Selasa, 23 Oktober 2018

SPIRIT HARI SANTRI NASIONAL



Kata ‘santri’ kerap disematkan pada orang yang berguru dan bermukim di pondok pesantren. Meskipun kemudian muncul istilah santri kalong, yakni sebutan bagi santri yang tidak mondok. Menurut Kamus Besar Bahas Indonesia (KBBI) edisi keempat, santri artinya 1. orang yang mendalami agama Islam; 2. Orang yang beribadat dengan sungguh-sungguh; orang yang saleh (Depdiknas, 2014). Bila merujuk pada arti kata tersebut di atas, maka siapa saja yang belajar dan mendalami ilmu agama secara intens, ia berhak disebut sebagai santri.
Sejatinya, santri bukan hanya sekedar label bagi setiap pembelajar di lingkungan pesantren. Santri tercermin dalam lisan dan perilaku. Ia hidup dan tumbuh dalam sikap keseharian. Seseorang yang telah dan pernah nyantri (menjadi santri) dalam fase hidupnya, memiliki sikap dan pola pikir kesantrian. Menyatu dalam diri sehingga menjadi jiwa. Jiwa santri ini ada dalam setiap pribadi apapun jenis pekerjaannya. Mewarnai dan menjadi spirit yang tidak bisa dinafikan, baik dalam lingkup kecil maupun dalam berbangsa dan bernegara.
Maka ketika pada tahun 2015 Presiden Jokowi mencanangkan  hari Santri Nasional, kita diingatkan kembali bahwa santri tidak bisa dilepaskan dari perannya dalam perjuangan mempertahankan dan membangun Indonesia. Dan oleh karenanya spirit itu harus terus dibangun dan diberdayakan, sebagaimana dulu sejarah mencatat bagaimana kekuatan kaum santri mempertahankan kemerdekaan.
Konon, tanggal 22 Oktober dipilih sebagai  hari Santri Nasional, adalah untuk memperingati peran besar para kiai dan kaum santri dalam perjuangannya melawan penjajah yang bertepatan dengan resolusi jihad. Resolusi jihad dicetuskan oleh pendiri NU yaitu KH. Hasyim Asy’ari pada tanggal 22 Oktober pada tahun 1945 di Surabaya untuk mencegah dan menghalangi kembalinya tentara kolonial Belanda yang mengatasnamakan NICA. Momentum itulah yang dijadikan tonggak bagi pencanangan hari santri. Tentu saja dengan tujuan dan cita-cita besar untuk mewujudkan Indonesia lebih baik dan berkeadilan dalam ridlo Allah swt.  
 
    
            Menyerap Spirit Hari Santri
            Sejarah adalah ruh yang bisa memberi nyala harapan serta spirit bagi masa sekarang. Lalu bagaimana generasi ini menjadikan hari Santri sebagai spirit? Bila belajar dari sejarah resolusi jihad, paling tidak ada 3 poin yang bisa dicatat, yaitu :
  1. Tauhid, yakni keyakinan hanya Allah satu-satunya Tuhan yang patut disembah dan dimintai pertolongan.
  2. Akhlaqul karimah (cinta tanah air, daya juang dan semangat rela berkorban)
  3. Pantang menyerah dalam menegakkan kebenaran
Ketiga poin itu yang harus kita serap dalam mewujudkan cita-cita luhur.  Ada banyak cara dan jalan yang bisa ditempuh. Salah satunya adalah dengan pembiasaan dan  kembali pada perbaikan akhlaq serta semangat pantang menyerah. Bukankah Rasulullah saw bersabda “Tidak semata-mata kami diutus melainkan untuk menyempurnakan akhlaq”. "Sesungguhnya yang terbaik di antara kalian adalah yang paling baik akhlaknya." (HR Bukhari dan Muslim). Pembiasaan kaum santri yang pertama adalah membangun akhlaqul karimah. Santri dalam kesehariannya tidak pernah lepas dari salam, santun, sapa, hormat kepada guru, senantiasa mengaji, muroja’ah, menjaga wudlu, mendirikan sholat wajib dan sunat,  adalah sebagian hal yang harus senantiasa dijaga kesinambungannya. Demikianlah dahulu kaum santri digembleng di pesantren. Maka duplikasi, yang disesuaikan dengan tuntutan keadaan, baik diterapkan.  Pola pembiasaan ini efektif dilakukan di madrasah, yang saat ini menjadi waktu kedua terbanyak yang dihabiskan siswa setelah di rumah. Pola pembiasaan, paling tidak, bisa meredam gempuran dahsyat yang dilakukan gawai dan aneka viturnya, yang menjadi musuh paling kuat generasi muda saat ini.
            Disiplin, pembiasaan, semangat pantang menyerah serta pendampingan oleh guru dan pembina akan memberi ruang bagi siswa dan guru dalam berinteraksi secara intens. Dalam prosesnya mereka akan menemukan siapa dirinya, apa minat dan bakatnya, di mana harus dilakukan serta bagaimana mengasahnya.  Pada gilirannya kelak akan tumbuh rasa percaya diri siswa dalam melakukan aktivitas pembelajaran secara keseluruhan. Termasuk terbukanya ruang berkompetisi dalam skala lokal, regional, nasional hingga internasional.  Maka madrasah Hebat Bermartabat yang selama ini menjadi motto, insya Allah akan terwujud. 
            Hal itu telah dicoba dan diterapkan di MTs Negeri 1 Garut.  Dalam prosesnya, beberapa kegiatan membuahkan hasil yang baik. Kalau tolok ukur keberhasilan adalah penghargaan dan piala, maka sudah tak terhitung  piala dipersembahkan oleh para siswa dalam berbagai bidang. Sedangkan membangun akhlaq, proses ini sedang dan akan terus berjalan, sebab pembangunan manusia seutuhnya yang berkahlaqul karimah tak akan pernah berhenti sepanjang hayat dikandung badan. Sepanjang hal itu diikhtiyarkan, sepanjang itu pula spirit hari santri terus menyala.  
            Selamat Hari Santri Nasional …!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan tulis komentar anda, sobat. Terima kasih sudah mampir, ya ...