Selasa, 12 Januari 2010

Pengasuhan Orangtua (Sebuah Nostalgia) - 1



Bray … balebat

Anaking, jimat awaking

geura hudang geura nyaring

duh … geura nyaring

Balebat di wetan ngembat

ciciren surya sumirat

beuki nyingray lalaunan

kasapih ku kingkilaban

Geus lain wancina deui

hidep hirup dina ngimpi

tibra ngeukeupan impian

Titenan tuh kanyataan

Bray … balebat


Lirik & lagu : BIMBO


Sepenggal lirik dalam wanda hariring (lagu) Sunda yang dinyanyikan oleh kelompok Bimbo diatas, kerapkali melemparkan hati dan benak saya akan arti sebuah cinta yang teramat dalam, baik cinta terhadap buah hati maupun cinta terhadap alam. Semakin disimak, semakin terasa bahwa setiap kata mengandung begitu banyak makna.


Bagi sahabat blogger yang bukan orang Sunda, baik saya terjemahkan sedikit, meski sejatinya banyak bahasa Sunda yang sulit diterjemahkan karena ia (bahasa Sunda) kerap menyertakan rasa dalam setiap katanya. Tapi, semoga terjemah bebas yang serbamini dan terbatas ini dapat sedikit memberi gambaran.


semburat fajar pagi ...

anakku sayang, permata bunda

lekas bangun lekas terjaga

duh ... lekaslah jaga


cahaya timur t'lah menyapa

pertanda hangat semesta rasa

mengelus alam pelan perlahan

terbias denyar mentari pagi


Bukan saatnya lagi, sayang

engkau hidup dalam mimpi

lelap mendekap impian

fahami kenyataan yang terbentang

di depan



Dulu, saya mendengar lagu itu hampir setiap pagi. Paman saya, yang saat itu tercatat sebagai mahasiswa Unisba memutarnya, sementara saya sibuk bersiap pergi sekolah. Meski tak serius mendengarkan, telinga dan otak saya menyimpannya hingga berpuluh tahun kemudian. Selain mengingat nadanya, kini saya bias lebih merasakan sensasi liriknya yang sarat kasih dan pengharapan yang tinggi. Kini saya juga paham tentang arti penanaman cinta dan segala macam pembiasaan yang bernilai positif pada anak. Bahwa cinta, kasih sayang serta kegiatan dan perilaku yang dilakukan secara terus-menerus akan berdampak besar bagi pertumbuhan serta perkembangan individu secara signifikan.


Itu baru dari sepenggal lagu, belum lagi ragam cinta dan pembiasaan lain yang mengisi perjalanan hidup sejak lahir hingga dewasa. Sebagai orang yang hidup di lingkar budaya Sunda, saya diajari hal-hal sederhana menurut adat istiadat sunda yang mengagungkan nilai-nilai luhur moral dan etika. Seperti juga di banyak tempat di Indonesia, sebagian besar keluarga menanamkan pola asuh dengan bertumpu pada nilai-nilai kesukuan. Orang Jawa mengenalkan dan membiasakan putra-putrinya berperilaku dan berbicara layaknya orang jawa yang berbudaya. Orang Sumatra pastilah bangga bila dapat menjunjung tinggi nilai-nilai tinggi bangsa Melayu. Pun sama halnya dengan orang Bugis, Dayak, Baduy, Asmat, dan semua bangsa di dunia seperti Indian, Aborigin, dan lain-lain. Demikianlah, dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung. Akan sangat aneh dan ironis nampaknya bila orang tak lagi bangga pada jati diri bangsanya.


Nenek moyang kita mewariskan nilai-nilai budaya yang luhur. Budaya tidaklah diterjemahkan secara sempit hanya pada sebentuk seni dan tarian semata, melainkan juga pada perilaku hidup sehari-hari. Budaya bercerita, budaya bersilaturahmi, budaya saling menolong, budaya hidup bersih, budaya jujur, dan banyak budaya lain yang hampir menghilang dari kebiasaan kita sehari-hari terutama bagi mereka yang hidup di kota besar, dan terjebak pada kesibukan yang padat.


Mereka yang masih dengan setia memelihara budaya luhur leluhurnya biasanya hidup lebih nyaman dan bahagia. Nyaman dan bahagia tidaklah identik dengan keadaan serba ada. Rasa itu tumbuh dari keikhlasan menjalani hidup yang telah digariskan Yang Mahakuasa. Bahkan menurut pakar pendidikan dan kebudayaan, Bapak Prof. Dr. H. Engkoswara, M.Ed, kenyataan menunjukkan bahwa manusia yang melaksanakan budaya Sunda seperti cageur, bageur, bener, pinter, tidaklah kurang pangan, sandang, papan sehingga hidup cukup yang berbahagia lahir dan batin. Saya mengamini pendapat itu, tentu saja, berdasarkan apa yang saya dapat dari pola asuh orangtua.


Sejak saya mulai mengenal arti sebuah kata, orangtua selalu menggunakan bahasa kalbu. Bahasa yang mewakili perasaan terdalam. Yaa, bahasa Sunda. Dari lisan mereka tak pernah meluncur kata-kata yang mengecilkan, selalu membesarkan hati, bertenaga dan bersayap. Bagaimanapun marahnya, mereka terpelihara dari sikap dan ucapan kasar. Kini saya tahu, selain meneruskan estafeta pengasuhan berbasis budaya merekapun menerapkan sunnah Rasul yang oleh para ulama diisyaratkan melalui kalimat ini : “ …. Ucapan (yang baik atau buruk) seseorang kepada anaknya adalah doa …” Rupanya orangtua saya tak ingin anak-anaknya berperilaku dan bernasib buruk hanya karena kesalahan mereka dalam berkata-kata.


Dan sabda Rasul yang ini :

Wahai ‘Aisyah, sesungguhnya Allah itu Mahalembut. Dia suka akan kelembutan. Allah akan memberikan balasan dari kelembutan yang tidak Dia berikan kepada sikap keras dan kasar serta sikap-sikap lainnya.”

“Sesungguhnya berlaku lembut terhadap sesuatu apapun itu akan dianggap elok. Dan merenggut sesuatu dengan kekerasan itu akan dianggap buruk.”


Jauh sebelum kita mengenal kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual dan segala macam teori kecerdasan yang berkembang saat ini, budaya dan nilai-nilai religi telah demikian fasih mereka terapkan dalam pengasuhan anak, meski barangkali mereka belum mengenal teori-teori tersebut. Tapi bukankah segala macam teori akan bernilai nol bila tak ada pengamalannya? Sebab ia tak menghasilkan apapun selain tumpukan aksara dan retorika semata.


gambar : dipiti.com

25 komentar:

  1. “Wahai ‘Aisyah, sesungguhnya Allah itu Mahalembut. Dia suka akan kelembutan. Allah akan memberikan balasan dari kelembutan yang tidak Dia berikan kepada sikap keras dan kasar serta sikap-sikap lainnya.”

    “Sesungguhnya berlaku lembut terhadap sesuatu apapun itu akan dianggap elok. Dan merenggut sesuatu dengan kekerasan itu akan dianggap buruk.”



    petuah tersebut nampaknya sangat berkesan di hati saya.....karena ternyata saya sadar saya ini adalah orang yang kasar......terimakasih.....salam knal....

    BalasHapus
  2. Itulah budaya...budaya senantiasa mengajarkan kearifan. kalaupun kita, saat ini, sering curiga terhadap nila2 budaya yg katanya "membodohkan", bagi sya itu karena dampak negatif modernitas yang begitu tak terkendali. Maka pantas, dalam postmodern, rasionalitas absolut dipertanyakan kembali dan peran budaya memliki arti yg begitu penting....
    Kita bangga dengan sunda kita y teh...

    BalasHapus
  3. wah terima kasih hadistnya...
    dapet satu lagi hadist yang indah.

    BalasHapus
  4. @ Aditya : salam kenal kembali dan terima kasih sudah mampir

    @ Insanitis37 : Muhun, kang

    @ Elsa : terima kasih juga, Els

    BalasHapus
  5. bagus ya kata2 lagunya bimbo... :)

    BalasHapus
  6. Satu lagi keindahan dari samudera pencerahan. Subhanallah.

    BalasHapus
  7. Wah,untung lagunya ada terjemahnya ya heheh.Bagus sekali kalimatnya sis.
    Btw,maaf ya kalau lupa naruk di blogroll ya sis.Terimakasih.

    BalasHapus
  8. Orang tua tentunya menginginkan yang terbaik untuk anak-2nya.
    Semoga saja semua orang tua membaca tulisan ini agar dapat lebih hati-2 lagi dalam membimbing anak-2nya.
    Makasih ya mbak... artikelnya bagus sekali.

    BalasHapus
  9. semga para pemuda semakin sadar betapa pentingnya budaya dan sejarah

    BalasHapus
  10. Sebuah lagu Bimbo yang sarat makna, makasih bu..telah diterjemahkan....

    BalasHapus
  11. hmmm tadinya gak paham ketika baca deretan lagu dengan bahasa aslinya,
    Yang terbayang malah mantra, abis ada kata "JIMAT".
    Ternyata sesuatu ajran nan adiluhung.
    Terima kasih telah mengingatkan.

    ( Lagi marahan ama istri, anak-anak jadi sasaran )

    BalasHapus
  12. terima kasih atas posting yang mencerahkan hari ini ya mbak annie..

    BalasHapus
  13. Syair lagunya dalem banget....
    Ditambah dengan postingan yang mencerahkan, lengkap sudah.
    makasih banyak mbak.

    BalasHapus
  14. @ Aisha : trims kembali, mbak

    BalasHapus
  15. @ Ari : hehe ... jimat diatas maksudnya bukan ajimat seperti dalam bahasa Indonesia, melainkan sesuatu yang sangat berharga bagi jiwa.
    Sekarang sudah gak marahan lagi kan? kasian anaknya tuh hehe ...

    BalasHapus
  16. Geus lain wancina deui
    hidep hirup dina ngimpi
    tibra ngeukeupan impian
    Titenan tuh kanyataan

    Sebuah syair yang menggugah. Penuh dorongan semangat dan spiritualitas...

    Jadi inget wanci budak (waktu kecil). Sayang, budaya yg ditanamkan jaman sekarang sudah jauh berbeda dengan waktu saya kanak-kanak. Nilai-nilai religi menjadi nomor sekian setelah tontonan tv, play station, dan hp.
    Dunia...dunia... Mau kemana kau?

    BalasHapus
  17. lirik lagunya memang benar-benar indah dan penuh makna mbak...

    BalasHapus
  18. Berbagi ilmu di dunia maya, itu tidak ada salahnya. Mbak Annie kalau nulis bahasanya khas banget. Masing2, punya cara dan ciri tersendiri. Seneng rasanya, bisa kenal sama mbak Anie. Ari teh Anie teh, imahna di mana? hehehe... (pengen ke Sunda juga)

    BalasHapus
  19. makasih Mbak pencerahannya....

    BalasHapus
  20. Pencerahannya mantap banget, mengena sekali isinya, banyak kujumpai orangtua bicara terhadap anaknya seenaknya saja tidak menyadari kalau ucapannya itu bisa membentuk jiwa anaknya karena kata-kata yang kita ucapkan merupakan doa! Mari kita mengamalkannya, bicara yang mengandung doa dan yang positif terhadap anak kita dan kesiapa saja! Trim's pencerahannya, ijin copy untuk pribadi!

    BalasHapus
  21. @ All : terima kasih atas apresiasinya

    @ Anazkia : sama, sayapun senangb bisa belajar nulis darimu, An. Hehe ... mau belajar bahasa Sunda? Ayooo

    @ Nuansa pena : silakan, Mas. Saya senang kalau tulisan yang masih belajar ini bisa bermanfaat. Terima kasih

    BalasHapus
  22. Alhamdulillah, dapat pencerahan lagi di sini. hatur nuhun....

    BalasHapus
  23. selamat sore mba,maaf baru bisa berkunjung...beberapa hari terakhir mood bener2 hilang untuk BW karena net jg lemot bgt mba.

    jadi inget jaman kecil dulu dirumah nenek yg kebetulan orang sunda ...

    BalasHapus
  24. ada yang tau web buat download lagu BALEBAT tersebut ga????? aku pengen mengenang masa kecil ku....

    BalasHapus
  25. “Wahai ‘Aisyah, sesungguhnya Allah itu Mahalembut. Dia suka akan kelembutan. Allah akan memberikan balasan dari kelembutan yang tidak Dia berikan kepada sikap keras dan kasar serta sikap-sikap lainnya.”

    “Sesungguhnya berlaku lembut terhadap sesuatu apapun itu akan dianggap elok. Dan merenggut sesuatu dengan kekerasan itu akan dianggap buruk.”

    Saya suka hadits di atas...maaf, boleh saya tahu siapa yg meriwayatkan. karena saya ingin mencatutnya dlm sebuah karya saya, tp saya pingin kejelasan sumbernya. trmaksih

    BalasHapus

Silakan tulis komentar anda, sobat. Terima kasih sudah mampir, ya ...