Lelaki yang kelahirannya telah lama diramalkan dalam
gulungan-gulungan perkamen kuno?
Sosok Maitreya yang memiliki tubuh semurni emas, terang benderang, dan suci?
Barisan kalimat-kalimat itu memaku pembaca di sampul buku. Judulnya :
sebuah novel biografi
MUHAMMAD saw
Lelaki Penggenggam Hujan

Itu baru kata pengantar.
Cerita dimulai dari Biara Bashrah di Suriah tahun 582 M. Suatu siang di musim panas, Pendeta Bahira sang penunggu biara, ditakdirkan Tuhan untuk bertemu dengan lelaki pemimpin kafilah dagang dari Makkah. Ia, Pendeta Bahira, yang sedari awal memang yakin hari itu bukan hari biasa, melihat tanda-tanda kenabian dalam diri seorang lelaki kecil yang datang bersama kafilah dagang Makkah. Tanda-tanda yang secara fisik maupun non fisik itu ia ketahui dari kitab suci. Guncangan jiwa yang hebat terjadi setelahnya. Bagaimana ia menyadari satu hal, bahwa ia akan melihat dan mengalami saat-saat yang telah dijanjikan Tuhan melalui kitab suci yang ia yakini, saat datangnya seorang Nabi penutup, nabi bagi semua agama, nabi bagi seluruh dunia : Himada akan datang! Yang terpuji telah datang!
Setelah masa emosional itu berlalu, ia menulis surat kepada sahabatnya di Semenanjung Arab, tempat yang sama darimana sang kafilah dagang berasal, Makkah, yang bernama Waraqah bin Naufal. Surat itu mengabarkan penemuannya. Ia juga berpesan agar Waraqah menjaga rahasia ini. Sebab Nabi ini, seperti para nabi Tuhan sebelumnya, akan dimusuhi oleh orang-orangnya sendiri. Oleh karenanya, sebelum waktunya tiba, ia harus terjaga.
Pada saat yang bersamaan, di Persia, seorang pemuda bernama Kashva yang dipercaya oleh Raja Khosrou mengelola Kuil Sistan, menghadap Rajanya untuk mengabarkan tentang telah tibanya seseorang pembawa terang. "Dia telah datang, Baginda. Astvat-ereta sudah hadir di dunia. Nabi baru itu dan para pengikutnya akan menaklukkan Persia, Madyan, Tus, Bakh, tempat-tempat suci kaum Zardusht dan wilayah sekelilingnya. Nabi perkasa ini adalah seorang manusia yang jernih bertutur, bercerita kisah-kisah penuh mukjizat."
Raja Khosrou, penguasa Persia yang agung, beku di tempatnya berdiri. Semua tahu, alamat buruk. Kashva sadar ia tengah menggadaikan nyawanya. Raja tak segan memenggal kepalanya, kepala pemuda yang selama ini menjadi kesayangan sang Raja.
Ada yang mengkristal di benak Kashva seketika. Aku harus meninggalkan Persia! (hal. 30)
Maka Kashva memulai pelariannya. Mengabdikan hidup demi menemukan lelaki itu. Lelaki yang ia yakini sebagai Lelaki Penggenggam Hujan, lelaki penggenggam wahyu dari langit : Muhammad. Al-Amin yang kelahirannya akan membawa rahmat bagi semesta alam, pembela kaum papa, penguasa yang adil kepada rakyatnya. Perjalanan Kashva diwarnai dengan peperangan, penelusuran kitab-kitab kuno berbagai agama, pengalaman spiritual dari segala pelosok Persia, India, Tibet dan Arab. Benturan kepentingan pribadi dan diskusi-diskusi dalam upaya menerjemahkan makna teori setiap kitab membuat jiwanya semakin kuat ingin menemui Sang Lelaki.
Saat ia bergulat dengan pertarungannya sendiri, Lelaki yang didambakannya semakin nyata kebenaran risalahnya. Tutur kata yang tak pernah keras, perilaku yang senantiasa terjaga kesantunannya, pendustaan demi pendustaan dijawab dengan kejernihan hati. Peperangan dan penghinaan semakin menguatkan barisan pengikutnya. Ini adalah kisah seorang pemimpin paling berpengaruh sepanjang sejarah manusia. Bagaimana Lelaki yang Tak Pernah Mendendam ini mengajak manusia kepada kebenaran. Di tanah kelahirannya, Makkah, ia terusir. Di Thaif ia didustakan, diusir dan dihinakan. Di Yatsrib ia dikepung. Di Hudaibiyah ia terhalang. Tapi ia tetap sabar.
Muhammad, Lelaki yang Senantiasa Menyebarkan Kedamaian ini, menulis surat kepada pemimpin-pemimpin dunia, menyampaikan kabar gembira yang Ia bawa. Menawarkan cara hidup baru yang sebelumnya tidak mereka tahu. Membagi keimanan yang sebelumnya telah dirasakan begitu menguatkan. Sebuah konsep hidup yang mengubah total kehidupan penuh kebodohan menuju tata keseharian yang bermartabat. Sesuatu yang telah dirasakan olehnya dan oleh ribuan pengikutnya. Surat itu diberangkatkan kepada Raja An-Najasyi di Abyssinia, Alexandria-Mesir, Romawi, serta Raja Khosrou di Persia.
Maka pencarian Kashva semakin sarat konflik. Hasrat dalam diri Kashva sudah tak terbendung lagi. Keinginannya untuk bertemu dengan Muhammad demikian besar hingga tak ada sesuatupun yang membuatnya jerih. Bahkan maut yang mengintai di ujung pedang tentara Khosrou tak juga menyrutkan kerinduannya bertemu Muhammad.
Bagaimanakah akhir kisah ini?
Ini adalah cerita tentang permulaan sebuah ajaran yang paling disalahpahami di muka bumi. Ini adalah sebuah titian perjalanan setiap manusia spiritual berbagai agama untuk menemukan Dia yang Dijanjikan.
****
Baru kali ini saya membaca sejarah Muhammad saw yang ditulis dengan gaya seperti ini. Novel. Awalnya saya ragu. Ragu antara memisahkan kisah sejarah dengan kisah fiktif yang pasti mewarnai dengan kental kisah ini. Nyatanya, Tasaro GK, demikian jeli membagi plot dan merunut kisah ini dengan akurasi yang, menurut Ahmad Rafi' Usmani-penulis buku-buku tentang Muhammad, sangat memikat.
Membaca novel ini, saya merasa ikut terlibat secara personal didalamnya. Saat Rasulullah saw menuju Thaif, perjalanan yang demikian berat secara fisik dan mental, saya tak mampu menyimpan sedan. Ada yang menarik saya demikian kuat untuk merasakan secara nyata kepedihan Sang Nabi, meski ia sendiri masih dapat tersenyum dan bersabar.
Tak berlebihan bila Tasaro GK, sang penulis, menulis akhir penelusuran jejak Muhammad saw dengan menghiba :
Ya, Rasul .... lumpuh aku karena rindu ...
====
Judul buku : sebuah novel biografi MUHAMMAD saw : LELAKI PENGGENGGAM HUJAN
Penulis : Tasaro GK
Penerbit : Bentang - Yogyakarta
Tebal : 546 hlm
Harga : Rp. 79.000,-
















