Tampilkan postingan dengan label review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label review. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 Maret 2015

Sempurnakan Niat Dengan ONH (sebuah Review Dahsyatnya Ibadah Haji)


Judul : Dahsyatnya Ibadah Haji (Catatan Perjalanan Ibadah di Makkah dan Madinah)
Penulis : Abdul Cholik
Penerbit : PT. Elex Media Komputindo, Jakarta
Tahun terbit : 2014
Jumlah halaman : 233 hlm
ISBN : 978-602-02-4810-3
Harga : Rp. 47.800



Ketika memesan buku “Dahsyatnya Ibadah Haji” langsung dari penulisnya, yakni pakde Abdul Cholik, saya sok tahu bahwa di dalamnya akan saya dapati banyak tips dan trik  semacam buku saku/pegangan bagi para jemaah calon haji. Dugaan itu muncul karena sebagai seorang mantan prajurit, beliau pasti terbiasa memerhatikan hal-hal teknis dan study lapangan, dan pasti menuliskan hal-hal praktis yang kerap luput dari perhatian banyak orang.


Senin, 12 Mei 2014

Sang Patriot : Saat Sejarah Melahirkan Spirit Pahlawan (Sebuah Review)

sumber: http://dialogikabook.wordpress.com/2014/03/28/

Judul : Sang Patriot : Sebuah Epos Kepahlawanan
Penulis : Irma Devita
Penyunting : Agus Hadiyono
Penerbit : Inti Dinamika Publisher, Jakarta
Cetakan : 1, Februari 2014
Tebal : xii,  266 hlm
ISBN : 978-602-14969-0-9


Ini kisah tentang perjuangan dan keteguhan, kesetiaan dan pengkhianatan, cinta dan pengorbanan,  Pada tanah air, pada keluarga, pada kebenaran, pada sebuah keyakinan. Diceritakan dengan sepenuh hati oleh penulisnya, Irma Devita, sebagai bentuk pemenuhan janji masa kecilnya kepada sang nenek, istri Sang Patriot.  Cinta, pengabdian, rasa kagum serta rasa hormat kepada kakek dan neneknya itulah kemudian yang melahirkan buku ini. Sebuah catatan sejarah yang tak hanya menyajikan data, sederet angka dan tahun, serta nama-nama yang tak bergerak. Membaca buku ini, kita diajak untuk menelusuri lorong waktu, menyaksikan sebuah perjalanan penting Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan.

Jumat, 06 Mei 2011


Selalu ada hikmah dari sebaris cerita hidup, apapun kisahnya.

Pada mulanya barangkali hanya penggalan perjalanan, tapi di satu titik kita akan tahu bahwa itu sebuah pembelajaran, sebuah tahapan menuju tingkatan lebih tinggi, dalam hidup. Dan pada akhirnya melahirkan kematangan. Di titik itulah kita paham maksud Tuhan.

Sahabat, aku ingin berbagi. Kurang lebih setahun lalu, seorang sahabat blogger, Anazkia, mengadakan lomba menulis. Dan, karya pemenang lomba tersebut kemudian diterbitkan dalam sebuah buku berjudul : Blogger Berbagi Kisah Sejati.

Alhamdulillah, tulisanku ada di antaranya.

Tertarik membaca dan membelinya?
Silakan pesan ... !!

Mangga .. mangga ..


===============

Blogger Berbagi Kisah Sejati
Penulis : Anazkia, Akhi Dirman, Naqiyyah Syam, dkk
Penyunting : Indiepro
Tata Letak : Indiepro
Cover : Indiepro
ISBN : 978-602-9142-09-9
Ukuran : viii + 177 hlm; 14x 21 cm
Harga : Rp 35.000 (belum termasuk ongkos kirim JNE dari Tangerang)

“Kisah sejati selalu ada di setiap kehidupan manusia, hal yang manusiawi mengingat setiap orang menjalani keunikan hidupnya dengan takdir masing-masing. Andai ada kekecewaan dalam kisah sejati tersebut, perlu diingat bahwa setiap orang pasti melewati fase kekecewaan dalam hidup dengan bentuk apapun dan sebahagia apapun terlihat orang lain, jadi tidak perlu iri melihat kebahagiaan orang lain. Selamat belajar kehidupan dari kumpulan kisah sejati ini :) ”
Ari Wijaya, Penyiar Radio 103.4 DFM Jakarta, Founder Komunitas Blogger Multiply Indonesia


Buku ini berawal dari lomba menulis untuk para blogger yang mengangkat tema “Berbagi Kisah Sejati”. Dari ajang tersebut terpilihlah para blogger yang akhirnya naskahnya dibukukan sebagai dokumentasi, juga kenang-kenangan. Juga menjadi pelajaran, bahwa beragamnya kehidupan, itu penuh dengan warna suka dan duka. Tak semestinya kesedihan itu berpanjangan, ada kalanya sedih berujung pada kebahagiaan.

Dua puluh lima kisah sejati para blogger, yang kadang tak sedikit menguras air mata saat membacanya. Di sini, dalam buku ini, ada blogger, berbagi kisah sejati.

==========================

Tertarik dengan buku ini? Silakan pesan via SMS ke 085694771764 dengan Format : Nama, Alamat Lengkap, Judul Buku yg dipesan, Jumlah pembelian. Lalu Indiepro akan mengkonfirmasi ongkos kirim ke alamat kamu.

Setelah itu, kamu bisa transfer uang pembelian + Ongkos kirim ke no rekening berikut ini :

BCA no 0080346719 an Endah Widayati atau
BSM no 6007006333 an Dani Ardiansyah

Setelah itu, kamu bisa konfirmasi ke no tadi bahwa kamu sudah melakukan transfer.

Kamis, 03 Juni 2010

MUHAMMAD saw : Lelaki Penggenggam Hujan

Himada ...himada ... Diakah himada? Astvat-ereta?
Lelaki yang kelahirannya telah lama diramalkan dalam
gulungan-gulungan perkamen kuno?
Sosok Maitreya yang memiliki tubuh semurni emas, terang benderang, dan suci
?


Barisan kalimat-kalimat itu memaku pembaca di sampul buku. Judulnya :

sebuah novel biografi
MUHAMMAD saw
Lelaki Penggenggam Hujan



Novel ini diawali dengan sebuah pengantar yang tak lazim. Pengantar itu menginformasikan keadaan di 6 tempat yang saling berjauhan, yang sama-sama menantikan lahirnya "manusia yang dijanjikan" dengan nama yang sesuai dengan keyakinannya. Pinggir kota Isfahan, Persia, menantikan Astvat-ereta. Danau Zhaling, kaki Gunung Anyemaqe, Tibet, menantikan sosok yang disebut Maitreya. Tengah gurun, sebelah barat Laut Merah, Mesir, meyakini bahwa dunia akan dikuasai para penindas hingga bangkit Sang Manusia Mulia yang mereka sebut Mamah Rishi. Lembah Narmada, India, menantikan hadirnya Malechha yang akan mengagungkan nama Tuhan. Pelabuhan Barus, Nusantara, membicarakan lahirnya lelaki yang akan mampu membelah bulan. Sedang di Bukit Tsur, Makkah, seorang perempuan tengah berada dalam puncak kekhawatiran membayangkan ayahnya yang menemani Lelaki Mulia itu (yang tengah menjadi pembicaraan di 5 negeri yang jauh) bersembunyi di Gua Tsur menjelang hijrahnya ke Yatsrib, bersembunyi dari kejaran para penunggang kuda yang ingin membunuhnya!

Itu baru kata pengantar.

Cerita dimulai dari Biara Bashrah di Suriah tahun 582 M. Suatu siang di musim panas, Pendeta Bahira sang penunggu biara, ditakdirkan Tuhan untuk bertemu dengan lelaki pemimpin kafilah dagang dari Makkah. Ia, Pendeta Bahira, yang sedari awal memang yakin hari itu bukan hari biasa, melihat tanda-tanda kenabian dalam diri seorang lelaki kecil yang datang bersama kafilah dagang Makkah. Tanda-tanda yang secara fisik maupun non fisik itu ia ketahui dari kitab suci. Guncangan jiwa yang hebat terjadi setelahnya. Bagaimana ia menyadari satu hal, bahwa ia akan melihat dan mengalami saat-saat yang telah dijanjikan Tuhan melalui kitab suci yang ia yakini, saat datangnya seorang Nabi penutup, nabi bagi semua agama, nabi bagi seluruh dunia : Himada akan datang! Yang terpuji telah datang!

Setelah masa emosional itu berlalu, ia menulis surat kepada sahabatnya di Semenanjung Arab, tempat yang sama darimana sang kafilah dagang berasal, Makkah, yang bernama Waraqah bin Naufal. Surat itu mengabarkan penemuannya. Ia juga berpesan agar Waraqah menjaga rahasia ini. Sebab Nabi ini, seperti para nabi Tuhan sebelumnya, akan dimusuhi oleh orang-orangnya sendiri. Oleh karenanya, sebelum waktunya tiba, ia harus terjaga.

Pada saat yang bersamaan, di Persia, seorang pemuda bernama Kashva yang dipercaya oleh Raja Khosrou mengelola Kuil Sistan, menghadap Rajanya untuk mengabarkan tentang telah tibanya seseorang pembawa terang. "Dia telah datang, Baginda. Astvat-ereta sudah hadir di dunia. Nabi baru itu dan para pengikutnya akan menaklukkan Persia, Madyan, Tus, Bakh, tempat-tempat suci kaum Zardusht dan wilayah sekelilingnya. Nabi perkasa ini adalah seorang manusia yang jernih bertutur, bercerita kisah-kisah penuh mukjizat."

Raja Khosrou, penguasa Persia yang agung, beku di tempatnya berdiri. Semua tahu, alamat buruk. Kashva sadar ia tengah menggadaikan nyawanya. Raja tak segan memenggal kepalanya, kepala pemuda yang selama ini menjadi kesayangan sang Raja.
Ada yang mengkristal di benak Kashva seketika. Aku harus meninggalkan Persia! (hal. 30)

Maka Kashva memulai pelariannya. Mengabdikan hidup demi menemukan lelaki itu. Lelaki yang ia yakini sebagai Lelaki Penggenggam Hujan, lelaki penggenggam wahyu dari langit : Muhammad. Al-Amin yang kelahirannya akan membawa rahmat bagi semesta alam, pembela kaum papa, penguasa yang adil kepada rakyatnya. Perjalanan Kashva diwarnai dengan peperangan, penelusuran kitab-kitab kuno berbagai agama, pengalaman spiritual dari segala pelosok Persia, India, Tibet dan Arab. Benturan kepentingan pribadi dan diskusi-diskusi dalam upaya menerjemahkan makna teori setiap kitab membuat jiwanya semakin kuat ingin menemui Sang Lelaki.

Saat ia bergulat dengan pertarungannya sendiri, Lelaki yang didambakannya semakin nyata kebenaran risalahnya. Tutur kata yang tak pernah keras, perilaku yang senantiasa terjaga kesantunannya, pendustaan demi pendustaan dijawab dengan kejernihan hati. Peperangan dan penghinaan semakin menguatkan barisan pengikutnya. Ini adalah kisah seorang pemimpin paling berpengaruh sepanjang sejarah manusia. Bagaimana Lelaki yang Tak Pernah Mendendam ini mengajak manusia kepada kebenaran. Di tanah kelahirannya, Makkah, ia terusir. Di Thaif ia didustakan, diusir dan dihinakan. Di Yatsrib ia dikepung. Di Hudaibiyah ia terhalang. Tapi ia tetap sabar.

Muhammad, Lelaki yang Senantiasa Menyebarkan Kedamaian ini, menulis surat kepada pemimpin-pemimpin dunia, menyampaikan kabar gembira yang Ia bawa. Menawarkan cara hidup baru yang sebelumnya tidak mereka tahu. Membagi keimanan yang sebelumnya telah dirasakan begitu menguatkan. Sebuah konsep hidup yang mengubah total kehidupan penuh kebodohan menuju tata keseharian yang bermartabat. Sesuatu yang telah dirasakan olehnya dan oleh ribuan pengikutnya. Surat itu diberangkatkan kepada Raja An-Najasyi di Abyssinia, Alexandria-Mesir, Romawi, serta Raja Khosrou di Persia.

Maka pencarian Kashva semakin sarat konflik. Hasrat dalam diri Kashva sudah tak terbendung lagi. Keinginannya untuk bertemu dengan Muhammad demikian besar hingga tak ada sesuatupun yang membuatnya jerih. Bahkan maut yang mengintai di ujung pedang tentara Khosrou tak juga menyrutkan kerinduannya bertemu Muhammad.

Bagaimanakah akhir kisah ini?
Ini adalah cerita tentang permulaan sebuah ajaran yang paling disalahpahami di muka bumi. Ini adalah sebuah titian perjalanan setiap manusia spiritual berbagai agama untuk menemukan Dia yang Dijanjikan.

****

Baru kali ini saya membaca sejarah Muhammad saw yang ditulis dengan gaya seperti ini. Novel. Awalnya saya ragu. Ragu antara memisahkan kisah sejarah dengan kisah fiktif yang pasti mewarnai dengan kental kisah ini. Nyatanya, Tasaro GK, demikian jeli membagi plot dan merunut kisah ini dengan akurasi yang, menurut Ahmad Rafi' Usmani-penulis buku-buku tentang Muhammad, sangat memikat.

Membaca novel ini, saya merasa ikut terlibat secara personal didalamnya. Saat Rasulullah saw menuju Thaif, perjalanan yang demikian berat secara fisik dan mental, saya tak mampu menyimpan sedan. Ada yang menarik saya demikian kuat untuk merasakan secara nyata kepedihan Sang Nabi, meski ia sendiri masih dapat tersenyum dan bersabar.

Tak berlebihan bila Tasaro GK, sang penulis, menulis akhir penelusuran jejak Muhammad saw dengan menghiba :
Ya, Rasul .... lumpuh aku karena rindu ...


====

Judul buku : sebuah novel biografi MUHAMMAD saw : LELAKI PENGGENGGAM HUJAN
Penulis : Tasaro GK
Penerbit : Bentang - Yogyakarta
Tebal : 546 hlm
Harga : Rp. 79.000,-

Jumat, 24 Juli 2009

Melalui "Di Jamuan Cintamu di Arafah" Kita Berpelukan

Sore lepas asar, saat keringat belum mengering sepulang kerja, suamiku menyodorkan bungkusan kecil berbentuk segi empat. Hatiku terlonjak, girang sungguh ! Seolah ada magnet yang menempelkanku pada slide ingatan puluhan tahun silam melalui sampul coklat itu, kiriman yang selama ini aku tunggu-tunggu.

Kutatap tulisan yang tertera di sampul dengan binar mata yang sulit kusembunyikan. Ada namaku di sana, ada nama sahabat lamaku sebagai pengirimnya, dalam bentuk huruf yang dulu begitu akrab. Tulisan itu. Ya, bentuk tulisan yang tercantum itu, masih tetap seperti puluhan tahun silam, saat kami masih saling berkorespondensi. Aku mendekapnya bahagia, seolah dialah wujud nyata sahabatku.

Hati-hati kurobek pinggiran sampul coklat itu. Buku yang selama ini kucari-cari. Sekedar cerita saja, perjalanan mencari buku ini lumayan panjang. Saat berlibur ke Bandung, saya pergi ke Palasari (sebuah pusat penjualan buku besar). Hampir sepanjang toko-toko yang berjajar kusinggahi, buku yang dimaksud tak kutemui. Sambil bertanya dalam hati : kok bisa gak ada, ya ? Di lain kesempatan, saat kembali ke Bandung, aku kembali mengunjungi toko buku. Jawabannya : buku habis! Lalu, saat aku kembali ke Garut, kuputuskan untuk memesan saja buku itu kepada Akang penjual buku langgananku. Kusebutkan judul, nama pengarang dan penerbitnya. Sampai tiga kali pertemuan, buku itu tak juga hadir di hadapan. Akhirnya, beberapa bulan kemudian ketika liburan sekolah aku kembali ke Bandung, aku memutuskan mencarinya di Gramedia. Jawabannya sama : buku habis!

Setengah putus asa, sambil terduduk di kursi baca di antara rak-rak buku agama, ku - sms Rita, sahabat lamaku, yang juga penulis buku yang selama ini kucari. "Duuuh Rita, bukumu laku, ya. Aku belum dapet aja nih ? Di Gramedia habis." Keluhku mungkin mengusik lembutnya hati sahabatku, atau barangkali aku aja yang keterlaluan mengeluh kok ya ke penulisnya, gitu! Tiba-tiba saja sms ku dijawabnya dengan janji akan mengirimkan bukunya (yang kebetulan masih dia simpan 1 eksp, yang sedianya akan dia berikan buat pembimbing thesisnya) untukku. Serta smsku akan di forward ke penerbitnya agar segera cetak ulang. Tentu saja aku senang dan setengah kaget (karena memang bukan itu tujuanku meng-sms, maksudnya sekedar curhat aja), setengah tak percaya, dan ujungnya syukur (ya, rasa syukur, apapun inilah bentuk kasih sayang Allah melalui benang halus yang disebut persahabatan). Terima kasih, Ya Allah. Terima kasih Rita.

Inilah buku yang kucari itu :


Judulnya "Di Jamuan Cinta-Mu di Arafah". Sebuah memoar perjalanan haji yang bertabur hikmah. Ratna Januarita (yang saya sebut Rita), penulisnya, mengajak pembacanya untuk menjadikan seluruh waktu, setiap hari adalah haji dan setiap tempat adalah Arafah-Muzdalifah-Mina-Haramain. Dan tahukah anda, membaca buku itu sungguh melejitkan ruh kita terbang bersama harapan dan doa yang tiba-tiba saja menggempur tak terbendung untuk segera melangkah mendekati-Nya. Sungguh. Buku ini mengajak untuk menggenapkan harapan menjadi niat. Buku ini memang memoar haji, tapi sejatinya isinya berkisah tentang pasang surut kehidupan yang mengajarkan arti sabar dan ikhlas, perjuangan meraih Cinta, jatuh bangunnya seorang hamba yang berusaha menjumput hikmah dari setiap peristiwa yang dibebankan padanya serta kerelaan berkorban sebagai bentuk penyerahan diri utuh penuh pada kehendak Yang Mahahidup.

Sungguh. Membaca setiap katanya mengantarkan hati ini pada kesadaran bahwa betapa kecil, lemah, naif, bodoh dan betapa dungu serta sombongnya saya selama ini. Saking yakinnya bahwa Rahman Rahim Allah lebih luas dari murkaNya, maka dengan ringan kerapkali saya melakukan tindakan bodoh yang justru menodai ibadah dan penyerahan diri yang telah ditegakkan. Saya telah alpa menjumput hikmah serta mengais inti dari setiap ritual ibadah yang saya kerjakan. Tak semuanya memang, namun tetap saja meninggalkan sesal yang menyakitkan. Astaghfirullahah 'adzim ...
Usai membacanya, ingin kupanjangkan sujud-sujud malam yang kemarin bolong di sana-sini. Ingin kuberanikan diri memperbaharui janji pada Dzat Yang Maha Membolak-balikkan hati untuk lebih bersegera menyongsong Cahaya yang karena butanya mata hatiku hanya nampak samar-samar atau bahkan tak kentara sama sekali. Ingin kubasuh segala noda dan dosaku dengan lisan yang hanya melafalkan kebenaranNya.
Ya Allah, mampukan aku ...

Di halaman 210 kutemukan doa yang kuaminkan dalam hati :
Ya Ilahi, janganlah Engkau biarkan aibku terbuka sehingga akan mempermalukanku. Andai ruhku jauh lebih buruk dari jasmaniku, baguskanlah ia dengan Kesempurnaan Milik-Mu semata. Sekalipun aku pantas menerima murka-Mu, lindungi saja aku hanya dengan Kasih Sayang-Mu.
Kembalikanlah hakikat diriku kelak ke haribaan-Mu dalam wujud suci seperti ketika Engkau hadirkan aku ke dunia.
Akankah Engkau biarkan makhluk lemah-Mu ni berubah wujud kelak setelah ia dengan ketertatihannya menghampiri-Mu dan meluruhkan sujudnya demi memohon pengampunan dan perlindungan-Mu? Sedangkan ia begitu meyakini-Mu, bahwa Engkaulah satu-satunya tempat Yang Maha Cepat Ridha dan Ampunan-Nya.
Inilah aku, hamba-Mu, bergegas masuk ke dalam benteng-Mu yang tidak akan pernah hancur. Terimalah aku, ya Rabb ...
Amiiin...

Dan tiba-tiba saja saya merasa dipeluk hangat kedua tangan Rita, dan sayapun balik memeluknya. Kami berpelukan seperti saat kami masih sama-sama sekolah SD di Bandung, seperti saat pelukan kami terurai lewat berlembar-lembar surat yang tersambung antara Bandung-Jakarta selepas SD dan kami berpisah kota, atau seperti saat ia pindah ke Lampung dan kami masih saja merajut cerita lewat kertas-kertas berperangko, dahulu, berpuluh tahun lalu (masa SMP hingga awal SMA). Sekarang, Allah yang Maha Mempersatukan, menghubungkan kembali pertautan itu lewat sebuah buku berisi curhatnya yang mengharu-biru.

Maka seperti doa yang ia tulis di halaman pertama bukunya : Untuk sahabat lama : annie rosetyani "Semoga Allah SWT menyegerakan undangan-Nya untuk menghadiri Perjamuan Cinta-Nya di Arafah, dan senantiasa mengundang ke perjamuan2 lain-Nya di manapun." Saya tak lagi menyimpan harapan menuju-Nya sebagai sekedar harapan, melainkan telah melafadzkannya sebagai niat dan mendawamkan doa-doa. Insya Allah, Allah Yang Maha Mengabulkan berkenan mengundang kelak ke perhelatan akbar di Arafah.

Bismillahira rahmaanir rahiim
Ya Allah, berilah aku rezeki berhaji ke Baitullah Al-Haram, pada tahun ini dan tiap tahun, selama hidupku, dalam kemudahan, sehat wal afiyat dan lapang rezeki. Janganlah Engkau luputkan aku berziarah ke tempat2 yang mulia dan tempat2 bersejarah yang penting serta berziarah ke kubur Nabi-Mu saw dan keluarganya, serta limpahkanlah kepadaku memenuhi kebutuhan dunia dan akhirat. Ya Allah sungguh aku mohon kepada-Mu agar qadha dan qadar yang Engkau pastikan pada lailatul qadar tidak tertolak lagi dan tidak terganti lagi, yaitu ketetapan berhaji ke Baitullah Al-Haram, dengan haji yang mabrur dan sa'i yang diterima, dosa-dosa yang diampuni, kesalahan-kesalahan yang dihapuskan. Jadikanlah dalam qadha dan qadar berupa umur yang panjang, rezeki yang lapang, amanat yang tertunaikan dan hutang yang lunas. Terimalah doaku ya Allah Tuhan Semesta Alam.
Allahumma shalli 'ala Muhammad wa aali Muhammad
Alhamdulillahirabbil 'alamin.