Sabtu, 26 Maret 2011

Earth Hour : Tindakan kecil dapat membuat perubahan besar.


Padamkan lampu yang tidak perlu, satu jam saja, malam ini.

Earth Hour adalah sebuah kegiatan global yang diadakan oleh WWF (World Wide Fund for Nature, juga dikenal sebagai World Wildlife Fund) dan diadakan pada Sabtu terakhir bulan Maret setiap tahunnya yang meminta rumah-rumah dan perkantoran untuk memadamkan lampu dan peralatan listrik yang tidak perlu selama satu jam untuk meningkatkan kesadaran atas perlunya tindakan terhadap perubahan iklim. (Wikipedia)

Sabtu, 19 Maret 2011

FF 100 kata "Long Distance Love" : Reuni

Rinda memeluk erat sahabat masa kecilnya.
"Aiih, Mirna, apa kabar?"
"Alhamdulillah, kamu masih saja mungil, Nda. Hai hai dikau belanja banyak amat. Mau selametan, ya?"

Dua bersahabat itupun asyik bernostalgia.
"Kamu masih ingat Fajar?" tanya Rinda mengulum senyum.
"Wah, bukannya dia menikahimu?"
"Tidak lah, aku mengundangnya di selametan pertunangan putri sulungku. Kamu dateng juga, ya. Awas kalau gak datang. Ajak juga suami dan anak-anakmu! Kita bisa sekalian reunian.

Mirna terdiam.
"Awas, jangan cari alasan gak datang!" Rinda mengancam.
"Oke, aku usahakan."

Tiga hari kemudian, di pesta itu, Mirna terhenyak, tubuhnya bergetar, saat melihat tuan rumah, papanya Santi, suami Rinda, adalah suaminya!

Jumat, 11 Maret 2011

Cahaya Di Atas Cahaya

Cahaya di atas cahaya ...
Cahaya berlapis. Saat sebuah cahaya berpendar, cahaya di dalamnya turut bersinar kemudian saling memantulkan. Berkilau, terang dan benderang. Cahaya dalam sebuah ruang tanpa sekat tanpa lubang. Benderang!

Sebuah keadaan yang sulit digambarkan, tetapi kuyakin dapat dirasakan. Oleh siapa?
Oleh mereka yang dipilih Allah karena inti dalam hatinya tak lagi terhijab. Tak terhalang oleh nafsu, tak terhalang oleh keinginan selain Tuhannya.

Aku ingin tiba di sana.
Di "nuurun 'alaa nuurin" cahaya di atas cahaya.

Ketika perjalanan telah tiba di titik ruhani, tiada lain selain ruh, merdeka dari segala macam keinginan serba materi. Cahaya itu akan bersinar dalam inti hati. Dalam keadaan apapun, dimanapun, di hati hanya ada Tuhan.

Ya Allah ...

Jumat, 11 Februari 2011

... kematian ...


Kematian adalah sebuah keniscayaan, meski ia selalu menjadi misteri bagi manusia. Seperti membidik awan, tak pernah seorangpun mampu membidik dengan tepat, sebab awan keburu hilang atau bergeser. Kematian tak bisa diminta atau ditolak. Seperti mengejar matahari, tak seorangpun bisa memilih kapan ia harus 'berhenti'. Jangankan memilih waktu dan tempat, menduga kapan kematian tiba pun tak seorangpun diberi kemampuan oleh Sang Pemilik Ajal.

Bilapun ada yang bisa melihat tanda-tanda kematian, Allah Azza Wajalla hanya mengilhamkannya serba sedikit. Tak ada yang bisa menduganya dengan tepat. Maka, disinilah barangkali letak alasan mengapa kematian menjadi sebuah hal yang menakutkan. Menakutkan karena ketidaktahuan, menakutkan karena tak terraba dan tak terindera. Menakutkan karena manusia tak dimampukan untuk tahu.

Tapi benarkah ia memang pantas ditakuti?

Kematian atau ajal adalah akhir dari kehidupan, ketiadaan nyawa dalam organisme biologis, begitu wikipedia menerangkan.
"Setiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami, kamu dikembalikan" demikian Allah berfirman dalam Al-quran surat Al-Ankabut : 57)

Semua makhluk hidup pada akhirnya akan mati secara permanen, baik karena penyebab alami seperti penyakit ataupun oleh sebab tidak alami seperti kecelakaan. Kelak, setelah jasadnya dikuburkan ia akan mengalami proses pembusukan. Tubuh yang semula demikian indah, akan berakhir dengan menjijikkan.

Andai saja Allah mau, dengan mudah tak akan Ia hancurkan tubuh indah manusia lalu membusuk dan kembali ke tanah. Tapi, selalu saja ada Kehendak di balik segala kejadian.
"Katakanlah : Sesungguhny kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kami, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan." (QS Al-Jumu'ah : 8)

Akhir kehidupan yang sangat dahsyat yang menunggu kita, semestinya makin memahamkan diri bahwa kita bukanlah hanya tubuh semata, melainkan "jiwa" yang dibungkus dalam tubuh. Dengan kata lain, manusia harus menyadari bahwa ia memiliki suatu eksistensi di luar tubuhnya. Bahwa kematian tubuh akan segera terjadi. Tubuh yang demikian indah ini satu saat akan menjadi makanan cacing. Sedang eksistensi manusia di luar tubuh, ia akan kembali kepadaNya. Ruh kitalah yang akan tetap hidup. Ruh inilah yang akan menghadap Allah. Ruh inilah yang akan pulang ...

Maka bila memang kematian pantas untuk ditakuti, apa yang sudah kita lakukan untuk menghadapinya?

Katakanlah: “Lari itu sekali-kali tidaklah berguna bagimu, jika kamu melarikan diri dari kematian atau pembunuhan, dan jika (kamu terhindar dari kematian) kamu tidak juga akan mengecap kesenangan kecuali sebentar saja.” (QS. Al-Ahzab:16)

Maka sudahkah kita memiliki bekal untuk pulang?

Wallahu a'lam bishawab

Sabtu, 05 Februari 2011

monolog lagi

Berpuluh tahun Allah menitipkan ruang dan waktu untuk kurajut menjadi sebentuk manfaat bagi bumi dan kehidupan fana.

Berbilang tanda yang telah diisyaratkan olehNya sebagai penuntun jalan, meski hanya sedikit saja yang mampu kufahami.

Tak terbilang cinta yang telah Ia turunkan sebagai bekal mengisi rangkaian hari-hari kirimanNya, untuk diestafetkan pada sesama dan seantero bumi.

Lalu mengapa cinta itu kemudian hanyut ditelan kepandiran berbongkah hati yang bebal memberi makna pada setiap isyaratNya, yang paling jelas sekalipun.

Benar ...
lisanku demikian fasih menyebut asmaNya
hatiku runduk memanggil DzatNya
keseharianku kuusahakan ada dalam rangkaian koridorNya
tak kubiarkan darahku menyerap hal-hal yang Ia benci

Tapi ...
tetap saja aku tak yakin
sudahkah Ia ridlo atas hidupku?

Selasa, 01 Februari 2011

sebuah monolog


Perjalanan ini tak kan pernah berakhir, bila engkau tetap memikirkannya. Sebab ia bukan untuk dipikirkan melainkan untuk dijalani.

Pertanyaan ini tak akan pernah terjawab, bila engkau menyuarakannya dalam benak, sebab jawabannya tidak tersimpan disana melainkan bersemayam di dalam jiwa.

Hendak kemana engkau melangkah?
Hendak kemana engkau berlari?
Hendak kemana engkau mencari?

Sejauh engkau berlari, ia semakin menjauh.
Sekeras engkau mencari, ia semakin tak teraih.
Sebab engkau keliru memilih

Wahai para pencari ...
usah pergi ke negeri jauh
usah terbang ke negeri sebrang
usah kerutkan kening
usah berdebat dengan sengit

Kembalilah pada diri
tengok hatimu
pandang jiwamu
kembalilah

yang kau cari ada disana

kembalilah pada hati
kembalilah

Minggu, 19 Desember 2010

Menjadi Ibu

Menjadi ibu adalah karier terbesar dan terpenting seorang perempuan.

Selasa, 23 November 2010

Hari Ini, 16 Tahun Yang Lalu



aku dan engkau menyatu
memenuhi janji awal saat kita belum lagi bertemu
janji yang terjalin di alam ruh

lalu Tuhan meniupkan cinta
di setiap hati kita
untuk saling menemukan jiwa

setelah itu
tugas kitalah menemukan rasa
memindai surga
di setiap helaan nafas dan peristiwa

Kekasih
hari ini, 16 tahun yang lalu
kau ajak aku meniti jalan ini

telah sampai dimana kita?
diantara tugas kehambaan pada Pemilik Sejati?
telahkah kita menghamba dengan benar
telahkah kita menghamba dengan ikhlas

telahkah kita melahirkan nilai?
atas nama kebersamaan dan tanggung jawab penghambaan?

aku bertanya padamu, duhai Cinta
telah sampai dimana kita?

(16 tahun perjalanan)

Selasa, 16 November 2010

Status Waspada, Terhadap Apa ....??


Miris, prihatin, sedih, nelangsa, segala rasa campur aduk melihat gambar hidup terpampang di televisi setiap hari, saat terjadi letusan Merapi, tsunami Mentawai, banjir Wasior, dan segala macam bentuk bencana yang tengah melanda negeri ini.

Kecemasan lantas meninggi saat Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyebukan bahwa ada 21 gunung berapi lagi di Indonesia yang dalam kondisi aktif. 18 gunung berstatus waspada, 2 gunung berstatus siaga, dan 1 gunung berstatus awas.

Menurut informasi yang saya baca disini, nama-nama gunung yang berstatus waspada antara lain : Gunung Kerinci di Jambi, Gunung Talang di Sumatra Barat, Gunung Anak Krakatau di Lampung, Gunung Papandayan di Jawa Barat, Gunung Dieng dan Gunung Slamet di Jawa Tengah, Gunung Rinjani dan Gunung Rokatenda di Flores, Gunung Bromo di Jawa Timur, Gunung Soputan di Minahasa, Gunung Dukuno di Halmahera, dan Gunung Gamalama di Ternate.

Sedang gunung yang berstatus siaga yaitu Gunung Karangetang di Sulawesi Utara dan Gunung Ibu di Halmahera Barat. Satu gunung berstatus awas tetap dipegang Gunung Merapi di Sleman Yogyakarta.

Negeri ini memang 'kaya' akan gunung berapi. Dan kita sudah biasa hidup berdekatan dengannya, sejak lama sebelum kita lahir. Tapi saat ia (gunung berapi) itu dinyatakan aktif dan bergolak, tak urung kita dilanda kecemasan. Cemas, akan apa yang akan terjadi, mengingat demikian dahsyat akibat yang disebabkan oleh letusannya. Terlebih lagi bagi saudara kita yang hidup berdampingan dengan gunung-gunung yang disebutkan tadi. Setelah informasi itu tersebar, maka sedikit banyak, ada sebuah kekhawatiran yang melanda, meski kadarnya berbeda pada setiap orang.

Saya tinggal di Garut, berdekatan dengan Gunung Papandayan. Statusnya kini "Waspada". Meski faktanya status waspada Gunung Papandayan sejatinya telah terjadi sejak lama. Kenaikan dari 'aktif normal' menjadi 'waspada' pernah terjadi pada Kamis, 2 Agustus 2007. Sejak hari itu telah beberapa kali terjadi gempa, yakni 1 kali gempa tektonik jauh, 1 kali gempa vulkanik A, 2 kali gempa vulkanik B, dan 116 kali gempa tremor. Lama gempa antara 5,5 sampai 75 detik." Sumber : dari sini

Saya tak mengerti benar maknanya, yang saya tahu adalah Papandayan tengah bergolak meski belum sampai pada 'titik didihnya' hingga meletus. Dan kita perlu tetap waspada.

Semua orang khawatir, semua waspada.

Sejatinya, kewaspadaan tak hanya berlaku di saat situasi tak aman atau mengancam semata. Kewaspadaan perlu ditanam kuat dalam jiwa setiap saat. Terlebih saat ini. Saat ancaman melanda dari setiap sisi, setiap tempat, setiap ruang, setiap waktu. Bukan sekedar ancaman gempa akibat letusan gunung, melainkan ancaman yang lebih dahsyat dari itu. Ancaman yang menggempur tak kenal ampun, justru melalui jalan yang tak kasat mata.

Terkadang tak terindera.

Ancaman yang tampil dengan busana berkesan, tak nampak mengancam. Seperti ancaman yang tumbuh dari diri sendiri, malas, sombong, dengki, hasud, khianat, alpa berbagi, merasa telah cukup beribadah, duka berkepanjangan, kufur nikmat (tak mampu bersyukur) dan companyonnya. Ancaman yang datang dari orang-orang tercinta, seperti cinta kasih yang berlebihan, rengekan untuk permintaan yang tak pantas, lalu kita 'iya'kan, dan sebagainya.

Atau ancaman dari luar. Adat dan norma lingkungan yang mulai pudar, membuat batas antara yang hak dan batil menjadi buram. Sulitnya memisahkan hitam dan putih dewasa ini. Makin tipisnya urat malu, hingga sering kita melihat manusia berpakaian tetapi 'telanjang', atau setiap orang bicara kebenaran menurut versi mereka sendiri,
pembiaran kebodohan dan kemunkaran terjadi di sekitar kita padahal kita mampu meniadakannya.

Apalagi yang patut diberi status Waspada dan Siaga, selain hilangnya ciri-ciri kemanusiaan kita?

Saya tak bermaksud untuk tak peduli terhadap pencegahan bencana dan mengacuhkan status waspada sebuah gunung. Akan tetapi, selain ancaman besar yang tengah kita hadapi dan perlu kita waspadai, kita harus pula mewaspadai ancaman yang lebih besar lagi. Ancaman bagi eksistensi ruh kemanusiaan.

Gunung itu telah meletus, laut itu telah meluap, banjir itu telah melanda, jangan biarkan hati kita ikut tercerabut. Jangan biarkan iman kita terbawa hanyut. Waspadalah! Ancaman lebih dahsyat tengah mengintai kita, dan kita tak menyadarinya.

Mari kita kembali ke kebeningan ...

Sabtu, 13 November 2010

Dunia Dengan Koma

Pernah nonton Dunia Tanpa Koma, kan? Itu adalah serial televisi yang dibintangi Dian Sastro, Tora Sudiro, Fauzi Baadilla, Slamet Rahardjo dan berderet aktor papan atas lain. Serial itu ditayangkan beberapa tahun lalu, di tahun 2006. Saya sangat suka serial itu, karena sangat berbeda dengan serial televisi lain (baca : sinetron) lain yang banyak bertebaran.

Serial itu bercerita tentang kehidupan seorang wartawati muda bernama Raya Maryadi (Dian Sastrowardoyo) yang ingin terlibat dalam arus perubahan negeri melalui investigasinya yang kuat untuk membongkar jaringan narkotika nasional pimpinan Jendra Aditya (Surya Saputra), mantan kekasihnya. Disini disisipi juga kisah asmara Raya dengan Bayu (Tora Sudiro) dan Bram (Fauzi Baadilla).

Meski ada kisah percintaan, serial ini tak terjebak pada kisah yang dangkal. Yang menarik justru disini banyak digambarkan tentang pola kerja dunia jurnalis yang tak mengenal waktu dalam menjalankan tugas kejurnalistikannya. Itulah sebabnya ia diberi judul "Dunia Tanpa Koma". Sayang, serial ini tak pernah ditayang-ulang seperti layaknya serial-serial lain. Dari wikipedia saya tahu, serial ini hanya satu musim tayang karena buruknya rating. [begitulah kenyataannya di negeri ini, film bermutu seringkali jeblok di rating .... hhhhh (menghela nafas berat)]

Tapi bukan itu sebenarnya yang ingin saya bagi (hehe ... prolognya panjang buenerrrr)
Keliatan banget si saya sangat suka serial itu.

Ini tentang aktivitasku di sekolah bersama anak-anak. Kebetulan, sejak 2 tahun ini saya (ceritanya) membina buletin "BASIK" Bacaan Siswa Kreatif dan Kritis, yakni buletin sekolah yang dikelola dan digawangi oleh siswa-siswi MTsN Garut. MTs adalah sekolah/madrasah setingkat SMP di bawah naungan Kementerian Agama. Jadi ia adalah SMP Plus (dengan tambahan 5 pelajaran agama). Disinilah setiap hari saya menjalankan tugas, 'bermain' bersama buku dan anak-anak.


Sejatinya saya bukan seorang jurnalis. Pernah sih di kurun waktu dahulu berkiprah di dunia radio (siaran, reportase, scriptwriter, denger2 lagu, kirim2 salam hehe ...) tapi, itu kan dulllu! Meski demikian, saya selalu suka dengan hal-hal yang 'berbau' jurnalistik. Nah, kembali ke pokok soal, saya dikejar deadline! (waduh gayanya, serasa jadi jurnalis beneran).

Deadline-nya sudah pasti gak sama dengan deadline sebuah harian beroplag besar. Ini deadline-deadline-an. Ini adalah sebuah pembelajaran. Bagiku dan bagi anak-anakku. Mengajak anak-anakku, the "B" Team, untuk disiplin dengan rencana yang telah mereka design sendiri. Disiplin sejak mereka mulai menentukan topik, narasumber dan segala macamnya di Rapat Redaksi. Belajar mengasah naluri sens of news (istilah ngarang) di setiap saat.

Maka karena masih dalam tahap 'belajar', learning by doing, saya sebut aja Dunia Dengan Koma. Saat kami melalui tahap pengetikan naskah, dilakukan di sela-sela jam istirahat. Bila usai sekolah harus dilanjutkan, tak pernah hingga sore atau maghrib. Maklumlah, anak-anakku masih pula harus ikut bimbingan belajar di lembaga kursus. Belum lagi bila saat ujian atau tugas tengah menumpuk. Jadi, bisa kebayang kan? Naskah-naskah (wawancara, liputan acara, artikel, cerpen, puisi, foto kegiatan, dll) itu terpaksa harus menunggu. Dunia Dengan Koma, banyak jedanya!

Senang, melihat antusiasme mereka dalam memilih narasumber, menentukan topik, dan berbagi tugas. Harus sabar, menerima keluh kesahnya saat mengejar narasumber, saat berbeda pendapat dengan kawan, saat ia merasa sibuk sendiri sedang yang lain 'nyantai', saat distribusi mandek, saat sulit mengumpulkan naskah dari pembaca. Setiap saat. Perlu teliti, memeriksa dan mengoreksi hasil tulisan mereka (maklum, anak-anakku sedang masa ABG, ejaannya banyak yang 'aduuuuh' gak ngerti), berdiskusi dan menyepakati kapan dan di rubrik apa bahasa gaul bisa ditulis. Ya, hal-hal yang (nampak) remeh-temeh itulah yang kini kugeluti.

Anak-anakku, mari terus berproses ...
Kelak, jadi apapun kalian, negeri ini ladang amalmu. Menjadilah kalian yang terbaik ...

Selasa, 09 November 2010

memahami sebuah pesan

tak pernah ada kata terlambat
untuk memahami sebuah pesan
selama kita masih bersedia menghirup bau tanah dan air hujan
yang tak bosan menyentuh bumi
pun saat matahari terjaga
meski mengintip malu di sudut pagi

yang tak kumau hanyalah
kehabisan waktu
untuk mengenali tanda-tanda
yang tak pernah bosan Kau kirimkan
lewat angin, daun, batu, awan, sungai dan nyanyian burung
lewat segala apa yang ada
dan yang tiada
tapi terasa

aku rebah disini
dalam ketakterkatakan rasa
sekedar mencari tahu
inikah tanda-tanda?

izinkan aku
sedikit saja memahami

gambar : ichwankalimasada.wordpress.com

Jumat, 05 November 2010

Kepada Para Pengemudi Mobil


Pernah kehujanan? sering.
Pernah hujan-hujanan? pernah.
Pernah main air? sering, malah suka.
oke

Kuganti pertanyaannya
Pernah main air mancur? suka, kalau lagi nyiram tanaman, atau lagi jalan-jalan liat air mancur di taman kota.
Pernah kena air mancur? pernah.
Pernah kena air muncrat? ya, kan sama juga dengan air mancur!
Ya, tidak sama dong!
Maksudnya?
Air muncrat itu gak seindah air mancur, jadi rasanya juga beda.

Nih, kuberi tahu.
Tadi aku kena air muncrat di jalanan.
Hahaha ...!
kok malah ketawa? Ups, maaf. Kenapa?
karena sebuah mobil dengan jumawa nyalip motor yang kunaiki, lalu genangan air itu 'nyembur' keseluruhan diriku dengan sempurna! basaaah!!
hmmmh ....

Kuperhatikan kejadian itu sering berulang, bukan padaku tapi pada beberapa orang di jalan raya. Ketika mobil melintas, tak sedikitpun sang pengemudi memperlambat laju mobil saat melintasi genangan air untuk menghindari semburan air ke 'tetangga' sesama pengendara yang tidak senyaman mobil, motor misalnya, atau pejalan kaki di pinggir jalan. Maka akibatnya jelas, tetangga itu kena air muncrat!

Tak semua pengemudi mobil begitu, tentu saja.
Sejatinya, mengemudi sama halnya dengan berperilaku, selalu harus menyertakan empati dan tepo seliro. Dimanapun, manusia hidup berdampingan. Tidak peduli apakah ia mengenal atau tidak orang yang berdampingan dengannya. Keseluruhan perilaku dan tindakannya (serta segala yang tidak dia lakukan) selalu berdampak pada lingkungan sekitarnya, langsung ataupun tidak.
Maka, saat kapanpun, dimanapun dan dalam keadaan apapun, kita harus mengasah kepekaan bahwa kita tak pernah sekejappun hidup sendiri! Bahkan pada saat kita tengah menyendiri ...

Minggu, 31 Oktober 2010

Tentang ibu, kerudung dan koruptor

Di Simpang Lima, Garut, seorang ibu menggendong putri kecilnya memasuki angkot yang kunaiki. Sambil sibuk meladeni celoteh si kecil yang kutaksir baru berusia antara 2-3 tahun, sang ibu terus pula mengingatkan agar si kecil memakai jilbabnya.

Anak itu memakai busana muslim, tapi kerudung (yang serasi dengan bajunya itu) ia pegang saja. Anak-anak biasa begitu, bukan? Wajah tembamnya memang lucu bila dihiasi jilbab. Kendalanya, anak-anak biasanya tak tahan panas, apalagi bila ia tak betah pake 'asesoris' kepala. Sebenarnya kerudung tak pantas dibilang 'asesoris'.

"Ayo, pakai kerudungnya, Nak." Merdu. Berkali-kali, hingga sampai pada cenderung memaksa.
Tapi anehnya (atau lucunya?) si ibu justru gak pakai kerudung!

Kupikir itulah kesalahan nomor 1 orangtua, yang membuat negeri ini subur dengan koruptor! Anak diberi perintah, bukannya teladan. Susah membuat anak menurut bila apa yang diperintahkan tak dilakukan oleh sang pemberi perintah.
Berbuih mulut hanya akan membuat aroma tak sedap, cenderung busuk, sepanjang apa yang dibuihkan tak memiliki jiwa.

Pemerintah, penguasa, wakil rakyat, apapun sebutannya, dulunya adalah anak-anak. Anak dari orangtua yang memimpikan mereka menjadi orang baik dan benar. Polusi hati membuat mereka menjauh dari hakikat kebenaran, meski mulutnya tak henti bicara tentang kebenaran.

Sederhana saja sebetulnya, semua hanya perlu dilakukan dengan - memulai dari diri sendiri - Ketika para penguasa dan seluruh rakyat sepakat berteriak "Hapus Koruptor", sedang pola asuh, pola hidup dan pola-pola lain keseharian yang dilakukan tak berawal dari kejujuran dan kesetiaan pada kebenaran, semua gempita hanya akan menjadi buih di lautan.

Peristiwa di angkot tadi, menerbangkanku pada negeri khayalan, 20 tahun mendatang. Negeri makmur, hijau dan bebas koruptor karena penguasanya adalah anak-anak masa ini yang dididik dengan cinta dan keteladanan. Bukan sekedar perintah dan 'petunjuk'.

Bukan sekedar keinginan menjadikan anak lebih baik dan lebih shalih dari ibunya (dan setiap orangtua), perintah memakai kerudung (dan semua perintah atau himbauan apapun) adalah setitik noktah yang akan menjadi lingkaran hitam bila tak dibarengi keteladanan. Berbalik menjadi sebuah bumerang yang mematikan.

Maka, mari jadikan anak-anak kita qurrota'ayun dan imam bagi orang-orang yang beriman, dengan teladan dari orangtuanya, agar negeri ini tak menjadi sarang kejahiliyahan modern.

Rabu, 27 Oktober 2010

air akan meluluhlantakkan segala, kecuali cinta kasih dan keikhlasan


jalanan basah. tanah coklat telah menghitam. dedaun terunduk digelayuti hujan. air tumpah ruah menyerbu sore.
aku terduduk di kursi tamu. dengan buku dan lamunan sisa-sisa siang. suara anak-anak mengaji dari surau sebelah timur. ada suara anakku.

hujan sore ini diam-diam meninggalkan pesan. mencelat bersama air dan guruh. bahwa air akan meluluhlantakkan segala, kecuali cinta kasih dan keikhlasan.

wasior dihanyutkan. mentawai terendam. merapi muntah. air akan melantakkan segala kecuali cinta kasih dan keikhlasan.

bencana disana. bencana disini. air menggenang jiwa. api merobek hati. lalu kami hujan duka. lewat jalanan yang basah. tanah coklat menghitam. dedaun terunduk digelayuti hujan. air tumpah ruah dan suara anak-anak mengaji di surau sebelah timur. ada suara bergelantungan. bahwa air akan meluluhlantakkan segala. kecuali cinta kasih dan keikhlasan.

hujan sore ini diam-diam mengirimkan pesan. turun bersama titik air dan suara kodok. bahwa air akan melantakkan segala kecuali cinta kasih dan keikhlasan.

suara anak-anak mengaji di surau sebelah timur masih nyaring. jalanan masih basah. hujan sudah menua. renta dan ringkih. gemanya tetap sama. air akan meluluhlantakkan segala. kecuali cinta kasih dan keikhlasan.



Selasa, 19 Oktober 2010

ketika sakit, apa sebenarnya yang kaurasa?

Kemarin saya sakit. Itu biasa. Semua orang pasti pernah merasakan sakit, yang ringan, sedang-sedang saja atau bahkan sakit parah.

Lalu, apa yang sebenarnya saya rasakan saat sakit?
Ya ... sakit laaaah, emang ada sakit yang enak?? Sakit adalah keadaan manusia saat berada dalam situasi yang salah. Sakit bisa terjadi pada organ tubuh (jasmani) atau pada tataran rasa (ruhani). Kalau memang begitu, bisa dipastikan tak ada seorangpun di dunia ini yang ingin sakit. Tapi bila kemudian sakit itu sudah menyerang, yang bisa kita lakukan adalah mengobatinya dan sambil menunggu sembuh : menikmatinya.

Ya, nikmatilah rasa sakit itu.

Benar sahabat, sakit bisa jadi nikmat bila kita memandangnya dari sisi lain. Saat sakit, kita bisa merasakan betapa melimpah perhatian dan cinta kasih keluarga. Banyak pula teman dan kerabat yang menengok dan mengirim doa kesembuhan. Dan yang utama ada janji yang diberikan Allah kepada orang yang sakit, yakni ampunan dari dosa dan kesalahan yang telah diperbuat. Jadi, sakit adalah kifarat dosa. Subahanallah ...

Lalu bila demikian halnya, mengapa harus mengeluh saat sakit? Ah, betapa manusia memang selalu berada dalam keadaan keluh kesah.

Saya pernah membaca kisah seorang perempuan tuna netra yang demikian menakjubkan. Ia (perempuan tuna netra itu) tak dapat melihat sejak kecil. Ia besar dalam keadaan gelap dan hanya mengandalkan panca inderanya yang lain selain mata. Kemudian, saat ia sudah besar dan kemajuan teknologi sudah demikian canggihnya, ia diberi kesempatan untuk melakukan pencangkokkan cornea yang memungkinkannya dapat melihat dunia. Namun, ketika tawaran operasi itu diajukan kepadanya, dengan tegas ia menolak.

Jawabnya : "Biarlah saya tetap buta, karena dengan kebutaan ini saya bisa lebih dekat dengan Allah swt, saya tetap dapat bersyukur dengan apa yang saya dapat dan saya rasa dari apa yang telah Ia berikan kepada saya. Bila kemudian saya tak lagi buta, saya takut malah menjadi orang yang durhaka dan kufur akan nikmatNya. Bukannya tidak mungkin saya malah akan berbuat maksiat dengan mata baru saya. Jadi, biarkanlah saya tetap buta ..."

Subhanallah ... Subhanallah ... Subhanallah ...
Betapa besar kecintaan perempuan itu kepada Tuhannya, demikian yakin ia bahwa kebutaaannya adalah bukti Cinta Tuhannya kepadanya, bukan sebaliknya. Betapa ia memelihara prasangka baik terhadap Allah swt, bukan sebaliknya.

Kemarin saya sakit. Sudahkah saya tetap memelihara prasangka baik kepadaNya?
Insya Allah ...
tetapi nampaknya saya belum mampu masuk pada kualitas perempuan tadi.

Hanya baru bisa selalu berdoa : "Ya Allah, jadikan sakitku sebagai kifarat dosa-dosaku. Jadikan sakitku menjadikanku lebih mencintaiMu."

Sabtu, 16 Oktober 2010

aku ingin

aku ingin menemuiMu sejenak saja dalam keadaan benar-benar hadir
tak seperti selama ini
aku ada namun tak hadir

iyakah aku mencintaiMu
bukan semata membutuhkanMu untuk kumintai segala?

aku ingin memastikan segalanya memang demiMu
dalam keadaan benar-benar terjaga
tak seperti selama ini
aku merasa demikian
menurutku semata

aku ingin menemuiMu setiap waktu
bersama kehadiranku

Senin, 13 September 2010

Pulang


aku mau pulang, pulang ke teras hati, saat kamar kanak-kanakku menyimpan bau kenang, bersama bantal guling dan selimut rindu, pada keseluruhan waktu yang tertinggal.

aku mau pulang, memeluk ibu dan hari kemarin, tertawa-tawa bersama gerombolan dokumentasi rasa, yang menggumpal dan terurai saat ia kuhampiri, adakah lagi waktu yang tak mampu kujemput?

aku mau pulang, pulang ke dasar jiwa, sebentar saja.

adakah engkau mengerti kata pulang?
aku mau pulang

... aku mau pulang ...

Sabtu, 11 September 2010

lebaran

lebaran di pangkuan
lebaran di pelukan
aku rebah dalam takbir
aku sedan bersama fajar
akankah kembali bersama ramadhan
tahun depan ...?

Yaa Allah
berikan ku kesempatan
menapaki hari ini
dan sebelas bulan mendatang
dengan spirit ramadhan


Selasa, 24 Agustus 2010

kontemplasi

kemudian awan lindap dalam hidup yang berlari, angin mengangkasa di bibir hari, sedang matahari tak jua mampu menepi, akukah yang tak jua mengerti?

sedang langit telah banyak berkisah, tentang warna dan rasa, tentang gelap dan terang.

jangan biarkan aku hanya bisa tergugu, Tuhan. izinkan aku memahami ayatMu

Sabtu, 21 Agustus 2010

Menguak Jendela SMP

Reuni.
Nampaknya kata ini semakin akrab dengan kita beberapa tahun belakangan ini sejak lahirnya fenomena pertemanan dunia maya, terutama facebook. Bertemu kembali dengan teman lama, berbagi cerita, bernostalgia masa-masa "nakal" dahulu, nampaknya selalu menjadi "menu" favorit untuk diburu. Sehingga hampir tak ada orang yang menolak untuk hadir dalam undangan reuni.

Telah banyak jendela berjejer rapi, untuk dibuka dalam menu reuni. Jendela SD (kebayang kan bagaimana rasanya ketemu teman-teman imut dulu, yang bahkan membayangkan wajahnya saja kadang kesulitan karena sudah sangat berubah hehe ...). Jendela SMP, SMA atau jendela kuliah.

Tadi pagi, aku menguak pintu blog teman-teman yang hampir sebulan ini lama tak kuketuk. Ternyata banyak sekali yang menulis tentang SMP. Oo, kiranya tengah ada "gerakan" SEO Positif untuk menangkal situs tak layak yang sembunyi di balik sandi SMP. Nah untuk berpartisipasi, menangkal hal-hal yang merugikan, sekalian bernostalgia, aku posting saja tulisan tentang masa SMP-ku.

Sejak reuni hampir 2 tahun lalu, teman-teman SMP-ku terbilang rutin mengadakan silaturahim, terutama teman-teman sekelas, yang tergabung dalam kelas 3E Angkatan 1983 SMPN 1 Bandung. Pertemuan terakhir adalah bulan Juli yang lalu ( yang sayang tak dapat kuhadiri ).

Dulu, saat SMP itu, aku masih suka menari. Selain ikut di sanggar tari, di sekolah aku ikut ekskul Tari Sunda. Masa yang paling aku ingat adalah saat harus sekolah di balik "hujan debu". Ingat kan? Pada tahun 1982 Gunung Galunggung di Tasikmalaya meletus. Nah, debu letusannya yang (anehnya) keluar secara berkala tidak sekaligus, sampai juga di kota Bandung. Hampir tiap hari, kami menginjak debu Galunggung yang tebal, yang memenuhi halaman dan lapangan sekolah. Pagi dan siang hari matahari tertutup debu. Pandangan kabur. Itu dulu ...

Sayang, gak ada fotonya. Ada juga foto waktu perpisahan kelas tahun 1983. Ini dia

Bisa nebak gak aku yang mana?
hehe ....

Di SMP aku mulai mengenal lagu Himne Guru. Sebab baru pada tahun 80-an awal itulah lagu tersebut mulai diperkenalkan. Di SMP pula aku mulai suka menulis. Guru Bahasa Indonesiaku, sekaligus penulis buku "Intisari Bahasa Indonesia" yang menjadi buku wajib kala itu, Pak Abdullah Ambary yang mendorongku untuk menulis. Juga Pak Karno, guru Basa Sunda. Sayang, beliau ini telah berpulang. Semoga segala amal baiknya menjadi jalan bagi kemuliaan di sisiNya. Dan apapun yang baik kulakukan karena ilmu dari beliau, manfaatnya sampai juga pada beliau. Amiiin ...

Oya, lucu juga kalau diingat, bahwa ternyata hampir 50 % teman SMP-ku adalah teman sekelas waktu di SD. Jadi saat setelah reuni SD, ada reuni SMP, kita ketemuan lagi hehe .... meski ceritanya sudah mulai ABG!!

Sekarang, aku posting juga foto pas reuni SMP. Ini dia.


Foto ini diambil di depan kelas waktu SMP.