Minggu, 07 Juni 2009

Menanam di Hati Anak


“Sesungguhnya harta bendamu dan anak-anakmu adalah cobaan belaka. Padahal di sisi Allah ada pahala yang besar.” (Q.S. At-Taghaabun : 15)


Dalam Tafsir Rahmat, H. Oemar Bakri mengamanatkan setiap orang untuk berhati-hati menjaga amanat Allah ini. Jika dijaga dengan baik ia akan mendatangkan kebahagiaan. Manakala disia-siakan ia akan menimbulkan kecelakaan.
Karena itulah orangtua harus menomorsatukan pengasuhan dan pendidikan anak.


Berusaha untuk tidak jemu memberi “bekal” bagi kekayaan batinnya, seorang ibu harus senantiasa belajar. Ia haruslah menjadikan dirinya sebagai pembelajar sejati. Tak henti menimba ilmu dari manapun sumbernya. Iapun harus bisa mendidik dengan kasih dan keriangan serta kelembutan. Howard Gardner yang menulis tentang proses pembelajaran yang selalu dipenuhi oleh kegembiraan, ketakjuban dan cinta, menularkan semangatnya kepada para pendidik (juga para ibu) untuk pula menghadirkan kegembiraan, ketakjuban, kebahagiaan dan cinta dalam setiap “mata pelajaran” yang ibu tularkan pada anak-anak.
Seluruh kecerdasan yang dimiliki oleh seorang anak akan dapat melejit-hebat apabila suasana belajar dalam keadaan riang, materi ajarnya dapat memesonakan anak, dan guru yang mengajarkan benar-benar ikhlas mengalirkan ilmunya. Maka setiap ibu wajib menjadi guru yang ikhlas. Bukankah sejatinya, ibu adalah guru yang pertama dan utama bagi anak-anaknya ?


Apa jadinya bila benih kebaikan yang coba kita tanam ternyata harus layu dan rontok sebelum sempat bertunas hanya karena salah dalam menanamnya ? Karena salah dalam menyampaikan pesan pada anak? Misalnya karena caranya dengan paksaan dan bentakan. Bukankah pengalaman telah mengajarkan bahwa segala sesuatu yang hadir di bawah tekanan hanya akan melahirkan nestapa dan keterpaksaan.


Saya ingin mengutip apa yang telah diajarkan Neno Warisman dalam bukunya “Matahari Odi Bersinar Karena Maghfi”. Alangkah bodoh kita – para orangtua zaman ini – yang masih sering menggunakan cara-cara yang keras, kasar, nyinyir, apalagi memakai kekuatan dan kekerasan tangan untuk menanam iman dan tauhid mereka. Anak manapun saja di muka bumi, seandainya mereka diberi peluang untuk tumbuh dengan patut dan mulia, diberi ruang untuk mengembarakan pikiran-pikirannya hingga mampu menganalisis dan menemukan jawaban-jawaban atas keingintahuan mereka sejak dini…. Dan kita sebagai orangtua mau bersabar menemani …., saya yakin, mereka akan menjadi orang-orang besar dunia !
Siapakah orang-orang besar dunia ? Ialah mereka yang mampu menaklukkan dunia dengan segala kepongahannya serta mengejar akhirat dengan segala kebaikannya.


Setelah benih tauhid ditabur dan disemai di hati anak, maka mulailah kita memupuknya dengan ajaran akhlakul karimah. Mengenalkannya tidak saja kepada sesama manusia, melainkan pula pada hewan yang demikian banyak jenisnya serta tetumbuhan yang kaya warna.
Jangan berhenti “menanam” bahkan saat mereka tengah bertengkar dengan saudaranya sekalipun. Mengenalkan kepada mereka tentang arti demokrasi dan setia kawan, kejujuran dengan segala konsekuensinya, bersikap adil meski harus ada yang kecewa, serta tetaplah istiqomah. Memberikan kesempatan kepada mereka untuk mengenal sejak dini bahwa dalam hidup ada sesuatu yang tidak harus sesuai dengan keinginannya. Banyak yang harus dikompromikan. Tidak perlu dengan berbuih mulut, cukuplah dengan selalu ada dan bersedia hadir dalam setiap kesempatan emas.

Untuk mengetahui apakah sebuah peristiwa merupakan kesempatan emas ( untuk menanam) ataukah bukan memang memerlukan kepekaan tersendiri. Dan saya yakin semua ibu pasti memiliki kepekaan itu, asalkan mau mengenali anak-anaknya. Sebab pengasuhan anak adalah soal hati, tidak berkaitan langsung dengan tinggi rendahnya pendidikan sang ibu.

Anak-anak perlu belajar bagaimana berbesar hati lewat banyaknya intensitas pergaulan dengan sesamanya. Seringkali kita tergoda untuk cepat-cepat nimbrung pada persoalan anak-anak, tanpa memberi mereka kesempatan untuk menyelesaikannya dengan cara mereka sendiri. Padahal campur tangan yang terlalu dini akan mematikan kemampuan terpendamnya. Hingga tanaman yang hendak bertunas mesti mati tanpa sempat berkembang.


Para ibu sejati, mari kita berlomba menanam benih kebaikan di hati anak-anak kita, agar genaplah peran kita dalam mempersiapkan calon-calon pemimpin bangsa ini. Hingga sejahteralah rakyat kita karena kelak para pemimpin itu lahir dari rumah-rumah kita yang selalu menghadirkan kebahagiaan dan cinta.

Dengan semangat “fastabiqul khairat” semoga Allah swt meridloi dan memudahkan jalan dalam mengawal pertumbuhan anak-anak kita….- yang Ia firmankan sebagai “cobaan belaka” itu - …, sehingga tak sampai menggelincirkan kita dalam api nereka. Naudzubillah …

14 komentar:

  1. Hmm.... jadi tersindir Bu...
    Karena pernah juga menempuh cara yang bodoh.
    (Semoga dimaafkan dan diampuni)
    Tulisan ini ibarat cermin yang didalamnya kita bisa melihat pantulan diri kita sendiri dalam mendidik (menanam)dalam diri anak.
    Terima kasih, senang mendapat pelajaran dari rumah ini....

    BalasHapus
  2. semoga sayah nanti bisa menjadi orang tua yang baik.. walaupun sekarang saya menjadi anak yang tidak baik... hihihihihihi...

    BalasHapus
  3. oo gtu y jadi orang tua yg baik,,hmmm,,

    BalasHapus
  4. Subhanallah... tulisannya nyentuh banget mbak. Semoga ini menjadi bekal untuk saya kelak menjadi seorang ibu.

    Tapi mbak, jaman sekarang lebih banyak yang memprioritaskan untuk mendidik atau mengamalkan ilmu yang ada di tempa kerja, Bukan di rumah, gimana tuh yah..???

    Mbak, ada awrd di rumah saya, dah di ambil belum...???

    BalasHapus
  5. Aku masih sering melihat ortu yg over protektif pada anak. Mau main di lantai, jangan..kotor, katanya. Kasian juga aku, krn kyknya secara ga sadar tuh ortu lupa kalo anak2 ga bisa bersikap spt org dewasa yg tenang, anggun, dsb.
    Good posting, mbak Annie

    BalasHapus
  6. @ Lis Indra : Sama, mbak ... terkadang yang nulis juga masih suka lupa. Kita memang harus terus belajar menjadi orangtua, terus dan terus, tiada henti. Insya Allah selalau ada hasil dari setiap usaha.

    @ Rangga: amiinn ...
    @ kir31 : jadi malu, ini ibarat mengingatkan diri sendiri, kir...
    @ Anazkia : mengamalkan ilmu sama nilainya di dalam maupun di luar rumah selama keduanya berjalan beriringan (seimbang), bukan ?
    Ada award ?? aduh, makasih, Ana. Ya nanti langsung saya ambil.

    @Fanda : Dik Fanda, memang terkadang cinta yang berlebih suka menyesatkan. Saya hanya bisa berdoa semoga Allah selalu membimbing agar saya bisa menjadi orangtua yang baik buat anak-anak. Terima kasih, dik ...

    BalasHapus
  7. ciee... kayaknya mbak annie nih sosok ibu yang bener2 belajar ya...

    mudah2an nanti kalo aku dah punya anak, aku juga bisa lebih baik hohoho...

    BalasHapus
  8. mantav sekali ilmunya :)

    BalasHapus
  9. @ Zujoe : iya, zu, belajar seumur hidup. Kudoakan juga moga keinginanmu tercapai.

    @ semar : diajar teras, Kang! makin diasah kan makin seukeut, nya...

    BalasHapus
  10. mmm... no comment! statusnya masi jadi anak ni bu...

    but, pelajaran yg bagus tuk masa depan, moga2 La bisa jadi Ibu yg baik spt tu (amiiin...)

    BalasHapus
  11. blum ada amanat yang thu,,
    jadi belom kepikiran

    BalasHapus
  12. @ Laila dan ism : Ya, bila saatnya tiba kelak, semoga niatmu dikabulkan Allah swt. Amiiinn

    BalasHapus
  13. betul sekali alangkah indahnya jika semua guru/orangtua mengajar anak (siswa) begitu, tentunya tidak akan terjadi tindakan kekerasan yang sering kita dengar ttg kekerasan antar siswa.

    BalasHapus
  14. @ t. murtini : thank's for your comment, sist ! Salam ka Kang Ayi .... (hihi .. ongkoh akang ongkoh ayi, nya! lepat nami eta mah.)

    BalasHapus

Silakan tulis komentar anda, sobat. Terima kasih sudah mampir, ya ...