Senin, 09 Februari 2015

Jabatan : Anugerah atau Musibah?

Tragedi Cicak versus Buaya, seolah tak kunjung usai. Selalu datang episode baru perseteruan petinggi negeri yang seharusnya memberi contoh baik bagi generasi penerusnya.

Prihatin. Sedih. Marah. Geram.
Segala macam rasa berkelindan di benak banyak rakyat Indonesia, yang setiap hari disuguhi tontonan adu 'kebenaran' versi nya sendiri-sendiri. 

Mereka, para pejabat itu, yang diserahi tugas mengemban amanah rakyat untuk mengelola negeri, telah nyata-nyata mengkhianati kepercayaan rakyat. Kita (rakyat) tak pernah tahu dengan jelas siapa benar siapa salah. Sebab tak kentara siapa dusta siapa jujur. Batas antara keduanya makin menipis. Opini publik dibangun oleh banyak pihak, dan rakyat awam hanya jadi penonton.

Benarkah kita (rakyat) tak bisa berbuat apa-apa? Padahal pejabat itu, langsung ataupun tidak, nyata-nyata dipilih oleh rakyat?


Berabad lampau Rasulullah saw yang mulia telah mengingatkan 'Abdurrahman bin Samurah (Shahabat Nai) dengan sabdanya :
"Wahai 'Abdurrahman, engkau jangan meminta-minta kepemimpinan, karena engkau jika diberikan kepemimpinan dengan memintanya, maka engkau akan dibebaninya, dan jika engkau diberi kepeminpinan dengan tidak memintanya, maka engkau akan diberikan pertolongan (oleh Allah) untuk menjabatnya" (HR. Muslim)
 Dalam hadits lain, Rasulullah saw bersabda :

"Kami demi Allah, tidak akan menyerahkan pekerjaan ini kepada seseorang yang memintanya atau kepada seseorang yang sangat menginginkannya." (HR. Muslim)
Hadits ini telah memberikan kesan bahwa orang yang meminta jabatan berarti tidak sadar akan besarnya tanggung jawab yang harus ia pikul.

Zaman telah berubah. Kini setiap orang berlomba mencalonkan diri untuk ditunjuk sebagai pejabat, menduduki jabatan prestisius. Bila dia orang yang bertanggung jawab,  tentu kita tak sulit dan tak keberatan untuk menyetujui memilihnya. Tapi bila dia orang yang tidak bertanggung jawab serta berakhlak buruk, menurut KH Aceng Zakaria, pimpinan Pesantren Persis Rancabango Garut, tentu saja kita (rakyat) harus berani tampil untuk merebut jabatan itu atas dasar tanggung terhadap keselamatan ummat.

Jadi, bagaimana seharusnya kita memandang jabatan? Besar atau kecil tanggung jawab yang diemban dari akibat jabatan yang kita sandang, tentu ada konsekuensinya. Ada kepahaman ruhani yang harus menyertainya. Bahwa ia adalah sebuah amanah.


Jabatan Itu Amanat
1. Amanah dari Allah yang harus dipertanggungjawabkan kelak di hadapanNya
2. Bila tidak mampu mengembannya, bisa membuat seseorang hina dan tersiksa di hari kiamat
3. Memiliki segudang tugas dan kewajiban yang harus dipenuhi
4. Orang yang merasakan dirinya lemah dan tidak memiliki kemampuan untuk memimpin, sebaiknya jangan memaksakan diri, karena akan mencelakakan dirinya sendiri.

Jabatan = Peluang untuk Beramal Saleh
Rasulullah saw bersabda :
"Sebaik-baik orang ialah orang yang bermanfaat untuk orang lain."
Para pejabat atau pemimpin memeiliki banyak sekali peluang untuk membantu memperbaiki kehidupan bawahannya, rakyatnya, wabil khusus kaum fakir, anak yatim, dll. Bila seorang pejabat membuat jembatan penghubung untuk kelancaran aktivitas warganya, berapa ribu orang per hari yang bisa mengambil manfaat dari jembatan tersebut? Itu hanya dari satu jenis kebaikan. Banyak sekali manfaat yang bisa ditebar bila seseorang menduduki jabatan dengan amanah.


Imbalan Bagi Pejabat Yang Adil
Mengingat upaya menegakkan keadilan itu sangat berat, tentu saja imbalan yang Allah berikan pun akan sangat besar. Dalam haditsnya Rasulullah saw bersabda :
"Sesungguhnya mereka yang bertindak adil di sisi Allah akan berada di atas mimbar cahaya, berada di sebelah kanan Allah swt, dan kedua tangan Allah di sebelah kanan mereka yang adil dalam putusan mereka dan di keluarga dan apa yang mereka pimpin." (HR. Muslim) 
Berada di sebelah presiden saja akan membuat kita merasa bangga, bahkan fotonya pastiiii dipajang-pajang dan dipamerkan, apalagi berada bersama Sang Penguasa Hidup, Allah swt. Tenu hal ini akan menjadi kebahagiaan terbesar dan teristimewa, yang tidak bisa diraih oleh setiap mukmin.
"Tujuh orang yang akan mendapatkan perlindungan dari Allah swt di saat tidak ada perlindungan kecuali perlindungan dari Allah, yaitu : 1. Pemimpin yang adil ...."

Sanksi bagi Pemimpin yang Tidak Adil
Rasulullah saw bersabda :
"Tidak ada seorang hamba yang diberikan Allah jabatan untuk memimpin rakyat, mati, di saat ia mati ia sedang menipu rakyatnya kecuali Allah haramkan surga untuknya." (HR Bukhari-Muslim)
Naudzubillahi min dzalik

Maka, sesungguhnya jabatan itu hanyalah bentuk lain dari amanah dan tugas kita selama hidup di dunia.  Jadi apapun kita, amanah yang diberikan seyogyanya dijalankan dengan penuh tanggung jawab, bukan hanya kepada diri sendiri dan masyarakat, namun terlebih lagi di hadapan Allah swt.

Andai saja semua pemimpin, pejabat, penguasa menjalankan amanahnya dengan benar ...

 berkaryadengangoresanpena.wordpress.com







16 komentar:

  1. Pas banget postingan teteh, hubby baru diserahi jabatan baru...lbh tinggi dan lbh byk tugas dan tanggung jwbnya. Tulisan ini pas, jd aku bisa sharing dgn suamiku...bahwa jabatan itu amanah yg pertanggung jwbnnya bkn sm manusia saja tp jg di akhirat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah ... semoga melalui jabatan yang baru bisa punya banyak kesempatan untuk beramal dan lebih bermanfaat bagi banyak orang ya, neng. Salam buat pa Yayan, Kaka dan Sean ...

      Hapus
  2. Jabatan itu anugerah bila kita memegang teguh amanah yg digariskan pd kita... Tetapi kalau jabatan itu kita laksanakan diluar koridor nah...alamat jabatan itu akan berujung musibah... Semoga siapyn yg mendpt jabatan dpt memegang teguh ananah..

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin ya Allah ...
      terimakasih kunjungannya, mbak Rita

      Hapus
  3. jabatan itu jika di jalankan dengan amanah menjadi anugerah ya tapi sebaliknya menjadi musibah

    BalasHapus
  4. Jabatan adalah amanah yang harus diemban dengan sebaik-baiknya.
    Kelalaian bisa menyebabkan sengsara, masuk penjara dan menjadi hina jika tidak segera bertobat.
    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Inggih, pak de
      salam kembali, terima kasih

      Hapus
  5. jabatan itu amanah jadi harus bisa mengemban dnegan sebaik2nya,semanik tinggi jabatan semakin tinggi pula amanahnya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. semakin tinggi pohon makin kencang anginnya, ya.
      Sip ..

      Hapus
  6. assalamualaikum ibu ani, salam kenal, maaf bu saya tertarik dan terinspirasi dengan post http://www.perpustakaan-mtsngarut.blogspot.com/2014/02/musyawarah-pustakawan-siswa.html#more , saya ingin menerapkan program semacam itu di MTsN yang saya kelola, agar perpustakaan benar-benar di minati bukan hanya dipandang sebagai gudang buku saja, kalau berkenan mohon di bimbim langkah-lankahnya atau bisa dikirm lewat email di alamat aya.mariaulfa@gmail.com contoh program kerjanya seperti apa, sebelumnya terimakasih,

    BalasHapus
  7. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  8. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  9. anugrah jika kita betul2 dalam melaksanakannya ,,

    BalasHapus
  10. semua itu bagai mana dengan kita yang menjalankannya lakukan dengan hati yang ikhlas .

    BalasHapus
  11. 1. Suka merendahkan atau menjelek-jelekkan calon lain
    2. Tujuannya bukan untuk menjadi pemimpin, tapi sebatas ingin mengalahkan lawan.
    3. Mencari simpati dengan mengunjungi masyarakat, padahal sebelumnya tak pernah dilakukan.
    4. Merasa dirinya mantan pejabat, sehingga merasa mampu untuk menjadi pejabat apa saja.
    5. Tak pernah menyadari bahwa dirinya tak punya banyak pendukung.
    6. Mencari-cari data, bahkan memanipulasinya sekadar untuk menunjukkan bahwa dirinya layak dipilih.

    BalasHapus

Silakan tulis komentar anda, sobat. Terima kasih sudah mampir, ya ...