Sabtu, 29 Agustus 2009

Shaum Kedelapan : IMANEN


IMANEN

Jangan pernah berkata nanti
ketika Tuhanmu memanggil lewat muadzin
sebab bukankah Tuhan tak pernah sempat diminta
ketika engkau membutuhkan udara

Jangan pernah berteriak besok
ketika Nabimu mengumandangkan syahid
sebab bukankah ia selalu setia
membelamu hingga tiba Izrail menjemput

Jangan pernah memasung waktu
ketika hari tak lagi serupa
sebab bukankah ia tak kan pernah ingkar
menuliskan jejak setiap langkah

Jangan lagi pernah memaki waktu
ketika tubuhmu tak lagi mampu mengikuti nafsu
sebab bukankah waktu
kau sendiri yang ekstrapolasi
sejak perjanjian diikrarkan di lauhul mahfudz

Jangan lagi bermain-main
sebab hidup tak sekedar permainan
ia adalah sebuah kepastian
seperti halnya
kematian

15.00

Jumat, 28 Agustus 2009

Shaum Keenam: Menjumput Hikmah Andy's Corner


Ada yang menarik waktu saya menonton tayangan Kick Andy (my fav tv show) episode lama, Laskar Pelangi. Para tamu yang hadir untuk diajak 'ngobrol' ternyata memiliki rambut yang sama-sama keriting, cenderung kribo, persis sama dengan presenternya, Andy F. Noya. Lihatlah rambut Mira Lesmana sang produser, Riri Riza sang sutradara, dan penulis novel Laskar Pelangi Andrea Hirata, sama-sama ikal alias keriting. Belum lagi saat muncul penyanyi Sound Track filmnya, Giring Nidji, keriting pula!

Sungguh sebuah fakta yang menarik, mengingat semua hal yang terjadi di dunia ini tak ada satupun yang bersifat kebetulan, melainkan semua telah tertulis jauh sebelum manusia itu sendiri dilahirkan. Bahkan tak selembarpun daun yang jatuh yang luput dari kehendak Tuhan Yang Mahakuasa.

Lalu apa yang bisa disimpulkan? Bahwa semua orang yang berambut keriting cenderung kribo memiliki keistimewaan? Adakah hubungan antara rambut dan kecerdasan? Rupanya hal itu masih harus dibuktikan lewat penelitian. Buktinya orang-orang yang memiliki gelar profesor dan orang-orang pintar cenderung dekat pada prototype berkepala botak alias miskin rambut akibat terlalu banyak mikir! Benarkah??

Pikiran ngelantur itu tiba-tiba saja datang saat saya memandang sampul buku "Andy's Corner", kemarin. Efek dari merdekanya sebuah pengembaraan fikiran serta luasnya jagat alam bawah sadar, memang seringkali membuat benak tak mampu membendung kilasan-kilasan kejadian yang telah lewat. Berkelebatan bagai kilat memengaruhi kembali kepala dan hati kita saat ini.

Maka, ketika kata demi kata dalam lembaran buku itu saya telan melalui mata dan masuk dalam ribuan informasi yang pernah singgah di memori, saya terkesima pada sebuah konklusi yang kerap tak pernah tergubris, atau sebenarnya disadari namun kerap terabaikan. Yakni bahwa semua rentetan peristiwa masa lalu, saat ini dan akan datang adalah sebuah metamorfosa kehidupan yang telah diatur sedemikian rapi oleh Sang Pengatur, untuk kebaikan, sekali lagi : hanya untuk kebaikan, manusia.
Andy F. Noya, penulisnya, menuliskan semua curahan hatinya saat ia merasa tersisihkan dan terluka, menulis tentang orang-orang yang pernah hadir dalam acaranya, tentang orang-orang yang terinspirasi oleh semangat yang timbul akibat tayangan acara yang diasuhnya. Menuliskan apa saja yang pernah melintas di kehidupan masa lalunya. Ada benci, ada sedih, ada marah, ada penyesalan, ada haru, ada cacian, ada cemoohan, ada semangat, ada perjuangan, semua kata yang nampak miring itu, di tangan Andy menjelma menjadi sebuah rangkaian kalimat yang menggiring kita pada satu kata : Inspiring! senafas dengan acara yang diasuhnya di televisi.

Jelas sekali, Andy berusaha mengajak pembaca untuk memandang segala sesuatu, segala peristiwa, positif atau negatif, melalui mata hati yang jernih. Buku ini juga berfungsi bagaikan album fikiran (Prof.Dr. Komarudin Hidayat). Ada penawar yang diberikan usai membacanya, terlebih bagi mereka yang tengah galau dan tertekan. Perasaan-perasaan menghimpit itu akan segera hilang berganti dengan tumbuhnya semangat hidup. Sedang bagi mereka yang dalam keadaan normal bahkan sedang menggebu-gebunya akan rencana esok, maka hidup akan terasa lebih berwarna dan mendapat suntikan energi.

Dalam bukunya, yang sebagian besar berisi kisah di balik tayangan tacaranya di tv, ada kisah tentang betapa sulitnya ia tumbuh sebagai anak seorang montir mesin tik yang pas-pasan dan ditakdirkan sebagai 'berdarah penjajah' (saat itu segala hal yang berhubungan dengan Belanda masih dianggap aib dan musuh bersama). Jiwanya berontak saat ia merasa ditinggalkan ibunya. Namun kejadian demi kejadian perih dalam hidup membuatnya kuat (memang pada dasarnya ia orang yang berperangai kuat dan keras) serta bertahan pada cita-cita, mengikuti suara hati. Dan akhirnya, seiring kedewasaan dan pemahaman yang berkembang, ia menyadari kekeliruan yang pernah disimpan rapi dalam sudut dendamnya. Ada kisah Sugeng yang meski hanya memiliki satu kaki dan hidup sederhana, tapi mampu membuat kaki palsu murah demi membantu orang yang senasib dengannya tapi tak memiliki dana lebih buat membeli kaki palsu. Ia tak luruh menangisi nasib melainkan bangkit menolong, tak hanya dirinya sendiri, bahkan mampu menginspirasi banyak orang. Ada pula kisah anak-anak yang terkena kanker, kisah Kangen Band yang dicemooh sebagai band kampungan dan mencemarkan aliran musik Indonesia, oleh sebagian kawan musisi, namun di buku ini Andy mengajak pembaca (dan penontonnya) untuk memandangnya, bukan dari sudut logika dan kasat mata, melainkan dari sisi 'ruh'-nya, semangat kemanusiaan, membuka mata hati agar saling menerima dan menghargai perbedaan, membangun kesetiakawanan antarsesama. Juga semangat memaafkan.

Rasanya, di shaum keenam Ramadlan kali ini, saya perlu kembali mengasah kepekaan hati dan jiwa agar semakin peka mengenali dan memahami setiap peristiwa keseharian, yang kecil-kecil, supaya saya mampu menjumput hikmah yang Allah siapkan didalamnya. Bukankah, sekali lagi, seluruh peristiwa di dunia ini tak ada satupun yang kebetulan? Tinta sudah mengering. Semua telah selesai dituliskan! Kitalah yang harus berfikir ...

Kamis, 27 Agustus 2009

Shaum Kelima : Masih Puisi

BETAPA DEKAT IA (II)



Andai aku semut
yang Ia sebut dalam kitabNya
berapa masa kuharus berlari
hingga jiwa lusuh ini menjelma
Semut

Andai aku lebah
yang Ia tulis dalam firmanNya
berapa lama kuharus menghiba
hingga ruh ini menjelma
Lebah

Mereka berserah
sejak penciptaan pertama
utuh penuh
menyimpuh bumi dan jagat raya
Tanpa penafsiran
mereka junjung takdirnya
dalam penyerahan tak bersyarat

Maka padaNya kulafalkan :
Ya Allah, ajari aku berdzikir
Ajari aku bersyukur
Ajari aku beribadah
padaMu

(10 pertama ramadhan)

sumber gambar : www.eyelash.ps

Selasa, 25 Agustus 2009

Shaum Ketiga : Positive Parenting




Setiap kali usai membaca buku-bukunya mas Mohammad Fauzil Adhim, saya kerap dihadapkan pada kotak besar bernama cermin yang memaksa saya untuk melihat diri sendiri, lantas tersentak dan tersadar. Sensasi itu hampir sama dengan usai membaca tulisannya mbak Neno Warisman, meski mereka berdua memiliki cara bertutur yang berbeda.

Kemarin, saya melanjutkan bacaan yang terhenti tentang "Positive Parenting" tulisan mas Fauzil Adhim. Dan kembali saya tercenung tentang betapa selama ini saya belum menjadi ibu yang baik bagi anak-anak. Proses itu terus berjalan, proses menuju perbaikan meski tak ada yang bernama kesempurnaan. Namun bagaimanapun tentu saya ingin menjadi ibu yang tepat bagi anak-anak. Ibu yang dapat mengantarkan mereka ke pintu gerbang kebaikan dan kemanfaatan.

Saya menemukan banyak hikmah di setiap lembar buku ini. Tiba di halaman 51 saya berhenti untuk sekedar bercermin, ibu macam apa saya?
"Hari ini, betapa banyak anak yang rapuh jiwanya, meski berlimpah makananannya. Mereka tumbuh dengan gizi yang lebih dari cukup, tetapi kurang mendapat penguatan dari ibu bapaknya. Mereka jarang memperoleh pengalaman sukses, meski otak mereka cerdas luar biasa. Sebab orangtua mereka sangat pelit memberi penghargaan dan sangat jarang memberi perhatian. Mereka memiliki kaki tangan yang lengkap, tetapi tidak mendapatkan kepercayaan diri yang kuat bahwa mereka terlahir di dunia ini karena ada amanah yang sanggup mereka pikul. Mereka melihat beban, tetapi tidak yakin Allah sudah memberi pundak baginya untuk mennggung."

"Orang-orang besar tidak dilahirkan. Mereka ditempa, diukir dan dipersiapkan oleh pendidikan yang baik. Salah satunya adalah orangtua mereka yang senantiasa menyemangati dengan cinta. Menggerakkan jiwa mereka untuk melakukan kerja besar yang bermakna, bukan menyibukkan diri dengan kekurangan mereka."

Lantas sudah lengkapkah saya isi jiwa mereka dengan tauhid dan keagungan Tuhan? Sebab prestasi menakjubkan tak lagi membahagiakan jika tak disertai dengan keimanan. Tidak sekedar menghafal doa dengan lancar melainkan diiringi pula dengan kesalehan. Sebab menurut mas Fauzil doa-doa yang mereka panjatkan, tak ada artinya bagi kita jika tak disertai kesalehan.

Firman Allah swt di Surah Al-Ra'd ayat 23, tentang surga 'Adn. >"Mereka masuk ke dalamnya bersama mereka yang saleh di antara orangtua mereka, istri-istri mereka, dan keturunan mereka, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu"

Lihatlah! Allah swt sudah menciptakan Surga 'Adn untuk kita dan anak-anak kita. Sudah Dia ciptakan pula malaikat-malaikat yang akan masuk dari semua pintu untuk melayani segala yang kita mau. Sudah ia ciptakan semua itu untuk kita dan anak-anak kita yang saleh. Tetapi, sudah salehkah kita sehingga berani berharap anak-anak yang saleh? (hal. 36)

Lihat, mas Fauzil begitu tepat membidikkan kata-kata bagi setiap orangtua yang bermimpi memiliki anak-anak hebat.

Senin, 24 Agustus 2009

Shaum Kedua : Gerakan Mukena Bersih



Bismillaahir rahmaanir rahiim,

Setiap iftitah dalam sholat, doa awal kita adalah memohon dijauhkan dari kesalahan, khilaf dan dosa sebagaimana dijauhkannya Timur dan Barat, mohon dibersihkan jiwa kita laksana bersihnya kain yang putih dari kotoran. Setidaknya minimal lima kali dalam sehari semalam lisan kita menghiba untuk kebersihan dan kesucian jiwa melalui doa iftitah. Rintihan itu mustahil berdampak pada sikap keseharian apabila ia tak diiringi dengan upaya membersihkan diri secara lahir. Siapa sih orangnya yang tak ingin selalu nampak bersih dan rapi? Mendirikan sholat dalam keadaan suci dan memakai pakaian serta mukena atau sarung (bagi pria) selain sebuah kewajiban adalah juga sebuah kenyamanan .

Sayang, banyak orang peduli hanya pada kebersihan diri sendiri, lupa akan sekitar. Banyak orang, termasuk saya, hanya bisa menyayangkan melihat onggokan mukena yang menumpuk di lemari mushola (umum) dalam keadaan kotor, sehingga untuk memakainya pun kita tak 'tega', kalaupun terpaksa memakainya sering tanya mengusik hati, apa iya sholat saya sah kalau mukenanya kotor?
Paling banter saya cuma bisa bilang ke pengurus mushola (itupun kalau kebetulan ketemu) bahwa mukena-nya harus segera dicuci.

Tapi hari ini saya lega. Pagi kedua di bulan harum surga, saya tersentak saat melihat dan mendengar wawancara di layar televisi. Empat orang ibu-ibu cantik berjilbab tengah berbincang tentang sebuah gerakan moral, yang bagi sebagian orang barangkali tidak terpikirkan, yakni meminimalisir mukena-mukena kotor yang kerap kita temui di sejumlah tempat umum (mushola dan masjid). Wah, sungguh sebuah gerakan yang patut didukung...

Saya baru saja mengetahui program mulia bernama Gerakan Mukena Bersih ini, meskipun ternyata sejatinya ia sudah ada sejak tahun 2008 lalu. Setelah berselancar di lautan google, saya menemukan apa dan bagaimana program ini dijalankan. Dengan memohon keikhlasan pengelolanya, www.gerakanmukenabersih.blogspot.com, serta sedikit edit di sana-sini, saya menyajikan ini untuk sobat blogger semua.

Apa sih sebenernya Gerakan Mukena Bersih itu?
GMB adalah sebuah Program Pembelajaran Nilai-Nilai Islami dalam kehidupan nyata sehari-hari dengan memastikan tersedianya mukena yang bersih di tempat ibadah umum (mushola & mesjid).
Sunnah Rasul saw yang berbunyi : "Kebersihan adalah bagian daripada iman", yang mensyari'atkan kebersihan spiritual melalui kebersifan fisik adalah tujuan akhir dari program GMB.
Program yang bersifat nirlaba dan berbasis relawan ini, dirancang sesederhana mungkin sehingga dapat menyentuh berbagai unsur dan kalangan di masyarakat.
Dua (2) kegiatan utama GMB adalah pengadaan mukena (Paket GMB) yang diupayakan dengan berbagai kegiatan penggalangan dana dan pemeliharaan mukena oleh para Relawan Pemelihara.

“Khairun nas anfauhum linnas, sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain. Menjadi seorang yang bermanfaat atau yang berarti bagi manusia adalah sebuah nilai spiritual yang sangat tinggi, karena prinsipnya manusia tidak diciptakan oleh Allah sebagai manusia yang individualis, namun makhluk yang komunal, atau makhluk yang bermasyarakat,” ujar Ustd. Husein Shahab.

Sementara itu, untuk pemeliharaan mukena, Gerakan Mukena Bersih (GMB) melakukan berbagai kegiatan sosialisasi untuk menerima pendaftaran para relawan pemelihara. Sosialisasi GMB dilakukan kapan dan dimana saja di berbagai komunitas di masyarakat seperti di pengajian-pengajian.

Relawan Pemelihara adalah seseorang yang memahami tujuan dan manfaat program GMB secara menyeluruh, baik bagi dirinya maupun bagi lingkungannya. Yang oleh karenanya, berpartisipasi mendukung kegiatan ini dengan memberikan komitmen memelihara mukena yang diamanahkan kepadanya bagi tempat umum di lingkungan terdekatnya (rumah, tempat kerja, kampus, sekolah, pusat perbelanjaan, dll.) dengan tukar cuci secara berkala.
Bagi para pendukungnya, GMB memiliki beberapa dimensi pembelajaran yang meliputi; pencitraan Islam di tanah air, kesungguhan-ketulusan-kedisiplinan dalam mengemban amanah serta kebersamaan dalam belajar kebaikan hidup dunia-akhirat.
Sebagai bentuk tanggung jawab GMB kepada para pendukungnya, GMB didukung oleh support system yang terdiri dari data base, data tracking, pendampingan bagi relawan, evaluasi program maupun berbagai kegiatan komunitas GMB seperti pengajian (tausyiah) dan tour mesjid-mushola.

Bagi saya ini sungguh gerakan yang mulia. Sebab nyatanya masih banyak mukena yang lusuh dan kotor meski ia ada di lemari mushola mall yang mewah.
Ohya, sobat bagi yang mau bergabung ini alamatnya : E-mail : mukenabersih@yahoo.co.id

Sobat blogger, inilah catatan saya hari ini. Mungkin sudah basi bagi sebagian orang, tapi biarlah ... bukankah tak ada kata terlambat untuk sebuah kebaikan?

Minggu, 23 Agustus 2009

Ramadhan Pertama : Luruskan Niat


Bismillahir rahmaanir rahiiim,
Ya Allah bantulah aku, mampukan aku ...

Ini hari pertama Ramadhan, dimana semua muslim memulai shaum dengan niat membasuh debu dan noda yang melekat pada kedirian seutuh tubuh, segenap jiwa, selaksa rasa, agar sepanjang 29 atau 30 hari ke depan dapat menjalankan shaum dengan lebih baik dan bermakna daripada Ramadhan tahun lalu. Pun demikian halnya denganku. Ada yang baru dari niat shaumku tahun ini, yaitu keinginan untuk menulis setiap hari. Bukan menulisi buku harian seperti yang selama ini kulakukan. Melainkan, meminjam istilah pak Hernowo, mencoba mengikat makna dari setiap apapun yang melintas di kehidupanku selama setiap 24 jam.

Ingin kutulisi semua hari-hariku di bulan penuh berkah ini dengan catatan kebaikan. Kebaikan seperti apa yang kuharapkan? Akupun masih terus mencari dalam kebingungan. Setiap hari melakukan amal kebaikan, itu sudah pasti kuniatkan. Akan tetapi kemudian menjadi lain bila keseharian yang kualami harus kutulis agar tak terlepas dan memiliki makna bagi evaluasi demi keindahan raportku.

Jujur, niat ini tertulari bagai virus yang kuat menekanku sejak sebulan lalu, usai membaca "Spirit Iqra" yang ditulis oleh Hernowo, penulis buku "Mengubah Sekolah" dan serial "Pak Bill dan Bu Slim" yang begitu produktif menulis dan menerbitkan buku. Melalui tulisan-tulisannya, saya terhipnotis untuk belajar mengikat apapun usai membaca. Selama ini, saya hanya merasa cukup menyimpan saja kesan dan sensasi bacaan di dalam hati. Paling banter, menceritakan kebagusan sebuah buku kepada teman agar sang teman mau membaca juga. That is just it!
Tapi, di Ramadhan kali ini, selain meluruskan niat tuk menjalankan setiap langkah semata ibadah, serta meningkatkan kualitas shaum, saya ingin menuliskan apa yang terlintas di benak dalam rangka memelajari apapun yang Allah takdirkan pada hidup saya.

Bagiku ini berat, sebab tahu sendiri kan, selama ini saya cenderung agak jarang (istilah halus untuk kata malas) menulisi blogku ini.

Karena itu para sobat blogger yang baik, doakan saya ...

Sabtu, 08 Agustus 2009

Dzikrullah Bersama Langit



Tulisan ini pernah saya publish di blog ini beberapa bulan lalu. Tapi, menjelang Ramadhan saya ingin kembali menyajikannya disini. Barangkali tak ada kaitan erat dengan bulan penuh berkah itu, namun begitu saya tetap merasa bersama langit kita dapat merasa lebih dalam masuk ke inti sanubari. Bersama langit ada banyak penemuan. Di atas langit berjuta kembara membawa serta rasa dan rahasia. Menatap langit kita akan menemukan Sang Inti. Entah anda ...


Waktu itu masih di tahun 70-an awal. Setiap senja kami berkumpul di “tepas” rumah, duduk di atas bale-bale bambu sambil memandangi langit. Selalu ada yang baru di atas sana. Hari lalu awan besar menyerupai beruang mengangkangi angkasa, sekarang selaput tipis beriring seperti buih di laut. Dulu ia sempat melebur warna jingga dan membuatku melompat-lompat kegirangan, kini ia mewujud gumpalan lembut berarak ditiup angin sore. Lalu aku hanyut dalam enigma waktu tanpa ruang. Meninggalkan diriku yang bergeming dalam angan masa kecil.

Selalu begitu.
Ada keterkesimaan yang merambat diantara fantasi dan sufistik, saat langit, awan, bintang, bulan, matahari, angkasa, malam, siang, berpadu dengan lanskap alam menyergap titik terdasar benakku.

Seiring usia yang terus mengejar, fantasi itu melebur dalam keterjagaan.
Bersama langit tumbuh keinsyafan, Tuhan tengah melukis hati para pencari. Disana berjuta ayat-ayat Kauniyah terbentang senyata-nyatanya.

“Robbanaa maa khalaqta haadzaa bathilaa”
“Ya Tuhan kami, tidaklah semua ini Engkau ciptakan dengan sia-sia.”


diunggah dari apod.nasa.gov

Bagaimana manusia bisa begitu sombong berjalan di muka bumi ?




“Tuhan yang telah menjadikan bumi sebagai hamparan dan langit ibarat atap.
Allah menurunkan hujan dari langit. Dengan air hujan itu tumbuh
dan keluarlah buah-buahan rezeki untukmu.
Janganlah kamu adakan bandingan (sekutu) Allah swt dengan yang lain.
Padahal kamu mengetahui.”

QS. Al-Baqarah 22


“Dialah yang telah menjadikan semua yang di muka bumi ini untuk kamu.
Kemudian Dia sengaja menjadikan kejadian angkasa,
lantas diciptakanNya tujuh lapis.
Dia Maha Mengetahui segala sesuatu”

QS. Al-Baqarah 29

Maka tak perlu lagi kata-kata.
Langit telah membungkam sejuta aksara.
Selain kekhusyuan Asmaul Husna.

Jumat, 24 Juli 2009

Melalui "Di Jamuan Cintamu di Arafah" Kita Berpelukan

Sore lepas asar, saat keringat belum mengering sepulang kerja, suamiku menyodorkan bungkusan kecil berbentuk segi empat. Hatiku terlonjak, girang sungguh ! Seolah ada magnet yang menempelkanku pada slide ingatan puluhan tahun silam melalui sampul coklat itu, kiriman yang selama ini aku tunggu-tunggu.

Kutatap tulisan yang tertera di sampul dengan binar mata yang sulit kusembunyikan. Ada namaku di sana, ada nama sahabat lamaku sebagai pengirimnya, dalam bentuk huruf yang dulu begitu akrab. Tulisan itu. Ya, bentuk tulisan yang tercantum itu, masih tetap seperti puluhan tahun silam, saat kami masih saling berkorespondensi. Aku mendekapnya bahagia, seolah dialah wujud nyata sahabatku.

Hati-hati kurobek pinggiran sampul coklat itu. Buku yang selama ini kucari-cari. Sekedar cerita saja, perjalanan mencari buku ini lumayan panjang. Saat berlibur ke Bandung, saya pergi ke Palasari (sebuah pusat penjualan buku besar). Hampir sepanjang toko-toko yang berjajar kusinggahi, buku yang dimaksud tak kutemui. Sambil bertanya dalam hati : kok bisa gak ada, ya ? Di lain kesempatan, saat kembali ke Bandung, aku kembali mengunjungi toko buku. Jawabannya : buku habis! Lalu, saat aku kembali ke Garut, kuputuskan untuk memesan saja buku itu kepada Akang penjual buku langgananku. Kusebutkan judul, nama pengarang dan penerbitnya. Sampai tiga kali pertemuan, buku itu tak juga hadir di hadapan. Akhirnya, beberapa bulan kemudian ketika liburan sekolah aku kembali ke Bandung, aku memutuskan mencarinya di Gramedia. Jawabannya sama : buku habis!

Setengah putus asa, sambil terduduk di kursi baca di antara rak-rak buku agama, ku - sms Rita, sahabat lamaku, yang juga penulis buku yang selama ini kucari. "Duuuh Rita, bukumu laku, ya. Aku belum dapet aja nih ? Di Gramedia habis." Keluhku mungkin mengusik lembutnya hati sahabatku, atau barangkali aku aja yang keterlaluan mengeluh kok ya ke penulisnya, gitu! Tiba-tiba saja sms ku dijawabnya dengan janji akan mengirimkan bukunya (yang kebetulan masih dia simpan 1 eksp, yang sedianya akan dia berikan buat pembimbing thesisnya) untukku. Serta smsku akan di forward ke penerbitnya agar segera cetak ulang. Tentu saja aku senang dan setengah kaget (karena memang bukan itu tujuanku meng-sms, maksudnya sekedar curhat aja), setengah tak percaya, dan ujungnya syukur (ya, rasa syukur, apapun inilah bentuk kasih sayang Allah melalui benang halus yang disebut persahabatan). Terima kasih, Ya Allah. Terima kasih Rita.

Inilah buku yang kucari itu :


Judulnya "Di Jamuan Cinta-Mu di Arafah". Sebuah memoar perjalanan haji yang bertabur hikmah. Ratna Januarita (yang saya sebut Rita), penulisnya, mengajak pembacanya untuk menjadikan seluruh waktu, setiap hari adalah haji dan setiap tempat adalah Arafah-Muzdalifah-Mina-Haramain. Dan tahukah anda, membaca buku itu sungguh melejitkan ruh kita terbang bersama harapan dan doa yang tiba-tiba saja menggempur tak terbendung untuk segera melangkah mendekati-Nya. Sungguh. Buku ini mengajak untuk menggenapkan harapan menjadi niat. Buku ini memang memoar haji, tapi sejatinya isinya berkisah tentang pasang surut kehidupan yang mengajarkan arti sabar dan ikhlas, perjuangan meraih Cinta, jatuh bangunnya seorang hamba yang berusaha menjumput hikmah dari setiap peristiwa yang dibebankan padanya serta kerelaan berkorban sebagai bentuk penyerahan diri utuh penuh pada kehendak Yang Mahahidup.

Sungguh. Membaca setiap katanya mengantarkan hati ini pada kesadaran bahwa betapa kecil, lemah, naif, bodoh dan betapa dungu serta sombongnya saya selama ini. Saking yakinnya bahwa Rahman Rahim Allah lebih luas dari murkaNya, maka dengan ringan kerapkali saya melakukan tindakan bodoh yang justru menodai ibadah dan penyerahan diri yang telah ditegakkan. Saya telah alpa menjumput hikmah serta mengais inti dari setiap ritual ibadah yang saya kerjakan. Tak semuanya memang, namun tetap saja meninggalkan sesal yang menyakitkan. Astaghfirullahah 'adzim ...
Usai membacanya, ingin kupanjangkan sujud-sujud malam yang kemarin bolong di sana-sini. Ingin kuberanikan diri memperbaharui janji pada Dzat Yang Maha Membolak-balikkan hati untuk lebih bersegera menyongsong Cahaya yang karena butanya mata hatiku hanya nampak samar-samar atau bahkan tak kentara sama sekali. Ingin kubasuh segala noda dan dosaku dengan lisan yang hanya melafalkan kebenaranNya.
Ya Allah, mampukan aku ...

Di halaman 210 kutemukan doa yang kuaminkan dalam hati :
Ya Ilahi, janganlah Engkau biarkan aibku terbuka sehingga akan mempermalukanku. Andai ruhku jauh lebih buruk dari jasmaniku, baguskanlah ia dengan Kesempurnaan Milik-Mu semata. Sekalipun aku pantas menerima murka-Mu, lindungi saja aku hanya dengan Kasih Sayang-Mu.
Kembalikanlah hakikat diriku kelak ke haribaan-Mu dalam wujud suci seperti ketika Engkau hadirkan aku ke dunia.
Akankah Engkau biarkan makhluk lemah-Mu ni berubah wujud kelak setelah ia dengan ketertatihannya menghampiri-Mu dan meluruhkan sujudnya demi memohon pengampunan dan perlindungan-Mu? Sedangkan ia begitu meyakini-Mu, bahwa Engkaulah satu-satunya tempat Yang Maha Cepat Ridha dan Ampunan-Nya.
Inilah aku, hamba-Mu, bergegas masuk ke dalam benteng-Mu yang tidak akan pernah hancur. Terimalah aku, ya Rabb ...
Amiiin...

Dan tiba-tiba saja saya merasa dipeluk hangat kedua tangan Rita, dan sayapun balik memeluknya. Kami berpelukan seperti saat kami masih sama-sama sekolah SD di Bandung, seperti saat pelukan kami terurai lewat berlembar-lembar surat yang tersambung antara Bandung-Jakarta selepas SD dan kami berpisah kota, atau seperti saat ia pindah ke Lampung dan kami masih saja merajut cerita lewat kertas-kertas berperangko, dahulu, berpuluh tahun lalu (masa SMP hingga awal SMA). Sekarang, Allah yang Maha Mempersatukan, menghubungkan kembali pertautan itu lewat sebuah buku berisi curhatnya yang mengharu-biru.

Maka seperti doa yang ia tulis di halaman pertama bukunya : Untuk sahabat lama : annie rosetyani "Semoga Allah SWT menyegerakan undangan-Nya untuk menghadiri Perjamuan Cinta-Nya di Arafah, dan senantiasa mengundang ke perjamuan2 lain-Nya di manapun." Saya tak lagi menyimpan harapan menuju-Nya sebagai sekedar harapan, melainkan telah melafadzkannya sebagai niat dan mendawamkan doa-doa. Insya Allah, Allah Yang Maha Mengabulkan berkenan mengundang kelak ke perhelatan akbar di Arafah.

Bismillahira rahmaanir rahiim
Ya Allah, berilah aku rezeki berhaji ke Baitullah Al-Haram, pada tahun ini dan tiap tahun, selama hidupku, dalam kemudahan, sehat wal afiyat dan lapang rezeki. Janganlah Engkau luputkan aku berziarah ke tempat2 yang mulia dan tempat2 bersejarah yang penting serta berziarah ke kubur Nabi-Mu saw dan keluarganya, serta limpahkanlah kepadaku memenuhi kebutuhan dunia dan akhirat. Ya Allah sungguh aku mohon kepada-Mu agar qadha dan qadar yang Engkau pastikan pada lailatul qadar tidak tertolak lagi dan tidak terganti lagi, yaitu ketetapan berhaji ke Baitullah Al-Haram, dengan haji yang mabrur dan sa'i yang diterima, dosa-dosa yang diampuni, kesalahan-kesalahan yang dihapuskan. Jadikanlah dalam qadha dan qadar berupa umur yang panjang, rezeki yang lapang, amanat yang tertunaikan dan hutang yang lunas. Terimalah doaku ya Allah Tuhan Semesta Alam.
Allahumma shalli 'ala Muhammad wa aali Muhammad
Alhamdulillahirabbil 'alamin.

Minggu, 14 Juni 2009

Anggur Kenangan

gambar diunggah dari keluargaerkens.blogspot.com

Batang pohon anggur itu merambat di antara bilah bambu, daunnya merayap rapi membentuk semacam atap yang akan dilewati sesiapa yang berkunjung ke rumah masa kecilku di kota Bandung sana. Rerimbun dedaunan anggur itu menjadi semacam gapura yang berucap selamat datang bagi semua kerabat dan teman keluarga besar kami.

Itulah slide yang hadir, sengaja kuundang dalam memoriku, saat seorang sobat lama menanyakan keberadaan pohon anggur itu, setelah hampir tiga puluh tahun berpisah ! dan rumah masa kecil itu telah lama kami tinggalkan.
Semuanya bermula di sebuah siang, saat tengah meluncur di jalanan bersama suami, sebuah getar dan suara ringan menyapa akrab. Telepon genggamku mengabarkan ada pesan yang masuk. Kubuka. Subhanallah .... dari sahabat lamaku! Rita namanya, lengkapnya Ratna Januarita.
Isinya permohonan maaf karena sms pemberitahuan reuni dariku baru bisa ia jawab, karena sahabatku itu baru tiba dari rapat kerja di Malaysia, Singapore dan Bangkok. Bukan itu yang membuatku bahagia, berbunga dan berwarna, melainkan obrolan panjang setelahnya yang berlanjut hingga aku tiba dan singgah di beberapa tempat. Hari Minggu itu jadi terasa berbeda. Ah, teknologi membuat segala yang jauh jadi dekat. Teknologi menjadikan aktivitas tak terhenti hanya karena dua orang manusia tengah berkangen-kangenan. I luv you techno .... mmhuah!

Berbilang kata melesat di jalur lalu lintas gelombang elektromagnet yang berpilin, berputar di antara berjuta data yang melayang menuju sasarannya (yang hebatnya tak tertukar) di seluruh pelosok bumi, antara saya dan dia. Hingga tiba di kalimat yang entah masuk urutan ke berapa, begini katanya :
"Saya sering cerita ke anak-anak tentang cita-cita kecil saya yang sampe sekarang belum terwujud. Saya cerita jauh sebelum kita ketemu lagi, Ni. Tahu gak ? cita-cita saya itu adalah punya pohon anggur seperti di rumah Ani dulu di Pamoyanan. Kalau kelak kita ketemu lagi, anak-anak pasti tahunya Ani yang punya pohon anggur."

Entah kenapa, kalimat sederhana itu membuat hatiku gerimis dan melemparkan ingatan ke masa kecil yang indah di rumah kakek di Bandung. Masa-masa SD yang manis bersama teman-teman yang kompak dan rame. Sungguh kenangan yang tak bisa terlupakan. Dan tahukah anda ? Beberapa hari sebelumnya, Titon, teman saya yang lain, menanyakan anggur yang sama! Jadi, ini kali kedua teman lama terkenang pada sebatang pohon anggur.

Dulu, selain belajar di sekolah, kami terbiasa belajar kelompok, bergantian tempat. Hari ini di rumah Rita, esok di rumah Titon, lain waktu di rumah Yennita, atau di rumah Dian, rumah Jejen, di rumah Ana, bertandang ke rumah Aang, kemudian di rumahku. Seingatku, rumahku agak sering menjadi tempat berkumpul. Untuk belajar kelompok, untuk bermain atau bahkan untuk latihan drama perpisahan kelas. Pokoknya kami sangat kompak. Di sela-sela belajar, kami dapat memandang rerimbun dedaunan anggur itu. Bila sedang berbuah, gelayut anggur-anggur itu sungguh menggoda liur kanak-kanak kami. Ah ... kenangan itu!

Sekarang baru terpikir, sebenarnya pohon anggur yang tumbuh di rumahku itu termasuk jenis anggur yang asem. Mungkin karena kala itu anggur jarang ditanam dan sangat jarang ditemui di pasar, maka ia menjadi sesuatu yang istimewa. Atau mungkin ada sensasi lain selain rasa asem yang kami rasakan saat berebut memetiknya dan kemudian mengulumnya dalam mulut kami sambil tertawa-tawa kegirangan. Duh ...

Lain dengan sekarang, banyak pilihan jenis anggur dapat dibeli di super market. Hingga anggur tak lagi menjadi buah istimewa. Benarkah ? Ah, kini bagiku anggur tetaplah istimewa kapan dan dimanapun. Terlebih bila dalam setiap anggur yang kukulum terselip beribu kenangan indah bersama sekumpulan sahabat ...

Rita, Titon dan sahabat-sahabat masa kecilku ... ini kutulis untuk kalian semua!

Minggu, 07 Juni 2009

Menanam di Hati Anak


“Sesungguhnya harta bendamu dan anak-anakmu adalah cobaan belaka. Padahal di sisi Allah ada pahala yang besar.” (Q.S. At-Taghaabun : 15)


Dalam Tafsir Rahmat, H. Oemar Bakri mengamanatkan setiap orang untuk berhati-hati menjaga amanat Allah ini. Jika dijaga dengan baik ia akan mendatangkan kebahagiaan. Manakala disia-siakan ia akan menimbulkan kecelakaan.
Karena itulah orangtua harus menomorsatukan pengasuhan dan pendidikan anak.


Berusaha untuk tidak jemu memberi “bekal” bagi kekayaan batinnya, seorang ibu harus senantiasa belajar. Ia haruslah menjadikan dirinya sebagai pembelajar sejati. Tak henti menimba ilmu dari manapun sumbernya. Iapun harus bisa mendidik dengan kasih dan keriangan serta kelembutan. Howard Gardner yang menulis tentang proses pembelajaran yang selalu dipenuhi oleh kegembiraan, ketakjuban dan cinta, menularkan semangatnya kepada para pendidik (juga para ibu) untuk pula menghadirkan kegembiraan, ketakjuban, kebahagiaan dan cinta dalam setiap “mata pelajaran” yang ibu tularkan pada anak-anak.
Seluruh kecerdasan yang dimiliki oleh seorang anak akan dapat melejit-hebat apabila suasana belajar dalam keadaan riang, materi ajarnya dapat memesonakan anak, dan guru yang mengajarkan benar-benar ikhlas mengalirkan ilmunya. Maka setiap ibu wajib menjadi guru yang ikhlas. Bukankah sejatinya, ibu adalah guru yang pertama dan utama bagi anak-anaknya ?


Apa jadinya bila benih kebaikan yang coba kita tanam ternyata harus layu dan rontok sebelum sempat bertunas hanya karena salah dalam menanamnya ? Karena salah dalam menyampaikan pesan pada anak? Misalnya karena caranya dengan paksaan dan bentakan. Bukankah pengalaman telah mengajarkan bahwa segala sesuatu yang hadir di bawah tekanan hanya akan melahirkan nestapa dan keterpaksaan.


Saya ingin mengutip apa yang telah diajarkan Neno Warisman dalam bukunya “Matahari Odi Bersinar Karena Maghfi”. Alangkah bodoh kita – para orangtua zaman ini – yang masih sering menggunakan cara-cara yang keras, kasar, nyinyir, apalagi memakai kekuatan dan kekerasan tangan untuk menanam iman dan tauhid mereka. Anak manapun saja di muka bumi, seandainya mereka diberi peluang untuk tumbuh dengan patut dan mulia, diberi ruang untuk mengembarakan pikiran-pikirannya hingga mampu menganalisis dan menemukan jawaban-jawaban atas keingintahuan mereka sejak dini…. Dan kita sebagai orangtua mau bersabar menemani …., saya yakin, mereka akan menjadi orang-orang besar dunia !
Siapakah orang-orang besar dunia ? Ialah mereka yang mampu menaklukkan dunia dengan segala kepongahannya serta mengejar akhirat dengan segala kebaikannya.


Setelah benih tauhid ditabur dan disemai di hati anak, maka mulailah kita memupuknya dengan ajaran akhlakul karimah. Mengenalkannya tidak saja kepada sesama manusia, melainkan pula pada hewan yang demikian banyak jenisnya serta tetumbuhan yang kaya warna.
Jangan berhenti “menanam” bahkan saat mereka tengah bertengkar dengan saudaranya sekalipun. Mengenalkan kepada mereka tentang arti demokrasi dan setia kawan, kejujuran dengan segala konsekuensinya, bersikap adil meski harus ada yang kecewa, serta tetaplah istiqomah. Memberikan kesempatan kepada mereka untuk mengenal sejak dini bahwa dalam hidup ada sesuatu yang tidak harus sesuai dengan keinginannya. Banyak yang harus dikompromikan. Tidak perlu dengan berbuih mulut, cukuplah dengan selalu ada dan bersedia hadir dalam setiap kesempatan emas.

Untuk mengetahui apakah sebuah peristiwa merupakan kesempatan emas ( untuk menanam) ataukah bukan memang memerlukan kepekaan tersendiri. Dan saya yakin semua ibu pasti memiliki kepekaan itu, asalkan mau mengenali anak-anaknya. Sebab pengasuhan anak adalah soal hati, tidak berkaitan langsung dengan tinggi rendahnya pendidikan sang ibu.

Anak-anak perlu belajar bagaimana berbesar hati lewat banyaknya intensitas pergaulan dengan sesamanya. Seringkali kita tergoda untuk cepat-cepat nimbrung pada persoalan anak-anak, tanpa memberi mereka kesempatan untuk menyelesaikannya dengan cara mereka sendiri. Padahal campur tangan yang terlalu dini akan mematikan kemampuan terpendamnya. Hingga tanaman yang hendak bertunas mesti mati tanpa sempat berkembang.


Para ibu sejati, mari kita berlomba menanam benih kebaikan di hati anak-anak kita, agar genaplah peran kita dalam mempersiapkan calon-calon pemimpin bangsa ini. Hingga sejahteralah rakyat kita karena kelak para pemimpin itu lahir dari rumah-rumah kita yang selalu menghadirkan kebahagiaan dan cinta.

Dengan semangat “fastabiqul khairat” semoga Allah swt meridloi dan memudahkan jalan dalam mengawal pertumbuhan anak-anak kita….- yang Ia firmankan sebagai “cobaan belaka” itu - …, sehingga tak sampai menggelincirkan kita dalam api nereka. Naudzubillah …

Jumat, 29 Mei 2009

My Award for My Friends

Senang campur bingung ! Itulah perasaan yang pas untuk saat itu. Saat ada sobat blogger yang ngirim award buatku. Senang, karena ternyata bolg-ku yang masih prematur ini ada yang baca juga. Bingung, karena gak tahu award itu apa dan gimana ? tuh kan saking bingungnya pertanyaannya juga gak terarah!

Belakangan saya tahu ternyata tujuan award ini untuk mempererat silaturahmi dan pertemanan antar sobat blogger. Bagus juga tuh !!  Setelah itu bingung lagi, mo dikirim ke siapa? Gimana cara ngirimnya ? hihi ... banyak amat pertanyaannya, ya. Karena itu mohon dimaklumi kalau awardnya lambat dibagi-bagi. Pabaliut dengan tugas ibu rumah tangga, nih. Nah, proses pembagian award ini pun terhenti hingga berkali-kali. Bergantian dengan tugas kantor, tugas ibu-ibu di rumah melayani anak dan suami, sampai tugas "belajar" ngebagiin award hehe ... lagi.

Begitulah, akhirnya saat tulisan ini diturunkan dan awards siap dibagi, ada kurang lebih 3 - 4 kali proses edit dan tanya-tanya ke orang pinter. Alhamdulillah, sobat, proses belajar dan berbagi itu terus bergerak setiap hari, membuat hidup ini jauh lebih indah dan bermakna.

Inilah awardsnya, semoga silaturahmi kita makin erat, ya!

Award ini dari sobat  Fia la-kurosawa

buat sobat blogger : 
1. Ritma Rahayu
2. Some one
3. iccank
4. wong apik
5. zujoe

Dan award ini dari sobat Fanda sang pencinta buku :

kuberikan pada :

 1. mas is
2. rany rose
3. fazel
4. tovarossi


Be happy and I'm sorry ...



Kamis, 28 Mei 2009

If You Can Dream It, You Can Do It !


Seringkali, saat kita memiliki impian, keinginan, cita-cita, harapan, atau apapun namanya, saat itu pula kita harus berperang dengan diri sendiri untuk meyakinkan diri bahwa kita akan mampu meraih impian tersebut. Kedengarannya aneh, ya. Kita yang mau kok kita sendiri yang membunuh kemauan itu! Disadari ataupun tidak, diakui ataupun tidak, begitulah kebanyakan manusia. 

 Bila ditanya, saya yakin semuanya tak ingin masuk dalam kategori manusia kebanyakan itu. Iya, kan? Kita maunya termasuk dalam golongan manusia yang mampu mengalahkan getar-getar negatif yang merongrong eksistensi kita sebagai manusia yang berakal dan berbudi. Yang mampu membangun harapan menjadi kenyataan. Lalu bagaimana caranya agar kita bisa?

 Hasil-hasil riset mutakhir tentang otak menunjukkan bahwa otak manusia baru akan berfungsi secara optimal apabila diri si pemiliki otak berada dalam keadaan yang menyenangkan. Kata Tony Buzan – seorang penemu metode mencatat yang revolusioner bernama ‘mind maping’ – “otak manusia itu baru digunakan sebesar satu persen!” Oleh sebab itu Buzan pula yang menyatakan bahwa otak manusia itu bagaikan raksasa yang sedang tidur. (Mengubah sekolah : Hernowo, hal 48, MLC, 2005)

 Apakah kita dapat membangunkan raksasa tidur yang berada di dalam diri kita? Kalau memang bisa, bagaimana cara membangunkannya? Nah, untuk membangunkan raksasa tidur di dalam diri kita, kita perlu mengetahui lebih dulu cara-cara bekerjanya otak kita.

 Berdasarkan buku-buku yang ditulis oleh para pakar pendidikan serta pakar tengkorak dan otak, seperti Eric Jensen (Brain-Based Learning=Belajar Berbasiskan Otak), Taufik Pasiak (Revolusi IQ/EQ/SQ : Antara Neurosains dan Al-Qur’an & Membangunkan Raksasa Tidur) serta pemaparan Bobbi DePorter dan Mike Hernacki (Quantum Learning) - saya harus berterima kasih kepada Bapak Hernowo – dapat disimpulkan bahwa emosi positif (yaitu keadaan yang menyenangkan, merasa nyaman dan tidak tertekan) dapat mendorong seseorang untuk membangun kekuatan otaknya. Dan tentu, kekuatan otak ini akan memudahkan seseorang meraih keberhasilan. Sebuah keberhasilan tentu saja akan mampu menciptakan kehormatan diri. Demikian seterusnya berulang sehingga semakin lama orang tersebut akan mampu meningkatkan dirinya.

 Jadi, apabila dalam benak kita terbayang sebuah cita-cita atau keinginan yang sangat jelas (sesuatu yang membuat kita senang), niscaya kitapun akan terdorong untuk menindaklanjuti apa yang kita gambarkan tersebut ke dalam kehidupan sehari-hari kita.

 Inilah sesungguhnya bentuk motivasi tertinggi. Motivasi tertinggi itu digali dari dalam diri kita! Ia dibangun melalui kekuatan pikiran yang positif, bukan semata datang dari pengaruh luar. Bisa jadi pengaruh itu datang dari luar diri kita, namun motivasi internallah ( dari diri sendiri) yang akan membakar semangat kita untuk melakukan sesuatu hingga titik darah penghabisan.

 So, if you can dream it, you can do it. Walt Disney mengatakan itu, dan ia telah membangun impiannya menjadi sebuah kerajaan film yang mendunia. Anak bangsa ini, Andrea Hirata, pun menulis bahwa tak memiliki cita-cita adalah musibah terbesar dalam hidup. Tetaplah bermimpi, dan raihlah! Dan, manfaatkan raksasa dalam diri kita agar kita lebih ‘hidup’.

 Mengapa kita tidak ? Teruslah bermimpi dan berusaha mewujudkan mimpi itu, sebab kita layak untuk mendapatkan apa yang kita mau!

Selasa, 26 Mei 2009

Ketika Neng Agne Pergi


"Assalamu'alaikum wr.wb. Tante Ani, ini Dilla, tadi sore neng Agne 'pergi'. Demam berdarah. Maaf baru kirim kabar sekarang." terkirim 20:13:52. 25/5/3009.




Sms itu menohok ulu hati.

Neng Agne, anak montok yang periang itu telah pergi. Ia meninggalkan keluarga yang dicintai dan mencintainya, meninggalkan teman-teman bermainnya di rumah dan di sekolah, meinggalkan ibu guru yang menyayanginya, untuk memenuhi panggilan Yang Maha Mencintai, memenuhi janjinya untuk segera menemui Penciptanya, Allah swt. Pemilik hakiki semua makhluk.

Masih segar dalam ingatan, saat itu ia berkali-kali meminta agar diperbolehkan main ke rumah anakku, Cici, yang juga teman sekelasnya di SD. Keinginan itu tak segera terwujud karena jarak rumah yang berjauhan serta karena beberapa kesibukan para orangtua mereka (orangtua Agne dan aku/orangtua Cici). Bisa dibayangkan ketika harapan itu terwujud, betapa riang kedua anak kelas 1 yang baru saja saling berteman itu. Di rumah, mereka bermain, berbagi cerita, berbagi tawa dan keduanya membagi keceriaan pada sudut-sudut dinding, kamar, pintu, jendela hingga ke pilar-pilar rumah dan putik bunga yang mulai bermunculan di halaman. Sungguh hari yang berwarna.

Usianya belum lagi genap 8 tahun. Bila bertemu di sekolah saat aku mengantar Cici, senyuman selalu menghias bibirnya. Kusapa lewat kerlingan mata dan senyuman, ia balas mengerling ! Aahhh .... momen kecil yang manis seringkali sangat berarti saat semuanya telah pergi.

Peristiwa kematian selalu meninggalkan kesedihan, terlebih bila yang pergi adalah seorang anak. Terkadang kita tak menginsafi, bahwa hidup, rizki, dan maut telah diatur oleh Yang Maha Pengatur. Tak seorangpun mampu menggeser waktu biarpun sedetik agar ia mau berkompromi dengan rayuan hati. Inginnya, kalau boleh, ia tetap meneruskan hidupnya yang masih panjang. Keegoisan itu sempat terlintas di benak uwaknya "Ya Allah, mohon mu'jizatMu," demikian rintihnya perlahan saat menyaksikan detik-detik terakhir pertolongan dokter di UGD.

Namun neng Agne tak hendak menyalahi janji untuk segera menemui-Nya. Melalui keikhlasan sang ayah saat berbisik perlahan : "Abah ikhlas, Neng sayang. Pergilah bila kau hendak pergi," iapun terbang mengangkasa dengan senyuman. Meninggalkan isak dan sesak di dada kami.

Melalui kisah uwaknya di sela-sela kami melayat jenazahnya yang tenang, kusadari satu hal, bahwa setiap jiwa yang lapang hendak pergi, ia selalu menyisakan kisah manis yang menyejukkan hati. Neng Agne pergi ba'da Asar. Di hari yang sama, usai sholat shubuh ia berucap ingin belajar sholat jenazah! Sementara semalaman ia terus membaca ayat-ayat Qur'an (anak-anak kami sekolah di SDIT). Sungguh sebuah awal kepergian yang indah ...

Tempatkan ia disisiMu, ya Allah ...
Amiinn

Kepergian neng Agne menyadarkanku akan satu hal. Bahwa kita, manusia, tak pernah tahu apa yang akan terjadi esok. Hari esok adalah misteri, semuanya mutlak kuasa Tuhan. Yang bisa kita lakukan hanyalah berbuat, beramal sebanyak-banyaknya dan sebaik-baiknya, berbagi sesederhana apapun bentuknya, berusaha menjadi lebih baik dari hari ke hari, menjauhi segala laranganNya, menjalankan semua perintahNya tanpa menawar, agar bila saatnya tiba 'hari itu', kita dapat menutup waktu dengan senyuman. Dan meninggalkan semua jejak kebaikan kita di dunia bagi keindahan abadi di akhirat.

Ya Allah, jadikan kami lebih baik dari hari ke hari. Jadikan kami sebaik-baik manusia, yaitu yang mampu memberi manfaat bagi orang lain.
Amiiin...

Kamis, 21 Mei 2009

Memahami Kesalahpahaman


Ada ketidaknyamanan yang kita rasakan saat terjadi salah paham, terutama dengan suami. Salah paham bisa terjadi oleh sebab yang terkadang sangat sepele, raut wajah yang tak menyenangkan misalnya. Ya, hanya oleh sebab ekspresi jutek, yang astaghfirullah kerapkali tak bisa disembunyikan karena berbagai sebab, tiba-tiba saja pertengkaran dimulai. Padahal ketika dirunut lagi kronologis kejadiannya, kok ya menggelikan. Meminjam istilah Gus Dur : gitu aja kok repot! Tapi memang begitulah yang sering terjadi dalam rumah tangga.




Namanya juga salah paham, berarti ada kesalahan dalam memahami suami atau istri. Bukannya kesalahan yang betul-betul dilakukan untuk menyakiti. Bukankah itu letak perbedaan antara kesalahpahaman dengan kesalahan.


Setelah ungkapan ketidakenakan keluar dari lisan keduanya atau malah hanya muncul dari satu pihak karena yang lain lebih memilih untuk diam, biasanya saat itulah muncul “slide” sebab-musabab mengapa ini bisa terjadi. Reaksi yang kemudian terjadi bisa berbeda, menangis, geram, pergi, menyesal, atau malah menertawakan diri sendiri. Apapun reaksi yang timbul merupakan buah dari perasaan dan kata-kata yang meluncur sebagai wakil hati kita saat itu. Ibarat awan mendung yang menurunkan hujan. Seberapa besar dampak yang diakibatkannya tergantung deras tidaknya air yang turun.



Maka Rasulullah saw membimbing kita untuk menetralkan hati saat emosi melalui sikap. Bila kemarahan itu timbul saat berdiri, maka duduklah. Bila sedang duduk maka berbaringlah. Dan lekaslah membasuh diri dengan air wudlu karena air akan mendinginkan api yang tengah bergejolak di dalam hati. Tentu saja tuntunan beliau yang indah itu harus disertai oleh upaya aktif dari diri kita sendiri untuk meredam emosi agar kesalahpahaman tak berlanjut pada pertengkaran yang tak perlu.



Ada istilah “rep-pok” yang diajarkan orangtua dahulu (khususnya di kalangan orang sunda) dalam menyikapi kesalahpahaman dalam rumah tangga. Artinya bila salah satunya “pok” alias berbicara, yang lain jangan ikut bicara atau “rep” diam, agar tidak terjadi cekcok. Ajaran orangtua kita itu sejalan dengan tuntunan Islam dalam berperilaku santun ketika bicara. Bisa dimengerti apabila lisan seringkali tak dapat dijaga saat emosi tengah naik. Tapi dengan banyak berlatih menahan diri dan beristighfar, Insya Allah, Allah akan memudahkan setiap upaya perbaikan diri.



Tapi, sesekali kesalahpahaman perlu “dipertengkarkan” agar tumbuh pemahaman baru di benak suami istri mengenai keinginan dan tuntutan pasangan. Kesalahpahaman dapat dijadikan sarana untuk mengupdate perilaku atau malah sebagai sarana “penemuan baru” karakter dan sifat pasangan bahwa ternyata suami kita itu begini dan tidak menyukai yang begitu. Sebab seberapa lamapun kita menikah, pasangan adalah pribadi yang sesungguhnya tak kita kenal dengan tepat meskipun kita kenali dengan baik. Perjalanan rumah tangga adalah proses belajar seumur hidup. Di sana terdapat semacam “ritual ibadah” dalam bentuk lain.



Ketika kesalahpahaman diletakkan pada tempat yang tepat, dikelola dengan benar, dilihat sebagai sesuatu yang dapat berdampak baik, maka Insya Allah kita dapat lebih memahami pasangan kita serta memahami salah paham itu sendiri. Kesalahpahaman serupa tak perlu lagi terjadi dimasa mendatang dan tumbuh kesepahaman baru diantara pasangan.



Kesalahpahaman dapat dijadikan sebagai momentum pembaharuan. Bukankah sejatinya kehidupan berumah tangga itu adalah gerakan pembaharuan yang tak pernah berhenti ? Ia terus-menerus tumbuh seiring perubahan dan perkembangan masing-masing pribadi yang hidup didalamnya. Dan saya yakin di setiap detiknya Allah menyimpan hikmah agar kita bisa menemukannya dan kemudian menikmatinya.


Gambar : images.plurk.com

Senin, 18 Mei 2009

Perjalanan Menembus Hujan

Dalam posisi normal, biasanya, kami sekeluarga tak pernah bepergian dalam kondisi cuaca yang kurang mengutungkan (baca : mendung/menjelang hujan) karena  hal tersebut mengundang resiko sakit. Suamiku sangat menjaga agar anggota keluarganya tidak terjebak situasi tidak mengenakkan.
Tapi hari Ahad kemarin menjadi berbeda. Kami bertiga (bersama putri bungsu kami) menempuh perjalanan Bandung-Garut dalam guyuran hujan lebat. Tentu saja situasi ini tidak kami sengaja. Kisahnya begini :
Usai pertemuan keluarga di rumah orangtua kami di Bandung, ba'da Asar kami memutuskan pulang ke Garut karena cuaca sangat cerah. Biasanya kami menunda kepulangan hingga pagi keesokan harinya (Senin pagi), kecuali hari itu. Sampai di daerah Rancaekek, gerimis mulai turun. Kamipun berteduh. Saat hujan mulai reda kami melanjutkan perjalanan.
Tak diduga hujan kembali turun dengan lebatnya. Namun karena saya sudah basah kuyup (hanya saya yang tidak memakai jas hujan) maka kusarankan : Maju terus! Maka kamipun meluncur menembus hujan lebat. 
Subhanallah ...
berhujan-hujan ternyata tak semengerikan yang kuduga. Sambil bercerita serta berceloteh dalam rangka menenangkan hati anakku yang memang takut hujan, kuibaratkan kami semua tengah menaiki arung jeram seperti saat di Dufan. Hasilnya ? Kami bisa menikmati perjalanan basah selama hampir 2 jam penuh!

Rabu, 13 Mei 2009

DOA HARI SENIN


Disunting dari "Rintihan Suci Ahli Bait Nabi" - Jalaluddin Rakhmat

Puji bagi Allah

yang mencipta langit tanpa seorang saksi

yang menggelar makhluk tanpa seorang pembantu

 Tidak ada sekutu dalam keilahian

Tidak ada setara dalam ketunggalan

Kelu lidah mengungkap sifat-Nya

Lemah akal memerikan makrifat-Nya

Merendah segala penguasa karena kehebatan-Nya

Rebah segala wajah karena takut pada-Nya

Jatuh segala yang agung karena keagungan-Nya

Bagi-Mu segala puja

puja yang beruntun tak putus-putus

Salam sejahtera bagi Rasul-Nya senantiasa

Salam nan kekal abadi

Ya Allah

Jadikan permulaan hari ini kebaikan

pertengahannya kejayaan

pamungkasnya keuntungan

Aku berlindung pada-Mu dari hari

yang permulaannya ketakutan

pertengahannya kecemasan

dan pamungkasnya kesedihan

Ya Allah

Aku mohon ampun pada-Mu

atas segala nazar yang kunazarkan

atas segala janji yang kujanjikan

atas segala akad yang kuakadkan

kemudian tak kupenuhi pada-Mu

Aku bermohon pada-Mu

perihal ulahku menzalimi hamba-Mu

Bila ada hamba-Mu - pria dan wanita

yang teraniaya karena kezalimanku

pada dirinya, pada kehormatannya, pada hartanya

pada ahlinya, pada keturunannya

atau yang kugunjingkan kejelekannya

atau yang kusengsarakan karena hawa nafsu

penghinaan, kesombongan, sia dan kesukuan

yang hadir dan yang raib

yang hidup dan yang mati

Lalu lemah tanganku, sempit tenagaku

untuk mengembalikan haknya

dan meminta kerelaannya

Karena itu 

aku bermohon pada-Mu

wahai Yang Menguasai segala hajat

hajat yang terpanggil karena kehendak-Nya

hajat yang bergegas memenuhi iradat-Nya

Sampaikan salam kepada Muhammad dan keluarga Muhammad

Ridakan dia padaku dengan apa yang Kau kehendaki

Berikan padaku dari sisi-Mu rahmat

Ampunan tidak akan mengurangi 9keagungan)-Mu

Anugerah tidak akan menyusutkan (kebesaran)-Mu

Wahai Yang Mahakasih dari segala yang mengasihi

Yaa Allah

Berilah aku pada hari Senin dua kenikmatan

Pada permulaannya kebahagiaan menaati-Mu

Pada pamungkasnya kenikmatan ampunan-Mu

Wahai

Dia Yang menjadi satu-satunya Tuhan

Selain Dia, tiada yang dapat memberi ampunan

Doa Hari Ahad


Semua do'a harian disunting dari  "Rintihan Suci Ahli Bait Nabi" - Jalaluddin Rakhmat

Dengan asma Allah

yang tidak aku harapkan kecuali karuniaNya

tidak aku takutkan kecuali keadilanNya

Tidak aku percayai kecuali firmanNya

tidak aku pegangi kecuali taliNya

KepadaMu aku berlindung

wahai Pemilik Rido dan Ampunan

dari kezaliman dan permusuhan

dari bencana zaman

dari runtunan kesedihan

dari rangkaian kemalangan

dari habisnya jangka - sebelum siap sedia

KepadaMu aku mohon bimbingan

pada apa yang baik dan mendatangkan kebaikan

KepadaMu aku mohon pertolongan

untuk mencapai keberuntungan dan mendatangkan keberuntungan

KepadaMu aku mendambakan

limpahan keselamatan dan kesempurnaannya

cakupan kesejahteraan dan kekekalannya

Aku berlindung padaMu, yaa Robbi

dari bisikan setan

Aku bernaung pada kekuasaanMu

dari kezaliman para sultan

Terimalah apa yang ada

dari shalatku dan saumku

Jadikan hari esokku dan yang sesudahnya

lebih baik dari saat ini dan hari ini

Muliakan keluargaku dan kaumku

Jaga waktu jaga dan tidurku

Engkaulah Allah Penjaga Terbaik

Engkaulah Yang Paling Pengasih dari segala yang mengasihi

Ya Allah, aku berlepas diri

dari kemusyrikan dan kekafiran

Aku ikhlaskan doaku

mengharapkan  ijabah-Mu

Limpahkan sejahtera pada Muhammad dan keluarga Muhammad

sebaik-baiknya makhlukMu

yang menyeru pada kebesaranMu

Muliakan aku dengan kemuliaanMu yang tidak pernah punah

Jaga diriku dengan mataMu yang tidak pernah tidur

Tutup urusanku dengan kebergantungan padaMu

Tutup usiaku dengan maghfirahMu

Sungguh, Engkau Maha Pengampun dan Penyayang

Selasa, 12 Mei 2009

'Ud'uunii astajib lakum


Allah tidak mengabulkan doa

dari hati yang lengah dan ragu

(Rasulullah Muhammad saw)

Sekilas Nasruddin Hoja


Pertama kali mendengar nama Nasruddin Hoja, saat masih kanak-kanak. Mendengar kisah dan karakternya kerap mengingatkan pada Abu Nawas atau si Kabayan. Bedanya adalah tokoh Abu Nawas dan Nasruddin Hoja bukanlah tokoh rekaan, ia benar-benar hidup pada masanya, sedangkan si Kabayan hanyalah tokoh rekaan yang menggambarkan tipikal orang Sunda yang polos dan cerdik.

Nasruddin Hoja adalah tokoh multikarakter dan seakan tak berzaman. Setiap orang di setiap zaman bisa mengidentifikasi Nasruddin dan kemudian tertawa lebar atau tersenyum simpul ketika menyimak cerita-ceritanya, yang mengandung kecerdikan dan rasa humor di satu sisi, serta kritik sosial di sisi lain.

 

Dalam 360 Kisah Jenaka Nasruddin Hoja yang diceritakan kembali oleh Irwan Winardi disebutkan bahwa Nasruddin Hoja adalah ulama Turki yang hidup di akhir abad ke-14 dan awal ke-15. Nasruddin Hoja lahir di desa Khortu, Sivri Hisar, Anatolia Tengah, Turki pada 776 H/1372 M. Pertama-tama dia mendapatkan pendidikan dari ayahnya, seorang imam di kotanya. Kelak, Nasruddin diangkat sebagai imam di kota kelahirannya menggantikan kedudukan ayahnya.

Nasruddin belajar kepada guru-guru terkenal pada masanya, diantaranya Sayyid Mahmud Hairani dan Sayyid Haji Ibrahim. Setelah menyelesaikan pendidikannya ia diangkat sebagai hakim di kota Ak Shehir dan sekitarnya. Dia juga dikenal sebagai guru terpandang yang telah mendirikan beberapa perguruan dan madrasah di beberapa kota.

Nasruddin Hoja adalah seorang guru sufi yang arif dan kaya dengan humor. Dalam memberikan pelajaran atau latihan-latihan keruhanian, tak jarang ia menggunakan humor yang membuka pikiran murid-muridnya. Nasruddin Hoja adalah ulama dari madzhab Hanafi. Satu bidang yang sangat dia kuasai adalah ilmu fiqih. Karena keluasan ilmunya ia mempunyai banyak murid yang berjumlah lebih dari tiga ratus orang. Dari sinilah ia mendapat gelar “Khawja” atau “Hoca” atau “Hoja” yang di masyarakat Indonesia sama dengan gelar “Kiai”.

Dengan begitu, ada perbedaan besar antara Nasruddin Hoja dengan Abu Nawas. Abu Nawas adalah seorang penyair yang kurang taat dalam beragama. Ia juga dikenal sebagai seorang pemabuk dan senang berfoya-foya. Abu Nawas baru mendalami agama pada masa tuanya.

Nasruddin meninggal dunia di kota Ak Shehir, Propinsi Konya. Makamnya pun mengundang senyum. Gerbang makamnya besar dengan kunci gembok sebesar ember. Orang yang memandang makam dari kejauhan akan mengira sulit masuk ke makam itu. Tetapi ternyata tidak, karena di kiri kanan makam tidak ada pagar atau benteng. Artinya tidak ada penghalang sama sekali.

Pada nisan makamnya tertulis “Ini makam orang yang mengharap rahmat Tuhannya, Nasruddin Affandi. Bacalah Al-Fatihah baginya”.

  

Sabtu, 09 Mei 2009

Eclair buat Anazkia


Kue ini kukirimkan untukmu, Dik.

Rabu, 29 April 2009

Konsumsi UN Special dari Bu Midah

Hari ke tiga UN di sekolahku.

Usai membuat administrasi buat Pengawas Ruang dan unak-anik penyelenggaraan UN lainnya, langsung go to ruang konsumsi. Laperrr!!

eh salah... kata Pak Pian gak boleh tuh bilang "lapar", sebab kata itu hanya pas untuk orang yang sudah tiga hari gak ketemu nasi. So, kubilang saja perutku minta diisi hehe ...

Ada Bu Midah disana. Siap dengan dus putih cantik. Alamak ... ada so-un goreng kecap campur ayam didalamnya.

Alhamdulillah ... perutku tak lagi nendang-nendang.

Bicara soal makanan. Kemarin Bu Midah bikin eclair special untukku ! Duh ... makasih banget ya, Bu. Ibu baik sekali.

Konsumsi UN kali ini memang dibuat oleh orang yang suka masak, jadi aku bisa pesen makanan fav-ku. Asyiik ...

Udah, ah. Ada yang mau ? Eclair buatan Bu Midah ditanggung gak mengecewakan !!

Rabu, 22 April 2009

terima kasih




terima kasih
telah menghadiahiku tawa
dalam abu-abunya senyumanku
yang karenamu menjadi pelangi
menyemarakkan waktu
dalam pusaran perjalanan hati
menuju kesempurnaan fana


terima kasih
telah bersedia berbagi tangis
dalam cucuran ketakteraturan
yang kuciptakan dalam hari-hari risau
oleh galau yang terjadi
di arus belajarku yang tak pernah usai
karena kebebalanku
memaknai jejak


sekali lagi, terima kasih
telah bersedia menjadikanku ibu
karena sebenarnya
engkau telah banyak mengajariku
bagaimana ku harus berbuat
sebagai seorang ibu bagi kehidupan


27 des 2008


Kisah Nasruddin Hoja



Khazanah kisah Nasruddin Hoja tentu sudah banyak orang yang tahu. Di dalamnya mencakup beragam topik, penguasa zalim, hakim, koruptor, ulama, cendekiawan, ketamakan, kekikiran, sampai dirinya sendiri menjadi bahan humor. 

Kisah-kisah Nasruddin selain mengandung kritik dan sindiran, juga sarat dengan pesan moral dan agama. Meski disampaikan dalam bentuk humor, kisah Nasruddin ini cukup dapat menyentil kesadaran seseorang. Contohnya, kisah ini :

"Wahai Mullah," teriak seorang bangsawan sombong ketika berjalan mendahului Nasruddin. "Arah mana yang menuju ibu kota?"

"Bagaimana engkau tahu kalau aku Mullah?"

Orang yang hanya kebetulan menggunakan kata "Mullah" itu ingin menunjukkan apa yang sesungguhnya tidak ia miliki, berkata dengan sombong : "Aku bisa membaca pikiran orang."

"Bagus," kata Nasruddin, "sekarang, baca saja arah yang menuju ibu kota dalam pikiranku."

Sabtu, 18 April 2009

Gara-gara Kora-kora

Ceu Lina o-o.
Kisah yang tercecer di ujung petualangan Dunia Fantasi adalah o-o nya Ceu Lina di wahana Kora-kora.

Ceritanya, kita ber 2 mobil (berapa orang tuh kira-kira ?) nyolong waktu main ke ibukota. Urang Garut saba Jakarta ... Maunya sih semua dinaiki, apa daya "sang perut" berkolaborasi dengan kepala untuk berteriak TIDAAAKK!! haha ...

Saat antrian panjang di Kora-kora, Bu Iput batal naik, teringat pengalamannya dahulu kala di wahana itu (nightmare!). Aku ? Jangan tanya, sejak awal aku sudah sadar diri untuk tidak mendekat. Ningal we ti katebihan ... Kasiaaan deh aku!

Ceu Lina ? Meski lambungnya baru saja merasa tak nyaman sisa perjalanan jauh dan telat sarapan. Dengan gagahnya bilang : "Hoyong naek deui ah, da dulu juga kuat." Oke Ceu, Tarik!

Bersama para gadis, Ayoe, Santi dan Neng Ucu, beliaupun menyatu dalam sebuah perahu fantasi bertajuk "Kora-kora".

Hasilnya ?
Pucat pasi.
......... Keluarin aja, Bu, biar plong......
Baik benar si mbak penunggu wahana ini. Maka bergabunglah Ceu Lina bersama kurang lebih 10 orang korban.

Kisah itu ternyata yang paling seru, saat kami berbagi di perjalanan pulang. Tawa tak habis-habis!
Nightmare, kata Santi.
Asa ditalkinan, kata Ayoe da di sebelahnya ada ibu-ibu yang terus bertakbir perlahan.
Gustiii, tulungan abdi, kata Ceu Lina.
Ihh, kumaha ieu teh ?
Tak kan terlupakan sampai jadi nenek-nenek, kata Cici (pipilueun tah)
Thank's God, diantara kengerian ternyata terselip kebahagiaan.

Rabu, 15 April 2009

Dzikrullah Bersama Langit


Waktu itu masih di tahun 70-an awal. Setiap senja kami berkumpul di “tepas” rumah, duduk di atas bale-bale bambu sambil memandangi langit. Selalu ada yang baru di atas sana. Kemarin awan besar menyerupai beruang mengangkangi angkasa, sekarang selaput tipis beriring seperti buih di laut. Dulu ia sempat melebur warna jingga dan membuatku melompat-lompat kegirangan, kini ia mewujud gumpalan lembut berarak ditiup angin sore. Lalu aku hanyut dalam enigma waktu tanpa ruang. Meninggalkan diriku yang bergeming dalam angan masa kecil.

Selalu begitu.
Ada keterkesimaan yang merambat diantara fantasi dan sufistik, saat langit, awan, bintang, bulan, matahari, angkasa, malam, siang, berpadu dengan lanskap alam menyergap titik terdasar benakku.

Seiring usia yang terus mengejar, fantasi itu melebur dalam keterjagaan.
Bersama langit tumbuh keinsyafan, Tuhan tengah melukis hati para pencari. Disana berjuta ayat-ayat Kauniyah terbentang senyata-nyatanya.

“Robbanaa maa khalaqta haadzaa bathilaa”
“Ya Tuhan kami, tidaklah semua ini Engkau ciptakan dengan sia-sia.”


diunggah dari dbaonk.files.wordpress.com
hasil bidikan annie

diunggah dari apod.nasa.gov


Bagaimana manusia bisa begitu sombong berjalan di muka bumi ?

“Tuhan yang telah menjadikan bumi sebagai hamparan dan langit ibarat atap.
Allah menurunkan hujan dari langit. Dengan air hujan itu tumbuh
dan keluarlah buah-buahan rezeki untukmu.
Janganlah kamu adakan bandingan (sekutu) Allah swt dengan yang lain.
Padahal kamu mengetahui.”
QS. Al-Baqarah 22

“Dialah yang telah menjadikan semua yang di muka bumi ini untuk kamu.
Kemudian Dia sengaja menjadikan kejadian angkasa,
lantas diciptakanNya tujuh lapis.
Dia Maha Mengetahui segala sesuatu”
QS. Al-Baqarah 29

Tak perlu lagi kata-kata.
Langit telah membungkam sejuta aksara.
Selain kekhusyuan Asmaul Husna.

Selasa, 14 April 2009


Sahabat Ali bin Abu Thalib karamallhu wajhah meriwayatkan bahwa Rasulullah swt bersabda :

"Ketika orang-orang membenci orang miskin,

mendirikan bangunan tinggi di dunia

dan saling berlomba mengumpulkan kekayaan dengan rakus,

maka Allah swt akan menurunkan kepada mereka empat jenis siksaan di dunia ini,

yaitu musim paceklik panjang (kelaparan),

kezaliman para penguasa,

pengkhianatan para pemegang hukum dan

penganiayaan para musuh."


Apabila seseorang mengerjakan amal kebajikan
dan menjaga hatinya dari pikiran jahat terus-menerus dalam waktu panjang,
maka ia menjadi terbiasa dengannya.
Lalu amal kebajikan itu menjadi kebiasaan
dan perbuatan itu menjadi hal-hal penting di akhir hidupnya.
Imam Al-Ghazali di Ihya 'Ulumuddin

Jumat, 10 April 2009

Diajar Nyerat

Kakek saya, Endus Supena, selama hampir 60 tahun tak pernah absen menulis catatan harian, bahkan pada saat yang terbadai (meminjam istilah Abdurrahman Faiz, penulis cilik putera penulis Helvy Tiana Rosa).
Beliau menulis secara rutin, tak terjeda, sejak usia 40 tahun sampai ajal menjemputnya di usia 107 tahun. Sebegitu setianya beliau pada catatan, kemanapun pergi buku harian tak pernah tertinggal. Aki (begitu saya menyapanya) dengan buku harian laksana gula dengan manisnya. Ia adalah dua kata berbeda tetapi memiliki satu kesatuan yang tak terpisahkan.
Banyak permata yang saya dapat dari perjalanan hidup aki, diantaranya adalah pesan untuk selalu "menulis catatan hidup" sehari-hari. Meskipun peristiwa itu tak berarti dan remeh, tuliskan. Sebab kelak, saat waktu tak lagi sama, ia akan berubah menjadi sejarah yang tak terduga! Maka, tuliskanlah sekecil apapun artinya itu untukmu. Selami dan renungkan keseharian itu dalam bentuk kata-kata, maka kau akan menemukan betapa berharganya hidup, betapa berartinya dirimu dan alangkah sia-sianya waktu bila tak diisi dengan perbuatan.
Maka, ketika aki meninggal dunia, saat jasadnya tak lagi bersama kami, yang teringat dari peninggalan aki bukanlah harta dan tanah, melainkan buku catatan harian. Buku-buku itulah yang kami jadikan pusaka peninggalan tak ternilai.
Buku harian itu berjumlah 58 buah. Setiap 1 buku menyimpan perjalanan 1 tahun atau 1 tahun 3 bulan, tak sama, tergantung banyak tidaknya tulisan beliau. Semua catatan penting kelahiran, aqiqah, kematian, kelulusan, pernikahan para anak cucu mantu lengkap tertulis. Tiga malam pertama kepergiannya kami isi dengan membaca kisah hidupnya sekaligus perjalanan kelahiran serta kenakalan dan kesehaian kami anak cucu mantunya. Duh ... aki, hatur nuhun !
Kesetiaan.
Itulah yang saya genggam dari ketekunan aki menulis kesehariannya.
Kesetiaan pada hidup.
Kesetiaan pada keturunan.
Kesetiaan pada kebiasaan yang menjadikannya berarti.
Bagi saya ini sungguh luar biasa !
Sebuah mozaik yang dengan cermat beliau susun dalam hidup yang telah dianugerahkan Allah Yang Mahahidup. Mozaik itu kemudian menjelma sebuah pusaka sarat nilai yang beliau persembahkan bagi keturunannya. Tentunya untuk dijadikan teladan.
Kini...
mampukan saya menulis terus setiap hari?
Selama ini selalu saja ada rentang waktu yang kosong, baik hitungan hari atau bahkan minggu, lembaran harianku putih, tak ada kata, tak ada rasa. Tak pernah konsisten !
Konsistensi!
Itulah sesungguhnya yang diajarkan aki lewat kesetiaannya pada catatan harian.
Ternyata, menulis setiap hari, benar-benar setiap hari, tak semudah yang saya bayangkan. Di dalamnya terdapat banyak sekali virus kemalasan, ngantuk atau bahkan lupa!
Padahal, kata Pak Hernowo penulis "Spirit Iqra", menulis dan juga membaca akan menumbuhkan dendrit ( salah satu komponen penting di otak yang berfungsi mengalirkan dan mengait-ngaitkan informasi).
Pantas saja aki berumur panjang dan tak pikun hingga akhir hayatnya! Otaknya terus bekerja ...
Lagipula Sahabat Ali bin Abi Thalib karamallahu wajhah, mewasiatkan : "Ikatlah ilmu dengan menuliskannya."
Lalu kalau begitu, agar selalu sehat, bernas, dan tak cepat pikun : teruslah menulis. Tulis apa saja.
Saur pun aki oge : Diajar nyerat, supados sehat.

Rabu, 08 April 2009

Rahma Meisyara Adnin ( Cici )

Semoga Allah swt senantiasa membekaliku agar dapat

menjaga senyummu tetap mengembang

Keep smilling, my little princess

Jumat, 03 April 2009

Intermezzo

Malam itu tiba-tiba saja Kakang menemukan "sesebitan" di laci lemari. Keributan kecil terjadi. Ada kasak-kusuk, bisik-bisik dan haha hihi dengan Cici. Kudiamkan saja, asyik dengan bacaanku. Lalu
"Bu ..."
"Hmmh......." gumamku tak acuh
"Bu, ada ninja belang!"
ketika kutengok
Masya Allah ... ha ha ha


Eeng .. ing .. eng ...

Sesebitan kain belang kuning dan orange merubah
Kakang dan Cici jadi :
Pendekar Ninja atau ..... (?)



Malam-malam sebelum bobo
anak-anak ini malah 'hebooh ..'
 
betul, kan ?
dan ini (sedang akrobat):


sudh ah ... bacaan ibu gak selesei nih
ngetawain kalian berdua