Senin, 28 Oktober 2013

Kasta Berkat

Bila mendengar kata 'kasta', maka otak kita langsung ingat pada film-film India, atau pada masyarakat agama Hindu. Sebab kita biasa mengenal kata kasta sebagai bagian dari masyarakat Hindu. Kasta itu sendiri berasal dari bahasa Portugis yang artinya pembagian masyarakat. Di masyarakat agama Hindu dikenal 4 jenis kasta, yakni kasta Brahmana, kasta Ksatria, kasta Waisya, dan kasta Sudra. Istilah kasta kemudian difahami sebagai pembagian kelompok tingkat  sosial yang secara kuat mengakar di masyarakat Hindu Bali, yang kemudian diyakini bahwa sistem ini sengaja dihembuskan oleh Penjajah Belanda kala itu untuk menguatkan status quo para penguasa serta sejalan dengan politik devide et impera.

Meski seiring perjalanannya, banyak penganut Hindu yang tidak setuju dengan adanya pembagian kasta itu, secara sadar ataupun tidak, selalu ada saja sistem perbedaan perlakuan terhadap beberapa orang atau golongan. Bisa jadi hal ini terjadi karena terlalu lamanya penjajahan Belanda, sehingga sebagian masyarakat terlanjur hidup dalam tradisi 'diskriminasi' terselubung macam itu.

Kenapa tiba-tiba bicara kasta?Saya tidak sedang diperlakukan buruk akibat perbedaan kasta. Tidak.
Saya hanya sedang merenung saja, apakah memang kasta itu merambah hingga ke ketiak budaya masyarakat Indonesia, suku manapun? Bahkan hingga ke pembagian makanan.
Lucu sekali ... (atau apa namanya, ya?). Bagiku ini 'aneh'.
Ya, saya tak mengira bahwa tradisi bisa sedemikian absurd. Sulit untuk dihilangkan, karena masyarakatnya masih menganut rasa sungkan bila dia tidak mengikuti kebiasaan itu.

Ini kisahnya ...


Di beberapa tempat di kampung daerah Jawa Barat (tidak di semua tempat, hanya di beberapa tempat saja), sudah lazim, bila ada hajatan, sebelum hari H (baik pernikahan atau khitanan) si empunya hajat akan mengirim makanan berupa nasi dan lauk pauk (istilahnya : nasi berkat) kepada para tetangga.  Berkat itu diberikan sebagai tanda bahwa dia mau menyelenggarakan hajatan. Istilahnya makanan itu pengganti undangan. Tapi, rupanya pembagian berkat ini tidak kepada semua tetangga.  Ada kriterianya. Tetangga yang diberi berkat, biasanya tidak diberi surat undangan. Jadi dia harus datang ke rumah si empunya hajat, sebelum hari H tiba. tentu saja dengan membawa amplop (berisi uang).
Sebagian tetangga lain, tidak mendapat berkat. Artinya ia tinggal menunggu surat undangan. Dan  harus datang memenuhi undangan pada hari H.

Sampai disini, masih bisa dipahami. Meski secara sepintas saja kita tahu ada kasta diantara dua jenis 'undangan' itu. Tapi, masyarakat disana tak merasa keberatan dengan perlakuan yang diskriminatif itu. Semuanya dijalani sebagai kelaziman semata, dan memang begitulah yang harus dijalani, sesuai tradisi sejak nenek moyang. Selesai.

Ada yang membuatku terkaget-kaget. Ketika ibu mertuaku bercerita bahwa berkat itu ada 3 macam. Maksudnya?
Begini. Bila anda menerima berkat dalam sekotak nasi dus, maka anda harus memberi amplop kepada si empunya hajat dengan ketentuan, jumlah uang dalam amplopnya : sekian. Tapi bila hantaran itu diberikan dalam setumpuk rantang (biasanya 5 susun), maka amplopnya harus lebih besar : antara sekian dan sekian. Dan bila hantaran itu dalam sebuah dus mie instan, yang sudah pasti jumlahnya lauknya banyak sekali, maka amplop yang harus diberikan kepada si empunya hajat tentu saja harus lebih besar lagi : sekian!
Amplop itu diberikan sebelum hari H, bila anda tidak ingin malu. 

Masya Allah ...

Lepas dari kelaziman  yang sudah demikian mengurat mengakar di sebuah tatanan masyarakat desa, saya takjub dengan kekukuhan mereka dalam menjaga adat. Adat yang, menurutku, benar-benar mengkotak-kotakkan manusia dalam kardus yang tak sepatutnya diadakan. Ketika aku sampaikan pendapatku, mereka (ibu mertua dan adik ipar) hanya tersenyum pasrah, yaa memang begini keadaannya.

Hajatan sejatinya adalah ungkapan kesyukuran. Dan itu harusnya tak dinodai dengan sistem seperti jual beli. 

Mungkin memang benar, ada warisan penjajah yang hingga saat ini masih melilit kuat di benak dan keseharian masyarakat Indonesia, terutama di pelosok. Ini hanya di satu tempat, satu suku, dari sekian banyak tempat dan suku di Indonesia. Ada banyak tradisi lagi  di belahan bumi Indonesia lainnya.

Ada yang membanggakan, melegakan, tak sedikit pula yang membuat kita menghela nafas berat.
Seperti kasta dalam berkat ini.

Selasa, 22 Oktober 2013

SEDERHANA ITU ...




Sederhana itu ...
ketika bumi menerima apapun dari langit, tanpa kata-kata, hanya diam
lalu lahir serumpun ilalang

Sederhana itu ...
ketika engkau membelaiku dengan matamu, menyelam di telagamu
lalu waktu terdiam kehabisan aksara

Sederhana itu ...
ketika anak-anak tahu, cinta kita tak pernah terbuang sia-sia
untuk tumbuh dan menumbuhkan banyak putik

Sederhana itu ...
ketika kembang berbunga mekar diantara matahari dan kupu-kupu

selain itu
hanyalah kemewahan yang tak perlu


        gambar dari : andifs.blog

Rabu, 09 Oktober 2013

Mengalir Lagi ...

Memelototi monitor bersama pensil dan secarik kertas.
Sejatinya aku kembali sekolah. Tentang pelajaran yang tak pernah kumiliki teorinya. Dulu aku hanyalah praktisi tanpa bekal, lalu melakukan apapun hanya dengan kompas hati. Aku suka, berproses, dan jatuh cinta.
Bagiku itu cukup.
Pekerjaan yang dilakukan penuh rasa cinta dan dedikasi tanpa tendensi apapun selain 'mengalir' lalu menghasilkan produk yang disukai banyak orang, itu cukup. Bukankah dalam hidup yang dicari itu bukan keberlebihan, melainkan kecukupan?

Bersama idealisme khas anak muda aku mengalir.
Menuliskan naskah (versiku - yang penting semua rekan paham), memilih peran, membaca naskah, masuk bilik rekaman, rekaman suara. Selesai.
Masuk proses editing. Bersama Kang Hilman, seniorku, dengan panduan naskah yang kubuat tadi, aku memilih sound effect, memasukkan musik dan menjelmalah sebuah sandiwara radio berdurasi 30 menit. Sejumlah 15 episode kuselesaikan.
Semuanya otodidak.

Sekarang, disinilah aku. Menjelang tengah malam bersama dua lembar kertas dan sebatang pensil, memelototi layar komputer. Apa yang kucari?
Setelah kegiatan 'mengaliri waktu' itu kutinggalkan 13 tahun lalu, aku dipaksa oleh diriku untuk membuka file tentang teori pembuatan film dokumenter.

Untuk apa?
Mungkin untuk sekedar memenuhi bilik jantungku sebelah sisi yang mana, yang dirasa mulai kembali menagih untuk diisi. Selalu ada sesuatu yang aneh setiap kali melihat tayangan Eagle Award di Metro TV. Atau ketika membaca kiprah teman lama yang berkecimpung di dunia produksi. Sesuatu yang bergerak didalam untuk ditunaikan. Ada sisi lain dari dalam yang menarikku untuk mengikuti 'aliran'. Mengalirlah ...

Sekarang aku mencoba mengalir lagi. Meski sangat berbeda antara pengalaman masa laluku dengan tuntuntan dari dalam diriku sekarang. Media radio dan film, sangat jauh bedanya. Tapi, disitulah kegairahan itu muncul. Gairah untuk mencari lekukan, kemudian mengalir.
Dengan rasa yang masih tetap berkecukupan.
Dengan ruh yang sama, (mungkin juga agak berbeda) . Kali ini aku ingin lebih dewasa.
Sebab ada sebuah pesan penting yang ingin kusampaikan ...
Pada mereka

Minggu, 05 Mei 2013

Hari ini Kakang Pulang

Pagi sekali, sebuah sms kukirimkan :
"Kang, pulang jam berapa?"

Dua minggu sudah sulungku menjalani pengabdian di masyarakat, sebagai syarat kelulusan Mu'alimin setingkat SLTA di perguruan Persis dimana ia menuntut ilmu. Dan hari ini adalah rencana kepulangannya.

"Sekitar jam 8 dari sini, perjalanan sekitar 7 jam. Nanti dikabari kalau sudah dekat, ya, bu." Jawaban Kakang membuatku makin gesit 'menari' di dapur, mempersiapkan makanan kesukaannya. Terbayang, selama dua minggu tinggal di sebuah tempat jauh di daerah Selatan Garut, berjarak sekitar 106 km dari ibukota kabupaten, ia pasti rindu masakan ibunya (*ge-er in the kitchen hehe ...

Di sela kesibukanku, memasak dan membuat brownies kukus, kusiapkan bekal untuk si bungsu. Anakku nomor dua hari minggu ini harus berlatih untuk LBB (lomba Baris Berbaris) antar sekolah. Besok Senin adalah hari H-nya. Dalam antusiasme yang selalu terjaga di segala kegiatan yang diikuti, Cici berseru :"doain Cici ya, bu, biar bisa jadi komando terbaik." Aaamiiin, doaku selalu untukmu, Nak, tanpa kau minta.  
"Eh, kakang pulang hari ini, ya, bu?" cetusnya sambil memasukkan kotak bekal ke dalam tas. "Nanti Cici ikut jemput, ya!" Oke

Punggung Cici hilang di balik gerbang, dengan janji, ketemuan siang nanti sambil jemput Kakang di sekolah. Ohya, sekolah Kakang dan Cici satu gedung, Cici di SDIT, Kakang di Mu'alimin, satu kompleks dengan asrama. Akupun kemudian tenggelam diantara tepung, telur, coklat, gula dan lain-lain.
Hari ini Kang pulang, dan aku ingin melihat senyumnya, melihatnya makan dengan lahap, mendengar kisahnya tentang desa yang jauh itu. Sungguh, menanti cerita pengalamannya membuatku berdebar. Aah, anakku sudah besar.


Pukul dua siang, antrian elp satu per satu memasuki area sekolah. Masing-masing penuh denganmuatan di atas atap mobil, maupun di bagasi. Macam-macam, aneka tas, ransel, kresek, panci, sampe karung. Dari perut elp kemudian bermunculan remaja berseragam dan berjas almamater dengan wajah lelah namun masih tetap mengembangkan tawa. Antara kembali dan menyediakan hati untuk ke rumah dengan meninggalkan cinta di desa jauh. kadung betaaah ...

Saat sedang bertemu kangen dengan Kakang, tiba-tiba dari dalam elp yang melaju kemudian ada yang dadah dadah :"Ibuuuu ....." senyumnya renyah dan hangat. Aiiiih, teman-teman Kakang rupanya. Mereka datang dari mobil yang berbeda dan tentu saja desa yang berbeda dengan Kakang. Senangnyaaa disapa remaja-remaja itu. Serasa jadi ibu dari banyak anak hehe ...

Begitulah
siang itu kami bercerita sepanjang perjalanan ke rumah, tepatnya mendengar cerita Kakang tentang kegiatan hariannya mengajar dan berbaur dengan masyarakat di Desa Katulampa, sebuah desa yang hanya memiliki pasar seminggu sekali. Mengajar di SMPIT dengan berjalan kaki menapaki jalanan yang menanjak 45 derajat. Hiburannya adalah ketika mengajari anak2 mengaji di surau, atau saat kengerian dikejar anjing kampung beramai-ramai dalam keadaan memakai sarung malam-malam!

Lihatlah, sekarang ia tertidur pulas
Biarkan saja, nanti malam kisahnya pasti akan kembali mengisi rumah ini.
Selamat kembali ke rumah, Nak.


Minggu, 28 April 2013

Nonton Penganugerahan Srikandi Blogger via Live Streaming KoplakYoBand

Siang hari pulang kegiatan
kubuka fb, masih di Beranda, ternyata para sahabat yang tergabung di komunitas Kumpulan Emak-emak Blogger telah memenuhi wall dengan status dan foto-foto yang aduk maaak ... bikin ngiler pengen ada disana. Apadaya waktu dan bentrok acara tak mengijinkanku untuk bergabung dengan para emak hebat dan inspiratif itu.

Hari ini, Minggu 28 April 2013 adalah acara puncak penganugerahan Srikandi Blogger 2013 yang diadakan oleh KEB dalam rangka memeriahkan ultahnya yang baru menginjak 1 tahun. Wow keren kan? Baru satu tahun, tapi kiprahnya sudah nampak dimana-mana. Angkat topi tinggi-tinggi buat makpon mak Mira Sahid, dan para makmin seperti mak Sary Melati, Indah Juli, Irma Susanti, Sumarti Saelan dan lain-lain. Pengen meluk satu satu sekaligus salaman plus kenalan (hihi ... soalnya belum semuanya kenal sih

Adegan dibuka dengan live musik, panggung masih kosong, hanya tersedia satu buah kursi merah dan latar panggung bertuliskan Srikandi Blogger 2013 dengan tulisan indah plus dibawahnya "Aktualisasi Perempuan di Era Digital", dalam nuansa warna khaki, pink, hijau pupus dan hitam, keren ... Dan anak-anak berlarian di bawah panggung. Live streaming masih ketangkep patah-patah.
Pada jendela lain, aku tersambung dengan neng Dey, mak blogger dari Lembang yang ada di perhelatan itu bersama, mak Nchie Hanie dan mak Alaika Abdullah. Ternyata memang sedang break istirahat sholat dan makan. Baiklah, aku kemudian mengejar kerjaan lain berupa menulis puisi yang masuk Deadline tanggal 30 April 2013 ini. Ya, seorang sahabat mengundangku untuk gabung di Antologi Kamboja (Ketika wanita bicara). Terimakasih sudah ngajak saya, mbak Lentera Al Jazhira. Selesai 2 buah puisi, alhamdulillah ...

Kembali buka live streaming. Acara sudah dimulai. Dua orang MC, lelaki dan perempuan (siapa ya mereka? ngajak salaman ah ) memandu dengan hangat berbalut busana nasional hijau pupus. Kemudian diputar film produksi Srondol Film tentang kegiatan Daput KEB dalam mempersiapkan perhelatan ini. Beberapa makmin berbicara tentang kegiatan para emak blogger dan memberikan kesan yang asik-asik. dari situ aku jadi tahu lebih dekat wajah-wajah mereka, para perempuan inspiratif ini.

Ada yang lucu. Namanya juga emak-emak, kemana-mana ya gak lengkaplah kalau gak ngajak juga para krucil. Naah, untuk membuat para krucil ini tak jenuh (pantesnya ini ya yang jadi salah satu alasan makmin) ketika ikut ngumpul bareng emak-nya, dan sekaligus membuat mereka tampil lebih PD, maka dibuatlah acara Fashion show anak-anak.
Kehebohanpun terjadi. Anak-anak 'jalan' dengan iringan musik Kumpul Bocal -nya Vina Panduwinata. Fotografer sibuk memotret, para emak sibuk memberi semangat, dan ... anak-anak ada yang sibuk lenggak-lenggok ada pula yang lari nangis ngumpet di kaki emaknya, mungkin kaget liat para emaknya rame hihi ...
Seruuu ...
Sungguh, saya angkat jempol deh buat panitia dan semua pengisi acara plus yang hadir. Kalian memang luar biasa.

Sayang ...
kemudian gambar di live streaming itu hilang.
kenapa. ya?
Nah tuh jalan lagi.
Horeee ... tepuk tangan buat bunda Yati Rachmat yang dapat penghargaan Life Achievement karena prestasinya yang terus semangat ngeblog dan berbagi via tulisan maupun silaturahim meski usianya sudah memasuki kepala 7.  Semoga semangatnya menulari para emak untuk terus berkarya, yaa...

Sedangkan yang terpilih sebagai   Emak Inspiratif adalah Mak Haya Aliya Zaki. Salah satu bukunya yang berujudl Hialngnya Berlian Pink baru saja saya dapatkan dari acara GA nya blog bunda Yati Rachmat.
Anazkia, blogger hebat yang tinggal di Malaysia terpilih sebagai Srikandi Favorit. Anazkia ini yang dulu memprovokasiku untuk terus ngeblog. Peluk Ana.
Mak Myra Anastasia sebagai Srikandi Persahabatan.
Dan Acer Srikandi Blogger 2013 jatuh kepada .... : Mak Alaika Abdullah.
Alhamdulillahirabbil'alamiin ...

Pokoknya buat seluruh finalis, kalian semua pemenangnya.
Buat pemenang : Selamat dan sukses, semoga terus memberi inspirasi buat kita, ya, mak.
Buat seluruh dewan juri dan panitia serta semua pihak tanpa kecuali, selamat. Kalian memang luar biasa!
Peluk satu per satu.



Selasa, 23 April 2013

Ketika Tanda-tandaNya Terabaikan


Masih dengan setumpuk sesal, meski tak sepengap kemarin.
Benar, waktu akan membuat semuanya menjadi lain, tapi Alya tak pernah menduga akan selekas ini beban itu terangkat dari dadanya. Dan itu patut disyukuri, sebab dengan demikian tak perlu lagi ia menahan ledakan yang tak mampu dieksekusi.

Hari ini sudah asar. Peristiwa kemarin masih segar dalam ingatan.
Ruangan kecil berbentuk kotak dengan mesin penarik uang di hadapan. Anjungan Tunai Mandiri. Disanalah semuanya bermula. Alya tertegun dalam situasi seolah de javu. Bukan, bukan de javu, entah apa namanya. Alya hanya tahu,  ia telah memperkirakan saat ini sebelumnya, karena tanda-tanda itu telah dikabarkan berkali-kali selama tiga hari terakhir. Kemarin Alya tak mau larut dan mengikuti, ia coba melawan, bahwa semua itu bukan tanda-tanda melainkan kerikil kecil yang harus disiasati, meski iapun ragu dengan pendapatnya. Kini, ia tahu bahwa tanda-tanda itu benar, dan ia tak mampu menghindar. Tak bisa menghindar lebih karena ia mulai dipenjara oleh ketakutannya sendiri. Maka ketika  seseorang menuntunnya untuk menekan tombol ini itu kemudian meninggalkan kartunya terselip dalam mesin, ia tak bisa berpikiran lain selain menurut. Ia yakin tidak sedang dihipnotis. Tapi ... entahlah, ia telah tertipu. Alya sungguh merasa dirinya sangat bodoh!

Tanpa ampun sesal menjerat dirinya. Alangkah bebal ia.
Usai semuanya berlalu, Alya bebenah. Membenahi kealpaan, memblokir tabungan meski kemudian ia tahu saldonya telah terkuras, beruntung tak sampai habis karena ada limit penarikan. Melapor ke pihak kepolisian, menjalani BAP. Selesai segala urusan, ia kemudian tersungkur di atas sajadah.

Laa ilaaha illaa anta subhanaka innii kuntu minadz dzalimiin ... 
Tiada Tuhan yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau, Ya Allah, Maha Sucilah Engkau, sesungguhnya hamba benar-benar golongan orang-orang yang aniaya (Al-Anbiya 87)

Benar, Alya telah alpa. Alpa memahami begitu banyak pertanda yang telah diberikan Tuhannya. Sebetulnya Alya sempat merasakannya. Pertanda itu. Namun ia abaikan. Ia telah aniaya terhadap dirinya sendiri. Dan inilah hasilnya. Maka siapa yang patut dipersalahkan?
Ketika sesuatu yang buruk menimpa sesiapa saja, itulah musibah, atau ujian, atau peringatan, atau apapun namanya yang penting bukan bernama azab (Naudzubillahi min dzalik). Maka ucapkan Innalillahi wa inna ilaihi roji'un. Bahwa semuanya adalah milik Allah dan akan kembali kepada Allah. Apa sih sesungguhnya yang kita punya? Tidak ada!

Alya faham itu, kemudian dibukanya mushaf. Sesungguhnya mushaf Al-quran bukanlah sekedar bacaan, ia makhluk. Hidup, dalam dada setiap mukmin yang ihsan. Berbicara, berdialog, menjawab apa yang kita bisikkan, sebab ia-nya sejatinya adalah kalamullah, firman Tuhan, sabda Allah, maka ia-nya sungguh mampu menjawab setiap tanya sesiapa yang ingin bertanya. Dan Alya beroleh jawaban.

"Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (yaitu) orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Tuhannya dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya”. (Al-Baqarah: 45-46)

Beruntung Alya masih bugar, tak kurang apapun. Tubuhnya tak teraniaya, selamat, tak disakiti. Uang bisa dicari, rizki bisa hadir dalam bentuk tak terkira. Dan balasan Tuhan bagi orang yang sabar dan sholat tak pernah meleset. maka untuk apalagi ia menyesali semuanya? Masa-masa sesal telah berlalu, hilang bersama aliran air mata ampunan yang ia pintakan di atas sajadahnya itu. Bersama mushaf, bersama keinsyafan yang kian membubung. Betapa manusia tak pernah punya daya apapun, selain belajar iqra', membaca, apapun yang dikirimkan Allah sebagai pertanda, sebagai ilmu yang kelak melahirkan pemahaman yang mendalam akan sesuatu nilai dalam hidup. Dan setiap orang akan diberi kefahaman itu sesuai dengan kapasitas dan kebutuhannya. Tak akan pernah tertukar.

Dan benar adanya, Al-quran adalah syifa bagi segala macam sakit. Asy-syifa-u limaa fish-shudur, obat bagi segala macam sakit yang bersemayam dalam hati.

Hari ini Alya tahu Tuhan tak pernah berhenti mengasihinya, ia yang alpa memahami.






Kamis, 21 Maret 2013

Dulu dan Kini, The Old and The New Photos


Awalnya lihat-lihat foto lama para teman blogger, lucu-lucu. Tiba-tiba aku ingat  di dompetku ada sebuah foto lama saat usiaku baru 2,5 tahun (wiih ... berarti saat itu baru tahun enam puluhan). Nah lho, ketahuan deh umurku berapa? Saking lamanya itu foto sudah terlipat sana-sini. Disitu aku kecil sedang bermain boneka, pake baju baru dan baruuu saja mandi. Tahu deh dari dulu memang aku sudah sipit hehe ...


Dan, eng ing eng ...
45 tahun kemudian, saat mata mulai mengabur, kulit makin mengendur, dan pipi tak lagi tembem beginilah aku.
Seorang ibu dari tiga orang anak. Sulungku tengah menempuh ujian kelulusan SLTA dan salah seorang dari sekian ratus ribu anak yang berkesempatan meraih pendidikan di perguruan tinggi. Mohon doanya ya, teman-teman, agar putera sulung saya dapat diterima di fakultas yang ia minati. Yang manfaat buat dunia dan akhiratnya. Aaamiin ..
Sedang si bungsu baru saja menyelesaikan UTS di kelas 5 SD.

Tak terasa waktu demikian lekas berlalu. Aku yang dahulu masih kanak-kanak, bermain boneka dan dimandikan ibu. Kini tengah diamanati anak-anak.
Empat puluh tujuh tahun bukan waktu yang singkat untuk mengais banyak makna dari sebuah perjalanan hidup.
Semoga kebaikan jua yang aku dapat. Aamiin ...

Awalnya aku gak kenal bunda Yati (dan sampai sekarangpun aku belum pernah bertemu dan ngobrol dengan beliau), mudah2an Bunda yang baik hati dan tidak sombong ini berkenan dengan menerimaku hehe ...  aku hanya tahu namanya dari postingan teman-teman. Lalu aku mampir di blognya yang bukan hanya satu, ternyata. Aku mulai tahu serba sedikit dari beliau yang, Subhanallah, memiliki semangat yang patut kutiru. Dalam usianya yang tak lagi muda, semangat menulis dan belajarnya tak pernah ikut menua, mudaaa terusss ... Ssst, terkadang beliau menulis sambil ngemong cucu juga. Subhanallah ... benar-benar keren!

Itu pula yang menyuntik semangatku untuk kembali otak-atik html, yang ... adduuuh maks, saking lamanya gak pasang link jadi lupa bin amburadul nih ketika harus menuliskan redaksi yang 'menyala' dan kalo di klik langsung menuju rumah maya bunda yati.
Nah, ini pun terjadi kesalahan, ketika tulisan belum siap rilis, eeeh eh .... tiba-tiba esok paginya kulihat sudah bertengger di blog ku plus seorang tamu, teh Winny Zaffara. Maluuu teh. Sebenarnya itu tulisan  masih setengah jadi dan acak adut linknya masih blank pula.

Maka ku pending dulu ya. Aku musti belajar lagi nih.
Dan ketika siap rilis pun aku hanya bisa minta maaf saja bila tetap postingan ini kurang maksimal (terutama di entry pasang link)

Postingan ini diikutsertakan pada http://goodcrab-personal.blogspot.com/2013/03/giveaway-pertamaku-untuk-ultah-blog.html

Rabu, 20 Februari 2013

BuDi dalam Kenangan

Siang itu setiba di sekolah, seorang teman mengulurkan sebuah bingkisan berupa tas kain berwarna putih berisi sebuah Alquran kecil dan sebungkus rollcake.
"Dari pak Edi ..." katanya
"Masya Allah, 40 hari almarhumah ..." seruku tertahan.
Tiba-tiba saja aku menyesal tidak mengingat hari ini. Berarti hari ini, atau mungkin kemarin (?) ... ya tepatnya kemarin, adalah  40 hari sudah sahabat kami pulang menemui panggilanNya.  Ibu guru cantik murah senyum yang selalu rendah hati, bu Diana Setiawati, itu pergi di pagi hari bulan Januari secara mendadak. Begitu tiba-tiba. Sungguh, aku tak ingin menyesalinya sebab kita memang tak pernah bisa benar-benar memiliki seseorang. 

Sekarang aku teringat kembali hari-hari terakhir bersamanya.  Aku kerap menyapanya dengan sebutan sayang : BuDi.Ya, BuDi. Sapaan kecil dari Bu Diana.

Senin itu, 7 Januari 2013, dengan bergegas ia menghampiriku di perpustakaan.
"BuNi ... (iapun memanggilku dengan sapaan kecil)," tegurnya riang. Kami saling berpelukan. Biasa. Itu yang kami lakukan setiap kali bertemu. Terlebih hari itu adalah hari pertama masuk sekolah pada semester genap, setelah 2 minggu masa libur.
"Assalamu'alaikum ... he ... telat. Kumaha damang? pinjem Al-Quran yang ada terjemahnya, dong."
Tidak ada obrolan lain. Sungguh, hari itu ia nampak terlihat bergegas. Usai menerima Al-Quran yang ia ingin, ia hanya berujar : "Sebentar, ya, BuNi, nanti dikembalikan."
Sudah. Siangnya kami tak sempat lagi bertemu. Alquran itu diterima oleh salah seorang rekan muda petugas pelayanan di perpustakaan.

Selasa, 8 Januari 2013 pukul 6 kurang sekian menit, hp-ku bergetar.Sebuah sms mengabarkan kecelakaan yang menimpa sahabatku itu. Sebuah truk menabraknya, dan akan segera dibawa ke rumah sakit.
Ya Allah ...
aku langsung gemetar. Hendak kemana BuDi sepagi ini? Apa yang terjadi? Bagaimana peristiwanya? Apakah ia sedang naik kendaraan? Bersama siapa? Suami dan anak-anakkah? Banyak sekali pertanyaan berkecamuk sementara kesibukan pagi menjelang anak-anak pergi sekolah terus berlanjut, hatiku tidak tenang. Suamiku langsung mengajak untuk segera ke rumah sakit saja, melihat kondisinya. Dan tentu saja kuiyakan.

Pagi itu aku diberondong sms serta telepon dari teman-teman. Ada yang bertanya mohon kejelasan, ada pula yang mengirim sms serupa dengan yang pertama. Kubalas sekedarnya sambil mengabarkan bahwa aku akan segera melihat kondisinya di rumah sakit. Kebetulan rumah sakit yang dimaksud dekat dengan rumahku. Pagi itu kami berputar-putar dalam ketidaktahuan. Keadaan itu makin membuatku gegas untuk segera menemuinya.

Lima belas menit kemudian, saat aku siap berangkat. Sebuah telepon tiba di hp suamiku dari rekan kerjanya yang sekaligus tetangga BuDi. Kabar yang sungguh menghantam ruang dengarku sekaligus menjebol pertahanan bendungan air mataku. Innalillahi wa inna ilaihi roji'un ... 
Ya Allaaah ...
Betapa waktu memang tak pernah sepenuhnya milik kami.

dalam tangis aku ambil air wudlu kemudian mengabari teman-teman dan menuju rumah BuDi.

Disanalah aku tahu kejelasannya. Almarhumah tengah menyapu dedaunan yang berserak di pinggir jalan depan rumahnya saat sebuah truk menabraknya tanpa ampun. Disana pula aku tahu bahwa aktivitas menyapu itu ia lakukan setiap subuh. Menjadikan area itu nyaman dijadikan tempat mangkal para tukang ojek. Sungguh, aktivitas sosial yang ia lakukan secara istiqomah, kelak akan menjadi saksi di akhirat dan ... subhanallah ... menjadi sebab kepergiannya menemui Penciptanya, Yang Maha Mengasihinya.

BuDi ...
kami ikhlas sungguh melepasmu pergi

Pagi itu aku diijinkan Allah untuk turut memulasara jenazahnya. Memandikan, mengafani, menyolatkan hingga mengantarnya dalam pelukan bumi. Bergelombang para pelayat tiba di rumah duka, mengisyaratkan betapa almarhumah adalah seorang yang baik dan shalihah. Bahkan seorang ibu yang sempat hadir di pemakaman berbisik : "Bu Diana, saya tidak mengenalmu, tetapi Allah menakdirkan saya ada disini, ini sebuah pertanda bahwa engkau adalah seorang yang baik. Semoga Allah menempatkanmu di tempat mulia di sisi Allah. Aaamiin ..."
Belakangan aku tahu, ibu itu adalah teman dari teman almarhumah.

Sekarang, saat aku mengenangnya dalam tulisan ini, aku ingat segala gerak-geriknya, senyum tulusnya, pelukannya, tawanya, hingga suaranya saat bercerita tentang si kembar dan si bungsu Ania. BuDi adalah seorang ibu dari tiga orang putri. Pertama, si kembar Azmia dan Azkia, tengah menghadapi ujian sekolah dan menuju Perguruan Tinggi, sama seperti anak sulungku. Hingga kami sering berbagi cerita dan informasi seputar pendidikan anak-anak. Sedang si kecil Ania kelas 6 SD dan akan menempuh ujian pula. Tiga buah hati itu kini menjadi harta sangat berharga bagi suami dan mamih (ibu tercinta) yang juga tegar melepas kepergiannya. Betapa tak pilu mengingat mereka yang ditinggalkan demikian sedih dan kehilangan. 

Tetapi, sungguh, menjelang kepergiannya, BuDi telah meninggalkan kebaikan bagi suami dan anak-anak. Sebuah amanat agar anak-anak menegakkan sholat dan mengaji setiap waktu. Sebuah kebiasaan bersedekah dan berbagi kepada siapapun setiap saat, yang selama hidupnya tak pernah alpa ia jalankan. Dan ... selalu menebar salam dan senyum kepada sesiapa yang ditemuinya, yang dihadapinya. Ya, senyum tulusnya  memang manis. Siapa sih yang tidak faham arti kata tulus, bahkan seorang bayipun tahu sebuah mutiara hati. Duhai, kenangan itu ...

Maka malam tadi, aku mengiriminya doa dengan Alquran yang dititipkan siang itu. 
Juz 19 kubacakan. Doa pengampunan kulangitkan, semoga engkau bahagia di alam kubur, sebab doa anak shalihah itu, ketiga putri cantikmu, telah dengan setia menerangi kuburmu hingga saatnya nanti kita semua dibangkitkan kembali. Doaku semoga Allah kabulkan pula, bukti aku tak pernah melupakanmu, bukti betapa amalmu tak pernah meninggalkanmu. Lihat betapa murid-muridmupun dengan ikhlas terus mengingat dan mendoakanmu.

BuDi sayang, sahabatku ...
Allah telah menjanjikan surga bagi istri yang ikhlas mengabdi pada suami, dan suami rela ketika ia pergi
engkau memiliki itu
Allah telah janjikan surga bagi anak yang berkhidmat kepada ibunya, dan ibu rela ketika ia pergi
engkau memiliki itu
Allah telah janjikan tidur panjang yang tenang hingga tiba di hari kebangkitan bagi dia yang memiliki doa anak shalih, ilmu yang manfaat dan amal jariyah
engkau memiliki itu
Allah telah menjanjikan istana megah bagi orang yang senantiasa bersedekah
engkaupun telah memiliki itu
dan janji Allah tak pernah salah
Ia sungguh tak pernah ingkar
Lalu untuk apa kami bersedih, bukan?
sebab engkau telah tenang dan bahagia disana

maka dengan tenang
kusudahi saja tulisan ini
Selamat istirah, Sahabat ...



Senin, 18 Februari 2013

SURAT-SURAT IBU


“Apapun yang  terjadi hari ini, Nak, tetaplah ingat Allah. Ibu sayang kamu.”

Sebaris kalimat itu kutemukan di  dalam lemari pakaian sulungku. Tertulis kecil dalam secarik kertas dalam sebuah amplop putih yang menempel di dinding bagian dalam lemari tersebut. Tulisanku, suratku, yang kutulis untuknya, entah kapan. Kesibukanku terhenti sejenak, beralih ke amplop yang ternyata berisi kumpulan surat-suratku terdahulu.
Subhanallah, anakku ….
Mataku merebak dalam haru. Rupanya begitu apik ia menyimpannya sebagai barang pribadi yang dijaga sedemikian rapi. Kubaca ulang barisan kalimat dalam beberapa lembar surat yang kutulis dalam masa yang berbeda itu, menjoprak sendirian.

Dan benang halus bernama cinta dan kasih antara ibu dan anak terentang demikian panjang, pagi ini.  Dia  di sekolah dan aku di ruang tidurnya. Tak kentara namun kuat terasa. Benang yang dengan halus Tuhan titipkan kepada setiap ibu di dunia.

Sebagai seorang ibu dari remaja ABG berusia 17 tahunan, aku kerap khawatir akan sisi negative pergaulan dan lingkungan sekitar yang mengelilinginya setiap saat. Nasihat panjang lebar tak lagi cukup, malah bisa dibilang bisa menjadi boomerang, sebab telinga menjadi panas dan kebal tetapi kurang efektif membangun jembatan komunikasi, bila tidak dikemas dengan cerdas. Sulungku adalah jejaka tampan yang berpenampilan menarik, cenderung diam, dan tidak banyak bicara. Ngobrol dengannya perlu kesabaran, sebab ia lebih banyak mendengar ketimbang menimpali pembicaraan. (Padahal aku, ibunya, terkadang ingin mendengar apa saja yang ia rasakan!) Tetapi tentu saja, aku tak bisa mengubah karakternya yang telah terbangun selama belasan tahun ini. Bahkan sejak bayipun ia sudah terlihat cool … Emosinya tidak meledak-ledak. Ia sungguh remaja yang kalem.

Lalu bagaimana aku membangun istana megah bernama komunikasi bersamanya? Bersama jejakaku, yang aku harapkan menjadi teladan bagi adiknya dan kelak imam bagi istri dan anak-anaknya? Bagaimana aku menyampaikan harapan, kebaikan-kebaikan dan keindahan berbagi, seperti yang dulu sering kami lakukan saat ia masih balita? Saat aku masih dengan leluasa memeluk dan menciuminya, dan ia tergelak kegelian? Saat ia, dengan bahasa kanaknya, menyampaikan apapun yang ia rasakan? Bagaimana, Nak? Tadi malam, engkau masih mencari tanganku untuk kau genggam, kau peluk dan kau taruh di kepalamu, pertanda kau ingin diusap-usap menjelang tidur. Dan itu membuatku khawatir, sebab hal itu kau lakukan bila engkau tengah merasakan sakit. Benar, keningmu hangat, Nak. Kubisikkan kata-kata penguat, kuyakin itu doa yang tak terhijab. Engkau senyum. Dan selalu, engkau hanya menjawab apa yang kutanyakan. Selebihnya … aku hanya menduga-duga. Dan ketika kutanya mengapa, kau jawab : “ibu selalu tahu apa yang kakang rasa, apa yang mau kakang minta, bahkan sebelum kakang bicara.” Duh … benarkah?
 
Duhai … Alangkah cepatnya waktu berlari. Engkau telah tumbuh menjadi lelaki yang banyak menyimpan. Semoga simpanan kearifan yang kau timbun, Nak, meski di usia semuda ini. Tetapi, tetaplah aku, ibumu, berharap, kisah apapun yang akan dan sedang kau jalankan, akulah orang yang kau percaya sebagai tempat bercerita ketimbang yang lain. Duh, seegois inikah harapan seorang ibu yang berharap? Toh, seiring usia, dia pasti punya seseorang yang bisa dijadikan tempatnya berbagi cerita.
Maka, aku tahu kini, kenapa berlembar kertas kutulisi untuknya. Meski tak pernah berbalas, karena memang aku tak menanti balasan, kertas-kertas itu telah mewakiliku menyampaikan sesuatu yang tak sempat  kusampaikan secara lisan. Kesibukannya yang kian padat setiap hari, sekolah, les tambahan di sekolah, les di lembaga luar sekolah, dan tugas akhir telah memangkas komunikasi verbal kami. Meski aku yakin, sentuhan tangan saat pamit dan cium tangan setiap pagi dan petang, usapan perlahan di kepalanya hingga tatap pengertian antara kami, memiliki kekuatan lebih dahsyat ketimbang bahasa verbal yang diuntai sekalipun. Aku masih merasa perlu untuk mengiriminya surat-surat itu.
Bila surat itu usai dia baca (biasanya malam hari, saat baru saja ia temukan di bawah bantalnya), ia akan menemuiku dan mencium tanganku. Kami bertatapan, tersenyum dan pengertian itupun kembali terbangun. Kami saling mengerti dalam diam. Barangkali agak aneh bagi orang lain. Bagiku juga mungkin begitu, pada awalnya. Tetapi kini, aku diyakinkan oleh kenyataan, betapa surat-surat itu berharga baginya. Ia simpan dengan rapi, ia tempatkan di ruang privatnya, cenderung agak tersembunyi. Betapa ia menganggapnya sebagai rahasia kami berdua. Sungguh, aku merasa tersanjung dan dihargai.
Nak, ibu sayang kamu …
Kini, selembar kertas yang kutulis paling akhir ada dalam genggaman. Bercerita tentang namanya : Mohammad Hanif Hilmy.  Tak seperti surat-surat lain yang pendek dan singkat, yang ini agak panjang,  3 halaman. Ohya, aku ingat, surat ini kutulisi ketika aku usai membaca buku mas Fauzil Adhim : Positive Parenting. Jadi, wajar laaah … bila kemudian aku banyak menulis, pasti banyak yang ingin disampaikan karena selama ini luput dari pikiran.
Sekali lagi, ini barangkali cara berkomunikasi yang aneh. Tapi, dulu aku pernah baca buku Chicken Soup for Mother (kalau gak salah judulnya begitu), surat pendek sering dijadikan media komunikasi antar ibu dan anak juga di sana. Jadi, aku tak merasa aneh sendirian. Setidaknya, aku bisa merasakan manfaatnya.
Kini, kubereskan kembali surat-surat itu. Sama persis dengan sebelumnya. Biarlah dia disana tinggal dengan sempurna, menjadi saksi bisu perjalanan ‘obrolan’ kami yang hening. Pada saatnya nanti, ia yang akan bercerita panjang sekali. Tentang cinta yang tak pernah lekang. Tentang sebuah istana yang dibangun dengan mozaik permata atas nama cinta dan pengkhidmatan seorang ibu. Tentang kita yang terus belajar membangun atas nama hamba Allah.
Ya, tentang kita, Nak ...

Jumat, 08 Februari 2013

Ketika Ibu Memilih Universitas untuk Anaknya

Musim ujian sudah dekat

dan ...
SNMPTN atau Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri sudah dimulai. SNMPTN adalah istilah baru untuk jalur PMDK (Penelusuran Minat dan Bakat) atau jalur Undangan, yakni seleksi masuk perguruan tinggi tanpa tes, tapi melalui seleksi nilai rapot beberapa semester (dulu hanya 3 semester, sekarang 5 semester).

Saya tak begitu paham apa maksudnya dengan pergantian istilah seleksi yang setiap tahun berubah terus, sehingga membingungkan. Biasanya jalur ini dilaksanakan sebelum pelaksanaan Ujian Nasional (UN). Nah, tahun 2013 ini, SNMPTN sudah mulai dibuka sejak tanggal 1 Pebruari hingga 8 Maret 2013. Maka sibuklah para siswa, civitas sekolah dan para orangtua.

Bukan saja sekolah dan siswa kelas XII yang sibuk, kesibukan itu menular secara otomatis dan berkelanjutan kepada para orangtua siswa. Orangtua sekarang 'harus' turut aktif mencari peluang dan alternatif bagi kelanjutan sekolah anaknya bila tidak ingin kehilangan kesempatan. Atau bila tidak ingin keliru memilih universitas atau jurusan. Kekeliruan memilih akan berdampak sangat jauh bagi kelancaran pendidikan maupun karier ke depannya.

Dampak itu bisa beraneka. Pertama, timbul rasa jemu saat belajar, karena jurusan yang tidak sesuai dengan minat. Kedua, menemukan pekerjaan yang tidak sesuai yang pada akhirnya menimbulkan stres dan ketidakbahagiaan. Itu bila dipandang dari sisi individu, belum lagi bila kita melihatnya dari sudut pandang lebih makro, yaitu bagi kebermanfaatan pada sesama, lingkungan dan bangsa ini. Apa jadinya bila masa depan bangsa ini dikelola oleh orang-orang yang tidak bahagia dalam tugasnya. Astaghfirullah ... sekarang saja banyak yang korup dan lari ke narkoba. Naudzubillahi min dzalik ... Jangan sampai para orangtua keliru bertindak atau tidak maksimal memberikan kasih dan arahan sehingga berdampak besar bagi kelanjutan masa depan mereka.

Maka, untuk meminimalisir dampak buruk 'masa depan' (meski tak bisa dipastikan juga kalau keikutsertaan orangtua dalam menentukan pilihan akan membuat hal buruk menjadi tiada, tapi minimal bisa diantisipasi lah), orangtua sekarang tidak bisa menyerahkan begitu saja, pilihan sekolah, kepada anak. Kalimat : "Ya,bagaimana kamu saja, ibu mah gak paham," menjadi kalimat kontraproduktif yang tidak membuka cakrawala berpikir dan berkomunikasi antara anak dan orangtua. Setidaknya, ada beberapa petuah serta arahan alias petunjuk teknis tentang pilihan yang mereka ambil. Meskipun di sekolah mereka sudah mendapatkan bekal wawasan dari guru BK (Bimbingan dan Konseling), tetap saja, diskusi perlu dilakukan di rumah.

Dulu, atau setidaknya zaman saya, ketika istilah dan 'pintu' masuk penerimaan mahasiswa baru belum sebanyak sekarang, rasanya prosesnya gak sejlimet ini. Memang, seiring era komputerisasi, calon mahasiwa sekarang dimudahkan dengan sistem pendaftaran on line. Beberapa alternatif pilihan universitas bertebaran di situs-situs yang terbuka lengkap dengan prosedur dan profil campus. Tapi, hal itu membutuhkan pula keterampilan berteknologi. Tak sulit bagi anak-anak, tapi bagi ibu, tentu saja berbeda. Ada banyak ibu yang masih gaptek, meski banyak pula yang sudah akrab dengan teknologi ini. (Ibu zaman sekarang harus cerdas, bukan? agar bisa terus 'nyambung' dengan anak-anaknya). Sekarang, bila anak tidak lolos dalam seleksi awal via SNMPTN, mereka masih punya peluang di beberapa 'pintu', yakni SBMPTN (sebelumnya bernama SNMPTN, lebih dulu lagi UMPTN dan Sipenmaru) dan jalur Mandiri yakni seleksi yang diadakan secara mandiri oleh pihak universitas (jalur ini biasanya memerlukan dana lebih mahal). Atau bila kemudian mencari universitas swasta.

Nah, disinilah orangtua bisa berperan lebih aktif, mencari universitas yang sesuai dengan minat dan bakat anak, lokasi yang strategis (sesuai kriteria, sebab strategis itu relatif berdasarkan pertimbangan setiap orang), kalau bisa terakreditasi A dan biaya terjangkau. Yang harus diperhatikan dalam memilih adalah, ini pont pentingnya, jurusan harus sesuai dengan minat dan bakat anak.

Ohya, jalur SNMPTN adalah gratis. Pokoknya, bila sesuatu berembel-embel kata "Nasional" maka harus gratis. Bila dulu jalur masuk non tes hanya diperuntukkan bagi anak-anak yang memiliki nilai akademis baik (dengan rerata nilai yang telah ditentukan oleh Kementerian Pendidikan) setidaknya 10 besar di sekolah, dan berbayar, maka tahun ini semua siswa kelas XII berhak untuk mengikuti seleksi SNMPTN secara gratis.

Kesempatan jadi lebih terbuka bagi setiap lulusan tetapi yang diterima menjadi lebih sedikit secara prosentasi meski secara jumlah lebih banyak. Bandingkan saja, di tahun 2012 dari 236.811 siswa yang mendaftar SNMPTN jalur undangan, yang lolos sekitar 22,55 persen, termasuk di dalamnya siswa penerima program bidik misi sebanyak 15.313 atau setara dengan 20,41 persen
(sumber : http://edukasi.kompas.com/read/2012/05/26/15081413/53.401.Siswa.Lolos.SNMPTN.Jalur.Undangan)
Maka di tahun 2013 ini, ada kurang lebih 1.800.000 siswa SLTA dan SMK yang diperkirakan akan terseleksi, sementara yang diterima adalah 150.000 siswa alias kurang dari 10 persen.

Bila melalui jalur gratis ini tidak lolos seleksi, maka bersiaplah para ibu mencari alternatif lain bagi kelanjutan studi anak. Yang gratis itu bukan biaya kuliahnya, lho, tapi biaya daftarnya, hehe ... (sambil menerawang, kapan ya ada kuliah gratis di Indonesia? ^_* ngayal tingkat tinggiii ... eh kalau gak salah sudah ada program BOPTN, ya?! Bahkan di UPI Bandung sudah cair untuk angkatan 2012 ini. Lumayan, untuk para ortu bisa menarik nafas dan ancang-ancang.

Buat ibu-ibu yang sedang resah dan gelisah, jangan keterusan ya!
Yuk, kita mencari peluang itu. Insya Allah, selalu ada jalan terbaik yang Allah berikan bagi anak-anak kita, asalkan kita mau mencari dan menjalaninya.
Apapun hasilnya, sepanjang ikhtiyar kita maksimal, itulah yang terbaik dari Allah.
Semoga anak-anak kita dimampukan Allah untuk menebar sebanyak-banyaknya manfaat, bagi dirinya, keluarganya, masyarakatnya, bangsanya, dan terlebih buat agamanya.
Aaamiiin ...

Senin, 14 Januari 2013

Kembali

Kembali
berbaliklah, selama ini engkau telah jauh melangkah
menaiki karang-karang terjal, mendaki bukit dan menyeberangi lautan
barangkali benar, kau dapatkan maumu
tapi tengoklah hatimu sejenak
ada sebuah ruang yang tak terisi
kesungguhanmu lalu membuat lalai
betapa ada tangan lain yang alpa kau jadikan pegangan

Kembali
sejenak beningkan hati
disana akan kau temukan
bahwa kau tak pernah bisa apapun
tanpa
DIA

Kembali
lalu kau akan tahu
apa yang harus dilakukan
agar apapun yang kau lakukan
adalah tak sia-sia



sihebatisna.wordpress.com 





Minggu, 16 Desember 2012

ketika cinta beda keranjang


memang tak mudah menjembatani waktu, ketika bahasa cinta disuarakan oleh generasi yang berbeda. kekahawatiran seorang ibu kerap menjadi bara, nyala diantara cinta dan kendali.
telah beribu kali memilih kalimat yang berserak biar cinta tetap menjadi cinta, dan tak berubah menjadi tiran
sebab ketika itu terjadi akan ada hati yang koyak
meski keduanya saling menyimpan cinta dalam keranjang yang berbeda


Sabtu, 15 Desember 2012

hujan sore ini

menderas air runtuh dari langit sore ini, bersama bayangan rindu yang terbentang sepanjang tahun.
Desember telah menua, tak menyurutkan waktu untuk tetap memelihara cinta buat seseorang yang mencintai hujan, seperti sore ini, saat air mengepung semesta langit, mengepung jiwaku dalam jiwamu
aku luruh dalam secangkir kopi panas, mengepulkan kenangan mengaura di seantero kamar ini

susah payah kucari bentuknya
engkau hilang bersama aroma kopi yang membumbung, menembus lelangit
berkejaran dengan hujan yang makin menggila, lalu harus kuapakan butiran hitam yang tersisa dari perjamuan sore ini? sedang hujan tak jua mau menepi, sekedar memberi ruang bagi aliran rindu yang terlanjur kualirkan

gambar dari : mohamadirfan.blogspot.com
 




Minggu, 11 November 2012

saat engkau berkata : tunggu aku

tiba-tiba kusadari hari telah menua, dan aku masih duduk di bangku ini
sebuah taman kota berpohon beringin entah berapa tahun usianya
entah berapa lembar daun yang dimuntahkannya
berapa musim menggugurkan rindu
atau tak terhitung angin menerbangkan rencana
duduk disini aku
masih di bangku yang sama
saat engkau berkata : tunggu aku 

dan engkau tak jua menepi



Sabtu, 10 November 2012

sebab engkaulah pahlawan kami

hari ini 10 Nopember, hari dimana negeri ini mengenang hari pahlawan
sejatinya engkau tengah berhimpun dalam tasyakur ngunduh mantu si bungsu
bertemu teman lawas sesama pejuang angkatan 66
dimana biasanya momentum pernikahan adalah saat reuni
tentang pergolakan yang masih atas nama rakyat
tentang masyarakat yang bahu-membahu menyokong aksi mahasiswa
tentang idealisme yang merontokkan muslihat di gedung parlemen
tentang apa saja yang menumbuhkan kemudaan

hari ini 10 Nopember, dimana pegawai berseragam batik biru
sejatinya engkau bersama kami
menerima salam selamat dan suka cita
telah mengantarkan si bungsu dalam pelaminan yang barokah
bercerita kiprah pengantin dalam melanjutkan spirit kebangsaan
betapa ia, sang pengantin, adalah representasi engkau
dalam semangat global dan mendunia
hingga mengantarkannya tiba di meja Obama

hari ini 10 Nopember, dimana banyak orang menerjemahkan arti pahlawan
engkau terbaring lemah di rumah sakit
sementara istri tak mungkin meninggalkan besan dan tetamu
dalam sedan yang tersimpan
kami disini berhimpun dalam syukur sekaligus debur
bagai ombak yang riuh di luar namun sepi di dalam
kami sunyi tanpamu

hari ini 10 Nopember
mengingatkan kami satu hal
betapa suaramu, meski lemah, adalah kekuatan tak terperi
betapa dirimu, semangat yang membakar pori-pori

hari ini 10 Nopember
kami tahu
engkaulah pahlawan kami

(*dedicated to Bpk. Giom Suwarsono,
lekaslah sembuh

Selasa, 30 Oktober 2012

Diam untuk Berlari

Akhir-akhir ini Bu Retno merasakan badannya letih, lemah, lesu, semengatnya kendor. Hidupnya mulai terasa monoton dan membosankan. Padahal selain sebagai ibu rumah tangga, iapun bekerja kantoran. Apakah usianya yang hampir mendekati kepala 5 itu penyebabnya? Semula ia yakin, itulah sebabnya. Benar kata orang bahwa ketika usia bertambah maka badan akan mulai terasa mudah lelah. Tapi setelah hampir satu bulan, Bu Retno mulai meragukan kesimpulannya sendiri. Bagaimana dengan istilah “a life begin at forty”? Bukankah kalimat itu menunjukkan betapa bergairahnya hidup di usia empat puluhan?  Ada yang salah dengan dirinya. Ada yang perlu ditinjau ulang dari kegiatan hariannya. Ada yang perlu direvisi dari rencana hidupnya. Halah, rencana? Bu Retno mulai menelisik catatan otaknya dalam menyusun rencana.

Manusia butuh rencana untuk melakukan sesuatu. Apakah itu satu jam ke depan, nanti siang, esok hari, seminggu kemudian, bulan depan, tahun depan atau bahkan sepuluh tahun mendatang. Perencanaan itu berbeda bagi setiap individu, baik berbeda dalam bentuknya maupun dalam teknis pemikirannya. Sebab semua pasti sesuai dengan kapasitas plus pengetahuannya. Tapi apapun itu, sederhana atau rumit, sistematis atau pabaliut, toh semua orang punya rencana untuk hidupnya. Adakah orang yang tidak punya rencana. Seringkali orang bilang : “aku gak punya rencana”, bahkan tidak dia sadari sebenarnya ia tengah merencanakan sesuatu. Spontanitas, adalah rencana yang datang tiba-tiba. Usai terpikirkan, tahap demi tahap penyelesaian dari bentuk kerja spontan itu akan mulai terurai. Rencana spontan. Istilah aneh … Tapi begitulah, sesederhana apapun, kerja butuh rencana. Rencana adalah bahasa yang lebih teknis dari cita-cita.

Ketika sebuah rencana dapat terlaksana. selesai. Selesaikah hidup?
Kita butuh rencana lain untuk tetap dinamis. Rencana dibutuhkan untuk menjaga eksistensi kemanusiaan kita, bahwa kita ada dan manfaat.

Bu Retno mulai bercermin ulang. Kegiatan hariannya tak kurang. Kerja kantor, urusan rumah (nyuci, nyetrika, ngepel, masak plus beres-beres rumah. Ia tidak punya pembantu) menemani anak-anak belajar, mengisi kajian di masjid dan kegiatan PKK di komplek rumahnya. Itu yang disebut monoton? Bu Retno sadar, kegiatannya penuh. Tapi, ia merasa mulai jenuh. Artinya dia harus membuat rencana baru. Sebuah loncatan besar? Apa?

Di tangannya sebatang pencil dan sebuah buku kecil. Di benaknya sependar bintang … kemana akan diterbangkan?

Mimpi, cita-cita, atau rencana memang tak pernah kenal batas usia. Sejenak saja ia diam, untuk mengambil ancang-ancang berlari, bersama anak-anaknya.

Kamis, 25 Oktober 2012

“Perjalanan Aksara : (kadang tak terduga)”




Ketika hati menyimpan cerita luka, energy tersedot habis olehnya. Pikiran penat, wajah tidak nampak bagus (bayangkan wajah cantik yang tertekuk berlipat sepuluh), badan seakan habis memanggul berkarung-karung beras (emang pernah ya ngangkut  beras?). Ketika ada yang bertanya, jawabannya meninggi saja. Kasihan sang penanya, kena semprot teu pupuguh,  dan sesudahnya ada sesal dan perasaan bersalah. Tambah lagi deh masalah. Pokoknya parah!

Selalu, manusia butuh mengalir. Saat mengalir, manusia menjalani dunianya, meliuk, menyempit diantara bebatuan, menghantam karang, menembus lorong, berakrobat trapeze, apapun namanya, dengan leluasa. Atau sesekali diam dalam delta, tergantung ia perlu. Saat mengalir, manusia hidup. Tak ada luapan. Tak ada kebiri.  Semula, dengan kejam  aku menyumbat aliran itu, bahkan dengan sengaja semakin menambah sumbatannya dengan berbaik-baik kepada sang penghunus pedang, dengan harapan aku bisa membunuh rasa sakithatiku akibat ulahnya. Akibatnya, aku menerkam diriku sendiri, melumatnya habis hingga tak bisa lagi bernafas!

Sekarang, aku butuh obat. Bila sumbatan kemarin itu penyakit, maka obatnya adalah menulis, Aku tengah mengobati diri sendiri dengan menulisimu. Menulis adalah terapi.  Maka menulislah aku, membuang apapun yang  ada di kepala ke dalam keranjang besar berisi aksara.  Selain berisi sampah, kali ini aku mengisinya dengan  mutiara.  Ya, mutiara asli, kuambil dari aksara Al-quran  melalui  penelusuran struktur abjad, tersusun dari sekian waktu pergumulanku dengan mukjizat abadi yang dengan ajaib hidup secara sistemik. Guruku mengajarkan bahwa Alquran akan menjalankan sistemnya sendiri saat ia dibaca, dikaji, dianalisa, termasuk ditulis dan secara otomatis diamalkan, tanpa tendensi apapun selain karena Allah swt. Metoda ikhlas.

Secara berkala aku menulis. Kali ini menulis dengan metodologi Struktur Al-quran. Sebuah metode mengaji yang lebih intim (bagaimana menerangkan sebuah perjalanan ruhani yang memabukkan, ya?)  Mengaji, mengamati symbol, menganalisa tanda-tanda, dan mengamalkan dengan istiqomah. Aplikatif.
Ibarat perjalanan di area amnion, dan menulis adalah awal pembuahan, maka kulalui proses  sejak pembuahan, kemudian tumbuh menjadi sebuah embrio, peniupan ruh yang menghadirkan sensasi spiritual yang menggetarkan, memelihara keseimbangan emosi, hingga tiba di titik puncak  proses kelahiran dengan segala keluhan dan pengalaman mencengangkan.  Satu kelahiran telah ditakdirkan. Satu ayat seribu satu  petualangan (aku menghitung, satu ayat lebih dari sepuluh huruf, dan satu huruf mengandung 10 kebaikan, maka berapa huruf untuk 19-20 ayat? ) Aku tak punya kalimat tepat untuk semua perjalanan itu, selain :  Menakjubkan.

Kutatap hasil tulisanku.

Subhanallah …
Deretan aksara Al-Quran berpendaran, lekuknya indah, bukan hasil cetakan, melainkan tulisan tangan. Tulisanku. Dengan izinNya, telah kuikhtiyarkan syifa bagi beberapa titik anatomi tubuhku melalui proses ini. Memang tak makan waktu seharian, tetapi efeknya sungguh tak terdefinisikan.  Aku tak pandai menerjemahkan sesuatu yang seindah Al-Quran, yang ingin kusampaikan adalah proses ini membuatku sembuh. Dada lapang selapang-lapangnya …

Fabiayyi aalaa i robbikumaa tukadzdzibaan  (Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Jangan pernah merasa tak pantas untuk mengkaji Al-quran, seberapa bebalnyapun kita, sebab dengan penuh kasih, Allah swt berfirman : “Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu  pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya.” (Al-Qiyamah 17 – 19).

Ketika tak paham bahasa Al-Quran, saat kita mau membacanya, kepahaman itu akan lahir dengan sendirinya, melalui bahasa yang kita mengerti. Bahasa yang bukan aksara, bisa dalam bentuk apapun, bahkan tak kita duga. Yang pasti, usai membaca, akan tiba di sebuah jawaban. Benarkah?
Yakinlah, Allah tak pernah bohong dengan firmanNya!  “ … atas tanggungan Kamilah penjelasannya.”

Ini bukan semata untuk hati, melainkan pula untuk semua jenis penyakit yang bahkan mungkin belum ada namanya saat ini. Al-quran akan menjawab semuanya.

Apa yang kudapat sekarang?
Sebuah pencerahan …
Setidaknya untukku sendiri

                                                                                                            My library
Banyak yang ingin kusampaikan, entah kumulai darimana





Rabu, 11 April 2012

Think to be positif

Hari masih muda, mataku perih. Barangkali sisa kemarin, ketika persediaan air mataku ambrol di tengah ruang kerja yang dipenuhi berkardus-kardus buku baru yang tiba hari itu.
Aku tidak akan bercerita tentang kejadian kemarin.

Biarkan saja episode itu disapu angin dan hujan lebat. Biarkan saja menjadi masa lalu, tak akan diingat, meski kusadar itu akan menjadi sesuatu yang memperkaya jiwa, satu saat nanti. (Itupun bila kisah beberapa menit hari itu mampu kurewind, aku sendiri sangsi. Aku bukan tipe orang yang mampu menyimpan dan mengingat luka sedemikian apik, syukurlah). Aku tipe orang yang hanya mau melihat sisi positif dari setiap kejadian. Bagi sebagian orang, itu bagus, tapi ada pula yang beranggapan bahwa aku terlalu kuat membentengi diri sehingga tak mau melihat sisi negatif yang sesungguhnya bisa dijadikan antisipasi.
Angkat bahu saja ... This is me!
I am positif thinking. Dan itu membuatku lebih bahagia

Selalu mampu memandang sisi positif dari kejadian segelap apapun, adalah salah satu cara menemukan solusi.

Hari ini, masih muda. Ada jam-jam polos menanti untuk diisi.
So, mari nikmati hari dengan senyuman