Jumat, 12 Maret 2010

Menanti Cahaya

Gambar disini

Akukah yang keliru …

Berpuluh tahun kupercaya, engkau tak pernah alpa. Beribu peristiwa terjadi di lingkar cahayamu. Ribuan hari ku dijaga saat semburatmu tiba. Lalu …


Kemana engkau kali ini …


Mengapa mesti ada yang terasa kurang saat engkau tiada? Padahal hari tetap melakukan tugasnya dengan berlari. Puluhan rencana tetap harus dieksekusi, ada atau tiadanya engkau. Sebab jarum jam telah menunjuk arah ke depan.


Teman seperjalananku bilang, “engkau bukannya tiada. Lihatlah, gelap itu telah memburai. Bukankah itu pertanda bahwa engkau telah tiba? Hingga dunia mati, engkau tak pernah berpaling dari Tuhan. Tak seperti kebanyakan manusia, alpa dan dusta ibarat garam yang dicampur di setiap hidangan. Engkau tidak. Takdirnya adalah menerangi bumi, lain tidak.”


Lalu kemana engkau kali ini …

Hitam memang tidak, kelabu, iya. Engkau belum jua tiba. Marahkah ?


Aaaah,ya. Mungkin engkau bosan membangunkan kami yang terus menerus terbenam di mimpi tak berujung. Atau muak memandangi kami saat dengan ringan mengambil hak orang, berbicara tak pantas, berkoar-koar seakan dirinya yang paling bersih, membela orang berduit bukan mengasihi orang yang benar, memberangus keadilan, mencopot ketentraman, mengangkangi kebenaran, mengubur kehormatan, meninggalkan kasih sayang, dan banyak lagi kebobrokan moral.


Itukah yang membuat engkau tiada?


Duuuh, matahariku …

Jangan pernah engkau bosan membangunkanku dari impian yang tak pernah berujung. Jangan pernah engkau sembunyi di balik kelabunya awan yang menghitam. Sebab engkaulah pertanda bagiku. Pertanda bagi bentangan hidup ke depan. Pertanda bahwa bumi ini masih berusia panjang, menahan beban segala hasrat sisi hitam sekaligus menemani pencarian segala takdir kedirian sisi lain. Pertanda adanya hidup hari esok.


Lihatlah, kali ini aku menengadah, mencarimu. Meski hanya bentangan kitab langit yang terbuka, nircahaya.


Akukah yang keliru, atau buta memahami pertanda …

Sedang cahaya tak mesti kasat mata, kuinsyafi itu.

Aku ingin sepertimu, menjalani takdirmu semata. Tanpa pengkhianatan dari dalam diri sendiri, yang kerap melarikan keberpihakan pada nurani. Yang membuat cahaya itu meredup kemudian hilang. O, matahari, aku tak mau!


Lalu kumamah dalam hening hidangan Sang Nabi dalam sabdanya : “Musuhmu yang terbesar adalah hawa nafsu yang berada diantara kedua sisimu.”


O, Penguasa Matahari …

Izinkan aku memahami segala takdirku, lalu menemukan matahariku menyinari langit jiwa. Dan bermuara di pelataran rasa nafs al-muthma’innah, jiwa yang tenang tenteram. Agar sampailah aku di sebuah keadaan, yang kelak engkau sambut, sesuai firmanMu : “Wahai jiwa yang tenang tenteram, kembalilah kepada Tuhamu dengan hati yang puas lagi diridloi-Nya” (QS Al-Fajr 27-28). Bila kelak saatku tiba.


Sehingga apapun yang terjadi di bumi ini, matahari sirna sekalipun, aku tentram dalam dekapMu…

40 komentar:

  1. Amin.. Hiks,takut membayangkan kalau sampai matahari ngambek.
    Siang mbak, apa kabar?

    BalasHapus
  2. matahari itu nikmat yang mesti disukuri. kalau matahari gak mau nongol lagi, celakalah bumi! gulita, tumbuhan layu. serem.

    BalasHapus
  3. -_-_-_-_-_-_-Cosmorary-_-_-_-_-_-_-
    *******Salam ‘Blog’!!*******
    “””Jadikan itu matahriku
    Tongkat kehidupanku
    Selimutiku dalam kabut
    Gelap tiada penunjuk jalan
    Tersandung batu di tengah malam
    Aku punya remang
    Selalu menyinari”“”
    -_-_-_-_-_-_-Cosmorary-_-_-_-_-_-_-

    BalasHapus
  4. Hai...

    apa kabar sahabatku... Semoga hari mu menyenangkan...

    Aku ada award untukmu.... silahkan diambil...

    disini nih : http://moody-ninneta.blogspot.com/2010/03/aku-mengasihimu.html

    sebarkanlah sebanyak yang kaau mau sahabat.....


    aku mengasihimu....


    Ninneta

    BalasHapus
  5. bagus bgt mba..dan semoga matahari terus membangunkan kita dari mimpi yang tak berujung..

    BalasHapus
  6. Seperti aku, mb berhari-2 aku pengen liat cerahnya mentari, bukan mentari yg tertutup buram..

    BalasHapus
  7. @ alrezamitarik : amiiin
    @ eve : matahari selalu ada, kita yang sering alpa, mbak.
    @ ra-kun : benar sekali, apapun harus selalu disyukuri. Saat kita alpa, maka bumi akan menggeliat, alam akan mengamuk. Maka tiada lagi pegangan selain hanya kepadaNya. Tuhan semesta alam.

    @ aviorclef : maaf belum kesana, di rumah susah BW, mas.
    @ Ninneta : wah, terima kasih banyak. Nanti saya boyong deh.

    @ isti : amiiin, asalkan kita mau segera bangun.
    @ Lilah : alam tengah bersedih, mbak, melihat manusia yang kian jauh dari jalanNya.

    BalasHapus
  8. kunjungan perdana.. langsung bengong..
    blog yang hebat!

    BalasHapus
  9. Ah...saya selalu terpukau bila membaca untaian2 kata dari bu Annie

    BalasHapus
  10. @ Darin : kusambut kunjungan perdanamu, sobat. Langsung suka hehe ...

    @ Noor's blog : terima kasih, Mas

    BalasHapus
  11. ...........apapun yang terjadi di bumi ini, matahari sirna sekalipun, aku tentram dalam dekapMu.........( amin, insya Allah )

    BalasHapus
  12. Semuga kita masih selalu bertemu matahari, amin...

    BalasHapus
  13. DisisiNYA, selalu mendekat kepadaNYA...akan terasa tentram,,,

    ajakan yang terucap dari hati yang bersih

    BalasHapus
  14. Aku tercubit membaca tulisan mbak Anie.
    Terima kasih mbak...

    BalasHapus
  15. wah sebuah cerita yg sangat inspiratif,,,
    tafakur,,
    membuat kita merenung akan arti cahaya itu,,

    nice mba,,
    salam langitsenja,..

    BalasHapus
  16. semoga lebih bisa kita mengendalikan diri kita ya teh

    BalasHapus
  17. barangkali mentari masih berdialog dalam temaramnya, masihkah ada yang mengharapkan dengan ihlasnya? masihkah dinanti dengan imannya?
    barangkali mentari masih gamang, dalam berjuta galau yang tak berujung..akan sebuah pertanyaan yang entah terjawab. tetapi kita adalah para pencari sinar yang akan terus memburu dan mencari.insyaallah mentari kan selalu mendekap kita dalam Asma-Nya

    BalasHapus
  18. Amin. Sukses terus dan barokah untukmu sobat.

    BalasHapus
  19. semoga Allah membimbing hati kita.
    agar hati kita tidak dirajai oleh hawa nafsu kita sendiri.
    amiin...

    BalasHapus
  20. makasih mbak, mengingatkan saya padaNya, yg kadang2 tidak dijadikan sbg prioritas :(

    BalasHapus
  21. -_-_-_-_-_-_-Cosmorary-_-_-_-_-_-_-
    Assalamualaikum,
    *******Salam ‘Blog’!!*******
    Mampir ke blog sahabat, lagi,,,,
    Kunjungan di hari minggu yang indah...

    BalasHapus
  22. matahari yg sangat indah, hangat menyinari bumi

    BalasHapus
  23. indah banget tulisannya mba anni. menurutku ini tulisan paling indah dari tulisan2 sebelumnya. sebuah masterpiece dari anni rostiani. aq suka penggalan kata2 : terbentang kitab langit, nircahaya. metafora yang sangat menawan.

    BalasHapus
  24. Assalamu'alaikum

    Wah tulisannya bagus. Mungkin kita bisa bertukar artikel kapan2. Salam kenal ya dari saya di Bekasi.

    Salam

    BalasHapus
  25. Aku selalu terpesona dengan untaian kata yang tertulis indah disini.

    *Punteun nembe linggih deui.

    BalasHapus
  26. amiin.
    semoga Allah selalu menetapkan iman dan taqwa di hati kita.

    BalasHapus
  27. menanti datangnya pagi sambil menginstropeksi diri ya mbak. Duh, jadi pengen seperti mbak. Semoga hari-hari kita senantiasa diberi keberkahan olehNya

    BalasHapus
  28. baru berkunjung menemukan tulisan yang bagus..

    BalasHapus
  29. Pencerahan lagi nih... Astagfirullah... kadang suka lupa jika melihat langit tp lupa sama yg menciptanya. Yang dilihat hanya kerindahannya semata...

    BalasHapus
  30. Indahnya bila kita lebur bersama cahaya! Selalu dibutuhkan alam semesta beserta isinya!

    BalasHapus
  31. Pencerahan yang indah, kita semua dapat mengenal Kebesaran Allah dari Alam Semesta ini! Banyak ilmuwan non muslim membuktikan perilaku kondisi dunia ini berdasarkan Al-Quran dan terbukti sehingga mereka menjadi muslim seutuhnya!

    BalasHapus
  32. Dimalam hari aku selalu merindukan kehangatan matahari!

    BalasHapus
  33. berkunjung...komen dulu baru baca akh..hueheheh

    BalasHapus
  34. indahhhh...........

    gak bisa komntr lagi mba *_*

    blog ini adalah guruku dalam menulis.

    BalasHapus
  35. wawwwwww..... i just can say it...:)

    BalasHapus
  36. “Wahai jiwa yang tenang tenteram, kembalilah kepada Tuhamu dengan hati yang puas lagi diridloi-Nya”

    aku juga ingin seperti itu kelak ketika tiba waktuku...

    BalasHapus
  37. Begitulah kesetiaan matahari menyinari bumi dan seisinya..salam kenal..

    BalasHapus

Silakan tulis komentar anda, sobat. Terima kasih sudah mampir, ya ...