Rabu, 28 September 2011

Even Book Your Blog, Mariiii ...


Pertama tahu informasi ini dari blognya Anazkia. Jujur, saya tidak begitu tertarik. Bukan apa-apa, lebih karena tulisan di blog saya melulur tentang curhatan dan kontemplasi yang biasa-biasa saja. Jadi, saya pikir, gak pantes lah ngikut even ini. (ceritanya sih nyadar ... tapi kok kayak pesimis ye?!)

Selang beberapa hari (juga setelah Ana bilang gak apa2 teh gak sistematis juga yang penting ikut) saya putuskan untuk : Bismillahirahmaanir rahiim, IKUT!

Maka inilah salah satu tahapan yang harus dilakukan.
Kepada teman-teman semua, yang tertarik, yuk kita meriahkan even ini. Mumpung ada kesempatan. Siapa tahu blog kita beruntung bisa dibukukan. Saya copas saja ya untuk kalian.
Ini info selengkapnya :

Book Your Blog
Media cyber kini menjadi alternatif populer untuk menyalurkan hobi, pemikiran, bahkan curahan hati . Salah satunya melalui blog. Dengan media ini, kamu bisa mengekspresikan diri , khususnya melalui tulisan. Bagi kamu yang merasa memiliki blog yang “kamu banget” ayo ikutkan ke lomba Book Your Blog ini!
Bagi cerita seru di blogmu ke orang-orang dengan cara dibukukan. Buat pemenang, isi blog-nya akan dibukukan dan diterbitkan GRATIS oleh Leutika Prio Self Publishing, serta dipasarkan secara online.


Leutika Prio adalah lini self publishing dari Leutika Publisher yang menyediakan berbagai macam paket penerbitan dengan sistem mudah dan harga terjangkau www.leutikaprio.com. Self Publishing merupakan alternatif baru menerbitkan buku dengan lebih praktis dan tanpa seleksi. Para penulis tidak perlu repot membuat cover, mengurus ISBN, dan teknis buku lainnya karena Leutika Prio menyediakan layanan edit aksara, cover, layout, ISBN dan konsultasi yang telah disusun pada paket-paket penerbitannya. Penulis juga tetap mendapatkan royalti sebesar 15% dari harga produksi. Misi dari penerbit ini adalah mengajak sebanyak mungkin orang untuk menulis dan berbagi inspirasi pada para pembaca.


SEGALA JENIS BLOG boleh diikutkan di lomba ini. Blog umum, kisah sehari-hari, kesehatan, wisata, kuliner, fesyen, pendidikan, politik, kesenian, film,fiksi, dll asal tidak mengandung SARA dan pornografi. Jadi tunggu apa lagi, daftarkan sekarang :)


Caranya mudah banget!
Tulis tentang event ini beserta logo event di blogmu dengan bahasamu sendiri, diberi tag #bookyourblog
Pasang link website http://www.leutikaprio.com/ di blog kamu (di blog scroll)
Kirimkan alamat blog kamu ke eventleutika@hotmail.com
Tulis sinopsis blog kamu dalam 250 kata Ms Word. Sertakan nama, nama pena, TTL, alamat, nohandphone, alamat e-mail, akun FB, akun twitter. Kemudian attach file ke dalam e-mail.
Tulis “Book Your Blog” di judul e-mail.


Blog seperti apa yang bisa menang?
Inspiratif, berisi cerita-cerita yang dapat menjadi inspirasi bagi orang lain.
Tidak mengandung SARA dan pornografi.
Berkarakter, konsisten berisi materi-materi yang terkonsep dan orisinil.
Apa Hadiahnya?
Dipilih 3 blog terbaik untuk mendapatkan:
Tulisan-tulisan di blog kamu akan diterbitkan GRATIS dalam bentuk buku oleh Leutika Prio
Royalti 15% dari harga produksi
Paket buku dari Leutika Publisher
Bagi yang belum terpilih tetap mendapatkan diskon paket penerbitan sebesar 20%.
Deadline : 30 September 2011
Website:
http://www.leutikaprio.com/
Twitter: @leutikaprio
Fanpage FB
http://www.facebook.com/leutikaprio /
http://http://

Senin, 26 September 2011

Selipat Pagi dan Seutas Cermin, Tentang Alia ...


Pagi menyeruak diam-diam, angin bergeming.
Alia terjaga, terpaku di ambang sadarnya. Pukul 03.10. Ada yang membangunkannya. Apa? Dikumpulkannya ingatan yang sempat hilang tadi malam. Hilang oleh batas yang dibangun antara jaga dan impian. Dilisankannya doa, lalu semuanya terkumpul begitu saja.

Cermin di kamarnya berbicara tadi malam. Hidupnya demikian memabukkan, dengan seribu satu aroma mawar tanpa duri. Orangtua yang bahagia, adik kakak saling menyayangi, tetangga baik, sahabat setia, kakek nenek penuh kasih, wajah tak membosankan untuk dilihat, perilaku yang terjaga, ekonomi tak kekurangan dan seribu satu alasan orang untuk cemburu.

“Apa itu salah?” gugatnya bingung. Biasanya cerminnya ngikut aja apa maunya.
“Salah? Terkadang hidup bukanlah soal benar dan salah,” lembut warisan buyutnya yang sudah mengisi kamarnya sejak ia berani tidur sendiri itu berkata.
“Tidakkah kamu ingin berterimakasih?”
“Kepada ...?” alis semut beriringnya bertautan indah. Sang cermin memantulkan keseluruhan dirinya tanpa bias sedikitpun. Sungguh sebuah pemindaian sempurna yang hanya berubah saat retak.
“Menurutmu ...?” Bayangannya seolah mengejek. Berapa puluh tahun kau hirup energi yang disediakan langit buatmu. Masih saja benakmu mati oleh hal yang sedemikian sederhana.

Alia tersengat.

“Hidupku, ia datang lalu aku meraihnya, tak kubiarkan ia hilang begitu saja. Bahagia, aku sendiri yang perjuangkan. Ayah ibu, mereka malah bersyukur punya aku. Aku bukan orang yang demikian bebalnya hingga tak pernah berterimakasih bahkan kepada yang menyebabkan semua ini terjadi. Bila Tuhan yang kau maksud,” jelas-jelas Alia jengkel, merasa diuji. Sejak kapan cerminnya lebih pintar ketimbang dia. Noda sedikit saja tak bisa ia bersihkan sendiri. Tangan Alia ini pembersih kilapnya. Setiap waktu.

Ada pendar yang menahan senyum di wajah cermin.
Alia menunggu. Hanya bayangannya yang innocent. Pendar itu cuma sekejap.
Alia geram.

“Tuhan. Aku tak pernah melupakanmu. Tanpa perlu cermin sok tahu itu mengajari, aku tahu”

“Ha ha ... bersama hatimu jugakah, Alia?” tawa cermin membahana seantero kamar.
Sekuat tenaga Ali timpuk dengan bantal. Dasar cermin sok tahu!

Malam itu Alia diam semalaman. Menatapi dirinya, hidupnya, kesehariannya, cita-citanya, hidupnya. Alia menerawang ke sekelilingnya, menatapi teman-temannya, orang-orang sekota, sekampung, senegara. Secara alami mereka semua menjalani garis hidupnya. Dengan segala baik buruknya, sedih senangnya, warna warni dunia geraknya. Alami. Tak ada yang perlu diributkan. Sesekali riuh, sesekali badai, sesekali menggugat, adalah kewajaran. Sungguh, hidup di mata Alia demikian simpel dan jauh dari njelimet. Hatinya ringan saja.

Malam itu Alia menelisik lebih dalam. Cermin itu alasannya.
Perjalanan malam ia lakoni. Mengingat ibu, merasai cinta, menghayati kesendirian, memaknai keterdiaman, menelusuri lorong tak beridentitas. Menyusuri tepian hati, masuk perlahan, diam-diam makin ke dalam, melewati palung hingga ke dasar.

Dan Alia menemukan sesuatu yang asing.
Matanya meneteskan airmata jauh dari kedalaman yang tak ia kenali. Tak bisa dilerai, tak mampu ditahan. Alia tersedu oleh sebab yang tak ia ketahui. Entah darimana semua itu datang. Bahkan Alia baru menyadari betapa berlimpah persediaan tangisnya. Justru oleh sebab yang ia tak tahu.

Ketakutankah? Alia tidak sedang merasa ketakutan.
Penyesalankah? Sesal yang tak ia ketahui oleh sebab perilakunya yang mana.
Kesedihankah? Sedih yang datang tiba-tiba oleh sebab yang ia tak tahu.
Seribu satu jawab yang ia ‘pantaskan’ untuk alasan mengalirnya airmata. Tak jua memenuhi syarat bagi sebuah jawaban yang ia inginkan.

Alia terkapar sendirian. Cerminnya menatap diam. Hingga pagi.
Alia terjaga, terpaku di ambang sadarnya. Pukul 03.10. Ada yang membangunkannya. Apa?

“Tuhan. Yaa Allaaaahhh .....” lisannya seketika bergerak. Digerakkan oleh sesuatu Yang Tak Terindera. Alia tak berdaya.

Pagi menyeruak diam-diam, angin bergeming.
Alia bangkit, hatinya bergumam, “Sombongnya aku berkata tak pernah melupakanMU, padahal sejatinya aku baru saja mengenalMU. Baru saja, ya Allah ... Itupun karena Engkau yang menghampiri. Dalam diamku, dalam ketidaktahuanku, dalam pencarianku. Saat aku tertatih, Engkau berlari memelukku. Yaa Allaaaaah .......”

Pagi menyeruak diam-diam, embun menetes satu satu, ada tangis Alia dalam genggamanNya.
Seutas cermin memantulkan cahaya.
Ada GERAK yang menyebabkan semuanya terjadi.

Sungguh Allah Mahameliputi sesuatu.
Pagi, cermin, Alia ... semua dalam Genggaman

Selasa, 13 September 2011

"Bu, Aku Mau Al-Fatihah ..."

Siang itu, ponselku berdering ... Suara suamiku terdengar dari seberang.

"Cici perlu ibu sekarang ..." Ok, aku pulang.

Tiba di rumah, puteri kecilku menyambut dengan buku di tangan. Kerudung pink nya melambai tertiup angin kemarau yang dingin.

Senyumnya lebar ditambah wajah cemas. Ada apa?

"Ibu, Cici masuk lima besar. Finalnya sekarang ba'da Dhuhur," serbunya tak sabar.

"Alhamdulillah ..." kupeluk tubuh berbalut baju pink, sambil kulirik jam. Pukul 11.58. Hanya ada kesempatan kurang dari satu jam untuk menghafal naskah pidato yang baru.

Pagi tadi, dia bersama teman-teman pengajian dan para pembinanya, pergi ke kampung sebelah untuk mengikuti lomba dalam rangka mengisi Bulan Ramadhan. Dalam lomba di tingkat kelurahan itu dia ikut bidang Da'i Cilik.

Persiapan sudah dilakukan. Alhamdulillah lancar. Dan kini ...

"Materinya harus baru, Bu. (Naskah) yang dari ibu panjang. Cici gak bisa ngafalin cepet. Kan musti sekarang," serunya cemas.

Tadi pagi memang aku menyiapkan naskah kedua, jaga-jaga bila dia masuk final. Maklum persiapannya mepet dan pemberitahuan harus dua naskah baru diperoleh tadi malam, sedangkan anakku masih harus manggung dulu. Manggung dalam rangka memperingati kemerdekaan plus buka bersama.

Aku mendengarkan dengan sabar. Lalu?

"Yang ini aja, Bu," ia sodorkan buku catatan bekas kelas 3. Sekarang ia kelas 4 SD.

"Cici mau bacain arti surat Al-Fatihah aja."
Keningku berkerut. Ini kan pidato, bukan saritilawah ...

Melihat ekspresiku, ia merajuk. Subhanallah, pintar sekali dia membaca wajah ibunya.

"Buu ... aku mau Al-Fatihah aja!"

Tiba-tiba, Allah mengingatkanku pada buku-buku parenting tentang pengasuhan anak dan efek pemaksaan kehendak orangtua yang seringkali berdampak buruk bagi anak. Biarlah anak nyaman dengan pilihannya, maka segala macam potensinya akan keluar dengan optimal. Dia tidak akan merasa terbebani dengan segala macam tetek bengek yang 'tak penting'. Saat ia dijejali informasi sementara jiwanya tak siap, maka hasilnya adalah bencana. Bencana bagi jiwa anak. Bencana bagi perkembangannya. Padahal sekecil apapun sebuah memori, ia akan terus tertanam dalam jiwanya dan terbawa hingga ia dewasa. Aku tak mau menorehkan 'tinta hitam' dalam hatinya. Maka ...

"Oke ..." seruku riang. Kuperbaiki sikapku."Mana bukunya, kita liat, seperti apa Cici kali ini. Yuk latihan. Siap?"
Anakku melonjak kegirangan. Dengan semangat ia mulai.

"Asalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh ... bla ... bla ..."

Dengan lancar surat Al-Fatihah bersama artinya mengalir deras dari mulut mungilnya. Tajwid dan makhorijul hurufnya indah. Aku hanya perlu menambah serba sedikit, dari mulai retorika sederhana, senyum (yang memang sudah alami nempel terus di wajahnya) dan beberapa informasi tentang nama lain surat Al-Fatihah (itupun saya sunting dari buku catatannya).

Usai sholat Dhuhur, ia 'terbang' ke masjid dimana teman dan yang lainnya telah menunggu. Ada tiga orang finalis dari masjid komplek kami. Yang lain dari bidang Tahfidz (hafalan) Qur'an.

Sesuai keinginannya, aku mengantar mereka ke tempat lomba dan menungguinya.

Tak lupa kusertakan doa, agar kiranya Allah Yang Mahalembut meridloi langkah kecilnya.

"Anakku akan menyampaikan kebenaran ayatMu, ya Allah. Tolong lancarkanlah semuanya. Jadikan ia pemenang."

Pemenang adalah ia yang mampu bersyukur saat berhasil dan bisa tetap bersabar saat gagal. Dan aku ingin anakku bisa melewati keduanya.

Ini memang hanya sebuah perlombaan kecil untuk melatih keberanian, tapi dampaknya akan membekas hingga besar saat ia dapat melewatinya dengan gembira dan berprestasi.

Dan hasilnya ...

Cici tampil penuh percaya diri, menjadikannya mampu menguasai panggung. Dan ...
Subhanallah, ia keluar sebagai juara pertama.

Ud'uuni astajiblakum. Berdoalah, maka akan Aku kabulkan.

Mahabenar Allah dengan segala firmanNya.

Hari itu aku belajar banyak dari puteriku.
Hari itu aku berguru kepada Allah.
Tentang melatih menekan ego orangtua. Tentang berserah diri. Tentang mengiringi tumbuh kembang anak. Tentang kesabaran dan keikhlasan.