Rabu, 20 Februari 2013

BuDi dalam Kenangan

Siang itu setiba di sekolah, seorang teman mengulurkan sebuah bingkisan berupa tas kain berwarna putih berisi sebuah Alquran kecil dan sebungkus rollcake.
"Dari pak Edi ..." katanya
"Masya Allah, 40 hari almarhumah ..." seruku tertahan.
Tiba-tiba saja aku menyesal tidak mengingat hari ini. Berarti hari ini, atau mungkin kemarin (?) ... ya tepatnya kemarin, adalah  40 hari sudah sahabat kami pulang menemui panggilanNya.  Ibu guru cantik murah senyum yang selalu rendah hati, bu Diana Setiawati, itu pergi di pagi hari bulan Januari secara mendadak. Begitu tiba-tiba. Sungguh, aku tak ingin menyesalinya sebab kita memang tak pernah bisa benar-benar memiliki seseorang. 

Sekarang aku teringat kembali hari-hari terakhir bersamanya.  Aku kerap menyapanya dengan sebutan sayang : BuDi.Ya, BuDi. Sapaan kecil dari Bu Diana.

Senin itu, 7 Januari 2013, dengan bergegas ia menghampiriku di perpustakaan.
"BuNi ... (iapun memanggilku dengan sapaan kecil)," tegurnya riang. Kami saling berpelukan. Biasa. Itu yang kami lakukan setiap kali bertemu. Terlebih hari itu adalah hari pertama masuk sekolah pada semester genap, setelah 2 minggu masa libur.
"Assalamu'alaikum ... he ... telat. Kumaha damang? pinjem Al-Quran yang ada terjemahnya, dong."
Tidak ada obrolan lain. Sungguh, hari itu ia nampak terlihat bergegas. Usai menerima Al-Quran yang ia ingin, ia hanya berujar : "Sebentar, ya, BuNi, nanti dikembalikan."
Sudah. Siangnya kami tak sempat lagi bertemu. Alquran itu diterima oleh salah seorang rekan muda petugas pelayanan di perpustakaan.

Selasa, 8 Januari 2013 pukul 6 kurang sekian menit, hp-ku bergetar.Sebuah sms mengabarkan kecelakaan yang menimpa sahabatku itu. Sebuah truk menabraknya, dan akan segera dibawa ke rumah sakit.
Ya Allah ...
aku langsung gemetar. Hendak kemana BuDi sepagi ini? Apa yang terjadi? Bagaimana peristiwanya? Apakah ia sedang naik kendaraan? Bersama siapa? Suami dan anak-anakkah? Banyak sekali pertanyaan berkecamuk sementara kesibukan pagi menjelang anak-anak pergi sekolah terus berlanjut, hatiku tidak tenang. Suamiku langsung mengajak untuk segera ke rumah sakit saja, melihat kondisinya. Dan tentu saja kuiyakan.

Pagi itu aku diberondong sms serta telepon dari teman-teman. Ada yang bertanya mohon kejelasan, ada pula yang mengirim sms serupa dengan yang pertama. Kubalas sekedarnya sambil mengabarkan bahwa aku akan segera melihat kondisinya di rumah sakit. Kebetulan rumah sakit yang dimaksud dekat dengan rumahku. Pagi itu kami berputar-putar dalam ketidaktahuan. Keadaan itu makin membuatku gegas untuk segera menemuinya.

Lima belas menit kemudian, saat aku siap berangkat. Sebuah telepon tiba di hp suamiku dari rekan kerjanya yang sekaligus tetangga BuDi. Kabar yang sungguh menghantam ruang dengarku sekaligus menjebol pertahanan bendungan air mataku. Innalillahi wa inna ilaihi roji'un ... 
Ya Allaaah ...
Betapa waktu memang tak pernah sepenuhnya milik kami.

dalam tangis aku ambil air wudlu kemudian mengabari teman-teman dan menuju rumah BuDi.

Disanalah aku tahu kejelasannya. Almarhumah tengah menyapu dedaunan yang berserak di pinggir jalan depan rumahnya saat sebuah truk menabraknya tanpa ampun. Disana pula aku tahu bahwa aktivitas menyapu itu ia lakukan setiap subuh. Menjadikan area itu nyaman dijadikan tempat mangkal para tukang ojek. Sungguh, aktivitas sosial yang ia lakukan secara istiqomah, kelak akan menjadi saksi di akhirat dan ... subhanallah ... menjadi sebab kepergiannya menemui Penciptanya, Yang Maha Mengasihinya.

BuDi ...
kami ikhlas sungguh melepasmu pergi

Pagi itu aku diijinkan Allah untuk turut memulasara jenazahnya. Memandikan, mengafani, menyolatkan hingga mengantarnya dalam pelukan bumi. Bergelombang para pelayat tiba di rumah duka, mengisyaratkan betapa almarhumah adalah seorang yang baik dan shalihah. Bahkan seorang ibu yang sempat hadir di pemakaman berbisik : "Bu Diana, saya tidak mengenalmu, tetapi Allah menakdirkan saya ada disini, ini sebuah pertanda bahwa engkau adalah seorang yang baik. Semoga Allah menempatkanmu di tempat mulia di sisi Allah. Aaamiin ..."
Belakangan aku tahu, ibu itu adalah teman dari teman almarhumah.

Sekarang, saat aku mengenangnya dalam tulisan ini, aku ingat segala gerak-geriknya, senyum tulusnya, pelukannya, tawanya, hingga suaranya saat bercerita tentang si kembar dan si bungsu Ania. BuDi adalah seorang ibu dari tiga orang putri. Pertama, si kembar Azmia dan Azkia, tengah menghadapi ujian sekolah dan menuju Perguruan Tinggi, sama seperti anak sulungku. Hingga kami sering berbagi cerita dan informasi seputar pendidikan anak-anak. Sedang si kecil Ania kelas 6 SD dan akan menempuh ujian pula. Tiga buah hati itu kini menjadi harta sangat berharga bagi suami dan mamih (ibu tercinta) yang juga tegar melepas kepergiannya. Betapa tak pilu mengingat mereka yang ditinggalkan demikian sedih dan kehilangan. 

Tetapi, sungguh, menjelang kepergiannya, BuDi telah meninggalkan kebaikan bagi suami dan anak-anak. Sebuah amanat agar anak-anak menegakkan sholat dan mengaji setiap waktu. Sebuah kebiasaan bersedekah dan berbagi kepada siapapun setiap saat, yang selama hidupnya tak pernah alpa ia jalankan. Dan ... selalu menebar salam dan senyum kepada sesiapa yang ditemuinya, yang dihadapinya. Ya, senyum tulusnya  memang manis. Siapa sih yang tidak faham arti kata tulus, bahkan seorang bayipun tahu sebuah mutiara hati. Duhai, kenangan itu ...

Maka malam tadi, aku mengiriminya doa dengan Alquran yang dititipkan siang itu. 
Juz 19 kubacakan. Doa pengampunan kulangitkan, semoga engkau bahagia di alam kubur, sebab doa anak shalihah itu, ketiga putri cantikmu, telah dengan setia menerangi kuburmu hingga saatnya nanti kita semua dibangkitkan kembali. Doaku semoga Allah kabulkan pula, bukti aku tak pernah melupakanmu, bukti betapa amalmu tak pernah meninggalkanmu. Lihat betapa murid-muridmupun dengan ikhlas terus mengingat dan mendoakanmu.

BuDi sayang, sahabatku ...
Allah telah menjanjikan surga bagi istri yang ikhlas mengabdi pada suami, dan suami rela ketika ia pergi
engkau memiliki itu
Allah telah janjikan surga bagi anak yang berkhidmat kepada ibunya, dan ibu rela ketika ia pergi
engkau memiliki itu
Allah telah janjikan tidur panjang yang tenang hingga tiba di hari kebangkitan bagi dia yang memiliki doa anak shalih, ilmu yang manfaat dan amal jariyah
engkau memiliki itu
Allah telah menjanjikan istana megah bagi orang yang senantiasa bersedekah
engkaupun telah memiliki itu
dan janji Allah tak pernah salah
Ia sungguh tak pernah ingkar
Lalu untuk apa kami bersedih, bukan?
sebab engkau telah tenang dan bahagia disana

maka dengan tenang
kusudahi saja tulisan ini
Selamat istirah, Sahabat ...



Senin, 18 Februari 2013

SURAT-SURAT IBU


“Apapun yang  terjadi hari ini, Nak, tetaplah ingat Allah. Ibu sayang kamu.”

Sebaris kalimat itu kutemukan di  dalam lemari pakaian sulungku. Tertulis kecil dalam secarik kertas dalam sebuah amplop putih yang menempel di dinding bagian dalam lemari tersebut. Tulisanku, suratku, yang kutulis untuknya, entah kapan. Kesibukanku terhenti sejenak, beralih ke amplop yang ternyata berisi kumpulan surat-suratku terdahulu.
Subhanallah, anakku ….
Mataku merebak dalam haru. Rupanya begitu apik ia menyimpannya sebagai barang pribadi yang dijaga sedemikian rapi. Kubaca ulang barisan kalimat dalam beberapa lembar surat yang kutulis dalam masa yang berbeda itu, menjoprak sendirian.

Dan benang halus bernama cinta dan kasih antara ibu dan anak terentang demikian panjang, pagi ini.  Dia  di sekolah dan aku di ruang tidurnya. Tak kentara namun kuat terasa. Benang yang dengan halus Tuhan titipkan kepada setiap ibu di dunia.

Sebagai seorang ibu dari remaja ABG berusia 17 tahunan, aku kerap khawatir akan sisi negative pergaulan dan lingkungan sekitar yang mengelilinginya setiap saat. Nasihat panjang lebar tak lagi cukup, malah bisa dibilang bisa menjadi boomerang, sebab telinga menjadi panas dan kebal tetapi kurang efektif membangun jembatan komunikasi, bila tidak dikemas dengan cerdas. Sulungku adalah jejaka tampan yang berpenampilan menarik, cenderung diam, dan tidak banyak bicara. Ngobrol dengannya perlu kesabaran, sebab ia lebih banyak mendengar ketimbang menimpali pembicaraan. (Padahal aku, ibunya, terkadang ingin mendengar apa saja yang ia rasakan!) Tetapi tentu saja, aku tak bisa mengubah karakternya yang telah terbangun selama belasan tahun ini. Bahkan sejak bayipun ia sudah terlihat cool … Emosinya tidak meledak-ledak. Ia sungguh remaja yang kalem.

Lalu bagaimana aku membangun istana megah bernama komunikasi bersamanya? Bersama jejakaku, yang aku harapkan menjadi teladan bagi adiknya dan kelak imam bagi istri dan anak-anaknya? Bagaimana aku menyampaikan harapan, kebaikan-kebaikan dan keindahan berbagi, seperti yang dulu sering kami lakukan saat ia masih balita? Saat aku masih dengan leluasa memeluk dan menciuminya, dan ia tergelak kegelian? Saat ia, dengan bahasa kanaknya, menyampaikan apapun yang ia rasakan? Bagaimana, Nak? Tadi malam, engkau masih mencari tanganku untuk kau genggam, kau peluk dan kau taruh di kepalamu, pertanda kau ingin diusap-usap menjelang tidur. Dan itu membuatku khawatir, sebab hal itu kau lakukan bila engkau tengah merasakan sakit. Benar, keningmu hangat, Nak. Kubisikkan kata-kata penguat, kuyakin itu doa yang tak terhijab. Engkau senyum. Dan selalu, engkau hanya menjawab apa yang kutanyakan. Selebihnya … aku hanya menduga-duga. Dan ketika kutanya mengapa, kau jawab : “ibu selalu tahu apa yang kakang rasa, apa yang mau kakang minta, bahkan sebelum kakang bicara.” Duh … benarkah?
 
Duhai … Alangkah cepatnya waktu berlari. Engkau telah tumbuh menjadi lelaki yang banyak menyimpan. Semoga simpanan kearifan yang kau timbun, Nak, meski di usia semuda ini. Tetapi, tetaplah aku, ibumu, berharap, kisah apapun yang akan dan sedang kau jalankan, akulah orang yang kau percaya sebagai tempat bercerita ketimbang yang lain. Duh, seegois inikah harapan seorang ibu yang berharap? Toh, seiring usia, dia pasti punya seseorang yang bisa dijadikan tempatnya berbagi cerita.
Maka, aku tahu kini, kenapa berlembar kertas kutulisi untuknya. Meski tak pernah berbalas, karena memang aku tak menanti balasan, kertas-kertas itu telah mewakiliku menyampaikan sesuatu yang tak sempat  kusampaikan secara lisan. Kesibukannya yang kian padat setiap hari, sekolah, les tambahan di sekolah, les di lembaga luar sekolah, dan tugas akhir telah memangkas komunikasi verbal kami. Meski aku yakin, sentuhan tangan saat pamit dan cium tangan setiap pagi dan petang, usapan perlahan di kepalanya hingga tatap pengertian antara kami, memiliki kekuatan lebih dahsyat ketimbang bahasa verbal yang diuntai sekalipun. Aku masih merasa perlu untuk mengiriminya surat-surat itu.
Bila surat itu usai dia baca (biasanya malam hari, saat baru saja ia temukan di bawah bantalnya), ia akan menemuiku dan mencium tanganku. Kami bertatapan, tersenyum dan pengertian itupun kembali terbangun. Kami saling mengerti dalam diam. Barangkali agak aneh bagi orang lain. Bagiku juga mungkin begitu, pada awalnya. Tetapi kini, aku diyakinkan oleh kenyataan, betapa surat-surat itu berharga baginya. Ia simpan dengan rapi, ia tempatkan di ruang privatnya, cenderung agak tersembunyi. Betapa ia menganggapnya sebagai rahasia kami berdua. Sungguh, aku merasa tersanjung dan dihargai.
Nak, ibu sayang kamu …
Kini, selembar kertas yang kutulis paling akhir ada dalam genggaman. Bercerita tentang namanya : Mohammad Hanif Hilmy.  Tak seperti surat-surat lain yang pendek dan singkat, yang ini agak panjang,  3 halaman. Ohya, aku ingat, surat ini kutulisi ketika aku usai membaca buku mas Fauzil Adhim : Positive Parenting. Jadi, wajar laaah … bila kemudian aku banyak menulis, pasti banyak yang ingin disampaikan karena selama ini luput dari pikiran.
Sekali lagi, ini barangkali cara berkomunikasi yang aneh. Tapi, dulu aku pernah baca buku Chicken Soup for Mother (kalau gak salah judulnya begitu), surat pendek sering dijadikan media komunikasi antar ibu dan anak juga di sana. Jadi, aku tak merasa aneh sendirian. Setidaknya, aku bisa merasakan manfaatnya.
Kini, kubereskan kembali surat-surat itu. Sama persis dengan sebelumnya. Biarlah dia disana tinggal dengan sempurna, menjadi saksi bisu perjalanan ‘obrolan’ kami yang hening. Pada saatnya nanti, ia yang akan bercerita panjang sekali. Tentang cinta yang tak pernah lekang. Tentang sebuah istana yang dibangun dengan mozaik permata atas nama cinta dan pengkhidmatan seorang ibu. Tentang kita yang terus belajar membangun atas nama hamba Allah.
Ya, tentang kita, Nak ...

Jumat, 08 Februari 2013

Ketika Ibu Memilih Universitas untuk Anaknya

Musim ujian sudah dekat

dan ...
SNMPTN atau Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri sudah dimulai. SNMPTN adalah istilah baru untuk jalur PMDK (Penelusuran Minat dan Bakat) atau jalur Undangan, yakni seleksi masuk perguruan tinggi tanpa tes, tapi melalui seleksi nilai rapot beberapa semester (dulu hanya 3 semester, sekarang 5 semester).

Saya tak begitu paham apa maksudnya dengan pergantian istilah seleksi yang setiap tahun berubah terus, sehingga membingungkan. Biasanya jalur ini dilaksanakan sebelum pelaksanaan Ujian Nasional (UN). Nah, tahun 2013 ini, SNMPTN sudah mulai dibuka sejak tanggal 1 Pebruari hingga 8 Maret 2013. Maka sibuklah para siswa, civitas sekolah dan para orangtua.

Bukan saja sekolah dan siswa kelas XII yang sibuk, kesibukan itu menular secara otomatis dan berkelanjutan kepada para orangtua siswa. Orangtua sekarang 'harus' turut aktif mencari peluang dan alternatif bagi kelanjutan sekolah anaknya bila tidak ingin kehilangan kesempatan. Atau bila tidak ingin keliru memilih universitas atau jurusan. Kekeliruan memilih akan berdampak sangat jauh bagi kelancaran pendidikan maupun karier ke depannya.

Dampak itu bisa beraneka. Pertama, timbul rasa jemu saat belajar, karena jurusan yang tidak sesuai dengan minat. Kedua, menemukan pekerjaan yang tidak sesuai yang pada akhirnya menimbulkan stres dan ketidakbahagiaan. Itu bila dipandang dari sisi individu, belum lagi bila kita melihatnya dari sudut pandang lebih makro, yaitu bagi kebermanfaatan pada sesama, lingkungan dan bangsa ini. Apa jadinya bila masa depan bangsa ini dikelola oleh orang-orang yang tidak bahagia dalam tugasnya. Astaghfirullah ... sekarang saja banyak yang korup dan lari ke narkoba. Naudzubillahi min dzalik ... Jangan sampai para orangtua keliru bertindak atau tidak maksimal memberikan kasih dan arahan sehingga berdampak besar bagi kelanjutan masa depan mereka.

Maka, untuk meminimalisir dampak buruk 'masa depan' (meski tak bisa dipastikan juga kalau keikutsertaan orangtua dalam menentukan pilihan akan membuat hal buruk menjadi tiada, tapi minimal bisa diantisipasi lah), orangtua sekarang tidak bisa menyerahkan begitu saja, pilihan sekolah, kepada anak. Kalimat : "Ya,bagaimana kamu saja, ibu mah gak paham," menjadi kalimat kontraproduktif yang tidak membuka cakrawala berpikir dan berkomunikasi antara anak dan orangtua. Setidaknya, ada beberapa petuah serta arahan alias petunjuk teknis tentang pilihan yang mereka ambil. Meskipun di sekolah mereka sudah mendapatkan bekal wawasan dari guru BK (Bimbingan dan Konseling), tetap saja, diskusi perlu dilakukan di rumah.

Dulu, atau setidaknya zaman saya, ketika istilah dan 'pintu' masuk penerimaan mahasiswa baru belum sebanyak sekarang, rasanya prosesnya gak sejlimet ini. Memang, seiring era komputerisasi, calon mahasiwa sekarang dimudahkan dengan sistem pendaftaran on line. Beberapa alternatif pilihan universitas bertebaran di situs-situs yang terbuka lengkap dengan prosedur dan profil campus. Tapi, hal itu membutuhkan pula keterampilan berteknologi. Tak sulit bagi anak-anak, tapi bagi ibu, tentu saja berbeda. Ada banyak ibu yang masih gaptek, meski banyak pula yang sudah akrab dengan teknologi ini. (Ibu zaman sekarang harus cerdas, bukan? agar bisa terus 'nyambung' dengan anak-anaknya). Sekarang, bila anak tidak lolos dalam seleksi awal via SNMPTN, mereka masih punya peluang di beberapa 'pintu', yakni SBMPTN (sebelumnya bernama SNMPTN, lebih dulu lagi UMPTN dan Sipenmaru) dan jalur Mandiri yakni seleksi yang diadakan secara mandiri oleh pihak universitas (jalur ini biasanya memerlukan dana lebih mahal). Atau bila kemudian mencari universitas swasta.

Nah, disinilah orangtua bisa berperan lebih aktif, mencari universitas yang sesuai dengan minat dan bakat anak, lokasi yang strategis (sesuai kriteria, sebab strategis itu relatif berdasarkan pertimbangan setiap orang), kalau bisa terakreditasi A dan biaya terjangkau. Yang harus diperhatikan dalam memilih adalah, ini pont pentingnya, jurusan harus sesuai dengan minat dan bakat anak.

Ohya, jalur SNMPTN adalah gratis. Pokoknya, bila sesuatu berembel-embel kata "Nasional" maka harus gratis. Bila dulu jalur masuk non tes hanya diperuntukkan bagi anak-anak yang memiliki nilai akademis baik (dengan rerata nilai yang telah ditentukan oleh Kementerian Pendidikan) setidaknya 10 besar di sekolah, dan berbayar, maka tahun ini semua siswa kelas XII berhak untuk mengikuti seleksi SNMPTN secara gratis.

Kesempatan jadi lebih terbuka bagi setiap lulusan tetapi yang diterima menjadi lebih sedikit secara prosentasi meski secara jumlah lebih banyak. Bandingkan saja, di tahun 2012 dari 236.811 siswa yang mendaftar SNMPTN jalur undangan, yang lolos sekitar 22,55 persen, termasuk di dalamnya siswa penerima program bidik misi sebanyak 15.313 atau setara dengan 20,41 persen
(sumber : http://edukasi.kompas.com/read/2012/05/26/15081413/53.401.Siswa.Lolos.SNMPTN.Jalur.Undangan)
Maka di tahun 2013 ini, ada kurang lebih 1.800.000 siswa SLTA dan SMK yang diperkirakan akan terseleksi, sementara yang diterima adalah 150.000 siswa alias kurang dari 10 persen.

Bila melalui jalur gratis ini tidak lolos seleksi, maka bersiaplah para ibu mencari alternatif lain bagi kelanjutan studi anak. Yang gratis itu bukan biaya kuliahnya, lho, tapi biaya daftarnya, hehe ... (sambil menerawang, kapan ya ada kuliah gratis di Indonesia? ^_* ngayal tingkat tinggiii ... eh kalau gak salah sudah ada program BOPTN, ya?! Bahkan di UPI Bandung sudah cair untuk angkatan 2012 ini. Lumayan, untuk para ortu bisa menarik nafas dan ancang-ancang.

Buat ibu-ibu yang sedang resah dan gelisah, jangan keterusan ya!
Yuk, kita mencari peluang itu. Insya Allah, selalu ada jalan terbaik yang Allah berikan bagi anak-anak kita, asalkan kita mau mencari dan menjalaninya.
Apapun hasilnya, sepanjang ikhtiyar kita maksimal, itulah yang terbaik dari Allah.
Semoga anak-anak kita dimampukan Allah untuk menebar sebanyak-banyaknya manfaat, bagi dirinya, keluarganya, masyarakatnya, bangsanya, dan terlebih buat agamanya.
Aaamiiin ...

Senin, 14 Januari 2013

Kembali

Kembali
berbaliklah, selama ini engkau telah jauh melangkah
menaiki karang-karang terjal, mendaki bukit dan menyeberangi lautan
barangkali benar, kau dapatkan maumu
tapi tengoklah hatimu sejenak
ada sebuah ruang yang tak terisi
kesungguhanmu lalu membuat lalai
betapa ada tangan lain yang alpa kau jadikan pegangan

Kembali
sejenak beningkan hati
disana akan kau temukan
bahwa kau tak pernah bisa apapun
tanpa
DIA

Kembali
lalu kau akan tahu
apa yang harus dilakukan
agar apapun yang kau lakukan
adalah tak sia-sia



sihebatisna.wordpress.com 





Minggu, 16 Desember 2012

ketika cinta beda keranjang


memang tak mudah menjembatani waktu, ketika bahasa cinta disuarakan oleh generasi yang berbeda. kekahawatiran seorang ibu kerap menjadi bara, nyala diantara cinta dan kendali.
telah beribu kali memilih kalimat yang berserak biar cinta tetap menjadi cinta, dan tak berubah menjadi tiran
sebab ketika itu terjadi akan ada hati yang koyak
meski keduanya saling menyimpan cinta dalam keranjang yang berbeda


Sabtu, 15 Desember 2012

hujan sore ini

menderas air runtuh dari langit sore ini, bersama bayangan rindu yang terbentang sepanjang tahun.
Desember telah menua, tak menyurutkan waktu untuk tetap memelihara cinta buat seseorang yang mencintai hujan, seperti sore ini, saat air mengepung semesta langit, mengepung jiwaku dalam jiwamu
aku luruh dalam secangkir kopi panas, mengepulkan kenangan mengaura di seantero kamar ini

susah payah kucari bentuknya
engkau hilang bersama aroma kopi yang membumbung, menembus lelangit
berkejaran dengan hujan yang makin menggila, lalu harus kuapakan butiran hitam yang tersisa dari perjamuan sore ini? sedang hujan tak jua mau menepi, sekedar memberi ruang bagi aliran rindu yang terlanjur kualirkan

gambar dari : mohamadirfan.blogspot.com
 




Minggu, 11 November 2012

saat engkau berkata : tunggu aku

tiba-tiba kusadari hari telah menua, dan aku masih duduk di bangku ini
sebuah taman kota berpohon beringin entah berapa tahun usianya
entah berapa lembar daun yang dimuntahkannya
berapa musim menggugurkan rindu
atau tak terhitung angin menerbangkan rencana
duduk disini aku
masih di bangku yang sama
saat engkau berkata : tunggu aku 

dan engkau tak jua menepi



Sabtu, 10 November 2012

sebab engkaulah pahlawan kami

hari ini 10 Nopember, hari dimana negeri ini mengenang hari pahlawan
sejatinya engkau tengah berhimpun dalam tasyakur ngunduh mantu si bungsu
bertemu teman lawas sesama pejuang angkatan 66
dimana biasanya momentum pernikahan adalah saat reuni
tentang pergolakan yang masih atas nama rakyat
tentang masyarakat yang bahu-membahu menyokong aksi mahasiswa
tentang idealisme yang merontokkan muslihat di gedung parlemen
tentang apa saja yang menumbuhkan kemudaan

hari ini 10 Nopember, dimana pegawai berseragam batik biru
sejatinya engkau bersama kami
menerima salam selamat dan suka cita
telah mengantarkan si bungsu dalam pelaminan yang barokah
bercerita kiprah pengantin dalam melanjutkan spirit kebangsaan
betapa ia, sang pengantin, adalah representasi engkau
dalam semangat global dan mendunia
hingga mengantarkannya tiba di meja Obama

hari ini 10 Nopember, dimana banyak orang menerjemahkan arti pahlawan
engkau terbaring lemah di rumah sakit
sementara istri tak mungkin meninggalkan besan dan tetamu
dalam sedan yang tersimpan
kami disini berhimpun dalam syukur sekaligus debur
bagai ombak yang riuh di luar namun sepi di dalam
kami sunyi tanpamu

hari ini 10 Nopember
mengingatkan kami satu hal
betapa suaramu, meski lemah, adalah kekuatan tak terperi
betapa dirimu, semangat yang membakar pori-pori

hari ini 10 Nopember
kami tahu
engkaulah pahlawan kami

(*dedicated to Bpk. Giom Suwarsono,
lekaslah sembuh

Selasa, 30 Oktober 2012

Diam untuk Berlari

Akhir-akhir ini Bu Retno merasakan badannya letih, lemah, lesu, semengatnya kendor. Hidupnya mulai terasa monoton dan membosankan. Padahal selain sebagai ibu rumah tangga, iapun bekerja kantoran. Apakah usianya yang hampir mendekati kepala 5 itu penyebabnya? Semula ia yakin, itulah sebabnya. Benar kata orang bahwa ketika usia bertambah maka badan akan mulai terasa mudah lelah. Tapi setelah hampir satu bulan, Bu Retno mulai meragukan kesimpulannya sendiri. Bagaimana dengan istilah “a life begin at forty”? Bukankah kalimat itu menunjukkan betapa bergairahnya hidup di usia empat puluhan?  Ada yang salah dengan dirinya. Ada yang perlu ditinjau ulang dari kegiatan hariannya. Ada yang perlu direvisi dari rencana hidupnya. Halah, rencana? Bu Retno mulai menelisik catatan otaknya dalam menyusun rencana.

Manusia butuh rencana untuk melakukan sesuatu. Apakah itu satu jam ke depan, nanti siang, esok hari, seminggu kemudian, bulan depan, tahun depan atau bahkan sepuluh tahun mendatang. Perencanaan itu berbeda bagi setiap individu, baik berbeda dalam bentuknya maupun dalam teknis pemikirannya. Sebab semua pasti sesuai dengan kapasitas plus pengetahuannya. Tapi apapun itu, sederhana atau rumit, sistematis atau pabaliut, toh semua orang punya rencana untuk hidupnya. Adakah orang yang tidak punya rencana. Seringkali orang bilang : “aku gak punya rencana”, bahkan tidak dia sadari sebenarnya ia tengah merencanakan sesuatu. Spontanitas, adalah rencana yang datang tiba-tiba. Usai terpikirkan, tahap demi tahap penyelesaian dari bentuk kerja spontan itu akan mulai terurai. Rencana spontan. Istilah aneh … Tapi begitulah, sesederhana apapun, kerja butuh rencana. Rencana adalah bahasa yang lebih teknis dari cita-cita.

Ketika sebuah rencana dapat terlaksana. selesai. Selesaikah hidup?
Kita butuh rencana lain untuk tetap dinamis. Rencana dibutuhkan untuk menjaga eksistensi kemanusiaan kita, bahwa kita ada dan manfaat.

Bu Retno mulai bercermin ulang. Kegiatan hariannya tak kurang. Kerja kantor, urusan rumah (nyuci, nyetrika, ngepel, masak plus beres-beres rumah. Ia tidak punya pembantu) menemani anak-anak belajar, mengisi kajian di masjid dan kegiatan PKK di komplek rumahnya. Itu yang disebut monoton? Bu Retno sadar, kegiatannya penuh. Tapi, ia merasa mulai jenuh. Artinya dia harus membuat rencana baru. Sebuah loncatan besar? Apa?

Di tangannya sebatang pencil dan sebuah buku kecil. Di benaknya sependar bintang … kemana akan diterbangkan?

Mimpi, cita-cita, atau rencana memang tak pernah kenal batas usia. Sejenak saja ia diam, untuk mengambil ancang-ancang berlari, bersama anak-anaknya.

Kamis, 25 Oktober 2012

“Perjalanan Aksara : (kadang tak terduga)”




Ketika hati menyimpan cerita luka, energy tersedot habis olehnya. Pikiran penat, wajah tidak nampak bagus (bayangkan wajah cantik yang tertekuk berlipat sepuluh), badan seakan habis memanggul berkarung-karung beras (emang pernah ya ngangkut  beras?). Ketika ada yang bertanya, jawabannya meninggi saja. Kasihan sang penanya, kena semprot teu pupuguh,  dan sesudahnya ada sesal dan perasaan bersalah. Tambah lagi deh masalah. Pokoknya parah!

Selalu, manusia butuh mengalir. Saat mengalir, manusia menjalani dunianya, meliuk, menyempit diantara bebatuan, menghantam karang, menembus lorong, berakrobat trapeze, apapun namanya, dengan leluasa. Atau sesekali diam dalam delta, tergantung ia perlu. Saat mengalir, manusia hidup. Tak ada luapan. Tak ada kebiri.  Semula, dengan kejam  aku menyumbat aliran itu, bahkan dengan sengaja semakin menambah sumbatannya dengan berbaik-baik kepada sang penghunus pedang, dengan harapan aku bisa membunuh rasa sakithatiku akibat ulahnya. Akibatnya, aku menerkam diriku sendiri, melumatnya habis hingga tak bisa lagi bernafas!

Sekarang, aku butuh obat. Bila sumbatan kemarin itu penyakit, maka obatnya adalah menulis, Aku tengah mengobati diri sendiri dengan menulisimu. Menulis adalah terapi.  Maka menulislah aku, membuang apapun yang  ada di kepala ke dalam keranjang besar berisi aksara.  Selain berisi sampah, kali ini aku mengisinya dengan  mutiara.  Ya, mutiara asli, kuambil dari aksara Al-quran  melalui  penelusuran struktur abjad, tersusun dari sekian waktu pergumulanku dengan mukjizat abadi yang dengan ajaib hidup secara sistemik. Guruku mengajarkan bahwa Alquran akan menjalankan sistemnya sendiri saat ia dibaca, dikaji, dianalisa, termasuk ditulis dan secara otomatis diamalkan, tanpa tendensi apapun selain karena Allah swt. Metoda ikhlas.

Secara berkala aku menulis. Kali ini menulis dengan metodologi Struktur Al-quran. Sebuah metode mengaji yang lebih intim (bagaimana menerangkan sebuah perjalanan ruhani yang memabukkan, ya?)  Mengaji, mengamati symbol, menganalisa tanda-tanda, dan mengamalkan dengan istiqomah. Aplikatif.
Ibarat perjalanan di area amnion, dan menulis adalah awal pembuahan, maka kulalui proses  sejak pembuahan, kemudian tumbuh menjadi sebuah embrio, peniupan ruh yang menghadirkan sensasi spiritual yang menggetarkan, memelihara keseimbangan emosi, hingga tiba di titik puncak  proses kelahiran dengan segala keluhan dan pengalaman mencengangkan.  Satu kelahiran telah ditakdirkan. Satu ayat seribu satu  petualangan (aku menghitung, satu ayat lebih dari sepuluh huruf, dan satu huruf mengandung 10 kebaikan, maka berapa huruf untuk 19-20 ayat? ) Aku tak punya kalimat tepat untuk semua perjalanan itu, selain :  Menakjubkan.

Kutatap hasil tulisanku.

Subhanallah …
Deretan aksara Al-Quran berpendaran, lekuknya indah, bukan hasil cetakan, melainkan tulisan tangan. Tulisanku. Dengan izinNya, telah kuikhtiyarkan syifa bagi beberapa titik anatomi tubuhku melalui proses ini. Memang tak makan waktu seharian, tetapi efeknya sungguh tak terdefinisikan.  Aku tak pandai menerjemahkan sesuatu yang seindah Al-Quran, yang ingin kusampaikan adalah proses ini membuatku sembuh. Dada lapang selapang-lapangnya …

Fabiayyi aalaa i robbikumaa tukadzdzibaan  (Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Jangan pernah merasa tak pantas untuk mengkaji Al-quran, seberapa bebalnyapun kita, sebab dengan penuh kasih, Allah swt berfirman : “Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu  pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya.” (Al-Qiyamah 17 – 19).

Ketika tak paham bahasa Al-Quran, saat kita mau membacanya, kepahaman itu akan lahir dengan sendirinya, melalui bahasa yang kita mengerti. Bahasa yang bukan aksara, bisa dalam bentuk apapun, bahkan tak kita duga. Yang pasti, usai membaca, akan tiba di sebuah jawaban. Benarkah?
Yakinlah, Allah tak pernah bohong dengan firmanNya!  “ … atas tanggungan Kamilah penjelasannya.”

Ini bukan semata untuk hati, melainkan pula untuk semua jenis penyakit yang bahkan mungkin belum ada namanya saat ini. Al-quran akan menjawab semuanya.

Apa yang kudapat sekarang?
Sebuah pencerahan …
Setidaknya untukku sendiri

                                                                                                            My library
Banyak yang ingin kusampaikan, entah kumulai darimana





Rabu, 11 April 2012

Think to be positif

Hari masih muda, mataku perih. Barangkali sisa kemarin, ketika persediaan air mataku ambrol di tengah ruang kerja yang dipenuhi berkardus-kardus buku baru yang tiba hari itu.
Aku tidak akan bercerita tentang kejadian kemarin.

Biarkan saja episode itu disapu angin dan hujan lebat. Biarkan saja menjadi masa lalu, tak akan diingat, meski kusadar itu akan menjadi sesuatu yang memperkaya jiwa, satu saat nanti. (Itupun bila kisah beberapa menit hari itu mampu kurewind, aku sendiri sangsi. Aku bukan tipe orang yang mampu menyimpan dan mengingat luka sedemikian apik, syukurlah). Aku tipe orang yang hanya mau melihat sisi positif dari setiap kejadian. Bagi sebagian orang, itu bagus, tapi ada pula yang beranggapan bahwa aku terlalu kuat membentengi diri sehingga tak mau melihat sisi negatif yang sesungguhnya bisa dijadikan antisipasi.
Angkat bahu saja ... This is me!
I am positif thinking. Dan itu membuatku lebih bahagia

Selalu mampu memandang sisi positif dari kejadian segelap apapun, adalah salah satu cara menemukan solusi.

Hari ini, masih muda. Ada jam-jam polos menanti untuk diisi.
So, mari nikmati hari dengan senyuman

Jumat, 30 Desember 2011

galau

menulis tentang apapun muaranya adalah menujuMU, ya Allah
tetapi pagar tinggi ini kemudian membuatku terhijab dariMu
benar aku makhluk tak pantas untuk Kau pandang
tetapi aku hanya ingin mengatakan betapa aku kerap meninggalkanMu
dalam perjalanan yang sejatinya adalah ke arahMu semata
dalam kekhusyuan aku kerap terbelenggu rasa
yang datang bukan dari Cahaya
kedunguan ini yang mengerangkeng pemahaman tentang betapa hidup adalah perjalanan terjal
antara jurang tebing dan badai tak henti menerjang
tetapi seringkali bukan itu yang menjatuhkan
melainkan semilir biru yang datang di tengah lelah
membuatku terpejam
tak lagi melihatMu

duhai Cahaya
jangan biarkan kelam itu menyelimuti jalanku
agar ke arahMu itu tetaplah tujuanku
meski sejatinya kelam atau riang
tak pantas jadi alasan untukku menghentikan langkah menujuMu

maka
aku pasrah saja sekarang
dengan tetap percaya
Engkau selalu ada untukku

Rabu, 21 Desember 2011

kabarkan pada angin, aku luka

menatapi semut beriringan di dinding tembok, mengalun 'what is the youth' dari compact di pelukan, menakar hati yang risau, adakah lagi waktu kan terbang? aku ingin tiba-tiba memiliki sayap, terbang menuju nirwana, adakah semut disana, dinding tembok yang mengapung? andai saja waktu henti bernafas, akan menjelma apakah musik di telinga? serupa semut yang berjabat erat atau hati yang terkoyak belati?

duhai ... gerangan apa lagi kata yang pantas untuk mengabarkan pada langit kalau aku tengah terluka, berdarah-darah dalam sunyi yang pekat, sedang sayap tak jua hinggap

untukku terbang meninggalkan pekat yang dendam


sorry, aku benci kamu

jangan hampiri aku sebab tak ada ruang kosong untuk menyimpan mangkukmu
simpan saja kuemu di lapak seberang
atau donasikan kepada murai
yang terbang rendah menunggu jatah

sorry, aku lelah
tak ada tempat bagi istirahku sebesar apapun istana yang kau bangun
percuma kamu hiasi dengan pualam

aku tak bisa katakan kenapa
sebab akupun tak tahu kenapa aku begini

jadi
sorry, aku benci kamu
menjauhlah

Senin, 05 Desember 2011

... solilokui ...


ruang kosong itu menganga ganas, siap menerkam sesiapa yang tak siap memasang kuda-kuda. pagi menyergap di ujung pematang, sedang petani sesiang ini belum juga siuman. langit tak pernah mau menunggu angin, tak ada satupun yang siap menunggu untuk sebuah ketidakpastian,
hidup adalah ketidakpastian itu

mengapa selalu ada ruang kosong yang disiapkan alam sehingga selalu saja ada yang terjebak didalamnya, bahkan terperangkap tak mampu keluar?
duhai alangkah bebalnya ia yang terjerembab beberapa kali
apakah hidup tak memberinya nilai?

Sabtu, 19 November 2011

Lepas Asar, Alia dan Cahaya


Lepas asar hari itu, Alia tepekur dalam diamnya. Sebuah lintasan kejadian tadi siang menelikungnya.

Ada yang salah, bisiknya cemas.

“Ini dia orangnya. Bacaannya indah, suaranya merdu,” sang guru memuji dengan bahagia, tadi siang.

Sungguh, Alia merasa bangga dan tersanjung. Hatinya mekar, dadanya melayang bersama tatap kagum teman-temannya. Betapa manisnya buah kerja keras yang ia tempuh selama proses belajarnya yang tak kenal putus.
Sampai sore tadi, Alia merasa betapa beruntungnya ia, sebab Allah telah membimbingnya hingga ke tahap ini.
Sungguh, nikmat Allah yang mana lagi yang ia dustakan?

Alia bangga …

Dan dengan penuh rasa syukur ia berkisah pada teman-temannya tentang perjalanannya hingga tiba di tahap pemahamannya itu.

Lepas asar, usai sholat ditegakkan, hati ditundukkan, jiwa direbahkan, dan doa dipanjatkan, Alia tertelikung sendiri.

Ada yang salah...
Shadrnya berdentum, qalbunya gelisah, fuadnya mendakwa. Ada sirr yang membisikinya. Alia perlu mencari kekuatan.

Alia membuka mushaf, lalu terpaku di sini :

“Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan
hawa nafsunya sebagai tuhannya.
Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?”
( QS Al-Furqon : 43 )

Alia sedih, sangat sedih …

Ia telah dengan sukses diperdaya syahwatnya. Sungguh, betapa syahwat itu sangat kuat, ganas dan gesit, tapi sangat halus, sehingga sulit mengetahui kalau dia sedang menyerang. Siang tadi, Alia diserang dengan telak! Oleh syahwatnya sendiri. Alia telah dengan bangga menerima semuanya, padahal bisa apa dia tanpa Tuhannya? Semua kemampuan yang dimilikinya bukanlah miliknya, pujian itu sejatinya bukan dialamatkan padanya. Alia hanya dimampukan oleh Tuhannya, dititipi sedikit ilmu, lalu mengapa Alia merasa bangga? Padahal semua itu bukanlah miliknya?

Alia malu …
Tadinya ia hanya ingin masuk kategori firman Allah :

“dan terhadap nikmat Tuhanmu,
maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)”
( QS Ad-Duha : 11 )

Duhai …
Alangkah tipis batas antara haq dan bathil. Betapa syahwat bangga diri demikian rakus menerkam sisi lemah bilik ruhaninya.

Lepas asar hari itu, Alia menerima pengajaran kembali di jenjang ke sekian hidup fananya.
Alia harus lebih cerdas dan waspada!
Ia tersentak, ada yang berbisik di hatinya : "Dengan ilmu, Alia. Dengan ilmu engkau bisa lebih faham."

Ia ingat satu nasihat :

Tidak ada yang mampu menundukkan dan menjinakkan semuanya, kecuali dengan ilmu.
Bukan, bukan ilmu yang ada di kepalamu, sebab apa guna ilmu yang hanya sekedar hafalan.
Tapi ilmu yang ada di hati, sebab ia sudah menjadi karakter dalam diri.
Allah menyindir orang berilmu yang tidak menjadi manfaat bagi dirinya
seperti keledai yang membawa tumpukan buku di punggungnya.
Ilmu itu seharusnya menjadi karakter, bukan sekedar hafalan.
Memang tahapannya baca, hafal, laksanakan dan rasakan, kemudian menjadi karakter.
Bersabarlah kawan, ilmu dari otak untuk sampai ke hati
Butuh istiqomah.
Perkuat alasanmu, kenapa kau melakukan itu.

( “Belajar Menuju Ihsan” – Bambang Achdiat )


Lepas Asar hari itu, Alia mendapat Cahaya ...

Rabu, 05 Oktober 2011

di ujung puisi, waktu memburu


dan malampun berlari
meninggalkan bulan sepasi di ujung puisi
ada denting yang menua
antara sekian aksara dalam keranjang jiwa
adakah lagi pagi akan tiba?

waktu tak lagi bisa dipercaya
setiap ia kusebut
setiap itu ia tak lagi serupa
lalu aku terdiam di sini
sedang malam telah berlari sedari tadi

aku tertawan
aksara itu menyekap
"Demi waktu!"

aku sungguh tertipu
oleh waktu yang terus memburu

Ya Allah ...
akan sampai pagi lagikah ...??

Rabu, 28 September 2011

Even Book Your Blog, Mariiii ...


Pertama tahu informasi ini dari blognya Anazkia. Jujur, saya tidak begitu tertarik. Bukan apa-apa, lebih karena tulisan di blog saya melulur tentang curhatan dan kontemplasi yang biasa-biasa saja. Jadi, saya pikir, gak pantes lah ngikut even ini. (ceritanya sih nyadar ... tapi kok kayak pesimis ye?!)

Selang beberapa hari (juga setelah Ana bilang gak apa2 teh gak sistematis juga yang penting ikut) saya putuskan untuk : Bismillahirahmaanir rahiim, IKUT!

Maka inilah salah satu tahapan yang harus dilakukan.
Kepada teman-teman semua, yang tertarik, yuk kita meriahkan even ini. Mumpung ada kesempatan. Siapa tahu blog kita beruntung bisa dibukukan. Saya copas saja ya untuk kalian.
Ini info selengkapnya :

Book Your Blog
Media cyber kini menjadi alternatif populer untuk menyalurkan hobi, pemikiran, bahkan curahan hati . Salah satunya melalui blog. Dengan media ini, kamu bisa mengekspresikan diri , khususnya melalui tulisan. Bagi kamu yang merasa memiliki blog yang “kamu banget” ayo ikutkan ke lomba Book Your Blog ini!
Bagi cerita seru di blogmu ke orang-orang dengan cara dibukukan. Buat pemenang, isi blog-nya akan dibukukan dan diterbitkan GRATIS oleh Leutika Prio Self Publishing, serta dipasarkan secara online.


Leutika Prio adalah lini self publishing dari Leutika Publisher yang menyediakan berbagai macam paket penerbitan dengan sistem mudah dan harga terjangkau www.leutikaprio.com. Self Publishing merupakan alternatif baru menerbitkan buku dengan lebih praktis dan tanpa seleksi. Para penulis tidak perlu repot membuat cover, mengurus ISBN, dan teknis buku lainnya karena Leutika Prio menyediakan layanan edit aksara, cover, layout, ISBN dan konsultasi yang telah disusun pada paket-paket penerbitannya. Penulis juga tetap mendapatkan royalti sebesar 15% dari harga produksi. Misi dari penerbit ini adalah mengajak sebanyak mungkin orang untuk menulis dan berbagi inspirasi pada para pembaca.


SEGALA JENIS BLOG boleh diikutkan di lomba ini. Blog umum, kisah sehari-hari, kesehatan, wisata, kuliner, fesyen, pendidikan, politik, kesenian, film,fiksi, dll asal tidak mengandung SARA dan pornografi. Jadi tunggu apa lagi, daftarkan sekarang :)


Caranya mudah banget!
Tulis tentang event ini beserta logo event di blogmu dengan bahasamu sendiri, diberi tag #bookyourblog
Pasang link website http://www.leutikaprio.com/ di blog kamu (di blog scroll)
Kirimkan alamat blog kamu ke eventleutika@hotmail.com
Tulis sinopsis blog kamu dalam 250 kata Ms Word. Sertakan nama, nama pena, TTL, alamat, nohandphone, alamat e-mail, akun FB, akun twitter. Kemudian attach file ke dalam e-mail.
Tulis “Book Your Blog” di judul e-mail.


Blog seperti apa yang bisa menang?
Inspiratif, berisi cerita-cerita yang dapat menjadi inspirasi bagi orang lain.
Tidak mengandung SARA dan pornografi.
Berkarakter, konsisten berisi materi-materi yang terkonsep dan orisinil.
Apa Hadiahnya?
Dipilih 3 blog terbaik untuk mendapatkan:
Tulisan-tulisan di blog kamu akan diterbitkan GRATIS dalam bentuk buku oleh Leutika Prio
Royalti 15% dari harga produksi
Paket buku dari Leutika Publisher
Bagi yang belum terpilih tetap mendapatkan diskon paket penerbitan sebesar 20%.
Deadline : 30 September 2011
Website:
http://www.leutikaprio.com/
Twitter: @leutikaprio
Fanpage FB
http://www.facebook.com/leutikaprio /
http://http://

Senin, 26 September 2011

Selipat Pagi dan Seutas Cermin, Tentang Alia ...


Pagi menyeruak diam-diam, angin bergeming.
Alia terjaga, terpaku di ambang sadarnya. Pukul 03.10. Ada yang membangunkannya. Apa? Dikumpulkannya ingatan yang sempat hilang tadi malam. Hilang oleh batas yang dibangun antara jaga dan impian. Dilisankannya doa, lalu semuanya terkumpul begitu saja.

Cermin di kamarnya berbicara tadi malam. Hidupnya demikian memabukkan, dengan seribu satu aroma mawar tanpa duri. Orangtua yang bahagia, adik kakak saling menyayangi, tetangga baik, sahabat setia, kakek nenek penuh kasih, wajah tak membosankan untuk dilihat, perilaku yang terjaga, ekonomi tak kekurangan dan seribu satu alasan orang untuk cemburu.

“Apa itu salah?” gugatnya bingung. Biasanya cerminnya ngikut aja apa maunya.
“Salah? Terkadang hidup bukanlah soal benar dan salah,” lembut warisan buyutnya yang sudah mengisi kamarnya sejak ia berani tidur sendiri itu berkata.
“Tidakkah kamu ingin berterimakasih?”
“Kepada ...?” alis semut beriringnya bertautan indah. Sang cermin memantulkan keseluruhan dirinya tanpa bias sedikitpun. Sungguh sebuah pemindaian sempurna yang hanya berubah saat retak.
“Menurutmu ...?” Bayangannya seolah mengejek. Berapa puluh tahun kau hirup energi yang disediakan langit buatmu. Masih saja benakmu mati oleh hal yang sedemikian sederhana.

Alia tersengat.

“Hidupku, ia datang lalu aku meraihnya, tak kubiarkan ia hilang begitu saja. Bahagia, aku sendiri yang perjuangkan. Ayah ibu, mereka malah bersyukur punya aku. Aku bukan orang yang demikian bebalnya hingga tak pernah berterimakasih bahkan kepada yang menyebabkan semua ini terjadi. Bila Tuhan yang kau maksud,” jelas-jelas Alia jengkel, merasa diuji. Sejak kapan cerminnya lebih pintar ketimbang dia. Noda sedikit saja tak bisa ia bersihkan sendiri. Tangan Alia ini pembersih kilapnya. Setiap waktu.

Ada pendar yang menahan senyum di wajah cermin.
Alia menunggu. Hanya bayangannya yang innocent. Pendar itu cuma sekejap.
Alia geram.

“Tuhan. Aku tak pernah melupakanmu. Tanpa perlu cermin sok tahu itu mengajari, aku tahu”

“Ha ha ... bersama hatimu jugakah, Alia?” tawa cermin membahana seantero kamar.
Sekuat tenaga Ali timpuk dengan bantal. Dasar cermin sok tahu!

Malam itu Alia diam semalaman. Menatapi dirinya, hidupnya, kesehariannya, cita-citanya, hidupnya. Alia menerawang ke sekelilingnya, menatapi teman-temannya, orang-orang sekota, sekampung, senegara. Secara alami mereka semua menjalani garis hidupnya. Dengan segala baik buruknya, sedih senangnya, warna warni dunia geraknya. Alami. Tak ada yang perlu diributkan. Sesekali riuh, sesekali badai, sesekali menggugat, adalah kewajaran. Sungguh, hidup di mata Alia demikian simpel dan jauh dari njelimet. Hatinya ringan saja.

Malam itu Alia menelisik lebih dalam. Cermin itu alasannya.
Perjalanan malam ia lakoni. Mengingat ibu, merasai cinta, menghayati kesendirian, memaknai keterdiaman, menelusuri lorong tak beridentitas. Menyusuri tepian hati, masuk perlahan, diam-diam makin ke dalam, melewati palung hingga ke dasar.

Dan Alia menemukan sesuatu yang asing.
Matanya meneteskan airmata jauh dari kedalaman yang tak ia kenali. Tak bisa dilerai, tak mampu ditahan. Alia tersedu oleh sebab yang tak ia ketahui. Entah darimana semua itu datang. Bahkan Alia baru menyadari betapa berlimpah persediaan tangisnya. Justru oleh sebab yang ia tak tahu.

Ketakutankah? Alia tidak sedang merasa ketakutan.
Penyesalankah? Sesal yang tak ia ketahui oleh sebab perilakunya yang mana.
Kesedihankah? Sedih yang datang tiba-tiba oleh sebab yang ia tak tahu.
Seribu satu jawab yang ia ‘pantaskan’ untuk alasan mengalirnya airmata. Tak jua memenuhi syarat bagi sebuah jawaban yang ia inginkan.

Alia terkapar sendirian. Cerminnya menatap diam. Hingga pagi.
Alia terjaga, terpaku di ambang sadarnya. Pukul 03.10. Ada yang membangunkannya. Apa?

“Tuhan. Yaa Allaaaahhh .....” lisannya seketika bergerak. Digerakkan oleh sesuatu Yang Tak Terindera. Alia tak berdaya.

Pagi menyeruak diam-diam, angin bergeming.
Alia bangkit, hatinya bergumam, “Sombongnya aku berkata tak pernah melupakanMU, padahal sejatinya aku baru saja mengenalMU. Baru saja, ya Allah ... Itupun karena Engkau yang menghampiri. Dalam diamku, dalam ketidaktahuanku, dalam pencarianku. Saat aku tertatih, Engkau berlari memelukku. Yaa Allaaaaah .......”

Pagi menyeruak diam-diam, embun menetes satu satu, ada tangis Alia dalam genggamanNya.
Seutas cermin memantulkan cahaya.
Ada GERAK yang menyebabkan semuanya terjadi.

Sungguh Allah Mahameliputi sesuatu.
Pagi, cermin, Alia ... semua dalam Genggaman

Selasa, 13 September 2011

"Bu, Aku Mau Al-Fatihah ..."

Siang itu, ponselku berdering ... Suara suamiku terdengar dari seberang.

"Cici perlu ibu sekarang ..." Ok, aku pulang.

Tiba di rumah, puteri kecilku menyambut dengan buku di tangan. Kerudung pink nya melambai tertiup angin kemarau yang dingin.

Senyumnya lebar ditambah wajah cemas. Ada apa?

"Ibu, Cici masuk lima besar. Finalnya sekarang ba'da Dhuhur," serbunya tak sabar.

"Alhamdulillah ..." kupeluk tubuh berbalut baju pink, sambil kulirik jam. Pukul 11.58. Hanya ada kesempatan kurang dari satu jam untuk menghafal naskah pidato yang baru.

Pagi tadi, dia bersama teman-teman pengajian dan pembinanya, pergi ke kampung sebelah untuk mengikuti lomba dalam rangka mengisi Bulan Ramadhan. Dalam lomba di tingkat kelurahan itu dia ikut bidang Da'i Cilik.

Persiapan sudah dilakukan. Alhamdulillah lancar. Dan kini ...

"Materinya harus baru, Bu. (Naskah) yang dari ibu panjang. Cici gak bisa ngafalin cepet. Kan musti sekarang," serunya cemas.

Tadi pagi memang aku menyiapkan naskah kedua, jaga-jaga bila dia masuk final. Maklum persiapannya mepet dan pemberitahuan harus dua naskah baru diperoleh tadi malam, sedangkan anakku masih harus manggung dulu. Manggung dalam rangka memperingati kemerdekaan plus buka bersama.

Aku mendengarkan dengan sabar. Lalu?

"Yang ini aja, Bu," ia sodorkan buku catatan bekas kelas 3. Sekarang ia kelas 4 SD.

"Cici mau bacain arti surat Al-Fatihah aja."
Keningku berkerut. Dia kan mau lomba pidato, bukan saritilawah ...

Melihat ekspresiku, ia merajuk. Subhanallah, pintar sekali dia membaca wajah ibunya.

"Buu ... aku mau Al-Fatihah aja!"

Tiba-tiba, Allah mengingatkanku pada buku-buku parenting tentang pengasuhan anak dan efek pemaksaan kehendak orangtua yang seringkali berdampak buruk bagi anak. Biarlah anak nyaman dengan pilihannya, maka segala macam potensinya akan keluar dengan optimal. Dia tidak akan merasa terbebani dengan segala macam tetek bengek yang 'tak penting'. Saat ia dijejali informasi sementara jiwanya tak siap, maka hasilnya adalah bencana. Bencana bagi jiwa anak. Bencana bagi perkembangannya. Padahal sekecil apapun sebuah memori, ia akan terus tertanam dalam jiwanya dan terbawa hingga ia dewasa. Aku tak mau menorehkan 'tinta hitam' dalam hatinya. Maka ...

"Oke ..." seruku riang. Kuperbaiki sikapku."Mana bukunya, kita liat, seperti apa Cici kali ini. Yuk latihan. Siap?"
Anakku melonjak kegirangan. Dengan semangat ia mulai.

"Asalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh ... bla ... bla ..."

Dengan lancar surat Al-Fatihah bersama artinya mengalir deras dari mulut mungilnya. Tajwid dan makhorijul hurufnya indah. Aku hanya perlu menambah serba sedikit, dari mulai retorika sederhana, senyum (yang memang sudah alami nempel terus di wajahnya) dan beberapa informasi tentang nama lain surat Al-Fatihah (itupun saya sunting dari buku catatannya).

Usai sholat Dhuhur, ia 'terbang' ke masjid dimana teman dan yang lainnya telah menunggu. Ada tiga orang finalis dari masjid komplek kami. Yang lain dari bidang Tahfidz (hafalan) Qur'an.

Sesuai keinginannya, aku mengantar mereka ke tempat lomba dan menungguinya.

Tak lupa kusertakan doa, agar kiranya Allah Yang Mahalembut meridloi langkah kecilnya.

"Anakku akan menyampaikan kebenaran ayatMu, ya Allah. Tolong lancarkanlah semuanya. Jadikan ia pemenang."

Pemenang adalah ia yang mampu bersyukur saat berhasil dan bisa tetap bersabar saat gagal. Dan aku ingin anakku bisa melewati keduanya.

Ini memang hanya sebuah perlombaan kecil untuk melatih keberanian, tapi dampaknya akan membekas hingga besar saat ia dapat melewatinya dengan gembira dan berprestasi.

Dan hasilnya ...

Cici tampil penuh percaya diri, menjadikannya mampu menguasai panggung. Dan ...
Subhanallah, ia keluar sebagai juara pertama.

Ud'uuni astajiblakum. Berdoalah, maka akan Aku kabulkan.

Mahabenar Allah dengan segala firmanNya.

Hari itu aku belajar banyak dari puteriku.
Hari itu aku berguru kepada Allah.
Tentang melatih menekan ego orangtua. Tentang berserah diri. Tentang mengiringi tumbuh kembang anak. Tentang kesabaran dan keikhlasan.

Senin, 15 Agustus 2011

aku mau setiap hari adalah Ramadhan


aku mau setiap hari adalah Ramadhan
sayang Rasulullah yang mulia tak pernah memperkenankannya
barangkali memang harus selalu ada jeda
bagi setiap perjalanan
menuju-NYA

padahal ruh
tak pernah mengenal kata istirah
selain saat Izrail mencabut

telah tiba dimanakah kini
sang ruh
yang menggeliat gelisah
setiap dentang membuncah waktu

aku mau setiap hari adalah Ramadhan
biar lepas segala keterjagaan
menerbangkan ruh ke Pintu Cahaya
meski oleh sebab debu lekat yang menggelayuti
ragaku tertatih semata
mencari dimanakah Pintu?




Kamis, 11 Agustus 2011

Dalam Renjana Berselimut Khouf dan Roja’

Sudahkah kukabari engkau tentang hatiku hari ini?
barangkali memang tak penting
tapi bukankah berpuluh kitab berkisah tentang cintamu yang lebat
terhadap nasib kami sepeninggalmu,
Wahai “yang lembut hatinya”?

Maka kupastikan
Engkau bersedia mendengar gumamku, lagi
Tentang renjana berkait khouf
Yang menelikung shadr-ku
Hampir setiap masa
Teristimewa di shaum ini
Padamu, wahai Bapak wanita penghulu surga

katanya aku itu pencintamu
katanya setiap saat kusebut engkau, di hatiku, di lisanku, di hadapan anak-anakku
agar merekapun mengenal, mencintai dan merinduimu
Katanya, kataku juga
kuikrarkan semesta ruhku rebah beserta kemuliaanmu
semata menahbiskan diri akulah diantara jutaan pengikutmu

Dalam renjana ku bershalawat
dalam khouf dan roja’ ku mengirim salam
benarkah aku ini terbilah dalam barisanmu kelak?
ataukah kesombonganku jua mengaku-ngaku sahaja?

Duhai Cahaya Swarga
menjelang Izrail menjemput, lisanmu tak henti bergumam
“Ummati … Ummati …”
Kegelisahanmu berabad lampau tentang kami
masih menggema bak gelombang alpha yang terurai
mku masih saja mendekap asa engkau memelukku dan berkata
“engkau ummatku ...”

Ya, aku sungguh takkan sanggup menghirup waktu
andai engkau berpaling
aku bersaksi atasmu
dalam renjana ku bershalawat
dalam khouf dan roja’ ku mengirim salam
mendekap harap engkau sudi menerima salamku
dan mengusap ubun-ubunku

Selasa, 09 Agustus 2011

di hari ke sembilan

Ibarat musafir di padang pasir, rindu mata air.
Ini hari ke 9, apa yang salah dengan diriku, hatiku, niatku, keseluruhan aku? Tergeragap aku di bilah pertama. Artinya aku harus henti sejenak, menatap cermin mengaca jiwa. Ada yang salah di awal shaum, sampai-sampai aku tak lagi menjadi aku yang kemarin ...
ah, iyakah aku merapuh?

Aku buka hanca mushaf, berharap melaluinya Allah tiupkan Cahaya, menembus hingga ke dasar, kemudian membuka keseluruhan isiku, lalu aku mengerti apa yang tengah terjadi. Inginku satu, jawaban.

Juzku mengabariku tentang aku. Allah menuntunku untuk mengenaliku sendiri. Melalui alif ba ta aku faham tentang aku. Tentang kekuatanku, tentang kelemahanku. Dalam beberapa hal ruhku dikuatkan Allah melalui juzku.

Tapi hari ini, di hari ke 9 shaum ini, aku difahamkan, bahwa ini adalah shaum terberat dalam berjihad, mengelola nafsu yang membuncah hampir meledakkan dada. Dalam setiap kesempatan selalu saja ada yang membuat lisanku istighfar, hati koyak dan rasa tak terindera. Bahkan oleh hal yang (biasanya) tak mampu membuatku goyah, kali ini bahkan hampir merusakkan shaumku. Astaghfirullahal'adzim ....

Kini terdiam aku, sementara mushaf terbuka dalam bacaan tartil yang hening. Biasanya hal tersebut membuka luas jendela jiwa, melapangkan shadr serta memberi luang pada qalbu, lalu mengalirlah sungai kejernihan. Allah telah menurunkan Nur-nya.

Kini, aku tertatih kembali, terus-menerus meluruskan niat, dalam setiap helaan nafas. Ternyata memang melawan diri sendiri sungguh sebuah perjuangan terberat, jalan terjal yang membutuhkan semangat membara tiada henti, melawan bisikan dan terjangan syaiton yang tak lelah menelusup hingga ke pori-pori iman.

Aku tahu Engkau tengah membelaiku, agar aku meniti tangga ke kemuliaan. Itupun bila aku mampu dengan benar melewatinya. Ya Allah, mampukan hamba ...

Ya Allah, masukkan hamba pada golongan orang-orang yang Kau naungi pada hari dimana tak ada lagi naungan selain naunganMu. Lindungi hamba, kuatkanlah hamba dan masukkan hamba pada golongan orang-orang yang beruntung. Aamiiin

Kamis, 21 Juli 2011

... entah ,,,

Aaargh ....
aku harus menulis apa?
bila setiap hari televisi menyiarkan berita saling tuding
mempertontonkan 'kejujuran'nya sendiri- sendiri

semuanya benar
katanya
yang lain bohong
katanya

lalu aku harus percaya siapa?
sedang di sebelahnya sederet kereta menarik gerbong berisi anak-anak lapar

inikah negeriku?

Jumat, 06 Mei 2011


Selalu ada hikmah dari sebaris cerita hidup, apapun kisahnya.

Pada mulanya barangkali hanya penggalan perjalanan, tapi di satu titik kita akan tahu bahwa itu sebuah pembelajaran, sebuah tahapan menuju tingkatan lebih tinggi, dalam hidup. Dan pada akhirnya melahirkan kematangan. Di titik itulah kita paham maksud Tuhan.

Sahabat, aku ingin berbagi. Kurang lebih setahun lalu, seorang sahabat blogger, Anazkia, mengadakan lomba menulis. Dan, karya pemenang lomba tersebut kemudian diterbitkan dalam sebuah buku berjudul : Blogger Berbagi Kisah Sejati.

Alhamdulillah, tulisanku ada di antaranya.

Tertarik membaca dan membelinya?
Silakan pesan ... !!

Mangga .. mangga ..


===============

Blogger Berbagi Kisah Sejati
Penulis : Anazkia, Akhi Dirman, Naqiyyah Syam, dkk
Penyunting : Indiepro
Tata Letak : Indiepro
Cover : Indiepro
ISBN : 978-602-9142-09-9
Ukuran : viii + 177 hlm; 14x 21 cm
Harga : Rp 35.000 (belum termasuk ongkos kirim JNE dari Tangerang)

“Kisah sejati selalu ada di setiap kehidupan manusia, hal yang manusiawi mengingat setiap orang menjalani keunikan hidupnya dengan takdir masing-masing. Andai ada kekecewaan dalam kisah sejati tersebut, perlu diingat bahwa setiap orang pasti melewati fase kekecewaan dalam hidup dengan bentuk apapun dan sebahagia apapun terlihat orang lain, jadi tidak perlu iri melihat kebahagiaan orang lain. Selamat belajar kehidupan dari kumpulan kisah sejati ini :) ”
Ari Wijaya, Penyiar Radio 103.4 DFM Jakarta, Founder Komunitas Blogger Multiply Indonesia


Buku ini berawal dari lomba menulis untuk para blogger yang mengangkat tema “Berbagi Kisah Sejati”. Dari ajang tersebut terpilihlah para blogger yang akhirnya naskahnya dibukukan sebagai dokumentasi, juga kenang-kenangan. Juga menjadi pelajaran, bahwa beragamnya kehidupan, itu penuh dengan warna suka dan duka. Tak semestinya kesedihan itu berpanjangan, ada kalanya sedih berujung pada kebahagiaan.

Dua puluh lima kisah sejati para blogger, yang kadang tak sedikit menguras air mata saat membacanya. Di sini, dalam buku ini, ada blogger, berbagi kisah sejati.

==========================

Tertarik dengan buku ini? Silakan pesan via SMS ke 085694771764 dengan Format : Nama, Alamat Lengkap, Judul Buku yg dipesan, Jumlah pembelian. Lalu Indiepro akan mengkonfirmasi ongkos kirim ke alamat kamu.

Setelah itu, kamu bisa transfer uang pembelian + Ongkos kirim ke no rekening berikut ini :

BCA no 0080346719 an Endah Widayati atau
BSM no 6007006333 an Dani Ardiansyah

Setelah itu, kamu bisa konfirmasi ke no tadi bahwa kamu sudah melakukan transfer.