Rabu, 09 Desember 2009

DONGENG KARUHUN


Sukakah engkau mendongeng?
Seberapa sering engkau membacakan dongeng buat anak-anak?
Dongeng apa saja yang engkau kisahkan?
Apakah dongeng karuhun (cerita rakyat/dongeng nenek moyang) termasuk pilihan favorit?
Bagaimana tanggapan anak-anak saat dongeng karuhun disampaikan dalam bahasa ibu (bahasa daerah)nya?

Tadi malam saya sempat kelabakan mengais-ngais kamus ingatan saya tentang alih bahasa…

Begini …
Seperti malam-malam yang lalu, sejak si sulung masih balita, saya kerap membacakan dongeng sebelum tidur. Ini saya lakukan karena masa kecil sayapun kaya akan cerita dongeng sebelum tidur. Terlebih lagi, sekarang saya tahu, betapa kisah dongeng memberi dampak tak terduga (yang positif, tentu saja) bagi perkembangan jiwa dan emosi anak.

Malam tadi, saya kembali bercerita. Kali ini dongeng yang saya baca adalah dongeng dalam bahasa Sunda. Lucunya, dongeng ini sudah lama hilang dalam perbendaharaan kamus ingatan saya. Maka saat saya membaca dan mendongengkannya (Saya pisahkan antara membaca dan mendongeng karena mendongeng membutuhkan keterlibatan ekspresi, emosi dan pewatakan tokoh melalui suara yang berbeda. Misalnya suara kita saat memerankan tokoh raja, pasti berbeda dengan saat mewakili tokoh ular dan anak kecil), saya seperti terseret ke lorong waktu. Improvisasi saya menyeruak dituntun oleh memori yang mengendap sekian lama.

Saking lamanya usia dongeng ini (makanya saya bilang dongeng karuhun yang artinya nenek moyang) banyak sekali istilah-istilah yang membuat saya kesulitan mentranslatenya ke dalam bahasa Indonesia. Akibatnya, selain mendongeng, saya pun sibuk menjelaskan banyak kata yang terasa asing di telinga anak. Terutama kata-kata yang berasal dari bahasa Sunda buhun (Sunda kuno. Kalau bahasa Sunda harian sih mereka juga bisa).
Hehe … penerjemah amatiran yang menerangkan dengan cinta, akankah hasilnya maksimal? Tak soal, yang penting anak mengerti bahasa kalbu ibunya

Judul dongeng itu “Budak Pahatu Lalis” artinya “Anak Yatim Piatu”. Berkisah tentang dua orang kakak beradik yang tak lagi beriba bapak. Sang kakak, seorang anak laki-laki, mengajak adik perempuannya untuk memetik buah kupa (buah berbentuk bulat sebesar bola bekel berwarna ungu, rasanya asam kecut) di hutan. Sementara kakaknya menaiki pohon kupa, adiknya menanti di bawah sambil memungut buah-buah kupa yang dijatuhkan oleh kakaknya.

Tiba-tiba datang seekor ular sanca besar mendekati si adik kecil. Dengan rasa takut yang coba ditahan, si adik memanggil kakaknya yang masih di atas pohon. Dikatakannya bahwa ada yang merambati kakinya dan membuatnya geli. Sang kakak sambil tetap asyik memilih buah kupa hanya menjawab ringan
“Pukul saja, dik, paling-paling itu hanya semut.”

Sang adik berkata lagi, bahwa yang menggerangi itu telah sampai di pahanya.
Jawaban sang kakak tetap tak berubah. Demikian seterusnya hingga suara adik hilang dan hutan kembali sunyi.

Saat turun dari atas pohon, barulah sang kakak menyadari bahwa kemungkinan adiknya telah dimakan ular sanca besar. Maka dengan rasa sedih dan menyesal ia berusaha mencari jejak si ular untuk menyelamatkan adik tercintanya. Singkat cerita, bertemulah ia dengan sang ular yang tengah berguling-guling kesakitan dengan perut besar. Dalam keadaan bingung memikirkan cara menyelamatkan sang adik, terdengarlah suara seekor burung yang memberinya jalan keluar.

(Suara burung dalam kalimat inilah yang membuat saya kebingungan mentranslatenya dalam bahasa Indonesia)

Cukrih cukrih
Turih ku pucuk eurih


Cukrih… cukrih … naon sok bahasa Indonesiana? Yang bisa jawab Ngacung!!

Penerjenah amatir ini lantas menerangkan dengan bahasa tubuh dan kalimat seadanya, yang membuat anak-anak (bahkan ayahnya) terbahak-bahak haha … Entahlah apakah mereka menertawakan kisahnya atau malah geli melihat tingkah ibunya (??) hihi …

Singkat cerita, sang kakak akhirnya membuat sejenis pisau dari pucuk bambu untuk membelah perut ular dan mengeluarkan adik terkasihnya. Untuk menghidupkan kembali jasad adiknya yang telah terbujur kaku, ia mengeluarkan hihid (kipas) pusaka peninggalan nenek moyangnya. Dikipasinya jasad adiknya dari mulai ujung kaki hingga ujung rambut sambil ngawih (satu dari sekian banyak senandung dalam budaya Sunda)

Geber ... geber... hihid aing
Hihid aing kabuyutan
Titinggal nini awaking

Nah lho!
Kawih ini tak saya alihbahasakan, melainkan kutembangkan dengan “penuh penghayatan” hingga berulang kali. Anak bungsuku sampai hapal, lho! Hihi … mungkin terinspirasi oleh antusiasme ibunya dalam mengenang dongeng masa kecilnya. Kalau mau diterjemahkan, inilah hasilnya :
Pas .. pas .. kipasku
Kipasku kipas pusaka
Peninggalan nenek moyang tercinta

Begitu seterusnya hingga sang adik hidup kembali ke pangkuan kakak yang amat menyayanginya.

Kisah tak berhenti sampai disitu. Kakak beradik ini kemudian lalayaran naik rakit di Leuwi Sipatahunan. Konon, leuwi (lubuk) yang termashur dalam lakon-lakon lama Pakuan Pajajaran itu dipercaya terletak pada alur Ciliwung di dalam Kebun Raya Bogor (sekarang). Menurut kisah klasik, leuwi (lubuk) itu biasa dipakai bermandi-mandi para puteri penghuni istana.
Saat itulah si kakak ditangkap oleh ponggawa raja kemudian tewas dalam perkelahian dan ditenggelamkan ke dasar leuwi (lubuk) Sipatahunan, karena disangka maling. Adiknya lantas digiring ke hadapan Raja.

Saat Raja mendengar kisah hidup mereka, ia menyesalkan peristiwa kesalahapahaman yang merenggut nyawa anak lelaki tak berdosa itu. Untuk menebusa rasa bersalahnya, Raja kemudian memerintahkan seluruh rakyat dan para ponggawa untuk membendung dan nawu leuwi (menguras air danau hingga kering) untuk mencari jasad anak yatim piatu tersebut. Akhirnya ditemukanlah jasadnya. Hihid (kipas) pusaka peninggalan nenek moyang mereka kembali dapat membuat kedua kakak beradik itu berpeulukan dalam bahagia.

Melihat kasih sayang yang terpatri diantara kedua anak tersebut, raja menjadi terkesan. Kemudian mereka dijadikan anggota kerajaan dan hidup bahagia.

Begitulah. Namanya juga dongeng, semua sah saja. Banyak yang tak masuk akal, tak mengapa. Yang penting kita lantas perlu menambahkan bahwa hidup mati ada di tangan Allah, sedangkan anak-anak dalam kisah tadi sebenarnya bukan mati melainkan pingsan saja, jadi dapat kembali siuman (hidup). Yang lebih penting lagi adalah pesan moralnya sampai dan tertanam di benak dan hati anak.

Bila digali lebih jauh, budaya kita sangat kaya akan kisah-kisah imajinatif dan inspiratif model begini. Sayang, dongeng rakyat ini makin hilang karena berbagai sebab. Padahal ia memiliki peran besar bagi tumbuh kembang anak. Tidak berarti dongeng modern tidak memiliki peran yang sama, lho. Tapi akan lebih indah bila kita menggali budaya karuhun (leluhur) sebelum budaya itu diklaim orang lain.

Sekarang, maukah kita sendiri menghidupkan kembali cerita rakyat itu dari rumah-rumah kita?

Senin, 07 Desember 2009

AMAL BAIK BERBUAH MANIS

Ini tentang adik ipar.

Sore kemarin, berita duka itu datang tanpa mukadimah. Usianya baru hendak menuju angka 31, putera bungsunya belum lagi genap tiga tahun, si sulung kelas 5 SD, sementara satu-satunya anak perempuan baru saja dengan ceria mengenakan seragam TKnya. Kalau tidak menyadari betapa waktu, usia, jodoh dan takdir sudah diatur Yang Maha Rahman, selaksa tanya siap menyembur : kenapa harus dia, Ya Allah ?

Rupanya tanya itu bukan hanya milik saya. Seluruh keluarga, tetangga dan kenalan seakan “menggugat”. Kepergiannya yang mendadak memang membuat semua terhenyak tak percaya. Benar sekali kita tak pernah memiliki semuanya, namun “biasanya” Sang Empunya terlebih dulu memberikan aba-aba bila hendak mengambil milik-Nya.
Atau barangkali kita yang alpa dalam mengenali tanda-tanda yang sesungguhnya telah Ia tunjukkan sedari awal? Ah…. sungguh, dalam banyak hal kita seringkali terlalu banyak alpa.

Yang membuat saya terharu dan merenungi banyak hal adalah betapa banyak ternyata orang yang kehilangan dia. Terlihat dari melautnya para pelayat, betapa mesjid yang begitu besar penuh dengan jamaah yang menyolatkan, bahkan hingga beberapa gelombang. Padahal semuanya berlangsung di malam hari.

Mendengar asma Allah berdengung dan bergema dari lisan para pelayat di ruangan yang demikian besar di hadapan jasad harum adik saya, sungguh membasahi hati kami semua. .
Betapa kami semua mencintainya dengan sepenuh hati. Dari lisan mereka terungkap, adik kami yang sederhana itu selalu terbuka pada siapa saja yang datang meminta tolong. Dia membuka warung kecil dan berjualan bakso di depan rumah. Siapa saja yang membeli baksonya selalu disediakan sebakul nasi. Alasannya, kasihan banyak pedagang keliling yang makan bakso untuk melepas lelah sambil makan siang. Maka alangkah nikmatnya bila melihat mereka dapat kenyang dengan tambahan nasi putih. Nasi putih gratis !

Bayangkan, di masa beras demikian melambung, hingga banyak orang menghitung belanja bulanan dengan hati-hati, ia dengan rela hati menyiapkan nasi putih gratis untuk para pedagang keliling ! Bukan itu saja. Bila belanja ke pasar untuk keperluan warungnya, ia rela keliling untuk membeli segala keperluan, sementara orang lain lebih memilih belanja di satu atau dua tempat saja sekaligus, disamping lebih cepat juga tidak repot. Alasannya, bagi-bagi rejeki, biar sedikit tapi banyak saudara. Subhanallah …

Benar, Dik. Betapa banyak saudaramu. Betapa banyak yang mencintai dan kehilanganmu. Bukan cuma kami keluarga besar dan para tetangga dekat, melainkan pula orang-orang di pasar, para pedagang keliling, para langganan, para supir angkutan umum yang seringkali mendapat “oleh-oleh” belanjaan pasar.

Ia tidak pernah menolak bila dimintai tolong oleh siapapun.

Amal shalihmu membuat dirimu tidak sesederhana penampilanmu, Dik. Allah swt telah meninggikan derajat orang-orang yang bertaqwa dan beramal shalih. Dan engkau ada di barisan itu. Sebab saya juga tahu sekali bagaimana malam-malammu selalu kau lewatkan dengan bersujud padaNya, tanpa absent. Di antara gema suara para jamaah yang berdoa, saya yakin para malaikat mengamini doa kami.

Janji Allah tak pernah salah….. Adik saya meninggal dengan cara yang sungguh baik. Ia pergi saat lisannya basah menggumamkan ayat suci ditemani suami tercinta. Kala itu ia baru setengah hari dirawat di sebuah puskesmas. Betapa Allah memudahkan ia pergi. Membuat saya harus banyak merenungi, apa yang telah saya siapkan untuk pulang kelak?
Engkau telah mengajari kakakmu ini dengan tanpa berbuih mulut. Sungguh saya belajar banyak darinya.

(Tiba-tiba saja saya ingat dia, saat kubuka catatan harian. Tulisan ini saya salin dari diary tertanggal : 16 September 2006. Semoga saya dapat meneladani keshalihannya. Amiiin)

Sabtu, 05 Desember 2009

Memaknai Sang Golden Shower

Apa yang kutahu perihal kuning?
Selain ia adalah satu dari sekian jenis warna yang tercipta lewat bias cipta Mahakarya, kuning kerap dipercaya memiliki arti muda, gembira dan imajinasi. Dalam ilmu psikologi dan arti warna, kuning disebutkan akan meningkatkan konsentrasi, itu sebabnya warna ini dipakai untuk kertas legal atau post it. Kuning juga merupakan warna persahabatan.

Lalu apa yang kutahu perihal anggrek?
Selain sebentuk tanaman bunga yang cantik dan terkesan anggun, anggrek ternyata sering dipergunakan sebagai simbol dari rasa cinta, kemewahan, dan keindahan selama berabad-abad. Bangsa Yunani menggunakan anggrek sebagai simbol kejantanan, sementara bangsa Tiongkok pada zaman dahulu kala mempercayai bahwa anggrek sebagai tanaman yang mengeluarkan aroma harum dari tubuh Kaisar Tiongkok. (hmmmh ... iyakah?)

Dari Wikipedia, saya tahu bahwa pada pertengahan zaman, anggrek mempunyai peran penting dalam pengembangan tehnik pengobatan menggunakan tumbuh-tumbuhan. Penggunaannya pun meluas sampai menjadi bahan ramu-ramuan dan bahkan sempat dipercaya sebagai bahan baku utama pembuatan ramuan ramuan cinta pada masa tertentu. Ketika anggrek muncul dalam mimpi seseorang, hal ini dipercaya sebagai simbol representasi dari kebutuhan yang mendalam akan kelembuatan, romantisme, dan kesetiaan dalam suatu hubungan. Akhirnya, pada permulaan abad ke-18, kegiatan mengkoleksi anggrek mulai menjadi kegiatan yang banyak dilakukan di segala penjuru dunia, terutama karena keindahan tanaman ini.

Lalu apa yang kurasa saat kuning dan anggrek dipersatukan?
Bahagia mungkin terlampau sederhana. Tapi apa lagi yang pantas kurasa selain rasa sesederhana itu sebagai wakil hati yang menguning usai menerima uluran sebentuk award lambang persahabatan? Sebab keindahan, cinta dan imajinasi telah demikian mewah terulur melalui simbol-simbol yang diterbangkan sahabat. Simbol yang mewakili rasa yang dititipkan Tuhan pada setiap manusia berbudi.

Tuhan memang hanya menitipkan hal-hal indah, agung dan berwarna. Sungguh sebuah kebutaan yang nyata bila aku tak mampu merenung pada setiap kejadian. Sungguh sebuah kebutaan yang nyata bila aku tak merasakan kekaguman atas segala penciptaan sempurna dalam bentuk warna yang terpancar dari setiap batang pohon dan putik bunga, yang kini terkirim melalui sebentuk award kiriman mbak Elly.



Sejenak aku berfikir tentang tetumbuhan, buah-buahan, sayuran, bebungaan. Mereka masing-masing memiliki warna, wangi dan rasa berbeda. Sungguh sebuah bukti cita rasa seni Ilahi dalam penciptaan. Setiap tanaman yang kulihat di sekeliling, di buku-buku, di media, memiliki warna dan pola yang eksklusif untuk jenisnya sendiri.

Alangkah buta aku, bila tak mampu melihat kekuasaan tak terbatas dari Allah, Sang Maha Pencipta semua warna dan bebungaan. Allah merujuk kepada mereka yang aggal menghargai bukti-bukti penciptaan yang mereka lihat dengan firmanNya :

"Dan banyak sekali tanda-tanda kekuasaan Allah di langit dan di bumi yang mereka melaluinya sedang mereka berpaling daripadanya." (QS Yusuf 105)

Dengan harapan aku tak termasuk pada golongan orang yang buta mata hati dari merasakan kekuasaanNya, kutitipkan simbol persahabatan ini kepada sahabat (semoga berkenan menerimanya)

Munir Ardi
Kang Sugeng
Ivan Kavalera
Reni Judhanto
Tisti Rabbani
Insanitis
Kabasaran Soultan
Ateh
Eka Wijayanti
Rosi Atmaja

Semoga kita selalu dapat memaknai setiap detik dalam hidup ini sebagai karunia tak terhingga dari Sang Pencipta.
Amiin

Kamis, 03 Desember 2009

PUNCAK CAHAYA

kecintaan lahir dari rahim kasih sayang
sedang kebencian ada saat cinta tak memiliki ruang
maka keduanya tak mungkin saling menggenggam
meski seluruh galaxy sepakat mengikrarkan
persetubuhan keduanya

bila engkau ingin cahaya
menaungi langit ragamu
menyelimuti angkasa jiwamu
jangan pernah sentuh pintu tak berkunci
sebab disana gelap semata
kegelapan adalah ibu segala kebencian
menyesatkan siapapun di jagatraya tak berujung

titilah tangga ke ketinggian ruhani
bila pelangi bersedia kau naiki
disana akan kau temukan savanna cinta
yang mengantarkanmu ke Puncak Cahaya

Senin, 30 November 2009

Sebuah Nilai Usai "Ngariung"


Selalu rindu kala jauh, selalu bahagia kala bersua. Siapa yang berhak menerima rasa seindah itu? Jawabannya adalah : KELUARGA!!! Setidaknya itulah bagi saya.

Sabtu dan Minggu kemarin, tepat sehari usai Idul Adha, masih di hari Tasyriq, saya berkesempatan ngariung kembali beserta keluarga besar. Kami memiliki waktu pertemuan dua bulan sekali, istilahnya sih arisan keluarga, meski nilai nominal arisan bukan yang utama. Silaturahmi, sesuai sunnah Rasul, untuk memupuk rasa kebersamaan dan kekeluargaan jauh lebih penting ketimbang segepok rupiah, kan? Meski demikian, pengocokan uang arisan seringkali menambah meriah suasana. Ada harap ada cemas hehe ... persis orang nunggu kelahiran buah hati.

Nah, kemarin itu, giliran saya yang jadi tuan rumah. Mamah, Bapa, Teteh sekeluarga, dua keluarga adik-adik saya (semuanya dari Bandung), plus keluarga saya selaku tuan rumah, minus keluarga adik yang di Yogya, cukup membuat riuh udara sejuk dan ramah di Samarang.

Kok Samarang? Samarang ya pake 'a', bukan Semarang pake 'e'. Jauh soalnya. Kalau Samarang adalah sebuah kecamatan di kota Garut. Semarang, ibukota Propinsi Jawa Tengah.
Iya, berhubung mereka ingin sekalian out bond plus mancing, kami menggunakan rumah mertua di kampung sebagai posko. Maka usai berenang dan berendam air panas di Cipanas Minggu pagi, rombongan langsung meluncur ke suasana desa yang bening. Alhamdulillah, dua keluarga besar (keluarga saya dan keluarga suami)bertemu, disatukan Allah lewat silaturahim indah bernama arisan keluarga.



Usai bermain kami ngariung.
Maka tak ada yang bisa membantah betapa indahnya ajaran Rasulullah bernama SILATURAHIM. Di dalamnya ada cinta, ada tawa, ada haru, ada tausiyah, ada perenungan dan doa. Sebagaimana biasa, usai pengocokan arisan, kami mendengarkan petuah Bapa dan tausiyah yang disampaikan oleh salah seorang dari kami sendiri. Namanya tausiyah, namun disampaikan dalam suasana santai layaknya obrolan. Sersan : serius tapi santai. Kami membiasakan anak-anak untuk dapat menghargai sebuah nilai. Itulah intinya.

Usai pertemuan, ada oleh-oleh yang bisa dibawa pulang, bukan hanya untuk kami yang tua-tua melainkan pula untuk anak-anak kami : jiwa baru yang usai dicharge serta nilai baru dari sebuah keluarga. Bukankah setiap moment memiliki nilainya masing-masing yang unik dan tak tergantikan? Itulah maknanya.

Kami semua menemukan mutiara bening di penghujung November ini.
Alhamdulillah ...