Sukakah engkau mendongeng?
Seberapa sering engkau membacakan dongeng buat anak-anak?
Dongeng apa saja yang engkau kisahkan?
Apakah dongeng karuhun (cerita rakyat/dongeng nenek moyang) termasuk pilihan favorit?
Bagaimana tanggapan anak-anak saat dongeng karuhun disampaikan dalam bahasa ibu (bahasa daerah)nya?
Tadi malam saya sempat kelabakan mengais-ngais kamus ingatan saya tentang alih bahasa…
Begini …
Seperti malam-malam yang lalu, sejak si sulung masih balita, saya kerap membacakan dongeng sebelum tidur. Ini saya lakukan karena masa kecil sayapun kaya akan cerita dongeng sebelum tidur. Terlebih lagi, sekarang saya tahu, betapa kisah dongeng memberi dampak tak terduga (yang positif, tentu saja) bagi perkembangan jiwa dan emosi anak.
Malam tadi, saya kembali bercerita. Kali ini dongeng yang saya baca adalah dongeng dalam bahasa Sunda. Lucunya, dongeng ini sudah lama hilang dalam perbendaharaan kamus ingatan saya. Maka saat saya membaca dan mendongengkannya (Saya pisahkan antara membaca dan mendongeng karena mendongeng membutuhkan keterlibatan ekspresi, emosi dan pewatakan tokoh melalui suara yang berbeda. Misalnya suara kita saat memerankan tokoh raja, pasti berbeda dengan saat mewakili tokoh ular dan anak kecil), saya seperti terseret ke lorong waktu. Improvisasi saya menyeruak dituntun oleh memori yang mengendap sekian lama.
Saking lamanya usia dongeng ini (makanya saya bilang dongeng karuhun yang artinya nenek moyang) banyak sekali istilah-istilah yang membuat saya kesulitan mentranslatenya ke dalam bahasa Indonesia. Akibatnya, selain mendongeng, saya pun sibuk menjelaskan banyak kata yang terasa asing di telinga anak. Terutama kata-kata yang berasal dari bahasa Sunda buhun (Sunda kuno. Kalau bahasa Sunda harian sih mereka juga bisa).
Hehe … penerjemah amatiran yang menerangkan dengan cinta, akankah hasilnya maksimal? Tak soal, yang penting anak mengerti bahasa kalbu ibunya
Judul dongeng itu “Budak Pahatu Lalis” artinya “Anak Yatim Piatu”. Berkisah tentang dua orang kakak beradik yang tak lagi beriba bapak. Sang kakak, seorang anak laki-laki, mengajak adik perempuannya untuk memetik buah kupa (buah berbentuk bulat sebesar bola bekel berwarna ungu, rasanya asam kecut) di hutan. Sementara kakaknya menaiki pohon kupa, adiknya menanti di bawah sambil memungut buah-buah kupa yang dijatuhkan oleh kakaknya.
Tiba-tiba datang seekor ular sanca besar mendekati si adik kecil. Dengan rasa takut yang coba ditahan, si adik memanggil kakaknya yang masih di atas pohon. Dikatakannya bahwa ada yang merambati kakinya dan membuatnya geli. Sang kakak sambil tetap asyik memilih buah kupa hanya menjawab ringan
“Pukul saja, dik, paling-paling itu hanya semut.”
Sang adik berkata lagi, bahwa yang menggerangi itu telah sampai di pahanya.
Jawaban sang kakak tetap tak berubah. Demikian seterusnya hingga suara adik hilang dan hutan kembali sunyi.
Saat turun dari atas pohon, barulah sang kakak menyadari bahwa kemungkinan adiknya telah dimakan ular sanca besar. Maka dengan rasa sedih dan menyesal ia berusaha mencari jejak si ular untuk menyelamatkan adik tercintanya. Singkat cerita, bertemulah ia dengan sang ular yang tengah berguling-guling kesakitan dengan perut besar. Dalam keadaan bingung memikirkan cara menyelamatkan sang adik, terdengarlah suara seekor burung yang memberinya jalan keluar.
(Suara burung dalam kalimat inilah yang membuat saya kebingungan mentranslatenya dalam bahasa Indonesia)
Cukrih cukrih
Turih ku pucuk eurih
Cukrih… cukrih … naon sok bahasa Indonesiana? Yang bisa jawab Ngacung!!
Penerjenah amatir ini lantas menerangkan dengan bahasa tubuh dan kalimat seadanya, yang membuat anak-anak (bahkan ayahnya) terbahak-bahak haha … Entahlah apakah mereka menertawakan kisahnya atau malah geli melihat tingkah ibunya (??) hihi …
Singkat cerita, sang kakak akhirnya membuat sejenis pisau dari pucuk bambu untuk membelah perut ular dan mengeluarkan adik terkasihnya. Untuk menghidupkan kembali jasad adiknya yang telah terbujur kaku, ia mengeluarkan hihid (kipas) pusaka peninggalan nenek moyangnya. Dikipasinya jasad adiknya dari mulai ujung kaki hingga ujung rambut sambil ngawih (satu dari sekian banyak senandung dalam budaya Sunda)
Geber ... geber... hihid aing
Hihid aing kabuyutan
Titinggal nini awaking
Nah lho!
Kawih ini tak saya alihbahasakan, melainkan kutembangkan dengan “penuh penghayatan” hingga berulang kali. Anak bungsuku sampai hapal, lho! Hihi … mungkin terinspirasi oleh antusiasme ibunya dalam mengenang dongeng masa kecilnya. Kalau mau diterjemahkan, inilah hasilnya :
Pas .. pas .. kipasku
Kipasku kipas pusaka
Peninggalan nenek moyang tercinta
Begitu seterusnya hingga sang adik hidup kembali ke pangkuan kakak yang amat menyayanginya.
Kisah tak berhenti sampai disitu. Kakak beradik ini kemudian lalayaran naik rakit di Leuwi Sipatahunan. Konon, leuwi (lubuk) yang termashur dalam lakon-lakon lama Pakuan Pajajaran itu dipercaya terletak pada alur Ciliwung di dalam Kebun Raya Bogor (sekarang). Menurut kisah klasik, leuwi (lubuk) itu biasa dipakai bermandi-mandi para puteri penghuni istana.
Saat itulah si kakak ditangkap oleh ponggawa raja kemudian tewas dalam perkelahian dan ditenggelamkan ke dasar leuwi (lubuk) Sipatahunan, karena disangka maling. Adiknya lantas digiring ke hadapan Raja.
Saat Raja mendengar kisah hidup mereka, ia menyesalkan peristiwa kesalahapahaman yang merenggut nyawa anak lelaki tak berdosa itu. Untuk menebusa rasa bersalahnya, Raja kemudian memerintahkan seluruh rakyat dan para ponggawa untuk membendung dan nawu leuwi (menguras air danau hingga kering) untuk mencari jasad anak yatim piatu tersebut. Akhirnya ditemukanlah jasadnya. Hihid (kipas) pusaka peninggalan nenek moyang mereka kembali dapat membuat kedua kakak beradik itu berpeulukan dalam bahagia.
Melihat kasih sayang yang terpatri diantara kedua anak tersebut, raja menjadi terkesan. Kemudian mereka dijadikan anggota kerajaan dan hidup bahagia.
Begitulah. Namanya juga dongeng, semua sah saja. Banyak yang tak masuk akal, tak mengapa. Yang penting kita lantas perlu menambahkan bahwa hidup mati ada di tangan Allah, sedangkan anak-anak dalam kisah tadi sebenarnya bukan mati melainkan pingsan saja, jadi dapat kembali siuman (hidup). Yang lebih penting lagi adalah pesan moralnya sampai dan tertanam di benak dan hati anak.
Bila digali lebih jauh, budaya kita sangat kaya akan kisah-kisah imajinatif dan inspiratif model begini. Sayang, dongeng rakyat ini makin hilang karena berbagai sebab. Padahal ia memiliki peran besar bagi tumbuh kembang anak. Tidak berarti dongeng modern tidak memiliki peran yang sama, lho. Tapi akan lebih indah bila kita menggali budaya karuhun (leluhur) sebelum budaya itu diklaim orang lain.
Sekarang, maukah kita sendiri menghidupkan kembali cerita rakyat itu dari rumah-rumah kita?
[Hytrewq!] "Mudah-mudahan Dia Orangnya"
2 minggu yang lalu

