Selasa, 03 Maret 2015

Solilokui

Andai setiap ruhani melakukan perjalanannya sebagaimana fitrah menuntun, maka ia akan kembali menjadi manusia. Sayang, wilayah itu kini tengah dirampok ribuan iblis. Ah ...ya ampuun, bisa jadi iblis tak suka. Bisa jadi ia tersinggung disebut ribuan, seolah mengepung, tak berani satu lawan satu. Bisa jadi jumlahnya tak ribuan, hanya satu. Tapi, satu yang diikuti ribuan manusia yang mengiblis. Astaghfirullahal'adzim ... Aku berlindung kepada Allah dari sifat semacam itu.
 
Pernahkah engkau merasa tengah kesepian, sunyi dan sendiri? Tak mendengar apapun, selain keriuhan dari dalam? Itu hanyalah perasaan, yang kerap menipu. Sungguh, ia bukanlah kesunyian, meski ia dalam kesendirian, meski ia dalam keterdiaman.


Sejatinya, semesta tak pernah diam. Bergerak dan terus bersuara. Bahkan hutan yang kita  saya anggap sepi, pada kenyatannya adalah tempat paling riuh dengan gaokan suara-suara owa, tongeret, burung,  dan ribuan nyamuk yang menggelepar tak kunjung putus. Malam yang kita  saya anggap sepi, tak pernah sunyi dari suara maupun gerak.

Bumi terus berrotasi, angin setia berhembus, bulan bintang awan berenang di langit, langit menyelimuti, gunung-gunung yang tetap memagma, lautan bergejolak, ikan berkelana, burung mencari mangsa, cicak dan nyamuk yang berkejaran, kunang-kunang melayang, daunan berbisik, air gemericik, hingga mimpi yang berceloteh. Semesta tak pernah diam. Kecuali ia mati. Ahh ...bahkan mati pun, benarkah ia tengah diam? Saya tak mampu memastikan. Kepastian hanyalah mutlak milik Tuhan Sang Pemilik Kepastian.

Hari ini kita hidup, dengan segala lekuk likunya, dengan segala kurang lebihnya, dengan segala dinamikanya. Sejak bangun usai tidur sampai tidur lagi. Hidup menyuguhkan segala hal yang berbau pergerakan. Pernahkan engkau sempatkan  untuk berbincang dengan diri sendiri? Orang menyebutnya kontemplasi, apapun sebutannya.

Melalui olah rasa, olah jiwa, yoga, meditasa, tapa, semedi, kesemuanya bermuara pada perjalanan menuju pengenalan ruhani. Pengenalan diri yang pada hakikat tujuan finalnya adalah Sang Pencipta. Manusia memiliki kecenderungan mencari dari mana ia bermula, bahkan yang ateis sekalipun, benarkah jiwanya tak mencari kekuatan di luar diri dan semestanya?

Manusia tak pernah akan bisa lari dari fitrah hidupnya. Dengan tegas Allah tuliskan dalam Alquran :
"Dan AKU tidaklah menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu." (QS Adz-Dzariyat 56)
Ketetapan yang sudah tertulis di 'Arsy tak mungkin bisa diubah-ubah. Fitrah adalah sifat asal. Kemanapun manusia pergi, bermetamorfosa, menyublim menempuh jalan apapun, muaranya adalah menuju Allah, beribadah, menghamba. Sekeras apa ia sanggup lari, dari kedalaman yang paling dasar akan menyanderanya pada keadaan : IA BUTUH TUHAN.

Keadaan yang chaos dan jauh dari sifat kemanusiaan, sejatinya adalah kehilangan yang paling fatal. Hari ini keadaan itu tengah demikian kuat menggegerogoti fitrah kita.  Setiap hari tayangan berita di televisi menggedor bilik jantung kita : tentang pembunuhan, bentrok antar warga, perkelahian antar pelajar bahkan pada tingkat paling dasar (SD), perdebatan, muslihat, adu domba, fitnah, tak jelas mana lawan mana kawan, celebritas, ketimpangan ekonomi, pembegalan, perkosaan, kebakaran, bencana alam. Oi ...sungguh, bencana paling bencana adalah hilangnya fitrah kemanusiaan kita!

Hari ini banyak manusia yang tak lagi manusia.  Barangkali saya termasuk di dalamnya. Naudzubillahi min dzalik ...

Saatnya berbincang sendiri dengan sejati, membuka mushaf, melakukan perjalanan mi'raj. Bila yoga, semedi, tapa, mampu mengantarkan jiwa manusia ke dalam kedamaian. Apatah lagi 'semedi' menuju Tuhan seperti ajaran Rasulullah yang mulia. Melalui ritual sholat. Mi'raj sejati kaum beriman.

Andai setiap ruhani melakukan perjalanannya sebagaimana fitrah menuntun, maka ia akan kembali menjadi manusia. Sayang, wilayah itu kini tengah dirampok ribuan iblis. Ah ...ya ampuun, bisa jadi iblis tak suka. Bisa jadi ia tersungging disebut ribuan, seolah mengepung, tak berani satu lawan satu. Bisa jadi jumlahnya tak ribuan, tapi satu. Tapi, satu yang diikuti ribuan manusia yang mengiblis. Astaghfirullahal'adzim ... Aku berlindung kepada Allah dari sifat semacam itu.

Sholat adalah semedi sejati dalam olah ruhani, bila sholatnya benar, bukan sholat alakadarnya. Duhai ...telah benarkah sholatku? Apabila sholatnya benar, maka perilaku kesehariannya akan benar pula. Tak akan mampu ia berpaling dari jalur kesucian yang diamanatkan sholat.

Saatnya kembali mendirikan, bukan mengerjakan, sholat. Saat ia didirikan, maka bangunan ruhani akan makin ajeg berdiri di tengah gempuran  suara-suara  racun. Ketika kita bersiap sejak thaharah raga dan ruh, tempat berdiri dengan segenap gelombang yang mengelilingi, saat itulah ruh kita disiapkan untuk menempuh perjalanan mi'raj. Barangkali tak mudah. Tak ada yang mudah kembali ke dalam ruhani. Ada banyak perangkat yang harus disiapkan. Utamanya ruh itu sendiri.

Sudahkah kita sadari, bahwa makanan sehari-hari kita tak pernah cukup hanya dengan nasi dan lauk-pauknya, tanpa santapan bagi kesehatan ruhani. Betapa setiap kali kita saya lalai akan hal itu. Sadar sih iya, tapi kesadaran itu tak digenapi dengan pengamalan yang purna. Betapa tak mudah melangitkan ruh menuju Allah, lalu kembali dalam waktu yang singkat. Empat rakaat sekitar 10 hingga 15 menit, dengan noda sebesar sekian kali ukuran tubuh, hijab itu demikian kukuh menghalangi perjalanan menujuNya.

Andai saja setiap sholat adalah proses purna membersihkan noda dan racun dalam hati, betapa akan damainya semesta. Tapi, mungkinkah? Sedang kebathilan sama tuanya dengan usia penciptaan, bahkan mungkin lebih. Ah...sungguh, bebalnya saya  pada hakikat penciptaan.

Mari kita menepi melalui sholat.
Sholat bukanlah wilayah sepi dan sunyi. Dalam 'mendirikan', ia bersuara dan teramat sibuk. Sibuk menyiapkan ruh, sibuk menata jalan, sibuk menepis goda, sibuk menghalau bisikan, sibuk menyeru Allah, sibuk menujuNya. Sayang, dalam perjalanan belajar, para guru sering lupa mengajarkan cara khusyu'. Makna khusyu' diajarkan, tapi metoda menggapainya tak banyak dipraktekkan. Maka para pengamal sholat (saya) tak kunjung khatam membangun tiang din itu. Tak pernah ajeg. Jadilah orang Islam memorakporandakan sendiri tiang-tiang yang dibangun dengan rapuh.

Dalam hiruk-pikuk semesta yang tak pernah diam, cenderung makin brutal dan membuta, saya cuma tahu bahwa saatnya manusia menata kembali tiang-tiang bangunan kita.
Sholat.
Sholat dengan sebenar-benarnya sholat. Engkau akan menemukan fitrah.

ruhullah.wordpress.com








8 komentar:

  1. Teh Any... tercubit-cubit aku membaca tulisan teteh di atas

    BalasHapus
  2. Perkenalkan, saya dari tim kumpulbagi. Saya ingin tau, apakah kiranya anda berencana untuk mengoleksi files menggunakan hosting yang baru?
    Jika ya, silahkan kunjungi website ini www.kumpulbagi.com untuk info selengkapnya.

    Oh ya, di sana anda bisa dengan bebas mendowload music, foto-foto, video dalam jumlah dan waktu yang tidak terbatas, setelah registrasi terlebih dahulu. Gratis :)

    BalasHapus
  3. Santapan jiwa ini penting ya, tapi kadang sering dilupakan orang.

    BalasHapus
  4. siraman rohani yang menyejukan

    BalasHapus
  5. terima kasih untuk tulisannya. :)

    BalasHapus
  6. sejuk pagi-pagi baca tulisannya mbak ani

    BalasHapus
  7. mba tulisannya bagus sekali. sampai kehati loh mba

    BalasHapus
  8. :)) duh sholat kadang masih ada distraksinyaaa huhu

    BalasHapus

Silakan tulis komentar anda, sobat. Terima kasih sudah mampir, ya ...