memastikan Engkau tak sedang memalingkan wajah
Lalu dengan percaya diri, kulanjutkan kembali kesyukuranku padaMu
Hanya kepada-Mu
(mungkin ini hanya celoteh pagi yang hadir saat hati tengah menukik ke titik nadir)
Sabtu, 14 November 2009
Menutup Malam Bersamanya, Sepanjang Hayat

Rangkaian detik telah mengantarkan saya pada jutaan peristiwa tak terhentikan sejak ibu mengedan dan mengenalkan pada kehidupan. Ada yang tak saya mau tapi harus saya alami, ada yang saya cita-citakan namun tak jua tiba di ujung, ada yang hadir tiba-tiba tanpa direncanakan tapi saya nikmati, dan banyak lagi peristiwa yang hadir di rangkaian waktu dan ruang hidup, aneka macam gaya dan rasa.
Rangkaian detik itu mengkristal di setiap ujung malam. Setiap hari berubah sesuai bentuk yang tercetak sepanjang shubuh hingga menjelang kantuk mendera. Laksana gulungan awan menghimpun jutaan embun yang siap diluncurkan, ia menari di benak, demikian asyik. Dulu saya tak punya nama pada gumpalan itu, dulu saya hanya tahu bayangan itu hadir dengan setia, tak peduli jam berapapun saya naik ke alam tidur. Tapi saya tak pernah terganggu.
Saat ruang dan waktu tak lagi sama, saya mulai mengenali gumpalan itu, saya mulai mencumbui bayangan itu. Ia telah memiliki nama. Evaluasi.
Bersamanya, rangkaian waktu menjelma slide berlarian bagai kuda jantan, menarik segala rasa dan logika, lantas menjelma sebuah kearifan baru. Atau sesekali saya terseret hingga ke lorong, hingga malam tak lagi mengirimkan nilai baru. Tapi saya tahu, malam-malam selanjutnya ia akan tetap hadir sebagai penyeimbang keegoisan saya di siang hari. Sebab ia telah ada sejak saya mulai mengenal arti sebuah nilai. Dan saya tahu, sepanjang hayat, saya akan menutup malam bersamanya.
Kamis, 12 November 2009
Selembar Mata Uang Yang Kian Langka

Berpuluh tahun lalu, saat masih memakai kaus lengan pendek, rambut dihias jepit dan berlarian bebas mengejar angin dan kupu-kupu, bila di tengah jalan menemukan sekeping koin rupiah, maka satu RT kami ubek sekedar menemukan si pemilik sejati. Bilapun tak ketemu, koin itu berakhir di "kencleng" masjid.
Masih berpuluh tahun lalu, ketika seorang bendahara mendapati kelebihan uang, sedangkan buku tak mengabarkan penyetornya, maka semalaman ia sibuk mengkalkulasi hingga klop semua ketimpangan neraca.
Atau, dalam keadaan dan peristiwa yang berbeda, dulu, saat tengah berhimpun mendengar petuah ustadz, saat seutas suara tak diundang karena bergenre "aib" hadir memecah keheningan lengkap dengan "bau"nya, maka si sumber suara tak kuasa berkelit. Raut muka dan gestur tubuhnya tak kuasa berbohong.
Ketiga peristiwa itu hanyalah gambaran sederhana, betapa kejujuran laksana tiara yang diletakkan pada posisi luhur. Ia, dalam keadaan apapun, harus ditempatkan pada posisi terhormat, terdepan, nomor satu, sebab ia identik dengan harga diri. Jika seseorang tak mampu berperilaku jujur, maka muka menghitam tercoreng aib sendiri.
Itu dulu.
Ketika beranjak besar, saya mulai bertemu gradasi warna pada lembaran mata uang bernama kejujuran, yang tak lagi sama dengan yang saya genggam sedari dulu. Mungkinkah ia mulai berevolusi? Saya mulai dihadapkan pada beberapa kejadian yang membuat saya terpana. Kok, ada ya, orang yang berkata hijau padahal merah, atau bilang kuning padahal biru, dengan wajah tanpa dosa? Padahal ada beberapa orang yang tahu kebenarannya. Masihkah mata uang itu berlaku?
Lalu sekarang, silang sengketa terpampang jelas di layar televisi, di surat kabar, di majalah, di internet, dimana-mana. Saya mulai kehilangan arah. Mata uang itu mulai berkeping, berserakan tercerai berai. Dimana harus kupungut kembali agar ia kembali utuh sebagai sebuah nilai?
Kata mutiara yang sangat digemari oleh remaja masa lalu ketika menulis identitas di buku kenangan, salah satunya berbunyi "Kejujuran adalah mata uang yang berlaku dimana-mana". Ia begitu bermakna, sebab memberi kemuliaan bagi sebuah nilai, hingga dimanapun dan kapanpun, mata uang itu akan diakui. Dan dulu, mata uang itu tersediaa dalam jumlah yang melimpah.
Sekarang?
Aaah, saya masih berharap, kita masih dapat mewariskan lembaran atau kepingan mata uang bernama kejujuran itu kepada anak-anak masa depan, agar bangsa ini tak lagi mempertontonkanan sandiwara memalukan, dengan wajah "tak jengah" sedikitpun.
Selasa, 10 November 2009
Melukis Ingin
Berhari-hari tidak menengok blog, ada rindu menerjang.
Berhari-hari tidak menulis, ada yang terbelah di dalam.
Terasa meski tak terdeskripsikan
Ingin
ingin
menghentak bergenderang
terhijab keterbatasan
maka saat luang terkirim lewat merpati
kutimang dan kuayun
sesederhana ini
menghapus dahaga rindu
merangkai simpul bersamamu
Sahabat blogger tersayang ...
Rabu, 28 Oktober 2009
Cageur, Bageur, Bener, Pinter
Jum'at sore, saat tengah menulis catatan, tiba-tiba ingatan saya melayang kepada kakek saya almarhum. Saya ingat nasihat permanennya. Ya, permanen. Karena setiap kesempatan berkumpul bersama para cucu, nasihat itu tak pernah absen dari bibir sepuhnya. Sampai-sampai kami semua, para cucu beliau, telah sangat hafal bunyinya hingga ke urutannya yang memang tak boleh diubah, yaitu : cageur, bageur, bener, pinter plus ada 4 point lagi yaitu : sabar, tawekal, taliti, ati-ati. Semuanya dalam bahasa sunda.
Hanya empat point yang ingin saya bagi dengan anda, yakni 4 yang pertama dan menjadi judul tulisan berbagi kita kali ini.
Saya selalu merasa bahwa kata-kata atau kalimat atau frase dalam bahasa sunda, adalah bahasa kalbu, yang terkadang sulit dicari padanan kata yang tepat bila ditranslate ke dalam bahasa Indonesia. Maka saya tetap menggunakan bahasa yang digunakan kakek saya dalam membekali kami : Cageur. Bageur. Bener. Pinter.
Susunan kata itu tak sekalipun boleh dibolak-balik, sebab mereka sudah menjadi tatanan baku yang saling bertautan layaknya kakak beradik (kakak adik tak mungkin saling bertukar urutan bukan?) sehingga memberi ruh pada setiap perilaku pelakunya. Kakek saya, yang saya panggil Aki, tidak menyuruh cucunya agar pintar terlebih dahulu, melainkan Cageur. Sehat kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Beliau selalu mengingatkan kami agar selalu menomorsatukan kesehatan. Karena hanya dengan kesehatan maka semua aktivitas lain akan dapat dilakukan secara maksimal.
Cageur
Cageur dalam bahasa sunda dapat diartikan sebagai sehat, tidak gila, tidak stress, sehat jasmani dan sehat ruhani. Agar tidak gampang sakit : menjaga keteraturan makan dan minum, mengatur porsi istirahat, proporsional dalam melakukan berolahraga, menyediakan waktu ibadah dengan tumaninah. Begitulah gambaran umumnya.
Lebih khusus lagi, makanan dan minuman yang kita konsumsi selain memerhatikan 4 sehat 5 sempurna juga tidak mengabaikan halalan thoyyiban. Dalam artian, bukan hanya halal secara syari'at (QS. Al-Maidah ayat 3 dan ayat 90) yang secara tegas ditulis dalam Al-Qur'an:
"Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, daging hewan yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk dan yang diterkem binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan diharamkan bagimu yang disebelih untuk berhala ...."
"Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya meminum khamar, berjudi berhala, mengundi nasib adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syetan ..."
melainkan pula halal secara hakikat yang diatas disebut dengan istilah thoyyiban. Maksudnya : makanan atau minuman yang dihalalkan secara syari'at dapat berubah status kehalalannya menjadi haram apabila didapat dengan cara-cara yang melanggar syari'at, seperti dengan cara mencuri, merampas, dan lain sebagainya.
Maka cageur yang diajarkan Aki mencakup keseluruhan pola hidup sehat yang merujuk pada ajaran Islam yang universal.
Bageur
Bageur dapat bermakna kata sifat maupun kata kerja. Saya menerima nasihat ini dengan pemahaman sederhana saja yaitu : jadilah orang baik dan berbuat baik setiap waktu, be a good person. Be a good person adalah sebuah aporisma. Bukankah aporisma itu bermakna kebergerakan diri tiada henti ? Yang akan menginspirasi siapapun yang mengamalkannya menjadi lebih baik dari hari ke hari. Sebuah pesan singkat yang kaya tafsir, bukan? Sebab mungkin anda akan memberikan tafsiran yang berbeda dengan pemahaman saya.
Bener
Kata ini bermakna "kebenaran" bukan "kejahatan" atau "kesalahan". Saya diingatkan terus untuk selalu berbuat benar dalam segala hal. Bertindak benar, berkata benar alias jujur dan tidak bohong, berjalan di jalur yang benar, berfikir benar, pokoknya segalanya harus benar. Darimana kebenaran itu datang ? Dari ajaran yang benar. Dan ajaran yang benar hanya satu : yang bersumber dari Al-Qur'an dan Hadits. Itulah yang saya pahami. Semoga semakin hari, Allah terus memberi pemahaman yang benar pada saya, dan memberkahi sekecil apapun upaya saya dalam memahami kebenaranNya. Amiin.
Pinter
Proses pencarian ilmu agar seseorang menjadi pintar dimulai sejak kita dilahirkan, bahkan ada sebagian pendapat, sejak kita dalam rahim ibu, hingga liang lahat. Jadi, kepintaran itu setiap hari kita gali, kita cari agar kita temukan hikmahnya.
Lalu mengapa Aki menempatkan pinter ini di urutan 4 bukan pertama?
Teori urutan ini kemudian menginsyafkan saya akan satu hal, yakni : mengapa sekarang banyak orang pinter yang korupsi, orang pinter yang kemaruk, orang pinter yang memanfaatkan kekuasaan demi segelintir orang, orang pinter yang serakah, orang pinter yang gila hormat, orang pinter yang menindas, dlsb.
Mungkin kepintarannya tidak melalui ke 4 tahapan itu dengan benar Atau sudah melalui tahapan itu tetapi tiap tahapnya tidak lulus, tapi langsung loncat kelas hehe ...
Jadinya ya begitulah ... kalo kata orang sunda mah : Ngaduriksakeun!
Saya lega, sekarang banyak sekolah dasar atau ada homeschooling yang mengedepankan kematangan emosional, kejujuran, keluhuran moral dan ketinggian pemahaman spiritual dalam membekali anak-anak calon pemimpin bangsa ini, sehingga kelak tak akan ada lagi istilah pejabat korup atau orang pinter serakah.
Konsep Aki yang sederhana : Cageur Bageur Bener Pinter itu, sangat jitu buat membekali calon pemimpin, bukan ?
Bagaimana anda memahami konsep tersebut ? Mungkin anda lebih tepat dalam mengapresiasi dan mengamalkannya.
Yang tengah saya pikirkan saat ini adalah sudahkah saya secara tepat mengamalkan ajaran beliau? Semoga sekecil apapun usaha saya dalam menafsirkannya, Allah berkenan memberkahinya, dan semoga sekecil apapun nilainya, berkah itu sampai juga pada almarhum Aki.
Allahummagfirlahuu warhamhuu wa'afihii wa'fu'anhuu wa akrim nujuulahuu wawassi'madkholahuu ...
Amiiin....
Jumat, 23 Oktober 2009
Selamat Ulang Tahun, Nak ...
Hari ini empat belas tahun yang lalu
engkau hadir melengkapi peranku, nak sayang...
Ibu dekap engkau dalam pelukan doa dan cinta
tiada duka setelahnya
hanya tawa, ceria, canda dan bahagia
sebab engkau hadiah terindah yang Tuhan beri
Hari ini
ibu menyadari satu hal
engkau tak lagi mau ibu kecup
suaramu kian berat
kisahmu tak lagi semengalir dulu
Aaah ya ...
engkau bukan lagi anak manja yang kerap ibu hantar ke peraduan
Ibu menulis ini dengan sedikit titik air di sudut mata
bukan
bukan sedih kehilanganmu
sebab engkau tak kan pernah hilang dari ibu
sebagaimana engkau tak kan pernah menghilangkan keberadaan ibu
titik air ini ada mungkin karena ibu tahu
engkau tengah menjejak jalan baru
yang dulu ibu lesatkan dari peraduanmu
tak selamanya ibu dapat menyelami dasar samudra hatimu, nak
seperti hari-hari kemarin yang kita lewati dengan sedikit beradu kata
ibu mengerti
engkau tak lagi anak manja ibu yang dahulu
di jalan yang sekarang tengah kau titi
doa ibu tetap melingkupi aura tubuhmu
meski raga ibu tak sedang berada dekat denganmu
dalam tengadah malam-malam kulesatkan pinta pada Pemilik sejatimu
agar engkau tetap Dia himpunkan dalam kebaikan dan kemanfaatan
Nak sayang
Cintaku
Selamat ulangtahun ...
(Sobat blogger semua, anak sulungku sudah ABG mohon doa ya supaya saya dan ayahnya dapat mendampinginya dalam kebaikan di jalan-Nya. Amiiin ...)
Kamis, 22 Oktober 2009
Bertemu Sahabat Menemukan Nasihat

Hari itu Rabu 18 Pebruari, saat tangan menarikan gerakan di situs-situs perjalanan dunia maya, bertemulah saya dengan sahabat lama, yang Subhanallah, telah begitu tinggi menggapai keindahan "Hidup". Lewat catatan dan gambar ia kisahkan perjalanan ruhaninya menapaki terjalnya gunung pencarian jati diri.
Semula, hanya rindu yang tak terkira saat wajahnya terpampang jelas di hadapan saya. Saya merasa menemukan kembali teman yang hilang. Yang dulu sempat secara intens saling berkirim kabar via
Sampai hari ini, lebih dari 20 tahun kami terpisah. Maka dapat dibayangkan betapa hati saya berbunga dapat ‘menemukannya’ kembali. Meski baru di negeri antah berantah saya sungguh bersyukur atas anugerah ini. Alhamdulillah, terima kasih, Ya Allah …
Di halaman jiwanya itu, sebuah blog inspiratif, ia berceritera banyak. Tentang dirinya, hatinya, keluarganya, puteranya yang ia sebut para panglimanya, kiprahnya di dunia pendidikan dan wirausaha, lingkar pergaulan yang memungkinkannya terus berkarya, keinginan-keinginannya untuk terus menemukan CintaNya, dan sekian lagi deretan kisah yang ia tulis dengan bahasa kalbu. Saya sungguh tenggelam hingga ke dasarnya.
Saya belum lagi bertemu dengannya secara nyata, tapi aroma sufistik telah memengaruhi jiwa saya. Pengalaman ini memberikan sesuatu bahwa nasihat dapat datang dalam bentuk yang tak berwujud. Ia sampai dengan diam-diam, tak bersuara, tapi memberi dampak demikian besar melebihi segunung kata-kata bersayap yang kerap saya dengar.
Ia, sahabat saya itu, telah menyentuh kesadaran saya melalui tulisan-tulisannya, melalui perjalanan hidupnya. Bahwa untuk bisa berbagi, kita tak perlu berbuih mulut, cukup mendekat ke dalam diri, melihat ke dasar hati, menerima penuh kesyukuran apapun yang Tuhan kirimkan, maka tangga pertama menuju Hidup dan Hikmah itu akan kita dapatkan dan mengkristal dalam kedirian kita, dan tanpa peringatan serta tanpa kita sadari jadilah kita “sebentuk kebaikan”.
Kini, saya tak hanya sekedar rindu untuk bertemu dengannya. Saya sangat sangat rindu untuk memeluk dan dipeluk oleh kesetiaan cinta sahabat saya itu padaNya. Agar kesetiaan itupun menulari saya untuk tetap memelukNya.
… Rita, saya rindu …
Rabu, 21 Oktober 2009
Posting lagiiii ...!!

Alhamdulillaah, Ya Allah ...
Total 18 hari saya tidak update. Kalau menurut istilah mbak reni "mati gaya". Terima kasih buat sobat blogger semua yang dengan setia berkunjung dan mendorong saya untuk kembali menulis. Bahagia rasanya mendapat perhatian dan motivasi. Kalian semua begitu berarti buat saya. Sungguh.
Bukannya tanpa alasan saya mati gaya, mati suri, atau apalah istilahnya.
Sejak hari pertama ngantor usai libur lebaran, saya dikejar target untuk melaksanakan kegiatan tahunan di Perpustakaan MTsN Garut, tempat saya bertugas. Sejatinya, perencanaan dan segala macam tetek bengek persiapan telah tertulis di kertas rencana sejak Ramadhan, namun tetap saja karena melibatkan banyak pihak, maka memerlukan perhatian yang fokus. Kegiatan berlangsung selama 2 minggu, maka saya putuskan untuk sejenak berhenti ngeblog. Paling hanya sekedar menengok, mampir ke blog sobat, atau refreshing 'muter-muter' keliling taman blogosphere. Itupun nyuri-nyuri waktu.
Inginnya, saat senja tiba di rumah, saya buka kompi (ini nama yang biasa disebut Fanda), tapi rupanya tugas rumah tangga tak bisa ditunda (asisten saya hanya datang 2 minggu sekali buat mencuci, menyetrika dan beres-beres). Kedua buah hati masih memerlukan kehadiran ibunya buat sekedar 'curhat' perjalanan kisah mereka hari ini. Biasanya semua itu baru usai saat anak bungsuku tidur dan dapur telah 'bening'. Tak sempat lagi saya sentuh "mainan" saya, karena mata dan tubuh meminta porsinya buat istirah. Maka .... selamat tidur sobat blogger. Begitulah...
Hari ini.
Saat menengok blog saya, ada mbak reni, ada bluethunderheart, Kang eNeS, mbak Tisti dan Kang JT menyuntikkan semangat itu. Ada Fanda yang terus berinovasi dan melahirkan Vixxio, ada Anita sobat baru, mbak Aisha, juga ada Bi Aam, dan banyak lagi.
Karena mereka sekarang saya : Posting laggiiii ...!!!
Alhamdulillah.
Jumat, 02 Oktober 2009
Bakar Jembatan

Julius Caesar adalah komandan perang yang berhasil merebut Pantai Britania karena strateginya yang cukup unik.Dalam catatan sejarah tertulis bahwa ketika Caesar berhasil mendaratkan pasukannya pada tengah malam yang dingin, sang komandan berdiam diri sejenak, sementara pasukannya sibuk merapatkan dan menyembunyikan perahu-perahu yang sudah mereka tumpangi. Mereka berpikir, setelah pertempuran selesai akan kembali lagi ke kapal induk dengan menggunakan perahu tersebut. Namun, betapa kagetnya seluruh pasukan ketika sang komandan berteriak, "Bakar semua perahu yang sudah kamu daratkan!"
Sebagai pasukan yang taat kepada komandan, merekapun dengan ragu-ragu akhirnya membakar semua perahu sampai hangus. Semua pasukan bertempur habis-habisan, karena mereka berpikir tidak akan kembali lagi. Jadi harus menang, atau mau bertempur.
Memang, sahabat, perjalanan menuju sukses kerapkali diwarnai oleh kekhawatiran sehingga terkadang membuat kita cenderung untuk kembali, bahkan mundur dari pergumulan hidup yang selalu dilalui. Hal ini pula yang membuat orang mengalami stagnasi pertumbuhan dalam meraih keberhasilan hanya karena takut tidak berhasil atau takut ditolak orang lain.
John C. Maxwell pernah mengatakan : "Kekhawatiran akan menghambat tindakan, tiadanya tindakan menuntun pada tidak adanya pengalaman, tiadanya pengalaman menuntun kita pada ketidaktahuan, dan ketidaktahuan akan melahirkan kekhawatiran"
Jadi ketakutan, jika tidak disikapi dengan baik, justru akan melahirkan sejumlah kekhawatiran baru.
Maka sekali lagi, hikmah dari kisah tadi adalah : Jika sudah memulai sesuatu, padamkan semua kemungkinan untuk kembali. Beberapa 'daya tarik' yang mampu menarik kita untuk kembali adalah keterikatan pikiran dan nostalgia kesuksesan masa lalu. Hapuskan itu dari otak kita.
Peristiwa Jenderal Julius Caesar sekaligus mengingatkan pada sebuah ilustrasi tentang seseorang yang menyeberang jembatan gantung. Begitu sampai di seberang, ia lalu mengambil api dan membakar jembatan tersebut sehingga seklipun ia berhadapan dengan binatang terbuas atau apapun yang membahayakan, ia tak akan kembali melainkan terus menghadapinya. Kalaupun terlampau berat, paling mengubah rute perjalanan.
Mari kita "bakar jembatan" kita, yaitu segala sesuatu yang membuat kita kembali dan surut ke belakang. Yang penting bukan darimana kita memulai, melainkan dimana kita berakhir. Inilah yang menggambarkan diri kita sebenarnya.
Kamis, 01 Oktober 2009
Gempa Lagi ...

Dua kali bulan ini.
Ya, dua kali gempa di atas 7 SR. Awal September gempa mengguncang Jawa Barat bagian Selatan, dan di ujung September meluluhlantakkan Sumatra Barat.
Fenomena alam ini, meski telah diprediksi beberapa tahun lalu pasca Tsunami Aceh oleh para ahli, tetap mengagetkan dan meninggalkan duka. Sebagaimana yang telah diperhitungkan, lempeng tektonik IndiaAustralia dengan lempeng tektonik EropaAsia akan mengalami tumbukan/pergeseran usai tsunami Aceh di 26 Desember 2004 lalu. Pertemuan lempeng-lempeng tersebut memanjang dari Sumatra bagian utara hingga ke pulau Jawa, itu yang dulu sempat saya tahu dari informasi pasca tsunami. Tak sampai 5 tahun, beberapa kali gempa terjadi, di Nias, Yogya dan sekitarnya, Jawa Barat, dan sekarang kembali ke Sumatra, semuanya di sisi barat dan selatan Sunda Plate (bagian dari lempeng EropaAsia).
Sebagaimana makhluk ciptaan Tuhan lainnya yang terus bergerak dan tumbuh secara alamiah, bumi inipun terus bergerak, yang dalam istilah lain kita sebut sunatullah. Hanya saja pergerakan bumi ini berdampak demikian besar bagi kehidupan manusia (mungkinkah pergerakan makhluk lain selain bumipun sebenarnya berdampak besar, namun manusia tak tahu atau tak merasakan karena ketidakmengertiannya ? Wallahu alam...)
Gempa-gempa ini semakin membuat kita sadar betapa kecil manusia. Betapa kuatnya alam, betapa kuatnya pemilik alam dan manusia. Betapa tak berdaya manusia. Apa lagi yang dapat manusia banggakan? Sedang pergeseran saja telah melantakkan sendi-sendi kehidupan, apatah lagi bila bumi berguncang?
Dalam situasi seperti ini : mari ulurkan tangan, saling menggenggam dan terbuka, untuk membantu meringankan beban saudara kita. Mari tengadahkan hati dalam doa agar mereka diberi kekuatan iman dalam menghadapi takdir-Nya. Dan mari tetap istiqomah dalam jalan-Nya, agar Ia tak pernah berpaling dari pinta kita. Sebab kepada siapa lagi kita berpegang selain pada tali-Nya, kepada siapa lagi kita mohon naungan selain pada naungan-Nya.
Sabtu, 19 September 2009
Shaum Keduapuluhsembilan : Evaluasi

hamba rindu lagi Ramadhan ...
mohon umur hamba di tahun depan
berilah hamba kesempatan ...
Penggalan lirik lagu Bimbo itu begitu pas dan menyentuh setiap sudut hati para pendamba dan perindu. Semuanya.
Semua orang, yang menyebut dirinya muslim, di seluruh dunia, pastilah merindukan tibanya Ramadhan, hingga bila ia pergi, ingin segera bertemu kembali satu saat nanti.
Itu mengenai perasaan.
Bagaimana dengan kualitas ruh kita ??
Di penghujung senja Ramadhan, saat tarawih tak lagi ditegakkan, saat asma Allah bergema di penjuru bumi kalbun shalih dan masjid-masjid, sejatinya setiap kita melakukan pula evaluasi dan kontemplasi. Pandanglah kedirian kita dengan mata hati yang tak pernah dusta. Dengarlah suara yang keluar dari sudut terdasar dengan telinga hati yang juga tak pernah bohong. Monolog yang terjadi di muara penghambaan, Insya Allah akan melahirkan cahaya.
Di tengah takbir yang menggema dari suara hati kita, Allah akan menuntun kita menuju-Nya. Sebab ia "sesuai persangkaan hamba-Nya", ia lebih dekat dari urat leher kita.
Maka, insya Allah esok pagi, ketika fitrah telah selesai dibagikan, ketika seluruh bumi Allah memutih dalam pusaran takbir mengagungkan asma-Nya, kita tak lagi hanya tiba di hari lebaran, melainkan bersatu dalam kebeningan Idul Fitri. Sebab hanya Idul Fitri yang dihadiahkan kepada para pejuang Ramadhan.
Bila Ramadhan ini tak sesuai dengan target pencapaian ruh kita, semoga Allah swt berkenan memanjangkan usia kita hingga Ramadhan tahun depan.
Amiiin Yaa Allah, Yaaa, Mujibassailin ...
Jumat, 18 September 2009
Shaum Keduapuluhdelapan : Hantaran Lebaran
Tak terasa waktu demikian cepat berlalu.
Ada yang berat saya tinggalkan,
Ramadhan.
Suasana Ramadhan yang sejuk, menenangkan dan berlimpah wangi surga
harus segera ditinggalkan
berganti fajar fitri yang dijanjikan
Masihkah saya punya waktu hingga Ramadhan depan??
Semoga Allah masih memberi saya kesempatan bertemu lagi Ramadhan
Amiiin ...
Dan di ujung Ramadhan tahun ini, saya ingin mengirimkan hantaran silaturahmi lebaran sebagai wakil rasa betapa saya menanti maaf sahabat semua, atas kesalahan dan kekhilafan dalam kata-kata yang sempat terlontar dari tulisan-tulisan saya. Hantaran lebaran ini memang bukan buatan saya melainkan kiriman sobat blogger yang lain, tapi itu tak jadi soal bukan? selama diantara kita semua terjalin kasih sayang dan persahabatan yang dilandasi niat karena ibadah pada-Nya.
Semuanya kukirimkan buat sahabat blogger dimana saja berada yang menyambut permohonan maaf saya.
Hantaran pertama dari mbak Nura di Al-Jubail, komplit sekali :
Sedangkan hantaran ini pesanan Ateh 75 (untuk sobat blogger yang lain, yang memiliki makanan favorit karedok seperti Ateh, boleh kok diambil ...)
Saat sahabat membaca postingan ini, mungkin saya sudah berada di Bandung, di rumah orangtua saya untuk berkumpul bersama seluruh keluarga besar. Tapi, bukankah tak jadi soal dimana kita tinggal selama hati kita bersatu dalam jalinan persaudaraan ...
Sekali lagi "Mohon Maaf Lahir Batin"
Kamis, 17 September 2009
Shaum Keduapuluhtujuh : Menyucikan Harta
"Aduh ... pegalnya kakiku, antriannya panjang beneer," keluhan Bu Juju serta-merta menghambur usai keluar antrian. Tapi kok wajahnya cerah ya?
Bicara tentang zakat, saya jadi teringat usul Kang eNeS agar saya menulis tentang kewajiban muslim yang satu ini. Maka sayapun kemudian bongkar buku, ketemulah Fiqih Islam Lengkap karangan Drs. H. Moh. Rifai dan Ihya 'Ulumuddin-nya Imam Ghazali. Dan inilah hasilnya, semoga bermanfaat.
Dalam Fiqih Islam, disebutkan bahwa zakat fitrah ditetapkan pada tahun ke 2 Hijrah (623 M), sebelum syara’ mengatur dengan jelas terhadap zakat mal.
Pada suatu hari pada tahun ke 2 Hijrah, Nabi saw mengumumkan di hadapan para shahabat tentang beberapa kewajiban yang harus dipenuhi oleh orang Islam, diantaranya adalah butir : “Wajib mengeluarkan zakat nafs” yang dalam masyarakat kita lebih dikenal dengan zakat fitrah.
Pengumuman itu dikeluarkan 2 hari sebelum Idul Fitri. Waktu itu Nabi saw hanya membagi zakat fitrah kepada fakir miskin sebagaimana keadaan membagi zakat mal sebelum turun ayat 60 Surat At-Taubah yang menerangkan tentang para mustahiq (orang yang wajib menerima zakat). Bahkan sesudah itupun Nabi saw sangat memetingkan bahwa zakat fitrah hanya diberikan kepada fakir miskin saja.
Karena demikian kompleksnya pembahasan tentang zakat mal, kali ini saya hanya hendak berbagi soal zakat fitrah saja. Bahasan ini sesuai dengan momen hari raya yang sebentar lagi akan kita jelang (semoga Allah masih memberi nikmat usia, amiiin).
Berbeda dengan zakat mal, zakat fitrah ialah “zakat pribadi” atau “zakat jiwa” yang harus dikeluarkan oleh setiap Muslim laki-laki dan perempuan, besar dan kecil, yang mempunyai kelebihan makanan bagi dirinya dan tanggungannya, pada malam hari atau pagi hari sebelum sholat Idul Fitri.
“Dari Ibnu ‘Abbas ra, ia berkata : Rasulullah saw mewajibkan zakat
fitrah itu selaku pembersih dari pada perbuatan sia-sa dan
omongan-omongan yang kotor, dari orang yang berpuasa dan
sebagai makanan bagi orang miskin.
Maka barangsiapa yang menunaikannnya sebelum sholat Ied,
itu adalah zakat fitrah yang diterima,
dan barangsiapa yang menunaikannya setelah sholat Ied,
maka itu hanyalah suatu shadaqah seperti shadaqah-shadaqah biasa.”
(HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah dan disahkan oleh Hakim)
Jumlahnya adalah 1 sha’ atau 2,305 kg atau dibulatkan menjadi 2,5 kg untuk setiap jiwa. Ia dapat berupa beras atau makanan lainnya yang biasa menjadi makanan pokok. Namun, saat ini zakat fitrah dapat juga diberikan dalam bentuk uang tunai dengan catatan setara dengan 2,5 kg beras.
Maka setiap kepala keluarga Muslim wajib membayar untuk seluruh tanggungannya, seperti istri, seluruh anaknya, hamba sahaya/pembantunya, termasuk orangtuanya bila mereka tinggal bersamanya. Sebagaimana sabda Rasulullah saw :
“Bayarlah zakat fitrah orang-orang yang hidupnya
Menjadi tanggungan kamu”
Zakat selain sebagai sebuah kewajiban yang telah diperintahkan Allah kepada kita, ia juga memiliki dimensi social serta beragam hikmah.
- Mendidik kita untuk mau dan suka berkorban dan membersihkan jiwa dari sifat kikir dan bakhil.
- Zakat memberi kita kesadaran betapa manusia adalah bersaudara, tak ada lagi pikiran hanya hidup untuk diri sendiri.
- Mendidik kita untuk tetap dan mau bermurah hati, penderma, dan penyayang.
- Zakat dapat mejembatani jurang pemisah yang dalam antara si kaya dan si miskin, bahkan hilang sama sekali. Memupus rasa iri hati dan dengki yang kerap timbul akibat perbedaan status ekonomi.
- Meratakan nikmat Allah yang diberikan kepada manusia.
-
Maka saudaraku, marilah kita niatkan karena Allah semata membayar zakat fitrah usai terbenamnya matahari akhir bulan Ramadhan hingga sebelum sholat Idul Fitri. Agar diterima amalan kita sebagai zakat, bukan sebagai shadaqah.
Wallahu’alam bishawab …
(Kang eNeS … peernya selesai, alhamdulillah. Semoga menjadi manfaat untuk saya dan sobat semua. Amiiin…)






